Pembicaraan empat mata

Aku kira ini adalah hal yang sangat alami. Ayah , ketakutanmu membuatku semakin yakin, ayahlah yang pantas disebut hebat.
Apa ?
Ayah menginginkanku agar jangan terburu buru dewasa. Jadi dewasa itu tidak enak .Ribet bahasa gaulku.

Satu persatu potongan potongan kecil ingatanku berusaha ku lekatkan lagi, ayah benar, energi terbesar yang mesti keluar adalah saat kita mesti mempertanyakan kebenaran usia.Usia yang seakan akan membawa ketakutan sendiri dalam pemahaman hidup.
Sementara aku tahu , ayah masih merindukan sendawaku di meja makan, atau ketika ayah baru pulang kerja dan aku akan memaksamu untuk menjadi gajah , dan aku naik menjadi penunggangnya. Kita keliling ruang tamu empat sampai lima putaran. Dan baru selesai setelah ayah berujar ,nak, kian hari badanmu kian gendut saja . Makanmu pasti banyak hari ini . . .

Kini yah ,
yang dihadapanmu adalah tubuh ayip yang sama persis dengan 20 tahun yang lalu ,
cuma dengan suara yang makin combreng.
Cuma dengan wajah yang tak lagi berlumur ingus.
Cuma dengan pemikiran yang tak lagi menanyakan pada ayah butuh berapa hari sebiji kacang ijo mentransformasikan diri menjadi kecambah.

Dan ayahandaku ini kaget,
ketika yang ia anggap sikecil ayip ini pengin menikah.


Lho. . . .

( ayah, ayip malu . . . )

Tidak ada komentar: