Rabu, Januari 25, 2012

seseorang selalu nggak bisa "apa adanya", tapi selalu "ada apanya" --

Sabtu, Januari 14, 2012

ULUL: KENA AKU MAAAAKKKKK.

ngekek terus di gramedia, gara gara si simpanse Ulul, ngikut. Gimana enggak begitu nyampe TKP ngiterin rak-rak buku sebentar eeee, tau tau, ngiler liat bukunya avianti armand, liat bukunya arafat yang lampuki eta. baca sebentar, tau tau dengan gaya yang gak enak banget ulul nyamperin:

Ulul: mas, tau enstein ga?
Aku: taulah, mang napa? ngetes kejeniusanku nyet?
Ulul: engggakkk. mau nanya ajah, tebak-tebakan yuuuukkk.
( et deeeh, malah ngajak tebak-tebakan )
Ulul: berani gak? siapa fisikawan terkenal dari batak?
Aku: siwalan, halllaaaahhh, kamu emang tau? mana adaaa?
Ulul: ada kokkk swerrr. (ngacungin dua jari)
Aku: arghhhh. bodo ahh, ga tau. Indonesia ga punya fisikawan kaliiii
Ulul:...
            SIR ISAAC NASUTIOOON.

huahahahahaha. (dia nunjukkin buku berjudul "tebak-tebakkan paling gokil")
Anjrrrrriiiitttt, kami ketawa tawa sambil ngelanjutin mpe satu buku abis tebak-tebakkanya.

( trus jadi beli buku apa niiihhhh? )

__ kagak ada. kami akhirnya cuman nebeng tawa-tawa mpe mencreeet aja di Gramedia__

Jumat, Januari 13, 2012

ASING

MALL  telah  membusukkan  musim dingin
yang menggumpal di segigil es krim.
musim dingin yang mudah mengelupas dari lutut
anak-anak kecil yang berlari-lari
di dekat patung boneka-berambut merah menyala-
yang memilih mengekalkan senyumannya

; sebab cara terbaik tak lekas dewasa
adalah dengan sering-sering berpura-pura

aku beruntung  dan berterimakasih kepada
kesepian yang telah berbaik hati menyediakan
tempat duduknya meski cuma cukup memuat aku
dan ingatanku. di sini aku menunggu yang pernah
berkelebat menghampar, agar  kakimu  berjalan
mengampiri aku yang beku  dicengkeram
oleh apa-apa yang kumetaforakan dalam puisi ini;

pandangan milik orang-orang naik turun dari elevator,
sepatu-sepatu yang engkau bilang begitu norak dan
girang warnanya, atasan baju kerja, tas mewah yang sengaja
di pajang dalam sangkar, atau aneka gaun yang serba lebar
yang mencerdaskanmu dalam membuat
pertanyaan atau pernyataan  yang sedemikian sukar
untuk lekas  aku tentukan manakah yang benar.

semisal,
tas itu, sama sepinya seperti aku kau ya [?]

- januari 2011 -

Sabtu, Januari 07, 2012

Ke sana kamu akan pergi? Kamu mengangkat bahu sekali. Tak tahu. Tak pasti. Yang pasti hanyalah: kamu ingin pergi. Bukan karena tak mencintaiku lagi, tapi karena cintaku membebanimu. Begitu berat, hingga kamu tak bisa bergerak. Penuh, seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang bisa kamu pikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Satu-satunya cara yang kamu tahu adalah: pergi. (hujan malem minggu, menikmati cerpen Avianti Armand)
http://lakonhidup.wordpress.com/2010/01/28/tentang-tak-ada/ 
2 sampai 3 jam browsing sana sini, cuma nyari aneka tips: meningkatkan daya ingat; cara mudah melawan pikun; tips membaca efektif; bagaimana membuat jembatan-jambatan keledai untuk mengingat; makanan apa saja yan yang dapat menyehatkan ingatan.

uhft. jadi sadar aku makin tua ya, tapi lebih sadar lagi; selain kau, segala sesuatu ternyata mudah sekali aku lupa.

(cheeeerrs. Tuhan bersama orang orang pikun.)

Jumat, Januari 06, 2012

aku sedang mengenangkanmu ke dalam selembar wajah ibu yang menjauhkan dirinya dari peralatan berdandan kecuali di hari-hari ketika ayah pulang, sedikit barangkali perbedaanya adalah kau tak pernah menunggu [si] apapun.
- sedang berusaha sehangat-hangatnya memeluk diri sendiri -

Rabu, Januari 04, 2012

TUMBUH TUMBANG JANUARI

menyemut dari lidahmu  pohon pohon, warung
yang tutup, seorang yang tertidur di atas becak,
berusaha memuntahkan waktu juga harapan harapan
yang dari rumah telah disusupkan oleh ibumu.

selelah lelah lengan mengejar yang membawa lari
sepasang pucat  lampu hijau di perempatan,
aku mengandaikan langit sebagai ladang yang terbalik
agar bis-bis tumbuh dan tumbang seperti hujan, mbi.
agar kita tak lagi mata yang dipanjat kecemasan

Kamis, Desember 22, 2011

Rabu, Desember 14, 2011

PUISI ARIF FITRA KURNIAWAN ( Suara Merdeka, Minggu 13 November 2011)

MENUKAR KAU, MENAKAR AKU

batu itu, kaukah?
air ini, akukah?

: kita, sesekali tak bisa
bertukarkah?

agar engkau tahu
sekeras apa dirimu,
ketika leleh  secair aku
-- dan sebaliknya --


SEPASANG MATA IKAN

baginya engkau empang  tempat ia memuja
pancuran, mandi sekaligus meluruskan
bagaimana rasa takut  layak dihilangkan
dengan tergesa.
selalu saja ada kisah yang merasa putus asa
sebelum  sampai di meja.
seperti nasib yang ingin kita sudahi segera

waktu yang kurus terus menguras  jakunmu,
jakun yang enggan memusuhi berita bahwa
selokan kampung penuh gang
dan bawah jembatan terlampau
kelaparan untuk merawat ikan-ikan.

apa yang lebih mati dari menu-menu
yang orang-orang harap diganti saban hari?



GASINGAN

bila derunya sampai ke dadamu,
maka keluarlah dengan membawa perumpamaan.
aku menunggumu sebagai gasingan di halaman.

diluar tubuhmu aku memang budak
yang membedaki diri dengan pertanyaan
berapa ribu mahar harus kutabung
agar lekas engkau merdekakan



KUNANG-KUNANG PASAR MALAM

/Rumah Paling Hantu/
sungguh tak ada yang gelap, meskipun kematian
datang kepada  seluruh lampu yang pernah hidup
dan menyalakan aku.

kau  telah menghantukan seluruh masalalu,
hingga  baik yang bermukim maupun  yang bermakam
selalu kita kenang sebagai  masa depan.




/Merah Kembang Gula/

yang bertahan untuk bersembunyi,
dan tak ingin percik di atas dadamu
meski telah sering  kau nyalakan nyali
yang menggumpal sebagaimana ketakutan
merah muda kembang gula
kemudian aku belajar mengemas
riwayat  hatiku yang pernah jatuh pada cinta
dengan bening tangan paling putus asa.

sesibuk apakah waktu,
ketika ia dan dirimu berputar
menunggang mainan
semakin menjauh dari tangkai mataku yang sepah
yang terlanjur terpelanting dan cuma mampu 
melambai-lambai kepakmu-kepaknya dari bawah

sebab percuma, bagaimanapun cemburuku
tak akan berhasil membakar susunan rusukmu
barangkali kau cukup mendoakan  saja 
agar tubuhku setabah rumah,
tak  menghardik 

pada  setiap  ketukan yang datang,
pada setiap punggung yang pamit pulang
mematah-matahkan diri,
mematuh-matuhkan hati
sampai nanti  gerigi, mesin,
serta semua yang bergetar dan keluar
dari tangkup bibirmu  itu berhenti



/Yang Gemuruh Dalam Komidi/
diantara perbincangan orang-orang,
yang meloketkan kegembiraan
ke dalam jenuh telingaku  yang kuning logam

kau tak berhenti  memutar  ratusan,
riuh alamat  dari jalan-jalan yang menggigil
sebab  piatu ditinggalkan ibu kota mereka
agar  kembali  menghamba,
mainan dan akhir pekan sebagai hari raya


Semarang- februari 2011


MALAM TERANG BULAN
sebelum wajah kita lebih cilukba
dari yang datang dan yang pulang
yang terbit dan yang tenggelam,

kau mesti keluar  dulu dari lidah
menawarkan  tangan pengumpul sejarah
meski yang bernama telapak kita ketahui
rusak dirasuki hantu serta rajah

selalu saja anak-anak tak beribu itu
akan menuduh kita  tembang dolanan
yang mengabdi pada berhala di halaman,
kita akan terus diburu,
sebagai janji-janji, ketika  malam
mereka dikhianati oleh gambar-gambar
sumbing di televisi

hidup cuma kita pandang.
hidup kita cuma pandangan.

bening selayang diputus
sebenang gelasan.

ah!


BIODATA:
Penyair  aktif  bergiat di komunitas sastra Lacikata- Semarang.  Menjadi pemenang ke 2 di LCP Hanna Fransisca 2011, masuk nominasi  LCP BENTARA BUDAYA BALI 2011.   lolos seleksi Temu Sastrawan Indonesia IV -- Ternate. Puisi-puisi tergabung di buku antologi  10 KELOK DI MOUSELAND, juga TUAH TARA NO ATE (Bunga Rampai TSI 4 Ternate)