DUNIA DI BALIK JENDELA
Rabu, Januari 25, 2012
Sabtu, Januari 14, 2012
ULUL: KENA AKU MAAAAKKKKK.
ngekek terus di gramedia, gara gara si simpanse Ulul, ngikut. Gimana enggak begitu nyampe TKP ngiterin rak-rak buku sebentar eeee, tau tau, ngiler liat bukunya avianti armand, liat bukunya arafat yang lampuki eta. baca sebentar, tau tau dengan gaya yang gak enak banget ulul nyamperin:
Ulul: mas, tau enstein ga?
Aku: taulah, mang napa? ngetes kejeniusanku nyet?
Ulul: engggakkk. mau nanya ajah, tebak-tebakan yuuuukkk.
( et deeeh, malah ngajak tebak-tebakan )
Ulul: berani gak? siapa fisikawan terkenal dari batak?
Aku: siwalan, halllaaaahhh, kamu emang tau? mana adaaa?
Ulul: ada kokkk swerrr. (ngacungin dua jari)
Aku: arghhhh. bodo ahh, ga tau. Indonesia ga punya fisikawan kaliiii
Ulul:...
SIR ISAAC NASUTIOOON.
huahahahahaha. (dia nunjukkin buku berjudul "tebak-tebakkan paling gokil")
Anjrrrrriiiitttt, kami ketawa tawa sambil ngelanjutin mpe satu buku abis tebak-tebakkanya.
( trus jadi beli buku apa niiihhhh? )
__ kagak ada. kami akhirnya cuman nebeng tawa-tawa mpe mencreeet aja di Gramedia__
Ulul: mas, tau enstein ga?
Aku: taulah, mang napa? ngetes kejeniusanku nyet?
Ulul: engggakkk. mau nanya ajah, tebak-tebakan yuuuukkk.
( et deeeh, malah ngajak tebak-tebakan )
Ulul: berani gak? siapa fisikawan terkenal dari batak?
Aku: siwalan, halllaaaahhh, kamu emang tau? mana adaaa?
Ulul: ada kokkk swerrr. (ngacungin dua jari)
Aku: arghhhh. bodo ahh, ga tau. Indonesia ga punya fisikawan kaliiii
Ulul:...
SIR ISAAC NASUTIOOON.
huahahahahaha. (dia nunjukkin buku berjudul "tebak-tebakkan paling gokil")
Anjrrrrriiiitttt, kami ketawa tawa sambil ngelanjutin mpe satu buku abis tebak-tebakkanya.
( trus jadi beli buku apa niiihhhh? )
__ kagak ada. kami akhirnya cuman nebeng tawa-tawa mpe mencreeet aja di Gramedia__
Jumat, Januari 13, 2012
ASING
MALL telah membusukkan musim dingin
yang menggumpal di segigil es krim.
musim dingin yang mudah mengelupas dari lutut
anak-anak kecil yang berlari-lari
di dekat patung boneka-berambut merah menyala-
yang memilih mengekalkan senyumannya
; sebab cara terbaik tak lekas dewasa
adalah dengan sering-sering berpura-pura
aku beruntung dan berterimakasih kepada
kesepian yang telah berbaik hati menyediakan
tempat duduknya meski cuma cukup memuat aku
dan ingatanku. di sini aku menunggu yang pernah
berkelebat menghampar, agar kakimu berjalan
mengampiri aku yang beku dicengkeram
oleh apa-apa yang kumetaforakan dalam puisi ini;
pandangan milik orang-orang naik turun dari elevator,
sepatu-sepatu yang engkau bilang begitu norak dan
girang warnanya, atasan baju kerja, tas mewah yang sengaja
di pajang dalam sangkar, atau aneka gaun yang serba lebar
yang mencerdaskanmu dalam membuat
pertanyaan atau pernyataan yang sedemikian sukar
untuk lekas aku tentukan manakah yang benar.
semisal,
tas itu, sama sepinya seperti aku kau ya [?]
- januari 2011 -
yang menggumpal di segigil es krim.
musim dingin yang mudah mengelupas dari lutut
anak-anak kecil yang berlari-lari
di dekat patung boneka-berambut merah menyala-
yang memilih mengekalkan senyumannya
; sebab cara terbaik tak lekas dewasa
adalah dengan sering-sering berpura-pura
aku beruntung dan berterimakasih kepada
kesepian yang telah berbaik hati menyediakan
tempat duduknya meski cuma cukup memuat aku
dan ingatanku. di sini aku menunggu yang pernah
berkelebat menghampar, agar kakimu berjalan
mengampiri aku yang beku dicengkeram
oleh apa-apa yang kumetaforakan dalam puisi ini;
pandangan milik orang-orang naik turun dari elevator,
sepatu-sepatu yang engkau bilang begitu norak dan
girang warnanya, atasan baju kerja, tas mewah yang sengaja
di pajang dalam sangkar, atau aneka gaun yang serba lebar
yang mencerdaskanmu dalam membuat
pertanyaan atau pernyataan yang sedemikian sukar
untuk lekas aku tentukan manakah yang benar.
semisal,
tas itu, sama sepinya seperti aku kau ya [?]
- januari 2011 -
Sabtu, Januari 07, 2012
Ke sana kamu akan pergi? Kamu mengangkat bahu sekali. Tak tahu. Tak pasti. Yang pasti hanyalah: kamu ingin pergi. Bukan karena tak mencintaiku lagi, tapi karena cintaku membebanimu. Begitu berat, hingga kamu tak bisa bergerak. Penuh, seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang bisa kamu pikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Satu-satunya cara yang kamu tahu adalah: pergi. (hujan malem minggu, menikmati cerpen Avianti Armand)
http://lakonhidup.wordpress.com/2010/01/28/tentang-tak-ada/
2 sampai 3 jam browsing sana sini, cuma nyari aneka tips: meningkatkan daya ingat; cara mudah melawan pikun; tips membaca efektif; bagaimana membuat jembatan-jambatan keledai untuk mengingat; makanan apa saja yan yang dapat menyehatkan ingatan.
uhft. jadi sadar aku makin tua ya, tapi lebih sadar lagi; selain kau, segala sesuatu ternyata mudah sekali aku lupa.
(cheeeerrs. Tuhan bersama orang orang pikun.)
Jumat, Januari 06, 2012
Rabu, Januari 04, 2012
TUMBUH TUMBANG JANUARI
menyemut dari lidahmu pohon pohon, warung
yang tutup, seorang yang tertidur di atas becak,
berusaha memuntahkan waktu juga harapan harapan
yang dari rumah telah disusupkan oleh ibumu.
selelah lelah lengan mengejar yang membawa lari
sepasang pucat lampu hijau di perempatan,
aku mengandaikan langit sebagai ladang yang terbalik
agar bis-bis tumbuh dan tumbang seperti hujan, mbi.
agar kita tak lagi mata yang dipanjat kecemasan
yang tutup, seorang yang tertidur di atas becak,
berusaha memuntahkan waktu juga harapan harapan
yang dari rumah telah disusupkan oleh ibumu.
selelah lelah lengan mengejar yang membawa lari
sepasang pucat lampu hijau di perempatan,
aku mengandaikan langit sebagai ladang yang terbalik
agar bis-bis tumbuh dan tumbang seperti hujan, mbi.
agar kita tak lagi mata yang dipanjat kecemasan
Kamis, Desember 22, 2011
Rabu, Desember 14, 2011
PUISI ARIF FITRA KURNIAWAN ( Suara Merdeka, Minggu 13 November 2011)
MENUKAR KAU, MENAKAR AKU
batu itu, kaukah?
air ini, akukah?
: kita, sesekali tak bisa
bertukarkah?
agar engkau tahu
sekeras apa dirimu,
ketika leleh secair aku
-- dan sebaliknya --
SEPASANG MATA IKAN
baginya engkau empang tempat ia memuja
pancuran, mandi sekaligus meluruskan
bagaimana rasa takut layak dihilangkan
dengan tergesa.
selalu saja ada kisah yang merasa putus asa
sebelum sampai di meja.
seperti nasib yang ingin kita sudahi segera
waktu yang kurus terus menguras jakunmu,
jakun yang enggan memusuhi berita bahwa
selokan kampung penuh gang
dan bawah jembatan terlampau
kelaparan untuk merawat ikan-ikan.
apa yang lebih mati dari menu-menu
yang orang-orang harap diganti saban hari?
GASINGAN
bila derunya sampai ke dadamu,
maka keluarlah dengan membawa perumpamaan.
aku menunggumu sebagai gasingan di halaman.
diluar tubuhmu aku memang budak
yang membedaki diri dengan pertanyaan
berapa ribu mahar harus kutabung
agar lekas engkau merdekakan
KUNANG-KUNANG PASAR MALAM
/Rumah Paling Hantu/
sungguh tak ada yang gelap, meskipun kematian
datang kepada seluruh lampu yang pernah hidup
dan menyalakan aku.
kau telah menghantukan seluruh masalalu,
hingga baik yang bermukim maupun yang bermakam
selalu kita kenang sebagai masa depan.
/Merah Kembang Gula/
yang bertahan untuk bersembunyi,
dan tak ingin percik di atas dadamu
meski telah sering kau nyalakan nyali
yang menggumpal sebagaimana ketakutan
merah muda kembang gula
kemudian aku belajar mengemas
riwayat hatiku yang pernah jatuh pada cinta
dengan bening tangan paling putus asa.
sesibuk apakah waktu,
ketika ia dan dirimu berputar
menunggang mainan
semakin menjauh dari tangkai mataku yang sepah
yang terlanjur terpelanting dan cuma mampu
melambai-lambai kepakmu-kepaknya dari bawah
sebab percuma, bagaimanapun cemburuku
tak akan berhasil membakar susunan rusukmu
barangkali kau cukup mendoakan saja
agar tubuhku setabah rumah,
tak menghardik
pada setiap ketukan yang datang,
pada setiap punggung yang pamit pulang
mematah-matahkan diri,
mematuh-matuhkan hati
sampai nanti gerigi, mesin,
serta semua yang bergetar dan keluar
dari tangkup bibirmu itu berhenti
/Yang Gemuruh Dalam Komidi/
diantara perbincangan orang-orang,
yang meloketkan kegembiraan
ke dalam jenuh telingaku yang kuning logam
kau tak berhenti memutar ratusan,
riuh alamat dari jalan-jalan yang menggigil
sebab piatu ditinggalkan ibu kota mereka
agar kembali menghamba,
mainan dan akhir pekan sebagai hari raya
Semarang- februari 2011
MALAM TERANG BULAN
sebelum wajah kita lebih cilukba
dari yang datang dan yang pulang
yang terbit dan yang tenggelam,
kau mesti keluar dulu dari lidah
menawarkan tangan pengumpul sejarah
meski yang bernama telapak kita ketahui
rusak dirasuki hantu serta rajah
selalu saja anak-anak tak beribu itu
akan menuduh kita tembang dolanan
yang mengabdi pada berhala di halaman,
kita akan terus diburu,
sebagai janji-janji, ketika malam
mereka dikhianati oleh gambar-gambar
sumbing di televisi
hidup cuma kita pandang.
hidup kita cuma pandangan.
bening selayang diputus
sebenang gelasan.
ah!
BIODATA:
Penyair aktif bergiat di komunitas sastra Lacikata- Semarang. Menjadi pemenang ke 2 di LCP Hanna Fransisca 2011, masuk nominasi LCP BENTARA BUDAYA BALI 2011. lolos seleksi Temu Sastrawan Indonesia IV -- Ternate. Puisi-puisi tergabung di buku antologi 10 KELOK DI MOUSELAND, juga TUAH TARA NO ATE (Bunga Rampai TSI 4 Ternate)
batu itu, kaukah?
air ini, akukah?
: kita, sesekali tak bisa
bertukarkah?
agar engkau tahu
sekeras apa dirimu,
ketika leleh secair aku
-- dan sebaliknya --
SEPASANG MATA IKAN
baginya engkau empang tempat ia memuja
pancuran, mandi sekaligus meluruskan
bagaimana rasa takut layak dihilangkan
dengan tergesa.
selalu saja ada kisah yang merasa putus asa
sebelum sampai di meja.
seperti nasib yang ingin kita sudahi segera
waktu yang kurus terus menguras jakunmu,
jakun yang enggan memusuhi berita bahwa
selokan kampung penuh gang
dan bawah jembatan terlampau
kelaparan untuk merawat ikan-ikan.
apa yang lebih mati dari menu-menu
yang orang-orang harap diganti saban hari?
GASINGAN
bila derunya sampai ke dadamu,
maka keluarlah dengan membawa perumpamaan.
aku menunggumu sebagai gasingan di halaman.
diluar tubuhmu aku memang budak
yang membedaki diri dengan pertanyaan
berapa ribu mahar harus kutabung
agar lekas engkau merdekakan
KUNANG-KUNANG PASAR MALAM
/Rumah Paling Hantu/
sungguh tak ada yang gelap, meskipun kematian
datang kepada seluruh lampu yang pernah hidup
dan menyalakan aku.
kau telah menghantukan seluruh masalalu,
hingga baik yang bermukim maupun yang bermakam
selalu kita kenang sebagai masa depan.
/Merah Kembang Gula/
yang bertahan untuk bersembunyi,
dan tak ingin percik di atas dadamu
meski telah sering kau nyalakan nyali
yang menggumpal sebagaimana ketakutan
merah muda kembang gula
kemudian aku belajar mengemas
riwayat hatiku yang pernah jatuh pada cinta
dengan bening tangan paling putus asa.
sesibuk apakah waktu,
ketika ia dan dirimu berputar
menunggang mainan
semakin menjauh dari tangkai mataku yang sepah
yang terlanjur terpelanting dan cuma mampu
melambai-lambai kepakmu-kepaknya dari bawah
sebab percuma, bagaimanapun cemburuku
tak akan berhasil membakar susunan rusukmu
barangkali kau cukup mendoakan saja
agar tubuhku setabah rumah,
tak menghardik
pada setiap ketukan yang datang,
pada setiap punggung yang pamit pulang
mematah-matahkan diri,
mematuh-matuhkan hati
sampai nanti gerigi, mesin,
serta semua yang bergetar dan keluar
dari tangkup bibirmu itu berhenti
/Yang Gemuruh Dalam Komidi/
diantara perbincangan orang-orang,
yang meloketkan kegembiraan
ke dalam jenuh telingaku yang kuning logam
kau tak berhenti memutar ratusan,
riuh alamat dari jalan-jalan yang menggigil
sebab piatu ditinggalkan ibu kota mereka
agar kembali menghamba,
mainan dan akhir pekan sebagai hari raya
Semarang- februari 2011
MALAM TERANG BULAN
sebelum wajah kita lebih cilukba
dari yang datang dan yang pulang
yang terbit dan yang tenggelam,
kau mesti keluar dulu dari lidah
menawarkan tangan pengumpul sejarah
meski yang bernama telapak kita ketahui
rusak dirasuki hantu serta rajah
selalu saja anak-anak tak beribu itu
akan menuduh kita tembang dolanan
yang mengabdi pada berhala di halaman,
kita akan terus diburu,
sebagai janji-janji, ketika malam
mereka dikhianati oleh gambar-gambar
sumbing di televisi
hidup cuma kita pandang.
hidup kita cuma pandangan.
bening selayang diputus
sebenang gelasan.
ah!
BIODATA:
Penyair aktif bergiat di komunitas sastra Lacikata- Semarang. Menjadi pemenang ke 2 di LCP Hanna Fransisca 2011, masuk nominasi LCP BENTARA BUDAYA BALI 2011. lolos seleksi Temu Sastrawan Indonesia IV -- Ternate. Puisi-puisi tergabung di buku antologi 10 KELOK DI MOUSELAND, juga TUAH TARA NO ATE (Bunga Rampai TSI 4 Ternate)
Langgan:
Entri (Atom)
