Kamis, Desember 10, 2009

pohon jambu di matamu

dan pada suatu ketika,
sebuah
pohon jambu di kebun matamu,
mengerdipi kegelisahanku.
lantas,
aku sengaja mengirimkan hujan yang lebat tiap pagi.
agar kau nyaman bermimpi.
agar aku bisa teratur merapikan krah jas hujanmu

menyembunyikan kancing-kancingnya pada lipatan tengkukku,
meredam tiap denting yang aduh,
antara ingin yang menjadi kutub terjauh.












Selasa, Desember 08, 2009

ayo !

selamat datang kata-kata canggih,
secangkir teh celup,
dan resonansi nada-nada dari musik jazzy.

sebuah spanduk di jalan mengingatkan kita pada romantisme paling payah,
:
Jangan mati sebelum berjuang

bunyi dering telepon,
pembicaraan tergesa.
putaran angin yang seperti turbin,
ruangan sesak penuh bangku bagku panjang.
standar intelegensi.
papan tulis warna sapidol.

selamat datang orang-orang gila,
selamat berjuang ya ! !


Senin, Desember 07, 2009

kerlip

kulihat satu lagi kerlip itu,
kerlip yang sering diam-diam ku temui di ujung gang.
kerlip yang sering mengajakku merandai melewati terowongan.

dan dia,
merakitkanku dua pasang badai
menempelkanya pada punggungku.

sepasang sebagai keyakinan,
sepasang lagi sebagai kemungkinan.



Triyanto Triwikromo, saya, dan orgasme paling cantik

Mengulas kegiatan kemarin, saya benar benar mengalami kondisi psikis yang hang, hang di sini saya artikan mengambang, seperti kata float, ya, saya teramat mengambang, apung nyaman menikmati bagian-bagian di kehidupan saya. kecil, ringan, tak terduga. tadinya, saya bener-bener alahmak teramat grogi, mungkin dulu saya pernah bercerita tantang kelas kecil bersama Budi Maryono, saya deg-degan, tapi yang ini melebihi itu, kalau dulu saya bisa meminimalkan perasaan canggung dengan keyakinan bahwa ketrampilan mengolah tangan saya dalam fiksi, cukup pantas untuk memasuki sekumpulan orang-orang cerdas itu. tapi yang ini, bener-bener parah, kenapa, karena saya nekat dan tanpa malunya masuk ke dunia jurnalis, artinya Fakta ! rival abadi fiksi. arti yang lebih lebay lagi, sama artinya bercermin dengan kontradiksi . saya jadi terjun bebas tanpa parasit,...
brukk.

Kelas ini lebih medioker, maksud saya, dibanding kelas fiksi yang dulu, kuantitas yang ikut lebih banyak, semua bangku nyaris terisi. hampir enam puluhan dan ini, well, seperti biasa, saya merasa menjadi manusia terkatrok waktu pertama kali melihat daftar absensi yang hadir, rata-rata mereka para calon wartawan, ada yang sedang magang, mahasiswa komunikasi UNDIP, mahasiswa tarbiyah IAIN, mahasiswa sastra dari Unnes, mahasiswa boardcasting Udinus, dan so pasti, saya selalu paling ngga jelas satusnya, saya mahasiswa apa ya ?
dan kelas ini digawangi oleh wartawan senior SUARAMERDEKA, ada Amir Mahmud, Triyanto Triwikromo. dan Saroni Asikin.

jadi singkatnya, kami di dudukkan disini untuk mengunyah sirih pengetahuan tentang pelbagai hal dalam jurnalistik, dasar-dasar penulisan, rumus-rumusnya, kode-kodenya, ini-itunya, itu ininya, dan bla,..bla,..bla,...

yang surprising, ternyata oh ternyata, lagi-lagi saya , ehem, boleh ya sedikit sombong. ehem, saya berhasil menyelesaikan dua kuis yang di lemparkan dengan predikat paling cepat ! bukan sekedar cepat, tapi karya saya dua-duanya juga masuk 'nominasi' karya yang di ikutkan dalam pemilihan siapa yang jadi juara. dari puluhan karya enam yang masuk nominasi, lantas di bahas kebaikan dan kebusukanya,he he, dan,....


kuis pertama mungkin cuma pemanasan, karena memang kami cuma diberi tiga password yaitu : seberang--semangat--inovatif.
lantas kami seperti mengisi waktu setelah palu di ketuk dengan rasa was-was, apalagi saya pribadi, langsung sepersekian detik mengalami korslet tak bisa memegang pulpen dengan tegak, apalagi menuliskan sebuah kata. pet.pet.pet. keadaan jadi dingin, tegang, dan akhirnya suara dari mikrofon dari juri mengagetkan saya, untuk menulis sesuatu, bukan seatu, tapi sekata, bukan sekata tapi eh, apalah namanya, serangkaian kata berbahan dasar fakta. fakta.melawan dunia saya yang fiksi.uh.
ehem, tapi entah kekuatan darimana yang mendorong tangan saya untuk mengacungkan tangan, dan angkat tangan berarti karya telah selesai, dan langsung di kumpulkan ke depan. dan kalian tahu saya mengerjakanya dalam waktu tiga menit lebih sepersekian detik. dan seperti inilah karya asal dalam tiga menit itu : impian adalah keinginan dalam hidup yang sudah seharusnya diperjuangkan sampai ke seberang. dan semangat adalah perahu satu-satunya paling logis untuk mengarungi laut lepas penuh hambatan, disamping rencana rencana kreatif, inovatif, dan tentunya sedikit persentase keberuntungan.

yap ! alhasil karya saya, niscaya akan masuk nominasi sebagai karya paling sampah , andai saja di depan , sebelum kuis itu di lempar, juri menjelaskan terlebih dulu semua tetekbengek kriteria tulisan dalam bentuk jurnal,tentang aturan bakunya, cara penulisan aktualnya,bla. . .bla ,..bla,..
huaaah, untungnya mereka cuma minta kami untuk menulis cepat dengan tiga kata itu tanpa ikatan aturan apapun.
kata mereka,...
saya punya talenta jadi sastrawan, bukan wartawan,....
ha ha ha. beginilah seseorang yang lahir dari rahim fiksi, jika mesti mengunyah hidangan yang serba fakta. ancuuuuurrrrrrrrrrrr,...


setelah kuis session pertama selesai maka mas Saroni asikin, memberi wejanganya yang bla bla bla menyebalkan itu, tentang jurnalisme sastrawi, jurnalime koran, jurnalisme feature, jurnalisme remaja dan anak-anak, tentang gaya bahasa, diksi, dan penggunaan ejaan yang baku. huh,terus terang saja saya tak begitu suka dengan gaya bertuturnya, terkesan menggurui, dan satu hal lagi yang membuat saya berdoa supaya dia cepat-cepat berhenti ngoceh : dia terlalu sering menyibakkan rambut panjangnya yang awut-awutan.


dan akhir penantian itu datang juga setelah having Lunch , setelah perut saya terisi soto semarangan dengan perkedel, tempe keripik, dan sate kerang. kali ini kuis dilempar setelah kami mendapat pengarahan teoritis lengkap dari mas Triyanto, tentang menarasikan fakta, membuat Lead, arti Deadline bagi orang jurnalis, highlight karakter, akses karakter, dan tak lupa 5W plus 1H yang dari kelas satu es em pe sudah di berikan oleh guru bahasa indonesia. dari semua yang ia berikan, satu hal yang saya paling suka dari mulut seoarang Triyanto adalah saat beliau bilang : kita sering lupa berterimakasih kepada kata-kata,....


klik.
sebetulnya perasaan kagum ini sifatnya pribadi, maksudnya, jauh-jauh sebelum ini, saya sudah ngefans berat sama mas Triyanto....
jadi sewaktu dia bicara panjang, telinga saya benar-benar bisa menyerap tiap kata-katanya.
akhir dari katanya berujung pada sebuah kuis, yang sebelum ia sampaikan ia bisik-bisik berunding dulu dengan para juri, bahwa 3 karya tercepat dan tiga karya terbaik akan mendapat hadiah yang akan dikirim ke alamat sang jurnalis.

dan jeng jeng jeng'
duriduridamdamdam....

dalam waktu enam menit saya berhasil mengangkat tangan saya, menyelesaikan karya saya, dan ah,.... lagi lagi saya the earlier one more !
dan yang ini tulisanya terdiri dari lebih dari seratus limapuluhan karakter,
lega.bangga.
karena di koreksi pun, karya saya tidak banyak keluar dari rute dan pagar jurnalistik, cuma kata juri, karya saya masih tersusupi fiksi, frase fiksi dalam tulisan saya adalah :... namanya bersanding dengan judul cerpen yang di tulis besar-besar di koran .

harusnya , kata juri, bersanding di ubah menjadi dihubungkan.
dan maaf karya yang ini tak bisa saya tampilakan karena langsung dikumpulkan ke juri, langsung di dedah saat itu juga, dan untuk menulis sebanyak itu ber modal ingatan alakadar saya merasa tak mampu. jadi terpasa karya itu tak bisa tampilkan disini.


well, dan akhirnya, selalu ada perenungan dari tiap kejadian, saya makin bingung dengan diri saya, saya merasa terperangkap dengan beragam talenta. di tengah-tengah orang bahasa, saya dikira anak sastra, di tengah ibu-ibu, saya di sangka tukang masak, di tengah anak-anak kecil saya di panggil om guru, di antara teman-teman sebaya, saya di bilang calon sastrawan,...

dorr ! !

dan sempat kali ini juri bilang ,
saya berbakat magang jadi wartawan ! !
saya bertanya apa dasarnya ?
mereka jawab bergantian,
kau cepat dalam menulis !
kau membiasakan diri dengan dead line ! !
dan kata-kata kau begitu beragam ! !

dan yang bikin saya orgasme,...
saya diberi tugas meliput, mengamati, mengambil obyek tulisan tentang pasar tradisional. dengan tenggat waktu seminggu !

ssst,....
entah kebetulan atau tidak, karena kemarin-kemarin saya menulis asal cerita Naomi, dan settingnya juga pasar.
dan satu lagi bocoran, kenapa dua kali bisa mengangkat tangan paling cepat
; saya menggunakan cara persis sama saat menulis kuis jurnlistik dengan saat saya menulis Hilangnya Lampion Dari mata Naomi.
dan itu artinya,....
sebuah keberhasilan teoritis menuju awal.


dah dulu ah,
panjang bangeeeet tulisanyaaaaaaaa,.....



silahkan klik disini, untuk melihat profil Triyanto Triwikromo

terimakasih jilid kedua

terimakasih untuk keleluasanya,
terimakasih untuk ruang berpendingin kali ini,
terimakasih,
telah mempercayakan saya untuk terus menggenggam keinginan.
terimakasih juga untuk rasa terdiskriminasi,
karena dari sanalah saya sadar,
bahwa saya perlu bekerja keras dua kali lebih keras dari pada mereka.

dan saya berhasil !

melewati kelas ini, tingkatan ini.
tak pernah gentar untuk bersanding dengan gajah gajah.

terimakasih untuk tak mempedulikan saya,
tapi lihat,
siapa kiranya yang lebih hebat.


terimakasih untuk tepuk tangan dan segala keriuhanya,

terimakasih jilid kedua :
kepada Triyanto triwikromo,
yang telah memberi saya perasaan gemetar,
untuk kuisnya,

untuk semesta kata kata,
untuk tiga katanya : seberang--semangat-- dan inovatif.

terimakasih untuk enam menit yang bagi saya begitu berarti.

siang ini akan terus menjadi catatan.
inilah fase baru dari metamorfosa saya.




catatan kecil :
seharian mengikuti workshop jurnalistik yang diadakan SUARAMERDEKA.
bersama Saroni Asikin, dan Triyanto Triwikromo,
061209


Rabu, Desember 02, 2009

cerita seplastik arumanis : dari dia.

di area parkir sekolahan.

Tahu- tahu dia ada di depanku.
mambawa seplastik lumayan besar berisi mangga.
arumanis mungkin saja.

tapi heran, bahkan saat menyerahkanyapun.
dia menunduk.
entah ragu entah malu aku tak tahu.

dia cuma sekilas tersenyum,
kemudian buru-buru bilang, untukmu !
kemudian berlalu. selintas saja.
sekerdipan mata.

lho.
aku tak sempat bertanya.
maksudnya apa.


sebelum tiba tiba dia datang lagi dengan konfirmasi.
lewat sebuah pesan pendek :


Yip,
itu mangga titipan dari ibu, ibuku.
kemaren di rumah panen dua pohon.

Lho.
lho kedua maksudnya.
kok bisa sampai ibumu ?
perasaan aku tak pernah bertemu.
(....?),
aku membalasnya seperti itu.


tidit, tidit.
hi hi.
iya, aku cerita banyak tentang kamu ke ibu.
dan itu , titipan darinya, buat kamu !
di terima dengan senyum ya,...


ooooo,....
makasih ya, nitip salam buat ibumu yang baik hati.


pesan itu kuakhiri dengan rona cengar cengir.


* hari ini mendung, tapi perasaan kok cerah banget ya ?*
hem, namanya juga perasaan.

Selasa, Desember 01, 2009

awal mengagumkan di bulan paling akhir

he he,
Leo Tolstoy bilang Tuhan Tau tapi menunggu,

Gua tereak meski Tuhan tau,
tapi gua ga bakalan nungguin Tuhan menunggu.
Gua bakal mengejar dan terus berlari.

1 desember

dengan bandana hitam di kepala.
dengan rasa berkabung menunduk ke sebidang hampa.
Perempuan itu masuk ke halaman bukuku yang belum sempat tejilid melewati
mata kekasihnya.
berharap bisa mencecap sekulum akhir pekan di sebuah taman.

aku melihat ia bercakap seperti ini :
mas,
apa cintamu melebihi luka di tubuhku ?

kekasihnya diam, memeluk dari belakang.
kita tak perlu pertannyaan itu.
nanti, kau akan tahu.
ketika pagi mengeluarkan bayi dari pohon rahimmu,
dan embun yang merayap di pucuk daunya
adalah airmata pertama dari anak kita
yang sedang mulai belajar tertawa.

mereka lantas percaya.
bahwa masih ada sisa harapan yang kemarin belum tertuntaskan.

seperti halnya, aku.
mereka masih harus mengisi kekosongan halaman halaman buku.


*** **** ***

untuk mereka yang tubuhnya penuh luka :
di sini masih ada cinta.
(peduli AIDS, bukan cuma di desember)



Senin, November 30, 2009

Tentang penyakit Lupa

Kadang saya ngeri sendiri Tuhan, suatu saat ketika saya Tua, dan Tuhan akan mengirimi saya penyakit lupa. Saya lupa pada pintu menuju halaman rumah saya, saya lupa pada nama-nama jalan yang telah menyediakan kesabaran mereka dan memberi kesempatan saya tumbuh menjadi pepohon yang selalu angkuh tegak di pinggirnya. Saya lupa pada aliran panjang dari sungai yang dengan kebaikanya telah memperkenankan saya mandi serta membersihkan diri berulangkali. Saya lupa arah menuju ke suatu tempat, yang meskipun sempit, namun senantiasa membebaskan keinginan saya dalam berdoa, dalam memaki, dalam membenci, bahkan dalam proses saya memaafkan kekurangan diri sendiri.

Dalam bayangan kanak yang riang, kerap saya menemukan tubuh ganjil ini, meringkuk di bawah mimbar mushola, atau di sebuah bilik pengampunan dosa, dalam ruangan penuh lampion dan hio sua, atau di depan undakan Pura.

Saya gentar Tuhan. Lama sekali merintih di himpit perih,

Sebab rupa-rupa dari perasaan lupa tersebut telah menjadi beban psikologi tersendiri bagi saya, seseorang yang sejak kecil terdidik untuk menghormati ingatan. Seseorang yang tiap perpindahan geraknya terasa lamban karena terlalu lama hening dalam kontemplasi. Melangkah dengan membawa bergulung-gulung rencana, lembar-lembar prediksi, kerangka garis berisi data-data statiska. Oh, hidup yang begitu terprogram.

Sampai pada saat tertentu saya merasa terasing, entahlah mana yang lebih benar : saya yang mengasingkan diri dari kewajaran, atau kewajaran yang telah semena-mena mengasingkan saya. Yang jelas saat berada di titik itu, saya merasa bukan diri saya, saya merasa jauh dari keutuhan. Terpecah-pecah.

Maka untuk menghindari kemungkinan yang lebih parah, biasanya saya akan melarikan diri dari kejujuran, saya bohongi diri saya sendiri untuk sementara, dengan makan sebanyak-banyaknya, tertawa sebanyak-banyaknya, sampai saya letih sendiri dan mendapati diri saya tertidur dengan wajah penuh kepasrahan. Pasrah yang sangat menyedihkan, karena bagaimanapun juga, besok masih ada hari yang mesti saya isi, dengan rutinitas yang sama kejamnya;

Pura-pura berempati.

Pura pura bertoleransi.

Pura pura tulus berbagi.

Pura-pura mengerti perasaan orang lain.

Pura pura memiliki kejujuran.

Sekarang yang bisa saya lakukan adalah mencatat. Mungkin itu cara terbodoh saya, tapi cuma itu yang bisa saya lakukan, saya tak ingin membebani lagi ingatan saya. Sunguh itu sudah cukup. Selama ini ingatan saya diperkosa dipaksa bekerja diluar kapasitas yang ada.

Tuhan, kalau ada ,

adakah apotik yang menyediakan obat penyembuh lupa ?

Kalau ada,

Saya mohon kertas resep sekalian rujukanya,. . .


kampung Layur november 09


gambar diambil disini


Kamis, November 26, 2009

Di bawah Langit Merah Kurusetra

Pengenalan tokoh.


Bisma.

Terlahir dengan nama Dewabrata, anak dari Raja hastinapura, Prabu Sentanu dengan Dewi Jahnawi. Bisma memiliki ibu tiri, dewi satyawati yang berputra Citragada dan Citrawirya. Bisma, yang juga mempunyai nama remaja Ganggadata, mendapat segala hal tentang ilmu, baik ilmu berpolitik, perang, dan spiritual dari kerajaan. Bahkan ia diajar langsung oleh sang Ramaparasu, resi Bargawa. Sang manusia kutukan yang abadi. Ketika Dewasa ia di anugerahi nama Bisma, karena bersumpah akan hidup membujang seumur hidup. Dan karena sumpah itu , ia dianugerahi oleh para bathara, dapat menentukan kematianya sendiri. Kesaktian, kecerdasan Bisma tak ada yang menandingi, kecuali oleh cucunya sendiri, Arjuna dalam memanah, dan dalam strategi perang cuma bisa disamai oleh krisna, sang titisan bathara Wisnu. Saat terjadi peperangan baratayudha, Bisma memilih memihak Korawa.

Amba.

Adalah Putri sulung dari tiga bersaudara, dari raja kerajaan Giyantipura, yaitu raja Darmahambura dengan permaisuri dewi Swargandini. Kedua adiknya adalah Ambalika, dan ambaliki. Ia dan kedua adiknya menjadi putri yang diboyong oleh Bisma, setelah sebuah sayembara di ikuti dan di menangkan bisma, mewakili saudara tirinya Citrawirya.setelah membunuh Wahmuka dan Arimuka. Amba yang sebenarnya telah dipertunangkan oleh prabu Salwa, raja Swantipura,memohon pada Citrawirya, agar di ijinkan kembali pada Prabu Salwa. Tapi Salwa menolak Amba Karena ia risih, sudah dikalahkan Bisma, dan ia tak percaya pada amba yang sudah di boyong Bisma. Jadi ia di tolak oleh bisma, salwa, dan citramuka.ia jadi terkatung katung. dan akhirnya mati ditangan bisma, setelah ia terus mendesak untuk dinikahi, sebelum meninggal ia sempat berkata akan menitis menjadi ksatria wanita yang akan menjemputnya dalam peperangan barata yudha.

Srikandi.

Adalah titisan dari dewi Amba. Anak dari Raja Pancala, Prabu Drupada dengan Permaisuri Dewi Gandawati. Ia satu-satunya dari tiga bersaudara yang dterlahir dari rahim , kakaknya Dewi Drupadi dan Drestadyumma, lahir melalui laku pemujaan pada bathara.Drupadi lahir dari api suci , sementara Drestadyumma dari asapnya.

Srikandi adalah seorang ksatria wanita, ia berguru memanah pada arjuna, dan medalami ilmu berperang pada krisna, dialah yang akhirnya mampu membunuh bisma, karena dikatakan, bawa bisma juga pernah bersumpah tak akan melawan saat dia berhadapan dengan seorang wanita.

=========================================================


keterangan diatas saya maksudkan untuk menjembatani cerita yang nantinya akan saya buat, DI BAWAH LANGIT MERAH KURUSETRA, sekiranya dapat sedikit membantu mengenali tokoh sentral yang akan saya angkat.

==========================================================




Dibawah Langit merah Kurusetra



Telah setengah kala dari perputaran purnama, semenjak perang besar bharatayuda ini api sengitnya di kobarkan, namun manusia masih saja berlomba untuk membunuh. Saling mendahului dalam memanah, menombak, memenggal, menghunus, menusuk, menikam satu sama lain. Sepertinya aliran darah yang menggenangi tanah lapang kurusetra belumlah sampai pada akhir, masih akan tetap tercecer potongan tubuh yang koyak, kepala yang terpenggal, juga bagian jantung, usus, hati tercerai berai keluar dari iga pemiliknya. masih akan lebih lama lagi untuk menyaksikan satu persatu para ksatria, adipati, para tumenggung, para senapati, tumbang berkalang tanah . Baik dari pihak Pandawa, maupun dari pihak Kurawa. Demi melengkapi perjalanan sejarah manusia, dan demi menuruti garisan yang telah terrnoktah rapi di lembar-lembar daun tal, ramal para resi, bagawan, bahkan para bathara. Angin tak lagi semilir, tapi panas bercampur dendam-dendam yang telah terlanjur menjadi hutang.

Bisma tergeletak pucat dengan ratusan anak panah menusuki tubuhnya. Kereta perangnya roboh dan tergeletak tak jauh dari tubuh yang sesak bernapas. Dua kudanya mati.

. . . . .

. . . . . . . .