Kopi hangat kita pagi ini

" ...Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya kumencintaimu. . ."


pagi yang gelap ini jadi benar benar hangat. Kita duduk dalam bangku panjang keseimbangan , satu cangkir besar kopi tubruk robusta dan sisa kue moho' tahlilan dari tetangga semalam, membatasi dudukmu dan dudukku yang sengaja tak saling berhadapan,menunggui temperatur aroma kopi agar menguap merangsang bulu hidung bergoyang membersihkan rongga rongganya.Terlalu banyak sedimentasi sepi yang mengerak jauh di lubang lubang itu. Makanya dada kita jadi penuhsesak sedari tadi.

Saat seperti inilah yang sebenarnya begitu lama tak pernah lagi kunikmati bersamamu, ayah. Waktumu dan waktuku begitu brengsek dibatasi rencana rencana.Sampai pernah di suatu titik jenuh , aku merasa yang ada antara kau dan aku malah sekedar kolega kerja , keintiman dua subyek relasi.

Selebihnya : nihil.

Kehangatan kita cuma a,i,u,e,o. . ,
perbincangan timpang yang kehilangan konsonan.

Namun pagi ini lain , kurasakan degup jantungmu begitu antusias menyamakan irama nya dengan milikku.Ada resonansi yang nyaris sama.
Dug,dug,dug. Harmonis.

Ah, lalu sama sama kita mencoba menggilir ,menikmati rahasia keriangan nikotin , sama sama melubangi tabung nafas kita dengan bercak lendir.

Ha ha ha, ayah , jangan tertawa lagi seperti itu, nanti kita dikira sepasang junkies yang telah lama sakaw lantas tiba tiba menjadi kanak melahap linting mariyuana.

Tanganmu yang mengapal meraih kue moho' ,menyumpalkanya di mulutku : nak, pagi ini kau bayiku , demikian ungkapmu , suara terseret yang terdengar berat, serak nyaris tak tertangkap gendang telinga.
Tapi aku mencoba paham, mencoba belajar mengembalikan ingatanku akan pelajaran masa kecil tentang ketulusan.

Ah, yah.
Dunia di luar jendela rumah kita cuma mengajarkanku pelajaran untuk membenci.

Tanganmu menggapai bahuku ,
merengkuh kuat, aku lantas di pelukmu.


Kue moho begitu sukar turun di tenggorokan, karna secara bersamaan perasaan ganjil itu menekan ke atas berlawanan.
Dari abdomen perutku, dari lututku , dari selongsong usus duabelas jariku, dari sumsum tulang belakangku,bahkan dari gurat gurat kecil hormon testoteron di alat kemaluanku.

Aku menggigil.
Aku lelaki.
Ya, aku lelaki.
Tapi entah kenapa, di pagi yang dini ini , tak ada mendung , tak ada hujan.
Pipiku basah.
Matakupun begitu.


: seloraya.
Di dedikasikan untuk ayahanda tercinta.
Makasih yah, buat kado mie goreng spesial dan uang kertas dalam amplop sebanyak duapuluhempatribu.

Tidak ada komentar: