PUISI I PUTU GEDE PRADIPTA

Usai Membaca Sajakmu
untuk AF Kurniawan


sajak-sajakmu yang sulit kumengerti
tanda baca-tanda baca yang kau suguhkan
berpijar seolah lampu-lampu kota
yang meredam dendam  malam
dan alangkah senangnya bila kakiku
dibuatnya sampai tersesat

lalu makna-makna yang tersembunyi
dari setiap susunan kata-katamu
ia hendak meletus
bagai butiran hujan
memukul apa saja yang menghalanginya
mematahkan apa saja yang menghalaunya
termasuk akal sehatku

2012

Lahir di Denpasar, puisinya lebih banyak terpublikasikan di media online dan berkesempatan lolos kurasi TSI-4 Ternate.

SIANG YANG DANGKAL

alangkah riang dan ringan terik kecupan kecupan
merambati pipimu bergantian; kiri dan kanan.
seperti hendak main tebak-tebakkan,
yang mana lebih  hangat ketika dijumlahkan.

sungguh aku hidup tiap kali engkau tiup,
sebanyak  hitungan kelopak mata
yang membuka—menutup.

kau yakin, aku mampu menjulur
sedemikian panjang
dan mudah ditangkap bahkan oleh ingatan
yang tak memiliki perkiraan


di siang yang dangkal tempat engkau memancing
haru biru langit dengan kecurigaan.
tirus lenganku engkau sebut umpan,
aku pandai mengepak. 
membawa segala perihal  leluasa bergerak
jauh dari  dasar benak.




persamaan skripsi dengan kamu adalah; ketika berulangkali kesalahan-kesalahan itu mesti kurevisi --
hari ini status temanku Arief Mafatikhul Huda berubah dari single ke married. selamat kawan kecilku, selamat. Senyam senyum terus pasti si pengantinmu itu. :). Jangan tanya statusku, nanti pasti kujawab, dari single ke lebih single.
sedang dikejar-kejar bab II skrip--puisi.
membayangkan ibu--

di surga itu, kamu duduk begitu cantik, sambil sesekali merobek bungkus cokelat dengan telunjukmu yang lentik.

ah apa kabar, pasti sedang menunggu masa remaja ayah pulang kan?
gemes deh. dia selalu kangen kamu kok bu. tenang saja.
seperti pesan pendekmu suatu ketika. kepadaku kamu merasa tak perlu riuh kata kata untuk berbicara. aku mengangguk; di kepalaku kamu telah bercerita banyak sekali --

SAJAK-SAJAK ARIF FITRA KURNIAWAN DI JAWA POS EDISI MINGGU 5 FEBRUARI 2012


KOTA INI DAN SEGALA SESUATU
YANG  TERAMAT  MENCINTAI PARU-PARUMU

jauh benar kesakitan itu melewati pesan pendekmu
sebelum sampai ke tanganku yang ditumbuhi wallpaper.

kepada paru-parumu
waktu yang pneumonia itu sengaja tuhan buat
agar kau bisa jadi jarum yang berjingkat-jingkat,
agar kau tak dikuntit lagi jam tangan  ketika
kau dan pulpenmu salah membuat kalimat.

kuyakinkan kota ini teramat mencintai paru-parumu.
kota yang tak memberimu banyak pilihan, selain terus taat
menyembah obat-obatan.

kepada selang infus yang kau sebut pom bensin,
- yang bagimu sama membakarnya -
dibandingkan kemustahilan yang  akan keluar dari lubang kecil
lampu milik aladin.
aku titipkan udara yang kukumpulkan dari seluruh
asap  knalpot yang menetap di jalan raya-jalan raya kota ini.


demi tuhan
engkau harus bernapas sebenci-bencinya.

(2012)



OPOR AYAM  KAMPUNG
: hanna fransisca

aku gagal meyakinkan kenangan, masa kecil dan baju baju
yang pernah melahirkan kandang ayam di halaman belakang.
tempat aku dan sebutir telur saling bersanggahan,
teka-teki mana dari kami yang  lebih dulu dipecahkan.

maka tersebutlah ibu,
perempuan cantik yang tak pernah memelihara itik.
yang  menyimpan api  diantara pepatah yang mudah berbalik,
ia percaya cinta berasal dari bayangan bunyi
tiap hari cukup baginya untuk belajar mengipasi.

(desember 2011)



YANG KAU PANGGIL NAMANYA SAMBIL BERLARI

1
selintas  kau mengintip etalase toko roti itu, toko yang lebih dewasa dari senja yang nila di persimpangan braga. langkahmu selalu terburu-buru membawa pulang jam kerja yang tak pernah me-merah-kan  sabtu dan minggu untuk kepalamu agar  tak sempat  berhenti  meski kau telah berusaha menjelaskan pada waktu berulangkali; sebentar saja. ijinkan aku mencatat tanggal kadaluarsanya. kau tahu tiap hari aku makin pelupa, tak mampu lagi mengingat bagaimana cara mengucap selamat hari libur bagi kesedihan. begitulah, tiap kali kau dengar rintih sandal karetnya, kau cuma bisa berbasa-basi  kepada jejak kesepian paling sembunyi. aku tahu kepadanya kau ingin sekali menghibur.

2
pernah suatu  kali, kau dapati ia  terus-terusan memencet dan  mencoba menghubungi nomor  0811220xxxx dari telepon genggamnya. selalu saja  suara operator berbaris santun  memberi jawaban,  nomor  yang anda hubungi sedang tidak aktif  atau di luar jangkauan. tapi  ia yakin, kelak yang ia dan engkau rindukan akan mengerti, maka ia menelan telepon genggam itu, agar kelak  jika  bunyi  nada dering   menggetarkan dada  ia tak perlu was-was  akan luput menekan tombolnya. kau menyaksikannya sambil menangis di depan pintu. betapa mustahilnya mengembalikan waktu dan menjaga segala ingatan yang pernah erat memeluk tubuhnya-tubuhmu.

3
kau berjanji kepada tas cangklongmu yang disana terselip kotak makan dan sebotol air putih bekalmu bekerja, hari ini akan memasukkan tanggal 12 juni, bergulung kertas pita, lilin-lilin, dan perasaan gembira yang belum pernah terekam oleh suara. kau mengemudikan motormu dan membayangkan seseorang memelukmu dari belakang. atau sebaliknya, kau yang memeluknya di pinggang. sebab selama ini  kau cuma memeluk kehilangan yang begitu aihnya. di dalam hati kau mengucap susunan namanya berkali-kali. ini rindu, mesti kupulangkan kemana? . kau menggigil memeluk seluruh kegagalanmu di depan toko roti itu. kau ingin pulang berjalan kaki dan mengucap selamat datang kepada orang-orang yang kau temui setiap kali berpapasan.


ASING

MALL  telah  membusukkan  musim dingin
yang menggumpal di segigil es krim.
musim dingin yang mudah mengelupas dari lutut
anak-anak kecil yang berlari-lari
di dekat patung boneka-berambut merah menyala-
yang memilih mengekalkan senyumannya

; sebab cara terbaik tak lekas dewasa
adalah dengan sering-sering berpura-pura

aku beruntung  dan berterimakasih kepada
kesepian yang telah berbaik hati menyediakan
tempat duduknya meski cuma cukup memuat aku
dan ingatanku. di sini aku menunggu yang pernah
berkelebat menghampar, agar  kakimu  berjalan
mengampiri aku yang beku  dicengkeram
oleh apa-apa yang kumetaforakan dalam puisi ini;

pandangan milik orang-orang naik turun dari elevator,
sepatu-sepatu yang engkau bilang begitu norak dan
girang warnanya, atasan baju kerja, tas mewah yang sengaja
di pajang dalam sangkar, atau aneka gaun yang serba lebar
yang mencerdaskanmu dalam membuat
pertanyaan atau pernyataan  yang sedemikian sukar
untuk lekas  aku tentukan manakah yang benar.

semisal,
tas itu, sama sepinya seperti aku kau ya [?]

(januari 2012 )



Arif  Fitra Kurniawan aktif bergiat di komunitas sastra Lacikata--Semarang. Puisi-puisinya muncul di berbagai buku antologi, antara lain 10 Kelok di Mouseland, Beternak Penyair, dan Tuah tara No Ate