ULUL: KENA AKU MAAAAKKKKK.

ngekek terus di gramedia, gara gara si simpanse Ulul, ngikut. Gimana enggak begitu nyampe TKP ngiterin rak-rak buku sebentar eeee, tau tau, ngiler liat bukunya avianti armand, liat bukunya arafat yang lampuki eta. baca sebentar, tau tau dengan gaya yang gak enak banget ulul nyamperin:

Ulul: mas, tau enstein ga?
Aku: taulah, mang napa? ngetes kejeniusanku nyet?
Ulul: engggakkk. mau nanya ajah, tebak-tebakan yuuuukkk.
( et deeeh, malah ngajak tebak-tebakan )
Ulul: berani gak? siapa fisikawan terkenal dari batak?
Aku: siwalan, halllaaaahhh, kamu emang tau? mana adaaa?
Ulul: ada kokkk swerrr. (ngacungin dua jari)
Aku: arghhhh. bodo ahh, ga tau. Indonesia ga punya fisikawan kaliiii
Ulul:...
            SIR ISAAC NASUTIOOON.

huahahahahaha. (dia nunjukkin buku berjudul "tebak-tebakkan paling gokil")
Anjrrrrriiiitttt, kami ketawa tawa sambil ngelanjutin mpe satu buku abis tebak-tebakkanya.

( trus jadi beli buku apa niiihhhh? )

__ kagak ada. kami akhirnya cuman nebeng tawa-tawa mpe mencreeet aja di Gramedia__

ASING

MALL  telah  membusukkan  musim dingin
yang menggumpal di segigil es krim.
musim dingin yang mudah mengelupas dari lutut
anak-anak kecil yang berlari-lari
di dekat patung boneka-berambut merah menyala-
yang memilih mengekalkan senyumannya

; sebab cara terbaik tak lekas dewasa
adalah dengan sering-sering berpura-pura

aku beruntung  dan berterimakasih kepada
kesepian yang telah berbaik hati menyediakan
tempat duduknya meski cuma cukup memuat aku
dan ingatanku. di sini aku menunggu yang pernah
berkelebat menghampar, agar  kakimu  berjalan
mengampiri aku yang beku  dicengkeram
oleh apa-apa yang kumetaforakan dalam puisi ini;

pandangan milik orang-orang naik turun dari elevator,
sepatu-sepatu yang engkau bilang begitu norak dan
girang warnanya, atasan baju kerja, tas mewah yang sengaja
di pajang dalam sangkar, atau aneka gaun yang serba lebar
yang mencerdaskanmu dalam membuat
pertanyaan atau pernyataan  yang sedemikian sukar
untuk lekas  aku tentukan manakah yang benar.

semisal,
tas itu, sama sepinya seperti aku kau ya [?]

- januari 2011 -
Ke sana kamu akan pergi? Kamu mengangkat bahu sekali. Tak tahu. Tak pasti. Yang pasti hanyalah: kamu ingin pergi. Bukan karena tak mencintaiku lagi, tapi karena cintaku membebanimu. Begitu berat, hingga kamu tak bisa bergerak. Penuh, seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang bisa kamu pikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Satu-satunya cara yang kamu tahu adalah: pergi. (hujan malem minggu, menikmati cerpen Avianti Armand)
http://lakonhidup.wordpress.com/2010/01/28/tentang-tak-ada/ 
2 sampai 3 jam browsing sana sini, cuma nyari aneka tips: meningkatkan daya ingat; cara mudah melawan pikun; tips membaca efektif; bagaimana membuat jembatan-jambatan keledai untuk mengingat; makanan apa saja yan yang dapat menyehatkan ingatan.

uhft. jadi sadar aku makin tua ya, tapi lebih sadar lagi; selain kau, segala sesuatu ternyata mudah sekali aku lupa.

(cheeeerrs. Tuhan bersama orang orang pikun.)

KOMPARASI KAMU

aku sedang mengenangkanmu ke dalam selembar wajah ibu yang menjauhkan dirinya dari peralatan berdandan kecuali di hari-hari ketika ayah pulang, sedikit barangkali perbedaanya adalah kau tak pernah menunggu [si] apapun.
- sedang berusaha sehangat-hangatnya memeluk diri sendiri -

TUMBUH TUMBANG JANUARI

menyemut dari lidahmu  pohon pohon, warung
yang tutup, seorang yang tertidur di atas becak,
berusaha memuntahkan waktu juga harapan harapan
yang dari rumah telah disusupkan oleh ibumu.

selelah lelah lengan mengejar yang membawa lari
sepasang pucat  lampu hijau di perempatan,
aku mengandaikan langit sebagai ladang yang terbalik
agar bis-bis tumbuh dan tumbang seperti hujan, mbi.
agar kita tak lagi mata yang dipanjat kecemasan