Triyanto Triwikromo, saya, dan orgasme paling cantik

Mengulas kegiatan kemarin, saya benar benar mengalami kondisi psikis yang hang, hang di sini saya artikan mengambang, seperti kata float, ya, saya teramat mengambang, apung nyaman menikmati bagian-bagian di kehidupan saya. kecil, ringan, tak terduga. tadinya, saya bener-bener alahmak teramat grogi, mungkin dulu saya pernah bercerita tantang kelas kecil bersama Budi Maryono, saya deg-degan, tapi yang ini melebihi itu, kalau dulu saya bisa meminimalkan perasaan canggung dengan keyakinan bahwa ketrampilan mengolah tangan saya dalam fiksi, cukup pantas untuk memasuki sekumpulan orang-orang cerdas itu. tapi yang ini, bener-bener parah, kenapa, karena saya nekat dan tanpa malunya masuk ke dunia jurnalis, artinya Fakta ! rival abadi fiksi. arti yang lebih lebay lagi, sama artinya bercermin dengan kontradiksi . saya jadi terjun bebas tanpa parasit,...
brukk.

Kelas ini lebih medioker, maksud saya, dibanding kelas fiksi yang dulu, kuantitas yang ikut lebih banyak, semua bangku nyaris terisi. hampir enam puluhan dan ini, well, seperti biasa, saya merasa menjadi manusia terkatrok waktu pertama kali melihat daftar absensi yang hadir, rata-rata mereka para calon wartawan, ada yang sedang magang, mahasiswa komunikasi UNDIP, mahasiswa tarbiyah IAIN, mahasiswa sastra dari Unnes, mahasiswa boardcasting Udinus, dan so pasti, saya selalu paling ngga jelas satusnya, saya mahasiswa apa ya ?
dan kelas ini digawangi oleh wartawan senior SUARAMERDEKA, ada Amir Mahmud, Triyanto Triwikromo. dan Saroni Asikin.

jadi singkatnya, kami di dudukkan disini untuk mengunyah sirih pengetahuan tentang pelbagai hal dalam jurnalistik, dasar-dasar penulisan, rumus-rumusnya, kode-kodenya, ini-itunya, itu ininya, dan bla,..bla,..bla,...

yang surprising, ternyata oh ternyata, lagi-lagi saya , ehem, boleh ya sedikit sombong. ehem, saya berhasil menyelesaikan dua kuis yang di lemparkan dengan predikat paling cepat ! bukan sekedar cepat, tapi karya saya dua-duanya juga masuk 'nominasi' karya yang di ikutkan dalam pemilihan siapa yang jadi juara. dari puluhan karya enam yang masuk nominasi, lantas di bahas kebaikan dan kebusukanya,he he, dan,....


kuis pertama mungkin cuma pemanasan, karena memang kami cuma diberi tiga password yaitu : seberang--semangat--inovatif.
lantas kami seperti mengisi waktu setelah palu di ketuk dengan rasa was-was, apalagi saya pribadi, langsung sepersekian detik mengalami korslet tak bisa memegang pulpen dengan tegak, apalagi menuliskan sebuah kata. pet.pet.pet. keadaan jadi dingin, tegang, dan akhirnya suara dari mikrofon dari juri mengagetkan saya, untuk menulis sesuatu, bukan seatu, tapi sekata, bukan sekata tapi eh, apalah namanya, serangkaian kata berbahan dasar fakta. fakta.melawan dunia saya yang fiksi.uh.
ehem, tapi entah kekuatan darimana yang mendorong tangan saya untuk mengacungkan tangan, dan angkat tangan berarti karya telah selesai, dan langsung di kumpulkan ke depan. dan kalian tahu saya mengerjakanya dalam waktu tiga menit lebih sepersekian detik. dan seperti inilah karya asal dalam tiga menit itu : impian adalah keinginan dalam hidup yang sudah seharusnya diperjuangkan sampai ke seberang. dan semangat adalah perahu satu-satunya paling logis untuk mengarungi laut lepas penuh hambatan, disamping rencana rencana kreatif, inovatif, dan tentunya sedikit persentase keberuntungan.

yap ! alhasil karya saya, niscaya akan masuk nominasi sebagai karya paling sampah , andai saja di depan , sebelum kuis itu di lempar, juri menjelaskan terlebih dulu semua tetekbengek kriteria tulisan dalam bentuk jurnal,tentang aturan bakunya, cara penulisan aktualnya,bla. . .bla ,..bla,..
huaaah, untungnya mereka cuma minta kami untuk menulis cepat dengan tiga kata itu tanpa ikatan aturan apapun.
kata mereka,...
saya punya talenta jadi sastrawan, bukan wartawan,....
ha ha ha. beginilah seseorang yang lahir dari rahim fiksi, jika mesti mengunyah hidangan yang serba fakta. ancuuuuurrrrrrrrrrrr,...


setelah kuis session pertama selesai maka mas Saroni asikin, memberi wejanganya yang bla bla bla menyebalkan itu, tentang jurnalisme sastrawi, jurnalime koran, jurnalisme feature, jurnalisme remaja dan anak-anak, tentang gaya bahasa, diksi, dan penggunaan ejaan yang baku. huh,terus terang saja saya tak begitu suka dengan gaya bertuturnya, terkesan menggurui, dan satu hal lagi yang membuat saya berdoa supaya dia cepat-cepat berhenti ngoceh : dia terlalu sering menyibakkan rambut panjangnya yang awut-awutan.


dan akhir penantian itu datang juga setelah having Lunch , setelah perut saya terisi soto semarangan dengan perkedel, tempe keripik, dan sate kerang. kali ini kuis dilempar setelah kami mendapat pengarahan teoritis lengkap dari mas Triyanto, tentang menarasikan fakta, membuat Lead, arti Deadline bagi orang jurnalis, highlight karakter, akses karakter, dan tak lupa 5W plus 1H yang dari kelas satu es em pe sudah di berikan oleh guru bahasa indonesia. dari semua yang ia berikan, satu hal yang saya paling suka dari mulut seoarang Triyanto adalah saat beliau bilang : kita sering lupa berterimakasih kepada kata-kata,....


klik.
sebetulnya perasaan kagum ini sifatnya pribadi, maksudnya, jauh-jauh sebelum ini, saya sudah ngefans berat sama mas Triyanto....
jadi sewaktu dia bicara panjang, telinga saya benar-benar bisa menyerap tiap kata-katanya.
akhir dari katanya berujung pada sebuah kuis, yang sebelum ia sampaikan ia bisik-bisik berunding dulu dengan para juri, bahwa 3 karya tercepat dan tiga karya terbaik akan mendapat hadiah yang akan dikirim ke alamat sang jurnalis.

dan jeng jeng jeng'
duriduridamdamdam....

dalam waktu enam menit saya berhasil mengangkat tangan saya, menyelesaikan karya saya, dan ah,.... lagi lagi saya the earlier one more !
dan yang ini tulisanya terdiri dari lebih dari seratus limapuluhan karakter,
lega.bangga.
karena di koreksi pun, karya saya tidak banyak keluar dari rute dan pagar jurnalistik, cuma kata juri, karya saya masih tersusupi fiksi, frase fiksi dalam tulisan saya adalah :... namanya bersanding dengan judul cerpen yang di tulis besar-besar di koran .

harusnya , kata juri, bersanding di ubah menjadi dihubungkan.
dan maaf karya yang ini tak bisa saya tampilakan karena langsung dikumpulkan ke juri, langsung di dedah saat itu juga, dan untuk menulis sebanyak itu ber modal ingatan alakadar saya merasa tak mampu. jadi terpasa karya itu tak bisa tampilkan disini.


well, dan akhirnya, selalu ada perenungan dari tiap kejadian, saya makin bingung dengan diri saya, saya merasa terperangkap dengan beragam talenta. di tengah-tengah orang bahasa, saya dikira anak sastra, di tengah ibu-ibu, saya di sangka tukang masak, di tengah anak-anak kecil saya di panggil om guru, di antara teman-teman sebaya, saya di bilang calon sastrawan,...

dorr ! !

dan sempat kali ini juri bilang ,
saya berbakat magang jadi wartawan ! !
saya bertanya apa dasarnya ?
mereka jawab bergantian,
kau cepat dalam menulis !
kau membiasakan diri dengan dead line ! !
dan kata-kata kau begitu beragam ! !

dan yang bikin saya orgasme,...
saya diberi tugas meliput, mengamati, mengambil obyek tulisan tentang pasar tradisional. dengan tenggat waktu seminggu !

ssst,....
entah kebetulan atau tidak, karena kemarin-kemarin saya menulis asal cerita Naomi, dan settingnya juga pasar.
dan satu lagi bocoran, kenapa dua kali bisa mengangkat tangan paling cepat
; saya menggunakan cara persis sama saat menulis kuis jurnlistik dengan saat saya menulis Hilangnya Lampion Dari mata Naomi.
dan itu artinya,....
sebuah keberhasilan teoritis menuju awal.


dah dulu ah,
panjang bangeeeet tulisanyaaaaaaaa,.....



silahkan klik disini, untuk melihat profil Triyanto Triwikromo

Tidak ada komentar: