ini untuknya

mungkin bukan salahnya,
jika aku selalu mencari tanda-tanda itu pada tiap wanita yang ku temui.
di koran,
di buku resep masakan.
di tiap ayunan taman yang saat ku dekati ternyata sepasang masa kecil
sedang mencari kegembiraan yang telah lalu dirampok keculasan jarum jam.

lantas dengan kesedihan yang lugas
sepasang masa kecil itu bertanya padaku seperti ini :

Paman, maukah kau menjadi rahim,

dan mengeramiku sepanjang duaratus tujuh puluh satu malam ?

aku seperti di kepung puluhan musim yang igau.
yang harap.
yang menaruh ujung penanya diatas rasa bersalahku.
menggerus dan membentuk luka kaligrafi yang sampai seperempat dari hitungan abadku,
aku tak juga mampu dengan apa mesti memberinya nama.


aku merengkuh sepasang masa kecil itu.
menghadapkanya pada kaca yang di tepinya tumbuh mata kelabu usia.
lihat, aku kau sama.
lihat,
di jantung kaca itu selalu mengarca

dia, dia, dan dia.





ibu, aku cinta kepadamu,
tak peduli lagi kalau nanti Tuhan merasa cemburu
dan merasa diduakan.


gambar diambil disini










Tidak ada komentar: