Hilangnya Lampion Dari Mata Naomi

Hilangnya Lampion dari mata Naomi.

Gang baru, 1981

Orang-orang memanggilnya Naomi. Entah kenapa tiap malam aku ingin bertukar rupa denganya. Wajah yang pipih harmonis, lengkung alis yang padat bermuara pada hidung bangir, berpadu pipi yang melesung jika ia tarik dua sudut bibir tipisnya. Ya, aku selalu berdoa sebelum tidur, memohon ada malaikat yang berkenan meluluskan permintaan ini, agar pagi harinya sehabis bangun tidur wajahku bertukar dengan wajah Naomi.

Asal jangan dengan mata milik Naomi, aku kurang suka. Iri bisa jadi. Matanya terlalu sempit bagiku, mata oriental itu takkan cocok untuk gadis sepertiku yang mesti membentak orang tiap hari. Dan memang sepertinya,aku paling cemburu saat menatap dua bulatan sempit mata itu jika ia sedang tertawa, Kata emak, mata Naomi beningnya melebihi telaga.

Aku sering melihatnya berlarian sambil terengah-engah. Dua tangannya menahan buntalan besar di punggung, berlari dari arah kelenteng Tay kek Sie yang berseberangan dengan ujung jalan masuk pasar ini, berhenti di sebuah kios, bukan kios, melainkan tempat berdagang yang cuma diatapi terpal coklat, dengan tiang-tiang dari bambu yang akan terhuyung ke kanan kiri jika ada angin menghempas. Dan dari sini, jarak yang cuma kira kira lima belasan meter dari tempatnya berlabuh meletakkan beban yang ia gendong, aku sering mendengarnya , berbincang dengan lelaki renta dalam bahasa yang tak ku pahami.

Kami memang tidak tiap pagi bertemu, cuma pada hari tertentu saja, ketika aku mulai membantu menata dagangan milik emak. Emakku jualan Nasi ayam disini, berdesak-desakkan rapat dengan para penjual lain, dan aku , harus menyelesaikan ini semua sebelum jam enam pagi,tiap hari. semantara emak mengusung sisa sisa keperluan jualan dengan diantar becak pak Usin, dua tiga kali usungan dari rumahku di sebuah lengkong sempit kampung Brumbungan sana. Ya, pejual lain akan segera berdatangan, dari penjual Lobak, penjual gelas, penjual es cincau hitam, bubur, penjual peniti. Pasar Tiban ini akan hidup dengan aneka macam suara, aneka macam teriakan, aneka bahasa umpatan, semua sempurna tercampur eksotis dengan dialek para pembeli yang hampir semuanya bermata sempit mirip mata Naomi. Tapi bagiku, Mutiara disini tetaplah Naomi, meski aku tak mengenal akrab siapa dia sebenarnya, kecuali dari desas desus. Telingaku terbiasa mempercayai desas-desus, bisik-bisik, dan omongan yang entah mengapa selalu mengisi tiap pagi sampai nanti pasar ini lenggang pada tengah hari.Yang pasti pasar takkan pernah menyimpan rahasia. Yang aku tahu, setiap kali ia mengantar buntalan itu di Los kios sana, dia akan selalu mampir ke tempatku, tempat emak berjualan. Membeli beberapa bungkus nasi ayam.

Awalnya aku tahu dari penjual di kanan kiriku, kata mereka, Naomi selama ini tinggal bersama Enciknya, yang tinggal di kampung sekitar Pekojan, pemukiman padat yang sebagian besar dihuni keturunan cina Tio ciu, Hokkian, dan sisanya dari Keturunan Minnan serta orang-orang arab.

... ... ....

Tidak ada komentar: