#2 : gulungan perkamen di sebuah november

wajah anggrek bulan



Satu jam pertama.


Kusangka kau udara.

Yang tak mungkin kubatasi dengan garis-garisku.

Yang tak kuasa kudindingi dengan ego keperempuananku.

Yang malah akan jadi mustahil jika aku memaksa untuk menentukan.

Karena justru disanalah kehormatanmu ada.

Tanpa perlu pertentangan.

Meskipun kurasa kau tahu.

Aku perlu.

Dan ingin.

Ingin yang luarbiasa padat.

Tapi apalah keinginan.

Jika nyatanya kau tak terlihat gugup,

Saat kuhirup kemudian ku hempaskan.

Kau ikhlas yang menyeretku untuk mengikuti hasrat yang saling berkejaran..

Dan lagi-lagi, aku mau.



Satu jam kedua


Kusangka kali ini kau hujan.

Yang akan mengajakku bersama mengeja dalam hitungan.

Tik.Tik.

Tik.Tik.Tik.

Dan tanganku,

Alangkah terkesiap menempel di kengerian itu.

Saat Kau menjahit sayatan panjang lukamu sendiri.

Begitu tabah merekatkan gerimis demi gerimis.

Tiba tiba aku ingin jadi tetes yang sama.

Rintik yang sama.

Deras yang sama.

Kalau bisa.

Satu jam ketiga.


Kusangka akhirnya kau senja.

Setelah halaman muka sebuah November basah oleh cokelat ranum pada sabtu kedua.

Bukan lagi teh hangat bersama sepasang cangkirnya..

Bukan lagi perjalanan antara koma ke koma.

Sebelum ,

Aku tergesa mengecupmu dengan tanda tanya yang bising.

Kapan kau ijinkan aku menepi.

Agar kepenatanku leluasa menangis di belakang punggungmu.

Sekedar merambatkan gelombang pasang ini,

memasukkan satu-satunya jerit

dari belakang matamu yang berduka.

; jam enam kurang sepuluh.


Tangkup tangan kita tak sanggup meredam tiktoknya.

Sementara Menit-menitmu rakus menguras habis energiku.

Tubuhku kini tubuh yang buta.

Letih sekali tubuhku mengengkaukan aku padamu ! ! !

*masih di November yang sama, di sabtu yang berbeda.*



========================================================================================================================




wajah kumbang


tak pernah terlintas akan menumbuhkan musim hujan ini dari kesepuluh kuku-kukumu.

kau terlalu ibu.

aku serpih debu mahenjodaro dan harappa.

puing yang tinggal diantara batu.


tapi kenapa kau memutuskan tetap karam.

meski letih.

mengunyah perih.

pasrah.

meminjamkan keteguhanmu.

sementara mataku.

suurut serta pasang lautmu disana.



kau tahu ,

meski ini bukan sabtu,

aku berhasrat menanam kosakata ini pada bibirmu.

kegelisahan yang memang tiba-tiba.



karena waktu selalu menanyakan usia.


jadi,

maafkan aku.

sore ini mengajakmu hujan-hujanan lagi.


biru-biruan lagi.






Tidak ada komentar: