Manisnya kecewa

Sebagaimana kau telah mengingatkanku,
meski dengan menjadi pisau yang tegak di punggung belakang ini.
Dengan begitu aku belajar memahami kontsruksi emosi. aku mengupayakan diri untuk mencecap warna darah. Yang tak lagi merah tapi biru. Biru yang dominan.
Perih. Tapi kunikmati.

Lalu aku menyanyangimu kan ? serupa pena yang selalu merindui hurufhurufnya.
Selalu.
Setiap waktu hampir lupa jeda.

Maka buatku apa arti kecewa ?
Aku belajar untuk tak peduli.
Pada apapun,
pada siapapun,
pada bagaimanapun
pada dimanapun

dengarkan ini ya ,

aku ,
tak akan pernah bosan untuk kecewa berkali kali.
Karena aku semut yang memaku namamu sebagai aroma gula.

: atas nama kecewa.

Tidak ada komentar: