Kepada ayah

" segera pulang Yip , nanti kamu kehabisan waktu "

seperti ampuhnya mantra , kata katamu mengubahku jadi katak menghadap ke jelaga.

Ayah ,
jendela ini terlalu pagi untuk membaca takdir,betapa susahnya memprediksi ruas ruas kalender di telapak palmistri.
Seperti anak anak lelaki lain dari ayah yang lain,aku juga berharap galahku mampu menggayuh ranum.Ranum yang aku dan ayah sering igaukan.Ranum yang taman taman pun tak cukup menampung getahnya.

Yah,
yip akan pulang , pulang karena yip merasa telah meninggalkan.
Akan menuju titik kembali lantaran yip dahulu pernah memilih pergi.
Jadi harapan itu katamu adalah menunggu ?

Tidak ada komentar: