Kegilaan Wisanggeni (1)

hai kau mau kemana ?
disini dulu, biar kulengkapi kisahmu tadi.
katanya kau tak terlalu sibuk mendengarkanku bercerita.....

Gaya penceritaanmu lucu, renyah, pengkisahan seperti ini cuma bisa kutemui pada ibu, ketika beliau mendongeng Timun Mas dan Takdir si Koala, benar benar nempel di dinding pengingat.
kamu berhasil menduplikat caranya bertutur. Kamu berhasil mengajakku menari di dalamnya. memasuki ruang ruang mini berlabel de javu.

aku memang bandit mungkin, dan kamu adalah tokoh sentral yang selalu berpatisipasi dalam kejahatan-kejahatan masa kecilku. aku nyaris tak percaya lho tadi, kamu membantuku membangun ingatan-ingatan itu, perfectly. menyenangkan ya, andai saja sepasang anak kecil ini diperbolehkan Thinkerbell, si peri negeri neverland agar jangan terburu dulu menjadi dewasa.

aku ingat betul, dulu aku merasa bahwa kehadiranmu, kelahiranmu, cuma akan mengganggu superioritasku sebagai anak dari ayah dan ibu. habis, setelah ada kamu benar adanya kan, segala sesuatu mesti di bagi.
Rata !,entah itu mainan, jajanan, tempat tidur, juga perhatian. serius.aku cemburu, super super cemburu. dan itu yang membuatku sebal, keki padamu. ada saja alasan untuk menyingkirkan perhatian ibu darimu. ternyata kamu sekecil itu merasa juga ya ?

kamu ingat, waktu ibu seperti biasa kulakan ke pasar buat nyari dagangan setiap hari pasaran , dan ibu terlalu percaya padaku, mewanti wantiku agar ngemong kamu. aku tak berkata apaun, karena yang masih ku ingat adalah setelah ibu berangkat,olala, surprising !
aku mengambil gunting dan ku potongi rambutmu yang berponi itu. Benar benar hancur.aku cepak sana, cepak sini, dengan mantabnya menggunting ngawur sambil membayangkan seorang karyawan Barbershop beraksi. dan sialnya lagi, ini yang kadang tak ku mengerti dari dirimu : sudah tahu aku mengacak-acak dandanan rambutmu, kamu malah bilang, ihh, badus a', badus....

lalu kamu tahu sendiri apa yang kemudian terjadi sepulang ibu dari pasar . dan ini selalu kucatat, semasa hidupnya, inilah kemarahan paling besar yang kuterima dari mendiang ibu, aku di katainya begundal, aku di katainya bajingan tengik.kamu tahu, dalam usia sekecil itu aku belum akrab, belum mengerti dengan katakata orang dewasa itu, tapi aku paham, itu kosakata umpatan,ibu sedang memuntahkan makian padaku.dan itu ku pahami dari matanya yang merah sangar.Klotak, sempurna !
sandal bakiak dari kayu mahoni yang ibu kenakan mengenai pelipisku. aku tak menangis kali ini, bahkan saat ibu meneriakkan kata minggaaaaaat kau begundal..., tak setetespun keluar airmata. aku menatapmu sebentar, pandanganmu seolah bertanya ini sedang terjadi apa.
aku mendobrak pintu dan berlari sekencang kencangnya ,sejauh-jauhnya dari rumah. waktu itu aku memang masih terlalu hijau untuk memahami kata minggat sebagai usiran. tapi dua hari aku tak pulang kan ?

dan orang-orang menemukanku di kandang sapi milik mbah yahudi, aku bersembunyi disana, membiarkan seluruh desa mencariku siang hari dan malam hari. Orang-orang mengira aku di sembunykan setan Lampor, demit jejadian yang sering berkeliaran menabur bencana. Semua kecele.
tapi sejak itu aku tahu, betapa ibu masih mengkhawatirkanku, kamu lihat sendiri juga kan, betapa dia langsung bersimpuh di hadapanku, menerobos kerumunan orang-orang. Dan ia menangis. airmatanya membanjiri kepalaku, pipiku, daguku.ia memelukku erat, menciumiku bertubi-tubi. mungkin pikirnya satu mimpi bisa mendapati puteranya kembali.

Yang jelas, sejak saat itu, meski pandanganku padamu belum berubah, tapi aku mulai menyayangimu, meski kadang kamu tak bisa melihatnya dengan jelas.
jadi sini, biar ku ceritakan rahasiaku juga, betapa aku menyayangimu.mungkin dengan cara cara yang menurutmu berbeda.

tak ingatkah kamu,
ketika musim hujan tiba dan alamat kamu pasti angin anginan, meriang, demam, batuk pilek. dan sesuai adat di desa, tiap anak kecil yang sakit pantang di bawa ke dokter, tapi mesti di panggilkan dukun pijat, buat di kerok.
dan kamu tau, sudah ku bilang berkali kali baik pada mak mujik dan mak Ngatini. Untuk tak sekali kali masuk rumah ini, menjamah dan melumurimu dengan minyak sayur demi memijit dan mengerokimu. Mereka bandel, Yang pertama mak Mujik, kepalanya lecet-lecet kuhajar dengan gagang rotan penggebuk kasur, itu hukuman yang pantas karena ia telah membuatmu menjerit-jerit kesakitan,
dan yang kedua, mungkin karena mak mujik sudah tak berani menginjak teras rumah , ibu memanggil mak Ngatini saat kau meriang lagi. dan untuk menyambut ritual itu, ibu sengaja memasungku dalam kamar, aku dikuncinya dari luar.
dan benar saja, kamu meronta ronta meminta ampun dan berteriak sakit, sakit aduh ibuuu, sakit.
akhirnya apa ?
aku memecahkan nako kaca jendela. mencari gagang sapu dan....
menghancurkan kepala mak Ngatini.
aku sudah bilang kan, tak ada yang boleh membuatmu menangis kecuali aku. kakakmu.
dan ibu mendekap kita berdua setelah meminta maaf dan mengantar mak Ngatini pulang. Beliau tak memarahiku seperti biasa. Aneh bukan caraku ?

lantas waktu dhec,
menyusun gurat-guratnya sendiri. Kita sekolah di tempat yang sama, sekolah yang dulu jadi impian tiap orang tua yang mempunya anak seusia kita. keadaan berbalik, sekarang kamu yang merasa cemburu atas apa yang ada padaku, kecerdasanku, talentaku, popularitasku. heh, apa kamu bilang tadi ? seolah aku risih jalan berdampingan denganmu ya ?


ah, kamu. Masih saja tak paham rasa sayangku, perlu kuuraikan kisah lagi ?


jangan beranjak dulu,
karena duduk dan mendapati suasana seperti ini jarang kudapati denganmu dhec,...
kakak masih ingin bercerita.




gambar diambil dari sini






Tidak ada komentar: