Biarkan dia menari dulu

Dia anak yang normal kok menurutku, dan aku tak pernah rela orang lain punya asumsi ia anak dengan kebutuhan khusus. Cuma karena tatapan matanya sering kosong, cuma karena ia sering tersenyum tak jelas ketika ada yang bertanya suatu hal kepadanya, sebelum kemudian dia akan menjawabnya dengan jawaban yang menurut orang lain tak pernah nyambung,Nganeh-nganehi. Bahkan aku menggaransinya, dia sehat, bukan autis atau idiot. Dia sama asyiknya dengan yang lain, dan ini bukan lantaran sebulan ini aku mulai menjadi pendamping pribadinya untuk mata pelajaran bahasa Inggris, bukan juga lantaran seringnya aku mendapat kue- kue kecil ketika ia pulang dari gereja. Bukan. Bukan dengan alasan itu aku membelanya.

Aku cuma ingin ia memberikan haknya untuk berkembang, bersenang-senang, menikmati segarnya kuntum-kuntum ilmu pengetahuan. Tiap anak memiliki otoritas guna mandapatkan pendidikan yang layak. Ya, Pendidikan yang layak !.mungkin cuma itu pasal yang ku doktrinkan sendiri jadi kitab suci. Dan aku adalah penganutnya paling setia.
Aku bukan pendidik, bukan pengajar yang mengusai area dan denah sistemik pembelajaran. Bagaimana seorang anak dengan cepat mengalami pertumbuhan kemampuan motorik, kecerdasan kognitif,grafik grafik tentang emosi dan intelegensi, dan teori-teori mendidik dengan baik yang memang tak penah ku kecap barang sedikitpun selama ini. aku cuma punya kemampuan, lebih tepatnya kemauan untuk mengajaknya mensejajarkan diri dengan yang lain, serasi dengan Tata, Umam, Agil, dan anak seumuranya.

Dan buktinya, dia mampu, dia bisa membedakan warna, mengurutkan angka, menyusun aksara. Meski mungkin aku butuh tiga gelas plastik air mineral untuk menerangkan padanya, liurku benar-benar dibuat kering akibat ulahnya.bayangkan, pertama kali mendudukkanya di kelas kecil ini, aku bertanya padanya,
Sur, kenapa buah pada gambar ini dinamai Durian ?
dan dia menjawab dengan malu-malu.
Karena buahnya tak seperti melon.
semua tertawa, aku menggaruk-garuk kepala. Ada sesuatu yang pedih di dalam sini, disebelah kiri dekat dada, ku kuadratkan kesabaranku. Aku tak mau menertawainya seperti teman-tamanya, kuusap kepalanya, kuyakinkan dia, jadi anak lelaki harus punya suara, Ayo, ulangi lebih keras dan lebih tegas. dia mengulangnya, dan mengulangnya, Sampai ruangan panas tanpa Ac ini hening di serap suaranya yang lantang. Aku katakan ke yang lain, setiap jawaban memiliki keunikan tersendiri, aku balik bertanya, apa jawabanya keliru ?
anak-anak diam. Sediam-diamnya.



Terus terang, tadinya aku memang cuma
mengampu bahasa inggris, tapi bagaimana mungkin menjabarkan ragam bahasa asing secara instan , jika kurasa ia belum siap menerima ?

aku mesti mengajaknya berlari dulu agar bisa sama-sama mengejar start bersama teman-teman yang lain.

Jadi menarilah dulu Sur, berlarilah dulu, agar otot-ototmu lentur, rileks.
Dan kelas ini, berjanji akan membantumu.
Tak akan ada lagi benturan di pintu.
Tak ada lagi tangan yang akan menampar pipi.
Tak akan ada lagi suara si bego atau si idiot.
Tak ada lagi balsem remason tiap kali kamu keliru mengerjakan.

mulai sekarang kamu boleh belajar sambil tertawa,
mulai sekarang kamu bisa belajar sembari beryanyi,
mulai sekarang kamu bisa melakukan apapun sambil belajar.


kenapa ia dinamai durian ?
Karena ia tak seperti melon.
hmmm.

gambar dipinjam dari sini


untuk surya : malaikat itu bernama engkau
surya artinya matahari !





Tidak ada komentar: