kegilaan Arimbi


Ceritaku ceritamu

Tahukah kau tempat apa yang paling indah ?
Rumah kita.
Meski dindingnya batu bata, atapnya bocor sana sini, alasnya dari papan yang telah rapuh. Tapi ia akan selalu jadi tempat persinggahan paling hangat bagi kebersamaan kita. Disana ada cerita. Dan aku ingin mengingatkanmu pada kenangan yang tersimpan rapi dalam lemari rumah kita.


Ingatkah kau kak?

Waktu itu aku baru saja lahir dan umurmu kira kira dua tahun. Karna iri atau mungkin kau belum terbiasa dengan kehadiranku, ingat apa yang kau katakan pada ibu?

" Buk, adikke belikan sama sapi aja, bial dimakan, bial nggak minta gendong teyus. "

Ibu cuma tertawa mendengar ucapan cadelmu itu. Ibu paham kau belum terbiasa dengan kehadiranku, dan mungkin enggan jika harus berbagi kasih sayang dan perhatian denganku. Kau pikir kehadiranku akan mengurangi porsi cinta orang serumah yang semula hanya untukmu. Kaupun sering marah dan uring uringan tanpa sebab hanya untuk mencari perhatian mereka. Pernah suatu pagi ketika aku sedang terlelap dan ibu mencuci, kau mendekatiku, memandangku, tapi tiba tiba kau menarik bantal yang mengalasiku sampai kepalaku mluntir. Tentu saja aku menjerit jerit karna kaget luar biasa. Serentak ibu dan nenek masuk kamar dan ibu menggendongku. Mereka menatapmu menyimpan tanva. Kau merasa tertuduh. Tak urung, tangismupun pecah bahkan lebih keras dariku.

" Ya alloh kakak, adiknya diapain kok sampai nangis keras begitu? Sama adiknya nggak boleh nakal dong ! "

" nggak, nggak nakal "

Kaupun menangis lebih keras antara marah, takut dan tentu merasa bersalah. Nenek membopongmu, mengajakmu keluar dan sibuk meredakan tangismu. Kaupun jadi berpikir ibu tak sayang lagi padamu, buktinya ibu malah menggendongku tanpa menghiraukanmu. Padahal kamu juga butuh dipeluk dan ditenangkan saat menangis karna suatu hal.
Malamnya, seperti biasa ibu membacakan dongeng sebelum kamu terlelap. Sambil berulangkali mencium keningmu. Ibu juga mengatakan bahwa kau adalah anak lelaki ibu yang paling hebat.

Mungkin kau tak mengerti, tapi mestinya kau merasakan bahwa ada atau tiada aku, ibu dan semua orang tetap sayang padamu.

Seiring berjalannya waktu, kaupun berusaha menerimaku sebagai temanmu. Meski katamu tak asyik karna tak mungkin bisa diajak main bola. Setidaknya aku bisa kau ajak bercerita, ya, walau tak mengerti juga karna aku masih terlalu kecil. Tapi kau pelit jika punya mainan baru. Menyentuhpun aku tak boleh. Nanti, kalau kau sudah bosan baru aku boleh meminjamnya. Pintar benar pangeran kecil kita ini.
Indah kan kak?

Yang ini waktu kita SD. Kakak sering memarahiku karna aku ingin slalu menguntit kemanapun kau pergi. Malu. Karna katamu kau sudah besar dan hanya ingin bermain dengan teman sebayamu. Lagian nggak banget main sama cewek. Uhh menyebalkan.

Aku ingat lagi, kalau yang ini kita sama sama SMP. Ternyata si kakak ini jadi bintang disekolah. Banyak cewek yang naksir. Aku jadi ikut terkenal karna aku adikmu. Tapi risih juga karna kalau ketemu sama mbak mbak itu, mereka bisik bisik. Eh itu adiknya Fitra { nama panggilanmu }. Tapi aku tak suka satu sikapmu waktu itu, kamu terlalu gengsian. Gimana enggak coba, berangkat atau pulang sekolah kamu tak mau berjalan beriringan denganku. Malu. Padahal kita satu sekolah. Aku mungkin terlalu jelek menurutmu ya? Tak apa aku tak peduli, aku slalu menerima apapun sikapmu padaku. Bahkan ketika kau memarahiku karna aku pakai baju milikmu dan mengatakan bahwa tak akan mau memakai bajumu tapi yang aku pernah meminjamnya. Wah wah apa nggak berlebihan tho?

Kini kita telah sama sama dewasa, bahkan aku sudah memberimu ponakan. Kau tak seperti kakakku waktu SD atau SMP. Kau kakak paling hebat didunia. Kau sering mengingatkanku untuk tak malas menulis, untuk selalu berusaha dan jangan pernah menyerah.
Biarkan cerita kanak kanak itu tetap terbingkai rapi di almari rumah kita. Agar ia slalu hidup dan bernapas pada jiwa kita.


tulisan ini karya paling gila dari adik saya, arimbikecil

ha ha ha,
ternyata....

gambar Ali dan Zahra diambil dari sini

Tidak ada komentar: