Padamu rahimku


Padamu.

Pesanku lebih dulu jadi kertas

di genggam hujan.

Yang terbaca cuma batas jalan,

Sungai, batu kali, dan naifnya keraguan.

Kau mencariku,

membolak balik tiap halaman.

Namun percuma.

Tak ada aku disitu.

Padamu.

Kisahku kadang ingin berpaling.

Mencari bibir lain

yang lebih mahir mengucapkan sihir.

Barangkali kudapat rongga lebih lapang,

Menerima alamatku yang baru,

Sesudah nanti kubangun rumah

dari rumput dan aroma tanah .

Namun sia sia.

Tak ada yang lebih mungkin.

Tak ada yang lebih paling.

bagiku janin yang terlanjur dikutuk rahim.

Padamu..

Ku ejakan berapa entah yang tak mau surut.

Labil,

Sering menjadi gelombang memusuhi perahu.

mengucilkan harga diriku.

lihat,

cahaya lampu diatas mercusuar padam.

tinggal matamu menghalau ribuan kunang-kunang.

( rahim, rahim, rahim : saya tak habis pikir, sampai skarang saya terus dihantui perasaan mendua )


gambar dari sini

Tidak ada komentar: