MERAJUT NENEK MERAJUT



ia punya awan-awan yang kami sangkal. lantaran tidak ada burung sanggup hidup mempertahankan nyanyian di sana. jatuh diserang jarum-jarum rajut dan bisikan milik maut yang bangkit di hari ia pernah berjanji kepadamu menceritakan bagaimana pahala dibuat untuk meretakkan dada  kami.

lewat sobekan kecil di gaun panjangnya yang hitam kami melihat masa depan anak-anak kami menjulang di atas jembatan plastik yang mudah dipermainkan. di pindah dari bahu kiri ke bahu kanan, atau sebaliknya.


kami merasa sudah ratusan tahun menjadi penduduk sebuah dusun terjepit di sela jari-jarinya yang gagal mengenang nama siapapun. ia masih terus merajut sembari sesekali membenarkan letak kondenya seolah sedang membenarkan sejarah yang melenceng agar kau tak tersesat ketika ingin memahami kami.


(2014)

3 komentar:

Unknown mengatakan...

grandma... :)

Arif Fitra Kurniawan mengatakan...

hu um, Grandma bahasa enggerisnya....:D

Unknown mengatakan...

cimingit cimingit