PUISI YANG TERBIT DI BULETIN KERIS* (edisi#13)



YANG  HIDUP MENGHADAP MATAMU   

Aku mengangankan seluruh tubuhku
menjelma sebuah kacamata agar selalu
hidup berhadapan dengan matamu
 :sepasang mata yang gemar sekali membaca

di depan pintu kamar matamu aku kirim riuh ketukan,
milik seluruh  burung-burung yang lama bermukim
di atas kepalaku, yang dengan perih paruhnya  rela melepas 
langit mereka agar  bisa segera kau penjara

penjara yang akan  dibawa  pandanganmu bertamasya
ke segenap penjuru tempat yang menyediakan garis peta,
tiruan bola dunia, antariksa
serta seluruh yang fiksi bagi  sempit harapanmu  namun
selalu kauhirupkan  ke dalam  nyata paru-paruku.

ketika kau  mulai terhisap huruf pertama 
dari buku-buku bacaanmu,
buku tentang sebuah perjalanan wisata
yang akan  kuterka-terka sejauh mana jarak
menuju  halaman terakhirnya.



Seketika tubuhku cerah ditimpa nyala matahari
yang terbit dari lembab subuh alismu, setelah semalam
kau habiskan  sebuah novel yang tokohnya
melulu mengenakan kesedihan, yang terus didera
kehilangan demi kehilangan. 

engkau tak tahan untuk tak menjatuhkan tangisan,
aku tak tahan untuk tak menyebutnya hujan,
sungguh aku  menampik segala rupa payung. 
di bawah lanskap matamu  yang  lapang,  semalaman
aku terus  membiarkan tubuhku yang berkaca-kaca ini
berlari dan menghujan-hujankan diri


Suatu ketika engkau merasa terkesan dengan seseorang
yang menghadiahi ulang tahunmu dengan sebuah
buku bersampul  selembar kecupan.
di lembar terakhir buku otobiografi seorang lelaki
yang menganggap bahwa cinta dan revolusi
adalah perihal yang sama perihnya, itu:

beraneka pemberontakan, ranjau, genjatan senjata
bersama-sama menumpahiku,

aku bersiap meledakkan mata dengan
perasaan bahagia yang belum pernah sekalipun
diciptakan oleh dunia

sebab ketika kau menutup halaman terakhir buku itu,
engkau berjanji untuk  selamanya cuma 
mencintai dirimu sendiri

semarang, 2011







WAKTU DAN ORANG-ORANG YANG  MEMELUK

/1/
bagaimana jika dunia kehilangan waktu?.  aku lemparkan  pertanyaan ini jauh ke luar jendela  setelah  kalimat-kalimat mereka menemukanku diantara buku-buku, udara kamar, serta langit hari sabtu yang maha lebar.  ketika namamu mesti aku pilin-pilin  dengan sekujur degup  rinduku yang gemetar. aku membayangkan setelah ini kita akan saling mencintai seperti kehidupan kutipan-kutipan mereka yang tahun demi tahun mampu terus bertahan menyelamatkan diri untuk  tidak lekas mati. kutipan milik orang-orang yang teguh menopang keyakinan bahwasanya  langit dan tanah adalah ibu—bapak kandung yang tidak bisa hidup serumah: betapa tabah dan betah lama berpisah di atas dan di bawah. aku ingin lekas mengabarimu, menceritakan hujan yang kulihat dari  kamarku. sebagaimana hujan mengalamatkan surat-surat dari langit kepada tanah, cintaku, semoga basah dan cerita-cerita ini juga sampai ke kuku jemarimu yang kau warnai dengan cat merah. amin.



/2/
yang selalu setia dan memiliki lengan panjang. berbatang-batang lengan yang lentur. yang  mampu memeluk—mendinginkan alur. cita-cita yang bermula dari kawah-kawah milik para leluhur. dengan lengan dan harapan,  waktu yang melaju mereka peluk. mereka yang menganggap rumah adalah perjalanan itu sendiri. yang membangun inti jantung—inti  hati   dengan kejujuran. berharap bisa lebih lama dan lebih lama lagi tinggal di dalam sana melampaui harapan mereka sendiri. orang-orang yang sengaja bertahan menjauhkan diri dari riuh rengkuhan telepon genggam, ipod, koneksi internet dan   hingar bingar televisi. yang menjaga mulut dari perkataan-perkataan dan maksud berbohong, yang memenjarakan jari-jari dari seluruh keinginan mencuri atau merusak. yang merasa mesti berkali-kali bersyukur masih diijinkan tuhan meminjam kayu-kayu, mata air, amis ikan-ikan, dan seluruh buah-buahan yang dimiliki alam. yang ikhlas menerima siklus panen umbi dan biji-bijian, pasang dan surut asin air dan gelombang. yang memasrahkan diri kepada kemarau dan musim hujan.  mereka yang mendirikan rumah kemudian mengikatkan  masa lalu di punggung itu tak kenal lelah terus berjalan menjauh, bermaksud mengantarkan budi pekerti ke ceruk-ceruk mata kita yang keruh



/3/
dan kebahagian yang seolah-olah dekat namun terus menarik kaki—tangan kita ke tinggi dan ke tinggi lagi agar menapak dan  memanjat, sampai tak sadar kita telah menghabiskan nyaris seluruh jatah usia  untuk  membuktikan bahwa kita begitu bodoh bersusah payah mengejarnya, ternyata  belum ada apa-apanya dibanding pikiran telanjang mereka yang  begitu apa adanya. pikiran yang sama sekali tidak mempunyai puncak. pikiran yang cuma putih dasar belaka. dengan senyuman mereka menggali hari demi hari, perihal sederhana bagaimana menjadi manusia. membahagiakan diri juga wajah-wajah para tetangga. aku menuliskan ini ketika orang-orang bertengkar menunjuk diri sendiri paling benar, ketika yang berbeda dianggap musuh, ketika bayangan milik  tubuh  tiba-tiba menjadi alamat paling jauh. aku menulis ini ketika engkau barangkali sedang tidak percaya dan merasa telah kehilangan dirimu, ketika aku tersadar bahwa saling mencintai adalah dasar yang mesti pelan-pelan kita gali. sungguh aku ingin memelukmu, melesakkan yang hilang dan pergi  dari dirimu sebagaimana orang-orang itu  tabah memeluk waktu:  jika engkau mau.

(semarang, desember 2012)



buletin keris adalah buletin yang diterbitkan oleh komunitas kampus, KIAS--IKIP PGRI Semarang.

3 komentar:

Bagus Burham mengatakan...

Saya membaca YANG HIDUP MENGHADAP MATAMU tiga kali,saya suka puisi mas AFK, kalau berkenan lihat-lihat ya blog amatir dan puisi amatir saya di : lintasankatakata.blogspot.com

terima kasih,sudah membagi puisinya di media maya,mas...

Arif Fitra Kurniawan mengatakan...

terimakasih bagus burham yang baik, sudah menikmati puisi-puisinya, akan aku kunjungi blogmu, salam

Bagus Burham mengatakan...

Terima kasih atas terima kasihnya mas...hehe