UJIAN BUKAN AKHIR

gambar diambil sebelum memasuki ruang ujianhari ini saya ujian skripsi ibu, tidak ada perasaan macam-macam, selain, ya, kamu tahu sendiri; seperti kata seorang  teman, apa yang saya dapati biasa-biasa saja, semua orang toh juga melewati fase ini. cuma konteksnya menjadi terkesan heroik ketika saya mencapainya dengan susah payah. setengah hidup saya bertahun-tahun lalu "merindukan" yang berkenaan dengan, ah, lagi-lagi saya mulai muluk-muluk bicara tentang cita-cita, tapi saya mesti mencatat ini. mencatat bagaimana dulu sekali, saya rajin  menyisihkan uang 5000 tiap hari di celengan, deg-degan menghitungnya di akhir tahun bekerja sebagai teknisi mesin sebuah pabrik kecap, norak  dan berharap banyak dari tabungan untuk biaya sekolah. mencatat bahwa saya butuh lebih dari 3 tahun untuk mengumpulkan 7 celengan ayam saya sampai penuh dan memecahnya. dan benar saja,takdir ternyata kita sendiri yang menentukan. saya di sini, bu. membayangkan kamu memeluk saya. membayangkan kamu tidak akan bisa berkata banyak.kamu akan menangis saking bahagianya. saya kerap ngungun sendiri mengingat kamu yang penjual bubur itu, yang sering dicemooh itu. yang selalu berjalan berkilo-kilometer jauhnya menggendong saya ketika membeli ketan mentah, bagaimana kamu selalu punya alasan untuk tidak membelikan sepatu baru menggantikan sepatu saya yang jebol, dan akhirnya cuma di sol berulangkali, diganti dengan karet ban. saya selalu ingat bagaimana kamu menghardik ayah: sekurang-kurangnya kita, anak-anak harus sekolah setinggi-setingginya. 

setinggi apa bu?

banyak yang mengira, bahkan saya sendiri kerap sangsi akan sampai di titik ini. tapi apa boleh buat, kengeyelanku untuk berusaha kadang membuahkan hal-hal di luar dugaan. salut saya bu, kepada ayah, suamimu paling tampan itu, yang selalu saya candain si jacky chan itu. napasnya luar biasa panjang. bangun sangat pagi dan tidur pagi lagi. tak ada hari libur di kepalanya. dan kemarin ketika saya ulang tahun, dia memeluk saya, menangis dan berbisik: maaf. saya tak tahu kenapa dia selalu saja meminta maaf ketika memeluk saya bu. apa selama ini saya menderita? duh.

harapan kamu kesampaian bu, bulan desember nanti saya wisuda.  saya tahu. jauh di sana kamu berdoa terus. ya, doamu itu saya yakin yang mengantar saya sejauh ini. terimakasih, telah mengajarkan, dan saya akan melanjutkan berjalan sekuat saya dan doa kamu lagi. jangan diamini dulu ya, bu. berdoa tidak pernah berakhir.

peluk dan cium*



3 komentar:

dunia uchi mengatakan...

ibu kamu pastilah tersenyum yip...lebar sekali....

Anonim mengatakan...

fitra, ke bali nanti, kita mesti foto bersama ya,

salam hangatku,
pradipta

sg mengatakan...

Membaca yang demikian ini, seharusnya aku nggak pantas trenyuh (lha wong meskipun beda sejarahnya namun rasanya agak sama)

tapi rasa-rasanya kok ya sedikit agak trenyuh juga ya...huaaaaa ini pasti cuman gara-gara penyusunan kata-kata secara membabibubebo...hiks

selamat ulangtahun untuk Ayahmu. Bintangnya Virgo kayak Istriku.