HIKAYAT SEBUNGKUS TAHU GIMBAL

HIKAYAT SEBUNGKUS TAHU GIMBAL

sebagaimana warung telah menumpahkan
penantian bagi dada yang memuja pemberangkatan
aku barangkali akan setabah  terigu mengikat
janji udang-udang yang meringkukkan
punggungnya di hari sabtu mata kirimu, agar
perutku yang kering ini mampu mencerna maksud

tanpa perlu memindahkan bongkahan batu,
sebab tak ada lagi  rahasia yang betah sembunyi di sana

lampu minyak  hendak meliburkan silau di tanganmu
agar jangan terlalu sering mengisap kepura-puraan putih
asap kendaraan,mengelabukan sesak tanggal sebelas
jam tujuh sebagai bungkus yang temaram

berdebarlah menunggu langkah yang menggerus
musim penuh sampah dari bulatan kacang tanah
yang pernah memerangkap aku kau dalam dongeng
bawang putih bawang merah.

siapa kiranya yang sudi kita tirikan,
tak juga bangku panjang ini, tak juga laparmu
yang makin keras diduduki pemahaman tiap kali si penjual
memanggil nama dengan bunyi mirip undian.

Tidak ada komentar: