Pernikahanmu

tanggal 8 nopember. aku akan mengingat hari itu seperti pernah ada tanggal dan hari yang telah bersusah melahirkan sekaligus menelentarkan keinginan-keinginan aku. padahal masih ada waktu untuk berpura-pura tabah. menyapa terus diri sendiri.ya. masalalu kenapa datang membawa masalah baru bagi kita.



TAK SEPADAN – CHAIRIL ANWAR

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
  
Chairil Anwar
Februari 1943

Dear, Ayah

hari ini kamu ulang tahun kan? 

saya siang tadi membeli topi yah, semoga pas ya. untuk menutupi kepala kamu yang beruban. untuk membentengi kepala kamu dari cuaca yang panas minta ampun. saya lihat kamu tertidur nyenyak sekali di lantai. jadi tidak tega rasanya membangunkan di jam selarut ini  untuk tiba-tiba memberi kejutan. saya juga sudah menelepon adik kok, mengingatkan, siapa tahu dia lupa hari jadi ayahnya yang paling tampan ini. 

sstttt. kamu tahu, kami begitu mencintaimu kan?, ingat ya, besok tidak boleh cengeng kalau saya peluk. selamat ulang tahun. semoga napas kamu tetap yang paling panjang.




UJIAN BUKAN AKHIR

gambar diambil sebelum memasuki ruang ujianhari ini saya ujian skripsi ibu, tidak ada perasaan macam-macam, selain, ya, kamu tahu sendiri; seperti kata seorang  teman, apa yang saya dapati biasa-biasa saja, semua orang toh juga melewati fase ini. cuma konteksnya menjadi terkesan heroik ketika saya mencapainya dengan susah payah. setengah hidup saya bertahun-tahun lalu "merindukan" yang berkenaan dengan, ah, lagi-lagi saya mulai muluk-muluk bicara tentang cita-cita, tapi saya mesti mencatat ini. mencatat bagaimana dulu sekali, saya rajin  menyisihkan uang 5000 tiap hari di celengan, deg-degan menghitungnya di akhir tahun bekerja sebagai teknisi mesin sebuah pabrik kecap, norak  dan berharap banyak dari tabungan untuk biaya sekolah. mencatat bahwa saya butuh lebih dari 3 tahun untuk mengumpulkan 7 celengan ayam saya sampai penuh dan memecahnya. dan benar saja,takdir ternyata kita sendiri yang menentukan. saya di sini, bu. membayangkan kamu memeluk saya. membayangkan kamu tidak akan bisa berkata banyak.kamu akan menangis saking bahagianya. saya kerap ngungun sendiri mengingat kamu yang penjual bubur itu, yang sering dicemooh itu. yang selalu berjalan berkilo-kilometer jauhnya menggendong saya ketika membeli ketan mentah, bagaimana kamu selalu punya alasan untuk tidak membelikan sepatu baru menggantikan sepatu saya yang jebol, dan akhirnya cuma di sol berulangkali, diganti dengan karet ban. saya selalu ingat bagaimana kamu menghardik ayah: sekurang-kurangnya kita, anak-anak harus sekolah setinggi-setingginya. 

setinggi apa bu?

banyak yang mengira, bahkan saya sendiri kerap sangsi akan sampai di titik ini. tapi apa boleh buat, kengeyelanku untuk berusaha kadang membuahkan hal-hal di luar dugaan. salut saya bu, kepada ayah, suamimu paling tampan itu, yang selalu saya candain si jacky chan itu. napasnya luar biasa panjang. bangun sangat pagi dan tidur pagi lagi. tak ada hari libur di kepalanya. dan kemarin ketika saya ulang tahun, dia memeluk saya, menangis dan berbisik: maaf. saya tak tahu kenapa dia selalu saja meminta maaf ketika memeluk saya bu. apa selama ini saya menderita? duh.

harapan kamu kesampaian bu, bulan desember nanti saya wisuda.  saya tahu. jauh di sana kamu berdoa terus. ya, doamu itu saya yakin yang mengantar saya sejauh ini. terimakasih, telah mengajarkan, dan saya akan melanjutkan berjalan sekuat saya dan doa kamu lagi. jangan diamini dulu ya, bu. berdoa tidak pernah berakhir.

peluk dan cium*



YANG MENYERANG PERCAKAPAN KITA



ini barangkali yang hendak engkau rekayasa; segelas teh hangat
yang telah bersusah payah memeluk  kita. tak mudah memang
menjadi pemenang yang  sehilir ketika sampai di meja.

katamu, mesti ada yang aku engkau sesali. dan aku menunduk.
harapan  ini tak cukup menampung kita yang menggigit jemari
sebab  berkali-kali mengaduh dinyalakan dimatikan remote televisi

dan aku, yang suatu ketika jadi ruangan kecil dimana kerap engkau
menunjuk dan menatap, menyalahkan banyak hal, disaat engkau
dan aku lebih suka berbisik-bisik, mengawinkan sepasang pernyataan.
sesekali mendesah,

: engkau kapan akan mengulang malu-malu engkau [?]

di tangan jam yang sebenarnya gugup, kemudian kita malah menyerah
dan memilih untuk tak sanggup; duh, kata-kata siapa ini meremas hikayat.
kita tidur di lapang dongeng-dongeng yang membangun kota ini dari api.
dari orang-orang yang kesulitan bicara bahkan sekedar mengucap  barangkali.
tapi aku masih yakin tubuhmu tak mudah  terbakar.

di luar jendela, angin, engkau tahu benar  telah menutup mata
dan berpura-pura tidak memperhatikan pecahan lidah  kita

(semarang, 2012)

MEMULAI DARI NOL ATAU SATU

            Saya pulang bu, menemui kamu. menemui rumah. dan ternyata menjadi teledor adalah misi yang memang sudah diincar waktu. aneh, ketika saya lupa letak makam kamu, bu. saya berdoa panjang petang itu. nyaris tanpa amin dan menutup muka. membiarkan banyak hal mengalir dari mata dan dada saya. saya jadi nerveus. atau jangan jangan kamu sudah menuduh saya si anu yang tak tahu berterimakasih. aduh, malin benar saya kalau begitu. meski ketidakhadiran kerap bisa menghapus banyak hal dari ingatan, tapi, ah tapi bu, cuaca rumah tetap tak banyak berubah. cuma perabotannya saja yang kadang berganti, ruang tamu yang digabung jadi ruang keluarga, kamar mandi yang diganti lubang kakusnya, selimut kenang-kenangan milik kamu sudah berubah warna terlalu sering dicuci sama adik. seharian di waktu lebaran, saya memikirkan kamu. tiba-tiba kamu pandai membelah diri. di tembok dilantai di meja televisi di dekat vas bunga plastik. saya kangen dan tiba-tiba jadi sebegitu cengengnya. saya mesti sungkem dengan cara bagaimana, saya sudah berkali-kali meminta maaf dalam hati. kok dingin. kok ada yang mengeras. saya banyak minum dan merokok. sulut lagi. minum lagi. ayah membangun percakapan. adik membangun percakapan. kata mereka semestinya makam kamu ditulisi saja. agar yang pergi terlalu lama tidak tersesat ke makam orang lain.

- maafkan saya ya bu (tuuuh kan lagi-lagi kamu mengangguk) - Love and hugs.

brama kala, sajak Gunawan Maryanto

kuku kuku jarimu yang putih
seperti pertanda buruk
bahwa kelak kau akan melukaiku
sebesar apapun cintamu padaku

( Sajak Brama Kala-- Gunawan Maryanto)

--

inilah saya, yang tampak bodoh namun akan selalu percaya kepada hal-hal baik, sebab dengan begitu mereka akan mempercayakan kebaikan mereka untuk saya kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja. terima kasih kepada banyak hal buruk yang, ah, ternyata saya bisa mengolah kalian.

--

...mengapa harus seseorang mencintai kesetiaan lebih dari
kehidupan dan sebagainya, dan sebagainya?
(Goenawan Mohamad, Dongeng Sebelum Tidur - 1971)

-

kau sendiri yang memilih terjatuh ke peribahasa itu: jadi jangan salahkan yang kayu. sebab engkau merasa kini rotan. atau malah sebaliknya. resiko dari menjadi pilihan adalah; kalau tidak diambil ya dibuang. (edisi bercakap-cakap dengan kuku yang jadi rapi sebab kemarin baru saja engkau guntingi)

-

aku sedang berpikir, kata maaf kamu adalah kata untuk menggantikan kalimat: besok aku kecewain kamu lagi ya --