Tampilkan postingan dengan label BUKU SAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUKU SAYA. Tampilkan semua postingan

Eskapisme dan Migrasi ke Dunia Khayal



Eskapisme dan Migrasi ke Dunia Khayal
(Oleh: Muhammad Aswar)

Semacam Pembuka
Untuk memulai perbincangan ini, izinkan saya mengajukan beberapa pembelaan apologetik atas pembacaan saya terhadap Eskapis. Pertama, buku ini baru saya terima tiga hari yang lalu: tentu sangat tidak komprehensif untuk melakukan pembacaan terhadap sebuah buku, apalagi kumpulan puisi, dalam tiga hari. Terlebih, kecenderungan puitik Arif Fitra Kurniawan, yang, bagi saya pribadi, berbeda dengan puisi-puisi yang sering saya baca. Ia penuh dengan metafora dan diksi yang segar, juga citarasa bahasa yang khas.
Oleh sebab itu, pembacaan saya pasti sangat sederhana dan tak bisa sepenuhnya dijadikan rujukan untuk memasuki dunia puisi Arif dalam Eskapis. Tulisan ini hanya percobaan awal sebelum memasukinya.

Eskapis, Eskapisme, Universum
Dimulai dari judul buku, Eskapis. Eskapis mungkin diambil dari kata bahasa Inggris, escapist. Escape berarti lepas, keluar, lari, melarikan diri. Sementara eskapisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan sebagai kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketentraman dalam dunia khayal maupun situasi rekaan.
Mengapa lari dari kenyataan? Sebab gagasan, ide dan segala yang timbul sebagai pengharapan, tidak sesuai dengan kenyataan yang sedang berlangsung. Ibaratnya seseorang yang telah berdandan dan mengharapkan dirinya lebih indah, namun ketika bercermin, ia ternyata tidak indah sesuai pengharapannya. Menghindari atau menghancurkan cermin, bahkan merusak wajahnya sendiri, bisa jadi bentuk eskapis.  
Sikap ini, dalam sosiologi Durkheim, timbul akibat melemahnya solidaritas sosial: ketika kohesi sosial semakin melemah, dan struktur sosial tidak mampu melindungi tiap individu, pada saat itulah individu melepaskan diri dari sosialnya. Durkheim sendiri, karena meneiliti fenomena bunuh diri, menyimpulkan bahwa tindakan bunuh diri merupakan bentuk pelarian dari realitas sosial.
Dalam filsafat, pelarian bisa dari dua situasi, kenyataan dan realitas. Lari dari kenyataan disebut eskapisme, sementara lari dari realitas disebut posmodernisme. Kenyataan adalah apa yang terjadi dan dapat diamati dengan panca indra. Realitas adalah apa yang di balik dari kenyataan itu. Jika kenyataannya orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin, berarti realitasnya terjadi ketimpangan sosial.
Kita tidak mencoba untuk melihat bahwa eskapisme berasal dari kenaifan dan posmodernisme dari idealitas, tapi keduanya berada dalam satu cara berpikir, yang sering diistilahkan sebagai mazhab abstraksionisme. Mazhab ini merupakan gelombang baru yang mengingkari kenyataan dan realitas serta berupaya untuk melarikan dirinya darinya, lalu mendekam di “alam gaib”.
Ada dua ciri utama dari mazhab abstraksionisme. Manusia dan universum (alam dan realitas) berbeda, kadang saling mengisi, tapi lebih banyak diposisikan sebagai oposisi. Manusia adalah wujud yang mengindra dan merasa. Manusia adalah makhluk pencipta yang, tentunya, lebih tinggi derajatnya dibanding entitas-entitas material lainnya. Alam adalah benda mati; tidak memiliki pikiran dan perasaan. Ia tidak memiliki daya mencipta, membangun dan inovasi. Manusialah yang berkehendak, memilih, membangun, dan merasakan apa tindakannya dan apa yang telah dipahaminya tentang alam. Karenanya, alam yang bergerak (realitas) merupakan konstruk dari pikiran dan keinginan manusia.
Pemahaman ini cenderung menghasilkan manusia-manusia yang selalu merasa terasing dengan universum. Keterasingan muncul disebabkan atas dasar merekalah yang mengontrol alam, namun alam berjalan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan inginkan. Tidak sebatas itu, mereka akan menghindari alam dan membangun dunianya sendiri lewat khayalan dan rekaan.
Di Eropa dan Amerika, paham ini menampakkan diri terutama dalam kesenian. Ia kemudian menciptakan sinetron-sinetron dan sastra populer. Keduanya bangkit membawa dunia yang sepertinya tidak realistis bagi kaum borjuis dan pengagum keagungan seni.
Sampai hari ini, karena sastra kita terlanjur berpatokan pada sejarah sastra di Barat, maka klasifikasi yang kita gunakan pun tetap mengikut kepadanya: sastra mainstream, sastra avant garde dan sastra populer. Sastra mainstream dan avant garde tumbuh dari suatu kebudayaan dan tradisi intelektual suatu bangsa. Kegiatan intelektual itu bertujuan mencari kenyataan hakiki kehidupan, untuk dapat memperbaikinya. Sastra populer tumbuh dengan mengikuti sastra sejati, namun peniruan sebatas bentuk lahirnya dan kurang berminat terhadap pencarian hakiki kehidupan. Alih-alih memperbaiki, sastra populer justru mengajak pembacanya melupakan nilai hakiki kehidupan dan masuk ke dalam kehidupan yang tidak realistis.

DAN PUISI MENGEKALKAN INGATAN (Suara Merdeka, Minggu 3 Agustus 2014)



Oleh: Widyanuri Eko Putra*

Sebuah puisi memungkinkan untuk dibaca sebagai representasi imajinasi, daya intelektual, pemikiran, dan ingatan sang penyair.  Puisi bisa jadi hasil dari pergulatan batin dan permenungan, atau hanya sebatas medium bagi penyampaian gagasan semata.
                Adalah sebuah kepuasan bagi penyair untuk sanggup  memberikan isi dan makna kepada suatu tindakan, semacam rapor bakat dan kemampuannya, ke dalam bentuk  puisi (kleden, 2004). Niat “memberikan isi dan makna” terbaca dari upaya penyair memasukkan pelbagai referensi dan ingatan ke dalam bait-bait puisi ciptaannya.
                Demikian pula dengan sejumlah puisi karangan Arif Fitra Kurniawan yang terhimpun dalam eskapis (2014). Semacam kerja menelusuri pelbagai eksplorasi interteks, mengacu daya intelektual dan kesanggupan menghadirkan imaji dan referensi. Kerja ingatan, mengingat, diajukan sebagai tema besar dalam puisi-puisinya.
                Puisi adalah  hamparan ingatan. Penyair mengajak pembaca larut ke dalam tema-tema sejarah, waktu, masa kecil, dongeng, peribahasa, dan tokoh-tokoh besar. Eksplorasi referensi  yang mendalam, menggoda kita untuk menduga kerja penyair  tak sebatas berimajinasi, mengisap rokok, atau menghabiskan bercangkir-cangkir kopi. Penyair menekuri kerja mengolah referensi sebelum masuk dalam proses penciptaan. Penyair yang baik adalah juga seorang pelahap buku yang rakus. Puisi diciptakan bukan dari ruang yang mengawang tak berisi.
                Tokoh-tokoh kartun, dongeng, dan beberapa peribahasa mengajak pembaca bernostalgia.  Puisi berjudul “Beberapa Peribahasa Yang Memperpanjang Umur Ingatan Kita” memberi gairah untuk membuka kembali memori saat menjadi remaja pembelajar , masa di mana sekolah mengajarkan peribahasa  dan petuah.
                Sejumlah  peribahasa jadi lahan olahan puitik tanpa terkesan klise dan didaktis. Puisi “Kecil-Kecil Anak, Sudah Besar Menjadi Onak”, “Pecah Menanti Sebab, Retak Menanti Belah”, atau “Sudah Nasib Nasi Menjadi Bubur”, misalnya.  Peribahasa ditahbiskan sebagai pintu gerbang memasuki medan puisi namun tak memberi harapan bagi pembaca menemukan makna konvensionalnya.
                Simaklah potongan puisi “Air Di Daun Talas” berikut: yang bernama ular adalah engkau// yang berwujud air adalah aku//sepasang panjang ini saling memistarkan. Jika konvensi makna peribahasa yang dipakai sebagai judul adalah “orang yang tak punya pendirian”, puisi ini justru sama sekali jauh dari pemaknaan konvensionalitasnya. Personifikasi “ular” dan “air” yang “saling memistarkan”, menyiratkan imaji tentang “sesuatu yang bersejalan”, terlepas dari tautan makna “tak berpendirian”.

SELAMAT DATANG DI MOUSELAND!

Esai untuk Launching buku Antologi puisi 10 KELOK DI MOUSELAND
oleh: Janoary M Wibowo


Jalanan di sini gelap dan penuh kelokan. Seperti hidup, bukan? Jika terpeleset di tikungan, pahamilah setiap luka adalah tanda kau pernah berkunjung ke Mouseland.

“You know, Michael. The worst thing in this world is to know too much. You’d better try to stay naïve. It’s much better.” kata Eli Wurman—diperankan oleh Al Pacino—dalam film People I Know. “Dunia ini relatif. Yang salah di tempat ini bisa jadi sahih di tempat lain.” perkataan Tristan kepada Bodhi dalam Supernova karya Dewi Lestari. “Let’s keep it undergound. Nobody out there would understand it anyway.” sebaris lirik dari lagu hip hop yang dinyanyikan oleh Grandmaster Flash—rapper asal Bronx. Saya lupa judul lagu itu.

Mengapa saya menuliskan judul lalu kutipan-kutipan yang mungkin—sampai pada kalimat ini—tak nampak berhubungan antara yang satu dengan yang lain? Sederhana, itu alasan politis. Ya. Politik. Usaha saya untuk didengarkan—dalam kesempatan ini dibaca oleh dunia yang telah terlalu terlena pada nama. Ada nama Al Pacino, ada nama Dewi Lestari, ada nama Grandmaster Flash—entah siapa dia saya juga tidak begitu mengenal. Begitulah proses politik. Memilih apa-atau-siapa yang didengarkan dan kemudian digunakan sebagai rujukan. Apakah tarikan logika saya tentang politik berbeda dengan pemahaman khalayak umum? Tak apa. Anggap saja itu politik diri saya. Pancasila-nya NKRJ, Negara Kesatuan Republik Janoary, yang gelap.

Politik itu keterlanjuran sejarah. Sejarah saya sendiri. Saya terlanjur menonton People I Know sebelum menulis ini. Saya terlanjur membuka-buka halaman Supernova sambil menikmati lagu hip-hop Grandmaster Flash sebelum menulis ini. Saya juga terlanjur membaca The Politics of Literature-nya Jaqcues Ranciere sebelum membaca Sepuluh Kelok di Mouseland. Lalu kemudian, saya mencoba menghubung-hubungkan keduanya—dengan kata lain putus asa menarik keduanya pada satu garis. Antara Politik dalam Sastra dan Sepuluh Kelok di Mouseland berhubungan, paling tidak itu yang saya tangkap.

Apabila yang saya tangkap tak jelas dan gelap bagi pembaca. Itu resiko bagi saya. Namun, beruntung saya—atau kasihan saya—bisa menggunakan nama Ranciere untuk berlindung. Merujuk pada Ranciere, politik pada umumnya adalah cara-cara manusia yang dipikirkan lalu digunakan untuk mewujudkan—atau tidak mewujudkan—suatu hal apapun untuk mendapatkan—atau tidak mendapatkan—apapun. Politik adalah cara-cara agar individu dapat didengarkan sebagai pernyataan, bukan hanya didengar sebagai keramaian. Sedangkan, politik dalam sastra—lebih tepatnya adalah politik dalam seni menulis—adalah cara-cara menyelaraskan cara pandang, cara berpikir, dan cara berperilaku manusia dengan keadaan sekitarnya pada sebuah objek berupa tulisan. Politik dalam sastra selanjutnya akan saya tuliskan dengan politik diri penulis—murni kenekatan saya dalam membuat istilah tanpa merujuk pada satu namapun.

Politik diri dalam Sepuluh Kelok di Mouseland
Politik diri terasa kental Sepuluh Kelok di Mouseland. Ada Husni Hamisi, Arif F Kurniawan, Aras Sandi. Ada Dalasari Pera, Arganita Widyawati. Ada Arther Panther Olii. Ada Kang Arief, ada Mbak Lina Kelana. Ada Reski Kuantan, juga Noegi Arur. Ada sepuluh penyair. Ada sepuluh cara-cara menulis puisi. Ada sepuluh sejarah-sejarah yang menyusun mengapa penyair ini menulis puisi seperti itu, penyair itu menulis puisi seperti ini. Jauh sebelum buku ini terbit, saya berani beranggapan mereka telah berpolitik dengan memutuskan diri untuk menulis puisi. Memutuskan diri untuk membuat akun facebook. Memutuskan diri juga untuk memberikan atau menerima permintaan pertemanan di facebook. Juga, memutuskan untuk saling bertemu kata bertemu sapa—entah bertemu muka, lalu bersepakat untuk mengumpulkan puisi menjadi sebuah antologi. Bagaimana proses politis yang sebenarnya ada dalam diri masing-masing penyair.

Ya, keberagaman politik diri yang berkumpul dalam satu buku, satu wilayah. Mouseland. Entah dimana di peta letak wilayah itu, mungkin ada dalam tiap-tiap kepala masing-masing penyairnya—bahkan pada tiap-tiap kepala pembacanya. Ya, Mouseland adalah wilayah fiksi, dengan sepuluh politik diri menjadi kelokan-kelokannya. Puisi adalah fiksi—menuliskan apa yang pernah dituliskan Sartre, sebab fiksi adalah mengimitasi kehidupan. Bukan lagi merekonstruksi kejadian di depan mata, tetapi mereproduksi yang diketahui di hadapan kata. Aras Sandi dalam Negeri Bumi menuliskan,

sorak sorai dan tepuk tangan dijadikan kebanggaan
kekalahan dan kemenangan dijadikan lencana kehidupan
diarak arai, disorak sorai
padahal;
hanya untuk sebuah negeri

Sekilas saya menangkap gambaran sebuah Negeri bernama Indonesia di sajak itu. Namun, Aras seperti memutuskan diri untuk mengimitasi apa yang terjadi pada Negeri Indonesia ke Negeri Bumi di wilayah Mouseland. Politik diri Aras berselaras dengan politik di sekitarnya, masyarakat Indonesia.

Arif F Kurniawan pun begitu. Pinokio yang dia ambil dari cerita yang sudah banyak orang ketahui, hidung Pinokio bertambah panjang setiap kali dia berbohong. Namun, Arif menciptakan Pinokio-nya sendiri.

ia  ingin  berhenti  menanggung  malu  menerima  ejekan, 
kata  orang-orang, tanduk hidungnya 
selalu  tumbuh  lebih  panjang  dari  kebohongan.

Lalu pada 2 bait berikutnya, Arif semakin kentara memperlihatkan bahwa Pinokio-nya berbeda.

ia tampak  semakin bodoh,kini. 
seorang  diri di sesungging  tepian,
menggergaji  batang  hidung  sendiri

Arif dengan Pinokio-nya menampilkan jalinan antara politik diri dengan politik. Sebuah hubungan yang harus selalu ada, walau kali ini hubungan itu adalah pertentangan.

Berbeda dengan penyair Arther Panther Olii, di puisinya Senja di Tepi Sungai Bone. Dia menuliskan keterangan—semacam footnote untuk puisi—di bawah puisinya tersebut. Sungai Bone ada di Gorontalo. Dan Gorontalo ada di Indonesia. Indonesia itu bukan Mouseland. Jadi, sebuah senja di tepi Sungai Bone bukan fiksi. Nyata. Namun, melihat bagaimana Arther menuliskan bait terakhir dalam puisinya tersebut, nampak ada unsur imajineri—bolehlah serampangan dihubung-hubungkan dengan fiksi.

di tepi sungai bone, senja telah tenggelam
dan kenangan tentang kita : tersisa kelam

Bisa jadi saya—dengan politik diri dan sejarah saya sendiri—tidak akan merasa kelam ketika berada di tepi Sungai Bone ketika senja. Namun, saya bukan pemilik wilayah Mouseland. Arther-lah yang memiliki wilayah Mouseland.
Menuliskan tiga gejala dari tiga penyair memang tidak bisa sepenuh-penuhnya mewakili sepuluh. Namun, alasan politis saya bukan bahwa ketujuh yang lain tak menampilkan politik dirinya, melainkan lebih kepada alasan teknis. Terlalu panjang untuk ditulisbacakan semua—baik bagi saya dan pembaca tulisan saya yang gelap ini.

Bagaimanapun tulisan itu, kegelapan akan tetap menyertainya. Sebab, pada dasarnya, tulisan lahir untuk tulisan itu sendiri. Merujuk pada yang dikatakan Grandmaster Flash, keep it underground. Juga, sekali lagi pada Sartre, tulisan adalah objek yang terlahir tanpa makna apapun dan tidak mempunyai peran apapun. Penulis dan pembaca yang memasukkan makna dan perannya pada apapun—sesuai politik diri masing-masing penulis juga masing-masing pembaca.


Disneyland adalah wilayah Walt Disney berpolitik diri. Di sana dia menciptakan wahana-wahana. Di sana dia menciptakan nama-nama. Ada Donald Duck, ada Daisy Duck. Ada Pluto, ada Minnie Mouse, Ada Mickey Mouse. Mouseland adalah wilayah kesepuluh penyair berpolitik diri. Di sana mereka menuliskan puisi. Di sana mereka menciptakan sejarahnya sendiri. Proses menulis dan menerbitkan antologi adalah tanda bahwa sebuah sejarah diri—dari kesepuluh penyair—sedang dibangun. Sedang, ya, sedang. Sebab, politik diri adalah proses. Proses menyelaraskan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh manusia dengan apa yang akan dilakukannya di dunia sekitarnya. Politik diri akan terus bergerak—berubah—seiring dengan berubahnya sejarah diri—apa-apa yang dialami. Mouseland adalah sejarah bagi kesepuluh penyairnya dalam kaitan penulisan. Mouseland adalah sejarah bagi kesekian banyak pembaca—juga calon pembacanya—dalam kaitan pembacaan. Sepuluh kelok di sana akan terus berkelok-kelok seiring kelokan kehidupan yang akan dialaminya nanti. Nikmatilah tiap kelokannya.

*) apresiasi impresif—yang mungkin terlalu berkelok-kelok—terhadap Sepuluh Kelok di Mouseland, sebuah buku antologi bersama sepuluh penyair nusantara.

RENDEZVOUS-- Sebuah buku Antologi puisi

PUISI DAN RUANG
Oleh Abdul Wachid B.S.

Antologi puisi berjudul Randezvous, yang diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah 2011, cukup menarik perhatian saya. Dikatakan oleh Wijang J. Riyanto bahwa: “wilayah Banyumas, Semarang, Pati dan sekitarnya, merupakan contoh sebagian wilayah yang memiliki potensi literasi puitik yang patut diperhitungkan dan dicatat.” Ini memang benar sekali, mengingat puisi menampilkan representasi, baik realitas, praktik sosial, maupun makna sosial. Referensial yang dibangun oleh bahasa setiap penyair pada aspek hakikinya adalah ruang yang memiliki entitas.

Puisi memiliki ruang: ada ruang imajinasi, ruang ekspresi, juga tentang cara teks (baca: puisi) berelasi. Ruang bukanlah tempat secara teritorial, ekspresi subjektif maupun praktik sosial yang membentuk wacana telah memobilitas puisi menjadi ruang itu sendiri. Pendeknya, ruang tercipta berdasarkan konstruks sosial, di mana penyair sebagai intelektualitas berusaha untuk menampilkan sisi tertentu berdasarkan pengetahuan dan visi-misinya. Persona ruang itu sendiri akan sangat berbeda antara penyair yang satu dengan yang lainnya dengan pengetahuan dan pandangan memiliki partikel tersendiri.

Ruang yang dibangun oleh A. Ganjar Sudibyo dengan sisi sosial yang disampaikan secara puitik dengan nuansa yang sedikit menyayat. Publik sebagai aktivitas sosial disikapi secara subjektif: naome, kita kini hidup--makan dan tidur di rumah polusi negeri cepat saji. Indeks yang dibangun pada “di rumah polusi  negeri cepat saji” menjadi identitas sosial, namun cara menyampaikan dengan seperti berkabar pada Naome sebagai konstruksi emosional.

Begitupun dengan puisi “Senja yang Berbatas” Arif Hidayat, meskipun di situ ruang diinventarisasi karena ada ruang yang digenderkan, yakni posisi perempuan yang di rumah. Representasi perempuan sebagai suatu dunia dalam praktik spasial juga hadir pada Mumamad Baihaqi Lathif dalam Sajak “Suaminya Sejahtera itu Miskin” , Guri Ridola dalam Sajak “Perempuan di Dasar Laut”, Arif Fitra Kurniawan dalam sajak “Sampek-Engtay”, “Ken Dedes-Ken Arok” dan “Lemari yang Menyimpan Ibu”. Adapun sistem sosial perempuan juga ditandai oleh Pandi Subarong, dalam sajak “Perawan Kesorean” dan “Perempuan-perempuan” dengan polanya dihadirkan sebagai mimesis, bukan representasi:  dia sang perawan kesorean/mengais sisa-sisa peradaban/ di tengah euphoria jaman bebal. Memang, tidak semua penyair membangun realitas sosial menjadi realitas baru melalui penyatuan imajinasi dan kekuatan emosional di dalam puisi.

Ruang dapat terlihat di mana saja karena bukan tempat, melainkan cara wacana di dalam teks berkelindan untuk menampilkan bentuk kebenaran. Cara Syaiful Arif membentuk style merupakan substansi yang ingin disampaikan secara samar, meksipun tataran ideologis dapat terbaca pada: Oh, di negeri terjajah/ Hanya ada darah// Manusia kalah / Oleh system/ Mereka olah// yang mencoba untuk mengkritisi fenomena modern, yang sesungguhnya juga telah diketahui secara umum. Di dalam pandangan lain, ruang akan berbeda; dengan makna yang terfragmentasi. Konstruksi kode di dalam teks membutuhkan referen sehingga dapat terbaca ideologinya. 

Ada juga konstruksi simbolik yang hadir berdasarkan imajinasi. Dimas Indianto S. menyusun simbol-simbol dalam citra romantik. Simbol-simbol itu menjadi kuat dengan adanya wacan religius, seperti dalam sajak “Demi hujan yang Menyudahi Tasbihnya”: Demi hujan yang menyudahi tasbihnya./ Aku lelah menjadi lilin dalam malam-malammu. Cara-cara ini membutuhkan arena imajinasi dan kekuatan wacana yang lebih individual karena kode mengalami pembalikan dan perubahan sehingga tampak begitu sureal. Wiwit Mardianto juga memainkan simbol religi secara konseptual: //Dahan-dahan yang bersujud di hadapan badai/ Tak akan lagi mengenalmu. Karena jiwanya melaju/ Menembus wajah-wajah kotor telaga/ Dan juga sisa waktu yang belum ternoktah sebelumnya//,  namun ia lebih imajis dengan membiarkan bayangan ayam berkembang secara natural, yang kemudian secara perlahan telah berada di sisi yang religi.

Puisi berkembang dengan interakis individu dalam relasi sosial, yang bisa saja terlibat dalam praktik-praktinya, atau juga hanya mengamati dengan memaknainya. Maka, yang hadir di dalam puisi adalah proyeksi pandangan seorang penyair, di mana subjektivitas menjadi sudut pandang sebagai sisi dari ruang. Tidak mengherankan, jika ruang yang berbeda dari waktu ke waktu selalu berusaha untuk disuarakan, seperti yang dinyatakan oleh Arif Fitra Kurniawan dalam sajak “Rendezvous” : //bertahun-tahun ruang ini/ membiarkan raungan kita diluapkan usia/ rentangnya membuat bulu-bulu rubuh,/ tabah menadah dingin diwaktu subuh//. Ruang sebagai aktivitas antar entitas dalam setiap susunan kata merupakan poyeksi dari pertemuan internal dan eksternal. Setiap ruang memiliki wacana yang kompleks, tergantung pada setiap penyair melihatnya sebagai fenomena sosial-budaya yang unik, maka sajiannya pun akan berbeda.

Pandangan terhadap agama, kehidupan sehari-hari, dan pengalaman puitis dapat memberi kerangka konseptual pada proses kepenyairan seseorang. Semua itu, terjalin dalam dekonstruksi kata-kata, di mana diri penyair menyingkap peristiwa publik berdasarkan petunjuk-petunjuk yang ia tangkap seperti yang dinyatakan oleh Anna Subekti: jutaan pertanda tang tak mampu kubaca, yang sesungguhnya ia telah memahami petunjuk itu sendiri karena sadar tidak bisa menjangkau pengetahuan Tuhan sepenuhnya. Cinta dan rindu dapat pula hanyalah keterkesanan pada objek, namun bagi Wiwit Mardianto dapat juga sebagai aktivitas sosial sehari-hari.

Bagi saya, buku puisi Randezvous ini, bukan hanya sebatas pertemuan penyair antardaerah di Jawa Tengah ini. Pada buku ini, ada idealitas penyair dalam memandang realitas untuk disajikan dengan bahasa baru, yang lebih indah, menarik, menggugah perasaan, dan membuat pengetahuan kita bertambah. Penyair-penyair di dalam buku ini mampu melihat potensialitas ruang yang perlu untuk diwacanakan menjadi puisi sehingga akan mengajak kita lebih kreatif dalam menjumpai zona kehidupan, yang mungkin kau akan protes/ karena ada bahasa yang berbeda dengan kenyataan.
Sebenarnya, yang terpenting adalah usaha terus-menerus untuk memuncul dielaktika baru—dari penyair yang terantologikan di sini—menjadi lebih kompleks untuk menandai fenomena sosial yang tumbuh di setiap daerah mereka berada. Karena, “masih ada” beberapa wacana yang disampaikan masih mengacu pada relasi dan implikasi perkembangan puisi itu sendiri, bukan pada kepekaan menangkap fenomena sebagai bagian dari intensitas publik.









Abdul Wachid B.S. lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto. Buku tunggal yang menghimpun karya Achid, antara lain : (1) Rumah Cahaya (edisi revisi Gama Media, 2003) merupakan buku puisi yang menghimpun karya awalnya. Buku puisi Rumah Cahaya ini sempat dikritik oleh Adi Wicaksono secara panjang-lebar di buku Histeria Kritik Sastra (Bentang, 1996), dan menjadi polemik berkepanjangan di koran Kedaulatan Rakyat. (2) Sastra Melawan Slogan (FKBA, 2000) merupakan bunga rampai esainya yang diberi kata penutup oleh Dr. Faruk. (3) Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (Gama Media, 2002) merupakan buku yang diangkat dari karya ilmiah S-1, dan diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo. (4) Buku pilihan puisi cinta 1986-2002,  Ijinkan Aku Mencintaimu (Buku Laela, Cet.I-2002, Cet.II-2004), diberi kata pengantar oleh peneliti sastra dari Jepang, Urara Numazawa. (5) buku puisi Tunjammu Kekasih (Bentang, 2003). (6) Beribu Rindu Kekasihku (Amorbooks, 2004) merupakan buku pilihan puisi cinta, diberi kata pengantar oleh Dr. Katrin Bandel (peneliti sastra Indonesia berkebangsaan Jerman). (7) Buku kajian sastra, Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (Grafindo, 2005). (8) Buku esai, Sastra Pencerahan (Grafindo, 2005). (9) Gandrung Cinta (buku kajian sastra dan tasawuf; Pustaka Pelajar, 2008). (10) Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (Penerbit Cintabuku, 2009). Dan (11) buku puisi Yang (Penerbit Cintabuku, 2011). Website: www.wachid.8m.com E-mail: achidbs99@yahoo.com

BUKU ANTOLOGI KE EMPAT SAYA : SKETSA DIATAS PASIR

TELAH TERBIT di Inzpirazone Publisher
Buku Antologi Puisi "Sketsa Angin di Atas Pasir"
100% Royalti Untuk Dana Kemanusiaan

Penulis : Elaine Firdausza, dkk
Penyunting : Emzzy Azzam
Pemeriksa Aksara : Dudy Art
Desain Sampul : Akhi Dirman Al-Amin

Cetakan 1 : Maret 2011
Harga : Rp.40.000,-

Kata Mereka Tentang Buku Ini;

"Sebuah kumpulan langkah puisi beberapa penyair yang sedang mencari jati diri, yang sejatinya juga harus dilakukan oleh semua orang dalam bidang masing-masing. Dalam puisi mereka, karakter masing-masing penyair dapat dirasakan keunikannya dari cara ucap dengan keragaman tema kemanusiaan universal. Keunikan tiap penyair ini dalam puisi mereka saya yakini suatu saat akan semakin nyata, untuk membedakannya dari karya banyak penyair lain yang punya ranah sama dalam cara ucap, pilihan diksi dan tema. Ketekunan dan kesetiaan dalam menempuh jalan puisi yang terus mencari akan menjadi senjata utama mereka. Selamat mengarungi alam puisi yang tak terbatas keindahannya!"
(Yonathan Rahardjo, Penulis Novel "Lanang")





"Puisi-puisi indah, sarat pesan dan makna. Sepertinya, jiwa Chairil Anwar telah merasuk dalam ruh penyair-penyair dalam buku ini"
(Ahmad Najih Baihaqi, ketua umum PPI Yaman)



"Buku antologi sastra ini mengandung berbagai assonansi yang perlu dibaca oleh sesepuh pujangga sang garuda"
(Ali Ridho Mulachela, pimpinan redaksi majalah An-nadwa PPI Yaman)

"Puisi ternyata masih menarik. Inilah yang bisa kita dapati dari kumpulan puisi ini. Ditulis oleh mereka yang berusia muda, dengan tema beraneka, tidak sekedar cinta kaum belia, termasuk pula nasib bangsa dan rindu pada Sang Pencipta.
Hal ini patut disyukuri. Saya termasuk orang yang percaya bahwa olah bahasa bisa mempertajam rasa. Hanya dengan orang-orang yang peka, masa depan bangsa ini akan bisa diharapkan bisa lebih baik. Orang yang peka, ketika mendapat amanah kerja, kalau pun tak bisa menjalankan dengan sempurna, tak akan menjalaninya dengan semena-mena, memuaskan kemaruk harta apalagi menjadikannya alat tuk menganiaya sesama.Kepada para penyair belia. jangan pernah berhenti untuk selalu bersihkan dan hiasi negeri. Meski hanya dengan syair dan puisi tapi anda telah berbuat."
(Hamdi Akhsan, Dosen Universitas Sriwijaya)



Seni adalah bentuk atau ciptaan yang muncul dari pengalaman jiwa seseorang karena ia ingin memberikan bentuk yang konkrit terhadap yang dirasakannya, sehingga orang lain dapat ikut pula merasakan dan puisi adalah salah satu bagian dari bentuk seni, yaitu seni sastra. Berbeda dengan bentuk sastra lainnya, puisi 'berkomunikasi' dengan menggunakan kata sebagai simbol dan kiasan. Kata itu mengungkapkan sekaligus arti pikiran, perasaan dan khayal (imajinasi). Karena itu penyair harus dapat mengendalikan pikiran, perasaan dan daya khayalnya sekaligus, sehingga membentuk pengalaman baru yang bermakna dan yang imajinatif. Membaca kumpulan karya puisi ini, tampak jelas bahwa yang bersangkutan tengah merindukan kehadiran seorang yang sangat dicintai dan dihormati, yang saat ini tengah berada di tempat berbeda serta sangat mewarnai kehidupannya. Demikian pula yang bersangkutan merindukan datangnya kejayaan negeri Indonesia yang walaupun menghadapi permasalahan, tetap menyimpan asa optimism dengan bantuan dan ridho Illahi.
Selamat menikmati dan membaca keindahan puisi-puisi ini.
(Gunadi Adisasmita, Pelaksana Fungsi Ekonomi dan Pensosbud KBRI Sana’a Yaman.)






"Dengan puisi, mereka menyuarakan kenyataan. Tak lagi hanya sekedar membicarakan puisi cinta dengan sesama manusia namun kepedulian, persahabatan dan silaturahmi di keseharian, mereka rekam indah dengan bahasa sederhana. Ada doa, suara hati, harapan, kepedihan, ketidakadilan, ketegaran dan kekaguman mereka pada sosok-sosok yang mereka tujukan.
Membaca buku ini, setiap penulis mengajak kita ke ruang-ruang yang berbeda dengan aroma-aroma khas mereka."
(Kwek Li Na, Penulis dan Pencinta Puisi. Taiwan)



Untuk pemesanan silahkan inbox FB Inzpirazone Publisher. atau Pm via MP http://firdausza.multiply.com/ dengan subjek: (Sketsa Angin Diatas Pasir). Tulis Nama, Alamat + no telp dan Jumplah buku SADP. Nanti akan kami infokan harga buku + ongkos kirim dan nomor rekening untuk transfer. Terima Kasih



Kontributor Antologi Puisi Sketsa Angin Diatas Pasir;

Izel Muhammad
Raja Syahir
Yadhi Rusmiadi Jashar
Arif Fitra Kurniawan
Hylla Shane Gerhana
Uum G. Karyanto
Efvhan Fajrullah
Muhammad Haddiy
Husni Hamisi
Khalifa Rafa Az-Zahra
Lentera Al Jazhiran
Fran Keni Tamara
Wild Rose
Panarta Romel
Jaraway Al-Fajr
Panarta Romel
Fitri Meida
Daffodilslife
D. Dudu AR
Elaine Firdausza


BUKU ANTOLOGI PUISI SAYA YANG KE-3 : Dalam Estuari Sastra

TELAH TERBIT Di Inzpirazone Publisher

Buku : Antologi Puisi Give Spirit For Indonesia
Judul : Dalam Estuari sastra (Tetes Demi Tetes Tinta Untuk Indonesia)
Penulis : Elaine Firdausza, dkk
Penyunting : Emzy Azzam
Desain Sampul : Akhi Dirman Al-Amin

Cetakan 1 : Januari 2011
Tebal : 194 Hvs Luks
Harga : Rp. 45.000
100% Royalti untuk Kemanusiaan


Kata Mereka Tentang Buku ini :

"Yang terasa sekali adalah semangat dalam ekspresi diri para penyair peserta lomba cipta puisi ini. Keindahan kata dan ungkapan, keharuan rasa dan renungan, penggalian makna dan jati diri, masih harus dijalani. Kegiatan lomba ini sudah suatu awal yang baik."
(Taufiq Ismail, Sastrawan Indonesia)

"Buku antologi puisi Give Spirit For Indonesia ini bukan sekedar kumpulan puisi, lebih dari itu buku ini adalah sebuah bentuk empati anak-anak bangsa yang sangat merindukan kebangkitan Ibu Pertiwi dari titik nadir keterpurukan. Harapan-harapan dan do'a yang terangkai dalam rangkaian kata-kata indah memberikan sebuah spirit baru bahwa esok hari kita akan mampu menatap cahaya pagi yang cerah. Tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa antologi puisi ini adalah buku motivasi dahsyat nan puitis yang mampu menggugah jiwa pembacanya dan tentu saja buku ini patut mendapatkan apresiasi"
(Miftahur Rahman el-Banjary, MA; penulis buku motivasi QM dan alumni Fak. Bahasa dan Sastra Arab di Arab League University, Cairo-Egypt)

“Antologi puisi ini lahir dari sebuah bentuk kepedulian sekelompok anak bangsa atas keresahan yang dialami oleh negerinya sendiri, yang kian hari kondisinya kian memperhatinkan. Kepedulian mereka curahkan dalam bentuk bait-bait puisi yang menggugah jiwa dengan bahasa yang lugas dan bersahaja, ibarat setetes embun spirit untuk Indonesia lebih baik, sehingga antologi puisi ini perlu dibaca untuk menggugah kembali kepedulian kita pada negeri dan layak untuk diapresiasi setinggi-tingginya.
(Safaruddin, MA; pemerhati sastra Timur Tengah, kandidat Doktor Fak. Sastra & Bahasa Arab di Arab League University, Cairo- Egypt)

"Sebuah tulisan yang bersumberkan dari hati yang dalam. Penuh inspirasi dengan syarat makna sosial. Ditulis dari para penulis muda Indonesia. Semoga dengan adanya kumpulan puisi ini dapat mendongkrak rasa solidaritas bangsa yang akhir-akhir ini mulai hilang. Juga dapat menyelami amanat sebuah musibah yang menimpa bangsa."
(Arif Friyadi, Mantan Ketua FLP Mesir dan Penulis novel Mengapung Bersama Nil)

"Sepanjang tahun 2010, anak negeri ini telah banyak menguras air mata. Bencana, kemiskinan, seakan belum cukup masih ditambah pula ketidakadilan dan hukum yang dilecehkan. Meskipun begitu, usah kita terjebak dalam nestapa. Hapuslah air matamu, Cinta !"
(Pipiet Senja, Novelis Indonesia)

“Masih ada jiwa-jiwa murni yang mau menyampaikan kebenaran rindunya pada keindahan dan kebaikan dan tegaknya nurani. Jadi Indonesia masih ada harapan untuk berjaya di masa depan, asal jiwa-jiwa murni ini bisa berkembang melampaui cakrawala”
(Mustofa W Hasyim, Penyair Indonesia)

“Anda akan menemukan bukan hanya rangkaian kalimat indah dalam kumpulan puisi ini. Tapi anda akan menemukan banyak cinta yang membuat kita tersenyum, karena masih banyak benih-benih kasih sayang yang akan terus tumbuh di atas tanah yang kita cintai dengan
sepenuh do’a ; Indonesia!”
(Akhi Dirman Al-Amin, Novelis Muda Indonesia)

“Sebagian untaian kata adalah sihir,” ujar Nabi. Dan saya menemukan sihir itu di kumpulan puisi ini; sihir bagi negeri yang memang merindukan keajaiban!"
(Salim A. Fillah, Penulis Buku Dalam Dekapan Ukhuwah)

Untuk pemesanan silahkan inbox di FB Inzpirazone Publisher. Dan untuk yg pakai MP silakan PM saya di http://firdausza.multiply.com/ dengan subjek: (GSFI; Dalam Estuari Sastra). Tulis Nama, Alamat dan Jumplah buku GSFI. Nanti akan kami infokan harga buku + ongkos kirim dan nomor rekening untuk transfer.

by: Inzpirazone Publisher



Mengurai tinta, sama saja mengurai segala kenangan tentangmu dan segala kata,
Karena dunia kita sama, penuh dengan sejuta aksara.

Semoga pena dan tinta dapat menjadi kata.
Cinta dapat mengikat makna tanpa harus mengucap nama.
Dalam Estuari Sastra(Tetes demi tetes tin

BUKU ANTOLOGI KEDUA SAYA : MUNAJAT SESAYAT DOA

Untuk kedua kali, puisi  saya ikut dibukukan  setelah  antologi  Puisi  Kasih- tanah, air, udara  Hasfa  Publishing, sekarang (bersama 99 nenulis-penulis lain) Munajat Sesayat Do'a yang  merupakan antalogi puisi dari seratus pemenang lomba Forum Tinta Dakwah FLP Riau. 

Telah terbit di LeutikaPrio!
Judul : Munajat Sesayat Doa
Penulis : Pemenang Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau
Tebal : vi + 142 hlm
Harga : Rp 35.000,-

Sinopsis: 
Bagi Anda para pecinta puisi, membaca sebuah antologi puisi mungkin sudah berkali-kali Anda lakukan. Namun sudahkah antologi puisi yang Anda baca tersebut memiliki keunikan seperti yang ada pada antologi “Munajat Sesayat Doa”??? Munajat Sesayat Doa merupakan kumpulan puisi penggugah jiwa. Sastra tak selamanya berkecimpung dalam dunia abu-abu, namun sastra juga mampu memberi setetes pencerahan bagi jiwa-jiwa para penikmatnya. Munajat Sesayat Doa merupakan antologi puisi berisi karya pemenang lomba puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau yang dilaksanakan secara online dengan memanfaatkan fasilitas facebook. Ditulis dalam bentuk puisi-puisi yang ringkas dan padat, namun bukan berarti mengenyampingkan kekohan dan kekuatan makna bahasa para penyair. Puisi-puisi di dalam Munajat Sesayat Doa merupakan bahasa-bahasa kejujuran dari seorang penyair selaku hamba Tuhan kepada Sang Pencipta. Kejujuran kondisi diri sekaligus ungkapan cinta patah-patah yang terlahir dari jiwa penyair.

Lihatlah ungkapan ini:


Karena tasbihku terlalu kelam untuk kuhitung,

Maka aku pun tersungkur memutih
dalam cintaMu di paragrap sunyi doaku
Senja memang selalu jingga, sayangku.
Tapi zikirku lebih memutih, lebih membumi,
dan lebih melayangkanku.

Atau kejujuran yang ini:


masa telah membuat kami kuning. ringkih dan lapuk

di ujung karat. tak kuat menahan sengat mentari yang
kadang jahat panasnya.
semilir angin pula telah
cukup sulit hingga tak dapat kami
pegang dengan erat.

Munajat Sesayat Doa memberi ruang kepada para penyair dalam berbagai jenjang dan tingkatan, baik bagi mereka yang telah memiliki karya berserakan di media nasional, maupun mereka yang pertama kali membukukan karyanya. Asah kemampuan berpuisi Anda dengan menjadikan Munajat Sesayat Doa sebagai koleksi. Sebab memiliki buku ini tak hanya akan menjadikan Anda sosok yang mahir bersastra, lebih dari itu Anda juga diajak bermunjat dan beramal, karena keuntungan royalti penjualan antologi ini akan dijadikan sebagai anggaran donasi bencana alam di tanah air.


selamat membaca dan menikmati


Salam sastra penuh manfaat!

(sumber LeutikaPrio)


 : dan  inilah  puisi  saya  yang  termuat  di  ANTOLOGI  MUNAJAT SESAYAT  DOA (Leutika Prio)

CINTA  BUTA  SUARAKU  KEPADA  TELINGAMU

sejak suaraku  mengenal  telingaMu,
ia tinggalkan telingaku,
yang tak kuat  menampung,
gelombangmu, cahayamu  yang menumpang,
cermin  melengkung di dengung  jantung

ia ingin  kau simpan  sebagai  keheningan,
sungguh  tak  peduli ia, sehabis  ini,
hanya   mampu  bicara  kepadaMu
dengan  bunyi menggigil,
ribuan bahasa  ganjil.

AF  Kurniawan.

Dari saudara sekebunku Husni Hamisi

Dear kawankawanku
dan terkhusus untukmu kawan penyair arif Fitra Kurniawan

aku telah mengikat janji dengan statusku ini, dalam kesunyian JSTH yang diasuh guru huhi (hudan hidayat) yang sedang bersemedi, aku ingin merayakannya dengan membaca ...
puisi kawan-kawan yang sampai diberadaku tiap malam hingga malam tahun baru, tepat aku mengetik sekarang ini, suara reporter cantik lewat layar kaca menampaikan berita, bahwa tak beberapa lama lagi tim garuda kita bakal bertarung, kudengar pula paman nurdin nurdin halid ada di tribun utama

...
Dear kawankawanku
dan terkhusus untukmu kawan penyair arif Fitra Kurniawan

pernahkah kau mengenal atau bertemu atau bersua bahasa dengan Nirwan Dewanto, si paman esais dan juga penyair yang jantungnya terdiri dari campuran lapisan manisan lebah ratu?, jika belum maka marilah kita bersama berkunjung mencicipi jantungnya.

suatu ketika paman penyair Nirwan pernah bernubuwwat kepada telinga yang mencintai katakata serupa kita, bahwa " puisi yang mengundang kenikmatan bagi sang kritikus sastra untuk mengulitinya adalah puisi yang lahir dari meja bedah sang penyair yang juga ganas mengkritisi puisinya sebelum dilahirkan ke dunia ini". mungkin kau bertanya, dimanakah kutemukan rangkaian katakatanya ?, maka kusampirkan sebuah lolypop di bibirmu itu, bahwa " tentu saja redaksi katakata darinya tak sama persis dengan yang kuhadiskan, aku menambah sedikit anggur malam padanya, agar aku, kau dan kawankawan sekalian dapat lebih mabuk menikmati puisimu ini ;


MANISAN DALAM STOPLES
barangkali kau yang semasak buah sirsak, berbiji surat-surat dan alamat. sungguh tangguh dirimu menyembunyikan sebongkah pahit, yang tak kunjung meneyerpih seserpihpun meski telah kupahat-pahat . ta...k kudengar kau menjerit.

berhala berlarian, seolah baru saja bertemu dengan tuhan,saat kugantungkan telapak kapakku dilehermu, tebing leher yang lacur bagi kesalahanku, membuatkan selebar ranjang, pernah kantukku disitu terpaksa bermalam, sebab penginapan lain penuh dihuni musim hujan.

suatu kali tanpa sengaja kutemukan kau, setelah aku bertahan selama bertahun-tahun untuk tak mengejarmu, bayangan lidahku yang diuputus temaram, aku menyaksikanmu di sebuah toko oleh-oleh dan manisan, kau membawa kecurangan, di senyummu tak tertera tanggal bepergian, jalan baru, dan balas dendam yang berhasrat ingin kau impaskan, nama kadaluarsa.siapa kiranya yang alpa mencantumkannya dalam kemasan luarnya ?

kau pergi lagi, bersama petikan lagu-lagu, dijinjing tamasya demi tamasya,, hari libur kian bertambah lebar dan subur, mengabarkan bermacam kesedihan jam yang terus bekerja,dan acap memprotes upahnya tak sesuai. aku melihatmu,dalam stoples bening, dengan mataku yang makin dipenuhi sisa usia dan benang yang tak henti berbantah-bantahan. hingga apa yang kusaksikan terlihat lebih murung dan miring. tiba-tiba kau tergilincir dan jatuh. semoga ini cuma kesalahan mataku yang gaduh.

kampung layur, desember 2010


empat helai bait manisan yang begitu nikmat, ada manis ada asam ada asin, nina-nina rasanya kawan. hehehe

Dibait pertama, aku, tepatnya pembaca seperti aku 'dikutuk" kau dengan menyamakan diriku dengan buah sirsak yang telah masak, aha.. apak...ah kau seorang dukun puisi? aku memang seorang pria bertahi lalat yang menggandrungi buah sirsak. Buah "nangka balanda" dalam bahasa timur , bahasa tempatku dilahirkan, jaman dulu di kampungku, konon kabarnya diceritakan turun temurun dari mulut-mulut yang dipenuhi kapur dan sirih, bahwa sirsak itu adalah buah andil dari persekutuan gaib antara seorang meneer serdadu belanda dengan jin musang penunggu telaga, demi istrinya yang lagi bunting dan lagi ngidam buah nangka, nangka yang tak kuning sayang, tapi putih aduhai seperti gigi taring di mulutmu itu. kemudian daripada itu, suatu malam yang dipenuhi cahaya petir dan dentuman gemuruh guruh, sang istri bermimpi bahwa dari rambut hidung sang suami tercintanya tumbuh pepohonan berbuah semangka, buah yang bijinya menyimpan suratsurat dan alamat katamu, sebuah tanda dan penanda bagiku untuk masuk ke puisimu ini.



aku mengikuti "gaya surelis", seperti kau menulis puisimu brader.. hehehehe...

Memang kuakui kawan, bahwa istriku yang tinggi langsing yang cantik jelita berhidung mancung yang lagi bunting yang masih bernasab pada grandfather antonius franc...ake gulaguli sepupu keberapa dari dewi cleopatra legenda ratu tercantik mesir kuno, pandai menyimpan rasa sakit kepahitan hidup, sama dengan semua wanita yang ditakdirikan kokoh dan selicin tupai dalam menyimpan perihpedih kehidupan jauh melebihi kemampuan lakilaki. untuk itulah kenapa para TKI kita lebih banyak dari kalangan wanita, boleh jadi paman senyum dan koncokonconya sangat mengerti, bahwa wanitalah paling pas jadi umpan matang untuk meraup panen untung dari paham kapitalisme firaunisme yang mereka terapkan, paling tinggi hitungan mereka hanya beberapa saja yang tak mampu menyembunyikan jerit seperti harapmu, bakal terendus media dengan mengenakan titel “inilah dia sang pahlawan devisa kita” yang telah menjalani isi neraka ketiga serial komik bajak laut si topi jerami yang dengan begitu meyakinkan menerima takdir untuk disetrika, diperkosa, upah tak dibayar, disiksa, di cambuk lalu di setrika lagi diatas kasur, lalu memilih gantung diri karena ulah sang majikan di negeri-negeri rantau. Begitulah legenda itu mulai bermain di kepalaku kawan, setelah terkena jerat kutukan bait awalmu wahai penyair arif FK bachdim. ( hahahaiii)


Bait kedua kau makin berani membelah otakku dengan kapakmu,
tanpa kusadari sebab kau berhasil menghipnotisku di bait awal dengan menyogok pikiran ini bahwa senyumanku yang sering kujemur pada mata kemarau semua orang itu selalu semasak na...ngka belanda, aha....apakah kau sepupu kelima dari dedy corbuzer?, dengan tanpa merasa bersalah kau katakan kantuk kutukanmu begitu manis bersarang di mata pikiranku, saat memandang keperihan hidup para pengungsi merapi dan masyarakat bromo yang kesulitan ditengah hujan debu sulfur namun sengaja dilupakan mereka (paman senyum dan koncokonconya), semenjak siaran berita begitu sumringah memaparkan firman untina rajin memasok umpanumpan matang kekaki kakak cristian gonzales yang mungkin masih sedarah dengan istri sang meneer belanda keturunan grandfather antonius francake gulaguli. zaman kita ini , media siaran begitu hebat mencuci dan mengarahkan opini umum masyarakat, hingga halhal yang pokok yang kurang sesuai dengan selera pasar tak ada kompromi untuk disediakan ruang bermain jika tidak mendatangkan fulus. kau sangat cerdas menyebutnya " sebab penginapan lain penuh dihuni musim hujan" wahai penyair arif FK bachdim ( hahahahaiii)

Di bait ketiga aku akhirnya luluh tak sampai hati lalu meluluskan permintaanmu brader, saat kau mulai terang bercerita bahwa sebelum persekutuan kita ini terjadi, kau tak sengaja akhirnya menemukannya setelah sekian tahun pura-pura tak meng...ejar si jelita idamanmu yang berhidung mancung yang masih keturunan grandfather antonius francake gulaguli itu di sebuah toko manisan depan kantin sekolah, katamu sambil menghiba kepadaku, dalam stoples berbentuk kelinci itu, dia lagi nungging memamamerkan senyumnya yang diolesi mentega rasa sakit yang tak mampu terjeritkan, kau lalu bertanya kepadaku "tuan.. tahukah kau...siapa oknumoknum pencantum nama kadaluarsa di kemasan dada garuda kekasihku yang selalu jadi korban kerbau hitam dari keganasan semisal mega korupsi century yang tak pernah selesai, mafia pajak gayus, banjir lumpur lapindo, dll...wahai jin musang yang baik hati", maka jawabanku padamu "kaum kaum itu bakal terkutuk selamanya di dalam neraka, lalu kita samasama mengaminkan tujuh kali". apakah kau puas dengan persekutuan kita wahai penyair berbibir sirsak arif FK bachdim (hahahahaiii).

Dan seperti sebuah lagu dia akhirnya pergi, (akupun selalu mendoakan begitu kawan, lebih cepat lebih baik) lalu kita memandang kepergiannya dari ekor mata katakata yang tetap gaduh di kepala kita sambil bermohon kepada Gusti Allah pencipta petalapetala langit jika mungkin dia dan konco-konconya diringankan dari siksaan alam kubur yang begitu keras yang akan menjemputnya. setelah firaun, abu lahab, namruz, george bush, ariel sharon, paman senyum dan koncokonconya adalah anak keturunan dari si jelita istri sang mener belanda yang masih memiliki nasab kepada grandfather antonius francake gulaguli yang memiliki persekutuan jahat dengan jin musang anak buah dajjal laknatullah. Mereka kekal dalam kekelaman katakata kita.

....

Begitulah puisi yang indah itu, selalu memancing pembaca untuk bertambah dan bertambah liar dalam berimajinasi, puisi indahlah yang dapat menghasilkan inspirasi yang meruap-ruap bagi pembaca yang menikmatinya, dan itu kukira semua terlahir dari kecerdasan terselubung sang penyair dalam meramu katakatanya . penyair ini sangat pandai memainkan jurus "satu dua satu dua seperti strategi sepakbola", ia memilih kata-kata yang bunyinya serupa (rima), baik diawal ditengah atau diakhir batang puisinya.. hehehe

Maka terpujilah kau wahai penyair arif fitra kurniawan.

nah sekarang berapa kosong untuk tim indonesia kawan ?, aku suka tim malaysia, namun pada malam ini semoga tim garuda lah pemenangnya, hehehe, selamat menonton kawan-kawan.

( kesemua  tulisan  ini  saya  rangkum  dari  catatan  yang  sepertinya  dibuat  khusus  untuk  puisi  saya  oleh  Husni  Hamisi    http://www.facebook.com/husni.hamisi, terakhir,  dengan  segala  hormat  saya  sampaikan  ungkapan  terimakasih  atas  apresiasinya  terhadap  hasta  karya  ini, salam  dari  penyair  pemalu  sekaligus  pemula :  AF  Kurniawan,  bachdim, )

sajak  "Mainan  Dalam  Stoples", merasa  menjadi  sari  Drupadi  malam  ini.

BERSAMA 49 PUISI LAIN, PUISI SAYA AKHIRNYA TERBIT JUGA DALAM ANTOLOGI PUISI KASIH : TANAH AIR DAN UDARA YANG DI TERBITKAN HASFA PUBLISHER

MAHAR SEORANG LELAKI DI POS PENGUNGSI
: pengantinku

pesta akan segera berangkat, diarak iringan pelayat
membawa sepasang wajah kita yang sungsang ,
mendidih dan matang,
mengembunkan sungging kesakitan.

di meja kaca yang tak berisi satupun undangan milik tamu,
aku melamunkan engkau, dalam bencana yang begitu tangguh,
hingga sulit bagi upayaku sekedar membantah.
meski telah kuminum peluh.

maka, demi panas dan abu yang tertangkap,
di alamatmu yang dulu beratap,
kita akan bangun suar dari biji pasir.
menyiarkan rasa berkabung,
yang selahar demi selahar,
menjauhi pagar milik leluhur.
tempat berkubang kaki ternak dan lumpur.

derajat ini, telah mengusir suhu tubuhmu, mirat beningku,



nb : SELAMAT YA !
menjadi tenda pengungsi,
yang bahkan, kini tak hapal wajah sendiri.
maharku, seperangkat kepedihan ini,
yang tak pernah orang-orang amini.
akhirnya lengkap mengecup airmatamu.

BEBERAPA PUISI SAYA UNTUK HASFA PUBLISHING



MAHAR SEORANG LELAKI DI POS PENGUNGSI

: pengantinku

pesta akan segera berangkat, diarak iringan pelayat
membawa sepasang wajah kita yang sungsang ,
mendidih dan matang,
mengembunkan sungging kesakitan.

di meja kaca yang tak berisi satupun undangan milik tamu,
aku melamunkan engkau, dalam bencana yang begitu tangguh,
hingga sulit bagi upayaku sekedar membantah.
meski telah kuminum peluh.

maka, demi panas dan abu yang tertangkap,
di alamatmu yang dulu beratap,
kita akan bangun suar dari biji pasir.
menyiarkan rasa berkabung,
yang selahar demi selahar,
menjauhi pagar milik leluhur.
tempat berkubang kaki ternak dan lumpur.

derajat ini, telah mengusir suhu tubuhmu, mirat beningku,
menjadi tenda pengungsi,
yang bahkan, kini tak hapal wajah sendiri.
maharku, seperangkat kepedihan ini,
yang tak pernah orang-orang amini.
akhirnya lengkap mengecup airmatamu.


DALAM SEBUAH TAS PUNGGUNG TERGELETAK YANG DITINGGALKAN PEMILIKNYA


pensil

akhirnya oleh buku gambar,
aku dipatahkan, bersebab baginya aku tak patuh,
tak mau mengucap biru,
yang terlumat bara,
tergelincir ke kening gunung,
seusai sejarah dijajah tangan ahli tenung.
menjadi lebih tebal dan murung.

sementara yang lubang dadaku bisa,
adalah menyimpan arsiran rahasia,
abu-abu sisa pembakaran, sisa letupan.
aku belum sempat mencatat ,
nama-nama yang sembunyi di kantung mayat.
aku sudah patah.

penggaris plastik

apa yang bisa kuceritakan,
agar engkau percaya,
pada sepuluh kilometer ini,
selain jarak yang mengelupas,
keinginan untuk berkembang biak dengan baik,
itupun akhirnya tandas.

botol minum

kujaga, rasa haus yang timbul tiap kali,
kau lewati sungai ini.
perjalanan katamu,
telah menumpahkan jam-jam,
yang terus berenang, mencari kedalaman.

aku tahu, jam di tubuhmu mungkin sudah mati,
terpanggang bumi.
tapi masih saja kudengar, sedu.
merengek-rengek padaku agar mengalirkan sesuatu.

penghapus kita

seperti sedang berbicara kepada ucapan yang lenggang,
betapa buas panas yang lahir dari abu-abu ini.
mungkinkah, salah satu penggalan kalimat itu jejakmu,
yang tanpa alasan jelas ditanggalkan sepasang sepatu.
kali ini aku cuma bisa menghapus,
hujan mata yang kadung jatuh ke tandus.


SUARA TUHAN DALAM GELAS

aku mendengar suara Tuhan dalam gelas yang tandas.
Ia masih maha menabung lenggang lengking doa kita,
yang lama bersabar diatas tangan hangus,

sebentar lagi, kataNya ;

mungkin Ia ingin agar kita lebih berdebar.
menebak-nebak kabar
yang datang dengan kaki memar.

puisi puisi AF kurniawan : Antalogi Sastra Pawon


KITA SULIT PERCAYA PADA TIGA UNGKAPAN LAMA

1//
padamu, nasi kemarin yang terlanjur menjadi bubur,
barangkali kau bisa bercerita padaku,
tentang keriput daun telinga gajah di samping rumah.
betapa rajin ia meminta ijin,
mengintip dari celah pohon ramunia.
masa kecil kita saling berlomba.
menggambar bentuk kubah diatas tanah.
berkejar-kejaran.
mengkotak kotakkan harta warisan.

2//
padamu, air dan minyak yang saling berpunggungan.
yang tak bosan dipermalukan kiasan.
adalah jarak,sengaja hadir menguji kesabaran.
menghasut kalian untuk terus menajamkan pedang.
padahal, pernah suatu malam di pelabuhan.
kalian sama-sama memanggul.
berat jam yang berisi pukul demi pukul.
membuat penahan air pasang sepanjang tanggul.
syahbandar tak tahu menahu.
ia sibuk menghitung berapa jumlah lokan yang hilang.

3//
padamu, lengan pendek yang ingin mengumpulkan gunung.
sudah berapa kali jari kemustahilan,
menyembunyikan tanda sama dengan diantara hitungan.
agar kau habis tenaga.
menyerah.
lantas mengembalikan segala kesimpulan.
kepada semua buku-buku pengetahuan,
yang kau pinjam dari rak perpustakaan.

tak kumengerti kenapa kau lebih memilih percaya,
pada suluh yang enggan berbicara.
terus saja mencabuti ganggang
rungkut yang berkelindan di jelujur jiwa.

***

PARIBAHASA SEBENARNYA TELAH MENGURUNG KITA

sengiang perumpamaan,
yang merasuk dan memberi keturunan,
pada getah tetumbuhan di ladang.
kita terus saja mencari letak sumur tua,
tempat pertama kali langit menjatuhkan biru,
kedalam mata, hingga selalu keliru mengeja usia.

sedalam lubuk ditinggalkan ikan-ikan,
kini jeritan,
mencoba memindahkan segala bayangan.
ke sungai, tempat beberapa pertanyaan,
pernah dulu ditanggalkan para danyang.
mereka terlanjur menuduh kita pencuri.
mengambil sembilan puluh sembilan warna
milik hujan dan matahari.

***


KEPADA ADIKKU
:dewi citra sari

lihatlah tubuh ibu dik,
tempat debu dan jutaan pisau membuatkan lubang besar bagi suara kita
hingga kita leluasa teriak,
memainkan robot-robotan dan boneka.
betapa adil ia menjatahkan-jatuhkan air susu,
tak pernah membiarkan mulutmu mulutku
mengering-erangkan puting kiri atau kanan.
bayang atau kenyataan.

lihatlah jemari ibu, dik
mesin jahit yang sabar menyatukan cahaya,
serekat warna bendera,
yang kita tatap sepanjang upacara.
sambil berdiri.
tegak lurus memasang tangga ke matahari.

betapa ia telah patahkan hal-hal penting,
yang lapuk dan rusak sekeras angin
memetik daun kering.
menjauhkan pipi merah jambu kita
dari bisa.
dari muslihat rencana.
dari asin airmata.


REMANG KEMATIAN

sebelum mengucap selamat jalan,
aku ingin mengecup ratusan mayat
yang selama ini hidup di dirimu.
lalu dari jauh , kau bisa melihat luap tangisan
yang mengucur dari lubang-lubang di pungggungku.

punggungku yang berkeras membangun panggung.
mementaskan gaung dan mendung.
kesedihan-kesedihan yang mengaku sekandung.


SURAT IBU UNTUK AYAH YANG BARU BISA KUBACA SETELAH AKU DEWASA

untuk engkau, halaman tebal buku mataku.
yang menerimaku sebagai kalimat pucat.
dengan lengkap raga
yang tak pernah ditumbuhi ragu .
kau karat ranjang,
menunggu kaki mimpi berpulang.
terus membuka pintu,
barangkali suatu malam sepasang lampu
diingatanku, akan menemuimu, dengan tungkai telanjang.
menanam di kamarmu,
terang demi terang.

kedatangan ini kupanggul dari alamat jauh.
bergaun kabar dan debar.
berdandan samar dan memar.
wangi lumpur
yang menempel di nisan nisan kubur.

pelan-pelan, kumasuki tiap suara,
yang berdiam di telingamu.
disana kulihat, bibir anak-anak kita,
sedang belajar berbicara.
sedang berusaha mempercayakan diri pada dusta.
kaukah yang mengasuh segala bunyi ini ?

bunyi-bunyi yang akhirnya piatu,
berjauh dari puting susu.
luka- luka lidah kulihat merekah.
saling membentur, saling berkelindan.
seperti lengan-lengan kecil berebut mainan


nb : selamat ya, buat diri sendiri !



klik disini untuk mengetahui karya siapa yang masuk dalam antologi

puisi puisi saya akhirnya muat di ANTOLOGI SASTRA PAWON

Para kontributor edisi pawon kali ini :

Aku dan Angka 18:18
Cerpen Saiful Bahri

Camelia dan Seberkas Dusta
Cerpen Ir. Bambang Sukmadji

Cerita Tentang Coklat
Cerpen Santoso Rukatam

Hidup Ini Indah, Bapakku Sayang!!!
Cerpen Made Kartika Sari

Perempuan Sunyi
Cerpen Gendut Pujiyanto

Puisi-puisi Effendi Danata

Puisi-Puisi I Putu Gede Pradipta

Puisi-puisi Prayuda

Puisi-puisi AF. Kurniawan

Puisi Puisi Anna Subekti

Sandiwara Humor dan Propaganda Jepang
Esai Fandy Hutari

Sastra dan Kebutuhan Terhadap Orang Gila
Esai Bosman Batubara

Konstelasi Kesenian Tegal, Apresiasi, dan Kaderisasi
Esai Febrie Hastiyanto

Perempuan dan Seksualitas: Tafsiran The Diary of A Young Girl
Esai Sartika Dian Nuraini

Hajat Sastra Khotbah
Esai Bandung Mawardi

Perselingkuhan Lumbini Belum Selesai
Kisah Buku Tria Nin

Sebuah Oase di Taman Victoria
Layar Kata Haris Firdaus

Seorang peranakan yang suka berbicara dan berimajinasi sendirian
Wawancara dengan Mardi Luhung
oleh Han Gagas

Pada Gerimis di Sepanjang Sanggingan
Kisah-kisah dari Ubud Writer and Reader Festival 2010
Reportase Yudhi Herwibowo

Baca Dulu, Baru Nulis!
Kartun Anton WP.

Kematian Harmoni
Kolom akhir Indah Darmastuti






keterangan lebih lanjut bisa di klik disini