Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Man Kakus


 
Tiap  orang boleh saja  memiliki tokoh yang  dikagumi sepanjang hayat. Jika seseorang menyukai sepakbola, sah-sah saja  jika mengagumi  Gabriel Omar Batistuta, atau jika ia memilih menyukai golf maka tak heran jika ia  memuja-muja Tiger Wood. Atau jika kau menyukai badminton, di kamarmu kau tentunya akan menempelkan poster Susi Susanti atau Liem Swie King dalam gerakan nyentrik, sedang melakukan smash maut mereka.  Sebagai catatan tambahan, kau akan siap berperang  sampai berdarah-darah dengan siapa saja  yang berani menurunkan gambar mereka  dari dinding, bahkan seandainya yang mencopot  bapakmu sendiri atau seorang menteri  urusan pemuda dan olahraga.
Biasanya seseorang mengelu-elukan  orang lain   atas kesamaan  bidang yang mereka kerjakan.  Atau apa yang mereka sukai. Jarang sekali, kita temukan seseorang mendaku keranjingan sepakbola lantas mengidolakan atlet dayung, misalnya.
Heranku dan sayangnya, kepadaku sampai sekarang tidak ada yang bertanya, siapakah  gerangan sosok yang paling aku kagumi di semesta raya ini. Padahal jika ada, maka aku akan segera melompat dan berdiri tegak dan mengangkat lenganku dan meluruskan telunjukku ke arah punggung lelaki yang permukaannya berwarna mangkak  sekaligus licin seperti ikan lele di seberang tempat aku duduk. Ia   masih bergerak gesit sembari tetap menjaga keajekan ayunan ketika  menjungkat-jungkitkan  gagang pompa air. Naik turun, naik turun. Gerakan semacam itu cuma bisa disamai ketepatan mekanisnya oleh jeroan mesin motor.
Angin, yang membawa ruapan khas bau kali, memukul-mukul ranting dan beberapa helai daun belimbing wuluh  kering yang menaungi kepala  lelaki  itu. Akhirnya  daun-daun  terpaksa merelakan diri mereka  jatuh ke rambutnya yang jadi terlihat seperti sarang bagi  kelemumur-kelemumur raksasa.
Umurnya tiga kali umurku, jika aku tak meleset membuat perhitungan.  Ia tinggi kurus. Berambut panjang namun digelung dengan karet gelang, atau kadang-kadang rafia. Orang tak mungkin tertukar penglihatan dengan lelaki lain, lantaran, sehari-hari, cuma ia yang selama dua puluh empat jam tak pernah mengijinkan kain dalam bentuk apapun menutupi bagian atas tubuhnya. Percayalah, cuma di hari raya Idul Fitri ia mengenakan baju koko untuk salat Ied di  Simpanglima atau ia akan mengenakan kaus berkerah hadiah dari  Toko Emas  ketika terpaksa menghadiri undangan tahlilan di kampung sebelah. Selebihnya, orang-orang yang antre berak di delapan bilik jambannya akan menyaksikan tulang-tulang rusuknya yang menonjol berkeras ingin melesak keluar, beberapa tonjolan kutil  yang menyebar di punggung  dan di bawah ketiak, serta, ini yang agak penting—bekas  tato di dada kanannya, yang konon, adalah tato naga dan sudah bertahun-tahun disetrika, dan bekas setrikaan itu membuat tonjolan yang, jika dibaca dari jarak sejauh kurang lebih  tiga kaki, terlihat seperti  huruf K.
 Lantaran orang-orang yang hidup di sepanjang bantaran kali ini memanggilnya dengan sebutan Man Kakus, aku juga memanggilnya demikian. Sebenarnya aku ingin memanggilnya dengan sebutan lebih terhormat namun tak pernah bisa mewujudkannya, meskipun aku sempat mengira-ngira siapakah sesungguhnya nama lengkapnya. Parman, Leman, Zaman, atau Syuman atau siapapun agar paling tidak aku bisa meninggikan derajatnya. Bertahun-tahun aku berangkat tidur sambil terus menambah kumpulan  nama yang berakhiran ’-man’.  Namun sialnya, bahkan hingga  tujuh tahun berlalu sejak  aku lulus dari sekolah kejuruan, dan sepuluh tahun sejak aku memutuskan  menumpuk poster Valentino Rossi dan menutupinya dengan foto Man Kakus yang sengaja aku cetak dalam ukuran besar A3 (sementara poster Rossi cuma ukuran A4— hadiah akhir tahun dari tabloid otomotif)  di dinding papan tempat aku biasa tidur, aku seperti mendapati perjalanan melingkar untuk menguntit nama dan  asal-usulnya.
“Entahlah, siapa aslinya nama dia itu.” Begitu kata Ah Ciu, Cina Tua penjual es batu yang  membuka lapak kecilnya di dekat jembatan Plampitan. Jawaban dari lelaki  bermata sipit renta yang aku perkirakan sepuluh sampai dua puluh tahun lebih tua dari Man Kakus itu seolah mewakili jawaban dari banyak orang yang aku tanyai. Cuma, aku sedikit lega, darinyalah aku mendapatkan gambaran lebih  tentang diri Man Kakus.
“Kapan ya, tahun 80, atau 81, atau sekitar itulah, seorang pemuda sepantaranmu, ujug-ujug datang ke sini. Aku kurang paham apakah  dia tuh berasal dari Nganjuk, atau Banjarnegara, atau Wonosari, yang pasti logat bicaranya bukan logat  orang-orang sini deh.  Awalnya ya, aku pikir  pemuda itu sinting, berkeras  menyeru kepada para tukang becak dan sopir daihatsu, juga pedagang asongan, agar janganlah lagi berak di kali.  Ah, sinting pokoknya kupikirlah itu pemuda pertama kali  liat dia.”  
Dari cerita Ah Ciu, aku tahu, satu bulan setelah kedatangannya di kota ini, Man Kakus menanam empat  bilah papan ke bumi, memacak sebuah atap dari ijuk di atasnya, ia mencoak tanah, serta menggali saluran sepanjang lima belas kaki dari lubang jamban pertama ciptaannya itu ke arah kali Wotgandul. Aku pernah membaca di beberapa buku ensklopedia, dan dari sanalah akhirnya menyimpulkan: orang-orang seperti Copernicus, Enstein atau Edison memang harus menjalani laku untuk dicap sebagai ‘orang-orang sesat dan lemah pikir’ terlebih dahulu sebelum buah pemikiran mereka diakui sebagai gagasan cemerlang yang mampu menerangi jagat.  Dan begitulah awalnya nasib Man Kakus.

TIGA SENAR SULAIMAN

Dang ding dung dang ding dung. Selamat siang untuk  si ahli nuklir  yang sekolah sampai tamat dan suka  mengumpulkan barang-barang rongsok dan suka bolos mengaji, sudah  aku gosok gigiku dengan pasta  sambil  mikir-mikir  sampai wajahku jadi jelek diantara  nasib perang di belahan bumi sana. Pasti  gedung-gedung pencakar langit ambruk dan anak-anak menangis Dang ding dung dang ding dung…

“Lagu yang ini   buatmu, ya, ahli nuklir .“
Lingkaran  di depan masjid itu  terbuat  dari  tubuh-tubuh berjongkok  beberapa anak kecil. Sebuah pertunjukkan di antara angin siang  pukul dua yang semribit. Satu  dua lagu berloncatan dari mulut Sulaiman,  menyentuhi  pendengaran milik  Rahmi, Riwayadi, Kurnia, Meno, Jujuk, Ayu dan  Nurul, susup-menyusup  di antara rongga-rongga  rumput yang sebagian  tergencet  diinjak kaki  untuk kemudian merangkaki daun-daun  pisang yang meneduhi  pertunjukkan kecil mereka. Sulaiman ajeg menjadi pusat  perhatian mata jelalatan milik anak-anak. Satu Lagu. Dua  lagu. Dang ding dung dang ding dung. Jarinya  begitu sakti  memiuh  senar-senar dari kotak musiknya. Kotak dari  papan kayu sengon. Kasar, terlihat diamplas seadanya. Senar dari  bekas ban dalam  sepeda motor. Tiga senar. Cuma tiga senar dalam dang ding dung dang ding dung.
MATA PALING INDAH    

Aduh  ibu, berhasrat  ingin  kukail  sepenuh  maaf  yang  limpah  di  telapak  kakimu  yang biru laut itu,  betapa  surga dan  pahala betah berenang-renang  di sana, sungguh  apabila  bagimu  telingaku  sedemikian  durhaka membantah  lidah  yang  tuah, kelopak  ranum  yang  menguarkan  pepatah  demi  pepatah, maaf, perawan  ini  tak hendak  mengecewakanmu ibu. Percayalah  ibu, aku  akan bahagia, insya Allah  dengan  apa  yang  akan  kujalani nanti. Aku  tahu, tiada  orang tua  bermaksud  melepas  anaknya ke rimba  celaka, sering  kau elus  keningku, sesekali  ketika aku  dihadang  kaca   persegi dikamarku, ketika rautku  tumbuh  menjadi lebih subur dan  sabar  daripada  gambar yang  diambil oleh  tukang  foto  keliling berbelas tahun  yang  lalu,  dengan pipi  beringus dan rambut belakang  berikat  karet  gelang, tak  henti   kudengar   dari  bibirmu  yang sarang  lebah itu,  nak, kelak carilah jodoh  yang ber--bibit, bebet, bobot, mampu  mengimami, mengayuhmu  ke arah paling kiblat. Arah  yang  ruasnya dibentarakan  ribuan  malaikat.  

Aduh  ibu, berhasrat  ingin  kujewer  telinga  sendiri, seperti  masa  kecil  ketika  kupatahkan  jarum  jahitan, ketika  kelingkingku  sedang belajar  menuntaskan  segenap  rasa penasaran. Dan  kau tak  pernah  benar-benar  marah,demi   melihat kelingkingku tertusuk  ujungnya  yang tajam,   kau bawakan  keciap  aduhku sebotol  obat  merah.  


Berulangkali  engkau  datangkan  padaku lelaki-lelaki itu, lelaki  yang  menurutmu  membawa     rempah-rempah kapal ketaatan  nabi  nuh, yang  berhasrat  meminangku  sebagai  palka, atau  sekoci, mereka  yang  menjanjikanku  separuh kegigihan  dunia  dan  separuhnya  lagi  ridho  dari  lurusnya beragama, bukan  seperti  ibu, bukan  niatan  untuk menampik  mereka seperti tubuh  gelasku  yang  mencoba  mengepaskan  seberapa  pantas  ukuran  baju. Memilih  dan  memilah, untuk  kemudian memulangkan mahar  rencana mereka  dengan tengkuk tertekuk. Membawakan   kabar tak layak  bagi  ibu-bapak mereka  yang  tetua  kampung, imam  masjid, kepala dusun, para  amtenar.

Maka  sekali-kali  ingin  bergegas  kukecup  keningmu  yang  padang rumput itu, tiap  kali engkau  sedikit  jengkel-meskipun  tak  sebenar-benarnya  marah-  ketika  berujar, nak, sampai  kapan engkau  begini, apa  hati  perawanmu  tak  ciut, tengoklah  itu, waktu  terus  memburumu. Maka  dengan sejujur  lidahku  yang hijau, berucap, sampai  datang  yang sebenar-benarnya  jodohku, ibu.  

Mungkin inilah  ibu, jodohku, bisikku  padamu  ketika  suatu  siang, ia  datang  membawa  lebih dari sebuah  keberanian. Lelaki  yang datang  tanpa  sanggup  menjanjikan apapun  selain  utuh  dirinya  sendiri, lelaki  yang  berjujur ketika  di surau tak  pernah  khatam Al qur’an, dan  dalam  kehidupannya  ia  selalu  berdoa sehujan  mungkin,  agar  ada  yang  berkenan  mengajarinya mengaji, bersebab  tak  ada yang  sabar  mengajarinya, ah, siapa pula   yang sabar  mengajari lelaki yang  matanya  buta?.  Kemudian  kau  menggayuh  lenganku  ke kamar, Ndun, kau  yakin  pada  yang  engkau  pilih, tidakkah engkau  lihat  dia  lelaki buta, tegasmu.  

Aduh  ibu,  betapa  ingin  kulepas  beribu  kupu-kupu  untuk  meyakinkan rasa heran  di kembar  alismu  itu, justru  karena  dia  buta, maka  aku  juga  menutup  mata  ketika  menerimanya,

bukankah  hati  itu  luas sekali cahayanya ?,

bersebab   ketika  ia  menjatuhkan pilihanya  pada  seorang  Hindun, ia tak  pernah  memperkirakan serta  memperkarakan  rupa, harta, atau  segala  warna  dunia. Lelaki  itu  cuma  berkeinginan untuk  berbagi, ibu. Dan  itu  akan  membuatku  bahagia  karena  kelak satu  ibadah  paling  indah  adalah  mengabdi  kepada  suami.  

Aih,  betapa  ingin  kuluapkan  segala  gula-gula  ketika  engkau  tersenyum  dan  mendorong  tubuhku  untuk  kembali  ke ruang  tamu. 







nb :  FF  ini  saya  ikutkan  dalam  lomba  FF perjodohan  Hasfa Publishing

Sketsa : di tepi cangkir

Segerombolan semut berbaris rapi di tepi cangkir. Bibir ranum merah marun. Di dinding, jarum pendek jam menunggu di genapkan jarum panjang. Siapa yang lebih sabar menunggu ?

#2 : inget ngga sih Lo ?

tangan kiri jendral merayap ke saku, menyunting sebatang kretek, dan menyalanya.asap asap bergoyang goyang. Jendral menyerahkan bungkus rokok pada kopral. mereka kini seia.

Tapi ndral,, cepet bener sih waktu ini, perjalanan, ini, kita kayaknya keburu jadi tua, baru kamaren kayaknya kita sama-sama lakuin segala hal. dari lompat pager buat bolos, malakin adik kelas, di ukum melulu ama guru,dan,

dihentikanya kata kata itu, si ceking membuka dompetnya, lantas menyerahkan sesuatu pada jendral.

Lo masih inget ngga ?

yang ditanya, sekarang jadi beku memperhatikan benda kucel yang sering berlipat mungkin dengan STNK dalam dompet. kedua alisnya bertemu di ujung penarian, kemudian lepas lagi tawa limpung itu,...


ha ha ha, gua, ngga mabuk Pral, ini, iniii, haik, si atun bukan ? Lo masih nyimpen ini ? tujuh taon yang lalu Lo minta Foto ini, Foto mantan pacar gua, kata Lo buat ngisiin dompet, biar dianggep udah punya pacar kalo ada yang nanya, haik, dan, brengseknya lagi, Lo selalu aja maksa ngikut setiap gua mau ngapel, Lo emang gila, gila, gila..., inget,inget gua, dari dulu Lo emang ngga pernah punya pacar, dari dulu Lo, seorang Ajik, emang lahir ditakdirin jadi penakut namber wan(number One), hah, hah,

napas jendral mulai ngos-ngosan. terlalu lelah mengngingat dan memilah milah berbegai macam kejadian.

trus, trus, ngapain Lo kasih pusaka ntu ke gua, udah ambil aja, sekalian buat jimat stambul, biar lo ngga kena apes mulu, ha ha,haiik, kopral, kopral.

Ndral, gua, gua cuma pengen ngomong ama Lo, gua mo nikah bulan depan depan, dan gua sampein ini pertama ke Lo, satu-satunya orang yang dari ketemu pertama selalu gua anggep brother, Lo abang gua yang selalu ngejagain gua, nyemangatin gua, ngajarin gua ptualangan-petualangan yang yang ga kebayang, Lo emang norak, suka mabok, tapi ngga pernah ngebolehin gua ikut mabok, Lo suka berantem, tapi ga pernah ngajakin gua ikut acara-acara tawuran Lo.Temen-temen lo junkies semua, tapi Lo ga pernah ngebolehin mereka nawarin barang ke gua.

kini, dua manusia ini mulai di rambati arus listrik kegetiran. napas keduanya sedemikian memburu.berseteru.

Lo, apa ? Lo mo nikah? gua ngga tuli kan ? ato lo ngomongnya emang ngga pernah jelas ?

iya, gua nikah bulan depan. Ni-kah ndraL !

sorot mata jendral makin merah padam, ia seperti menahan sesuatu.

Emang, emang, haik, Lo mo nikah ma siapa? ada yang mau ama Lo heh ?
gua, gua ga percaya Pral, ga mungkin Lo bakal kawin secepat ini, lagian ngapain sih cepet-cepet kawin. . ., ribet bego !

tangan kanan jaendral menuding-nuding jidat sahabatnya itu, kopral menepisnya. tegas. dan..

cukup ndral, cukuuup, asal Lo tau aja, tiap orang pasti bakal nglewatin proses ini, bukanya gua mau berlagak bijak kayak pendeta, tapi Lo juga harusnya mau sedikit mikir, Hidup Lo ga harus Lo isi ma yang kayak beginian, kapan Lo mo sedikit mikir..


kobaran api itu sekarang membesar jilatanya melewati bola mata Jendral.

Lo,gua bilang ke Lo..., haik, sejak kapan lo bisa ngelesin gua hah, belajar di mana lo bisa gunain kata kata sampah ntu, hah, Lo ngga ngga bisa ngatur gua, Gua jendralnya taik !

Terserah Lo !

Lo nantang gua ?
terserah !
Lo mo ngajak gua berantem ?
terserah !
bangsat Lo !
terserah !

dan , prakk !

botol tanpa isi itu telah mengena kening, darah mengalir dari sana, memberi aroma segar dini hari.
dua manusia itu menangis dalam diam.

Jendral mencoba meraba aliran darah di kening itu, Dan kini, sahabatnya, Kopralnya, benar-benar menangis.

Perih Pral?
gua, gua, haik, ngga bermasud ngelukain Lo, gua, gua cuma ga tau mesti omong apa lagi, mesti berbuat apa lagi. Gua bakal kehilangan Lo pral....

dua tetes air melepuh di sudut mata jendral, hatinya koyak moyak perihnya tak terkira.
Jendral tidak sedang mabuk. dia cuma minum Berlebihan. dan ia dalam kondisi sesadar-sadarnya.


sekarang dua lelaki itu entah kenapa saling berpelukan.

====================================================================================================================



di dedikasikan : untuk seorang teman nun jauh disana, selamat, kamu bakal ngelewatin gerbang itu duluan.
sempat kerasukan ide juga pas tau-tau denger sheila on 7 , sampe plotnya jadi belok mendadak.


....aku raja kaupun raja.
aku bidak kaupun bidak.
arti teman lebih dari sekedar materi.....


pegang pundakku jangan pernah lepaskan,
jka ku mulai terbang, terbang meninggalkanmu.


(sahabat sejatiku-sheila on 7)

#2 : inget ngga sih Lo ?

yang di sebut kopral tetap tenang, duduk memegang lututnya, langit cerah. dan ia mencari kesegaran di sana. sesekali satu dua kendaraan bermotor melintasi alun-alun ini. mulutnya asyik memainkan rumput. dan dia menoleh.

Lo pernah liat pak Parman ga ?

setelah kata-kata hemat dari lelaki yang di panggil kopral itu keluar, tiba tiba, dua wajah mereka berhadapan, menguncinya disitu dalam jejak-jejak menit.dini hari yang hening. yang berlarian cuma flashback ingatan mereka, menyusuri jalan, museum, sejarah, dan apa saja yang pernah mereka berdua pernah kecap. tak ad suara. diam. lantas, ledakan tawa itu berhamburan seperti petasan.

ha ha ha, haiik, hah, ya, gua inget, inget, Pral. Pak Parman satpam sekolahan kita yang galaknya nglebihin anjing blasteran ntu kan, heh, heh, yang selalu nyetrap kita push up di pintu gerbang, soalnya kita sering banget kesiangan bangun, telat mulu. Lo inget, pas dia kita kerjain, haik, pas kita dia boongin di panggil kepsek,hah, padahal itu cuma akal-akalan kita buat nyolong jatah snacknya di pos, terang aja dia seabis ntu,dendam kesumat, kita dah kayak daftar buronan, bahkan di posnya di tempel photo kita, biar dia hapal wajah kita diantara ratusan murid sekolahan ini.

tangan kiri jendral merayap ke saku, menyunting sebatang kretek, dan menyalakanya.asap asap bergoyang. Jendral menyerahkan bungkus rokok pada kopral. mereka kini seia.


aneh, waktu emang aneh, ga ngerasa kita udah nglewatin ntu semua, cepet banget ndraL, padahal kayak baru kemarin,

inget ngga sih Lo ?

inget ngga sih Lo ?

Pas pertama pertamanya kita ketemu di acara Ospek, masuk dengan kepala plontos. Lo bilang sekolah kesini karena intimidasi emak Lo, sementara gua bilang Gua nyasar kesini sebab frustasi. sama sama salah ngambil jurusan.
abis ntu, abis ntu, Lo terus-terusan nguntit kemana aja gua pergi. Ke perpus, ke kantin, ke we-se, bahkan Lo tetep nguntit gua , pas gua nyelinap kesamping sekolah cuma buat ngisep rokok. akhirnya gua bentak aja Lo. Gila ja, Lo pengen ngisep nikotin bareng-bareng ma gua.
: Ngapain dekat-dekat gua mulu sih, Lo homo ?


lelaki itu meneguk botol Vodkanya lagi. lagi, dan lagi. ia berusaha menyeimbangkan kesadaran. tapi tenyata ethanol lebih berkuasa, aroma kecit antara tuak dan keringat manusia yang belum mandi berpadu, siap membakar sisa malam ini. ternyata dia tak sendiri. disampingya duduk juga lelaki yang ceking, tapi terlihat lebih rapi dandananya. lelaki itu berkaus kasual bersablon Green Tea.

jo, Lo mabok, jo. Lo kebanyakan kali ini.
udah deh, udah mo subuh, kita cabut, kita pulang aja jendral. . .

Yang dipanggil jendral menyeringai, senyum pahit diantara derat gigi kuning itu terlihat apatis. ia mulai bersendawa.

hmm, kopral, ini malem gua memang minum banyak, tapi, Haik, gua ngga ma, haik, mabok. tawa dari bibir ungunya, mengiris tipis tipis udara.

inget ngga sih Lo ?

Gua paling bisa ketawa kalo inget Lo bilang Jendral gitu, gua jadi ke
inget, haik, pas Lo bilang Lo ngedambain seorang temen, lebih dari temen malah, Lo bilang old Brother ma Gua,haik, ketawa ampe kencing Gua dengernya, Lo dapet kata ntu dari mana, ha? dan gua lebih ketawa lagi seudahnya pas gua tau di blangko, ternyata Lo lebih tua dari gua, ha ha ha, haik, berarti lama banget ya Lu gua cebongin..., dan , dan, akhirnya, gua nyuruh Lo manggil gua jendral, Gua manggil Lo kopral. Lo malah cengar cengir kayak dapet keberkahan,...

yang di sebut kopral tetap tenang, duduk memegang lututnya, langit cerah. dan ia mencari kesegaran di sana. sesekali satu dua kendaraan bermotor melintasi alun-alun ini. mulutnya asyik memainkan rumput. dan dia menoleh.

Lo pernah liat pak Parman ga ?

setelah kata-kata hemat dari lelaki yang di panggil kopral itu keluar, tiba tiba, dua wajah mereka berhadapan, menguncinya disitu dalam jejak-jejak menit.dini hari yang hening. yang berlarian cuma flashback ingatan mereka, menyusuri jalan, museum, sejarah, dan apa saja yang pernah mereka berdua pernah kecap. tak ad suara. diam. lantas, ledakan tawa itu berhamburan seperti petasan.

ha ha ha, haiik, hah, ya, gua inget, inget, Pral. Pak Parman satpam sekolahan kita yang galaknya nglebihin anjing blasteran ntu kan, heh, heh, yang selalu nyetrap kita push up di pintu gerbang, soalnya kita sering banget kesiangan bangun, telat mulu. Lo inget, pas dia kita kerjain, haik, pas kita dia boongin di panggil kepsek,hah, padahal itu cuma akal-akalan kita buat nyolong jatah snacknya di pos, terang aja dia seabis ntu,dendam kesumat, kita dah kayak daftar buronan, bahkan di posnya di tempel photo kita, biar dia hapal wajah kita diantara ratusan murid sekolahan ini.

tangan kiri jendral merayap ke saku, menyunting sebatang kretek, dan menyalanya.asap asap bergoyang goyang. Jendral menyerahkan bungkus rokok pada kopral. mereka kini seia.

Tapi ndral,,



laper.dot.com. nyari lunchbox dulu ah.







Teenlit untuk pagi ini

kita mulai mendung pagi ini dengan menggambar saja.
keluarkan pastel dan imajinasikan tiap warnanya.
dosen langsung mencerca.
kali ini kita selesaikan bagian-bagian tubuh sapi.
kepala.
iga.
paha.
tenderloin.
sirloin.
kaki.
lidah.
kuku.

ada kesulitan sampai disini ?

pak, begini ya.


Lho, kok bentuk nya seperti ini ?
yah, tadi bapak sendiri yang suruh berimajinasi.

maaf pak, tadi imaji saya memohon dengan sangat pada tangan untuk menggambarkan paha miyabi...


KE-LU-AR ! !
iya, kamu KE-LU-AR ! !



FLASHFICTION : Wajah Dalam Pigura

Wajah itu bernama Rukmoko.ia bersembunyi di balik pigura.
Lelaki yang entah kenapa tiba-tiba dua bulan terakhir ini bergerilya terus
tiap kali aku mengenakan piyama dan melepaskan sisa make upku.
aku menggeleng, mendukung kemustahilan. ini takkan pernah terjadi.
besok, katanya dia akan datang melamarku, dan itu artinya akan ada pernikahan.
Dan itu artinya aku akan menjadi rahim bagi anak-anaknya. Bagaimana bisa, rahimku sudah tak ada. semalaman aku menangis.

*** *** ***
Dia datang, hari ini, dari balik pintu, bukan lagi dari dalam pigura yang sering kukayalkan
selama ini. Punggungnya tegap, bahunya lebar. Matanya bergaris-garis tegas. Ia memang pantas kusebut lelaki.
kami duduk berhadapan satu meja, sedari pagi tadi telah ku persiapkan sembilan jenis masakan untuk menyambutnya.
dia dan hari ini sama sama istimewanya.
Dan dia cuma mengeuarkan kalimat sederhana
, masakanmu enak Zulaeka.

*** *** ***
kau kenapa, dia bertanya.
saya menangis, senggukku.
iya, tapi menangis karena apa, apa kata-kataku melukaimu ?
bukan itu, jawabku seraya melekatkan mataku pada alisnya,
lantas menunduk lagi.
kadang seorang wanita butuh menangis, untuk menumpahkan laut dari matanya.

kau keberatan jika kuperistri ?

tidak, saya menerimanya, saya kelewat bahagia.
saya tak menyangka ada yang mampu menerima saya lebih dari apa adanya.
sore itu aku mengantar punggungnya sampai pagar rumah.
dia, sempat menoleh dan berkata : lima bulan lagi, Zulaeka.

*** *** ***
kini lelaki itu masuk lagi ke pigura.
Aneh, bibirnya jadi sedikit mengulum senyum. sekali ini aku tertawa.
ya, lima bulan lagi, gambar lelaki bernama Rukmoko itu tak akan sendiri lagi
di pigura. akan ada warna buah buahan, dekorasi, kertas krep merah, dan aku yang
akan menggamit lengan gagahnya di pade-pade.
jepret. Tukang foto keliling.







cuma karena nama

Cepat tulis nama anda disini, ucap selembar kertas putih padaku, sebenarnya aku malas , tapi karena ia sepertinya dari tadi menungguku melakukan hal ini maka aku membuat beberapa huruf diatasnya.


Lho, nama anda Pena , ngga salah ?

aku mulai jengkel, bukankah nama adalah urusan pribadi, suka suka dong aku mau nulis apa.
iya, itu nama pemberian dari ibuku, memangnya kenapa sih, ada yang aneh ?
oh, maaf jika menyinggung , tapi kok kesanya ngga padan, anda tegap, gagah, maskulin, masak namanya Pena, terasa gemulai aja kayaknya.
huh, kenapa selalu saja begini, tiap kali aku akan mengurus segala sesuatu yang sifatnya birokrasi, ada saja masalah yang timbul cuma karena sudut pandang seseorang berbeda satu dengan yang lain. Yang nama lah, genderlah, asal muasal, status sosial. semelekete.

kalau saja mahkluk satu ini tak membantu merekomendasikanku pada apa yang aku cari, sudah kutinggal dari tadi waktu kutemukan pandangan matanya yang menjijikkan itu, tatap mata khas penjilat.

sudah, form nya cukup kan di diisi seperti ini ?
kepalanya mengangguk, lega rasanya bisa cepat cepat bebas dari kerangkeng perasaan tak mengenakkan macam ini.


terimakasih.
hhh.
harusnya aku yang berterimakasih, sekali ini saja berinteraksi dengan mahkluk sepertimu.

hari ini hari jumat, hari pendek katanya.




FLASHFICT : Ranting-ranting Kesturi.

Mata perempuan itu terjaga di balutan mukena,,menyuarakan doa dari dalam raga.Tak pernah berjeda,
di balik bilik, di pucat malam sendiri ,bahkan di lebam luka yang menganga :
Tuhan, jadikan manikam-manikamku matahari.
Jangan sampai ada cerita yang menyamai milikku di masa lalu.
Malam selalu mencatat doa-doa itu.

***

(1998-2007)Atas nama waktu.
Tiap manusia menggenggam hidupnya, meski tak pernah bisa memiliki secara pasti.
Begitu juga lelaki ceking dengan mata merah ini, selalu berusaha merakit sebuah perahu tiap kali akan menaiki dipan, baginya tidur adalah lautan untuk di arungi. Ia punya layar layar mimpi. Semua orang berprasangka mimpi itu melelahkan. Baginya tidak.
Ia nekat , perahu ini harus berlayar. Malam mencatat itu sebagai janji.

***

Diantara gestur pohon kesturi.Aroma kamboja.
Tubuh itu masih saja ceking, kering. matanya tetap sama seperti tahun-tahun yang disimpan ausnya waktu. Berhadapan dengan gundukan tanah , matahari berhasil mempermerah warna tanah dan matanya sepucat manggis.Perahunya telah sampai, ia memenuhi janjinya, seperti seorang bocah berduyun mendengar panggilan sembahyang.Degup dadanya haru.
Ibu, anakmu telah menjadi seorang sarjana. . .