Tampilkan postingan dengan label barangkali essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label barangkali essai. Tampilkan semua postingan

Undangan Melayat dari Sebuah Toko Buku


                Aku datang kali pertama ke Toga Mas Semarang tepat dua hari setelah pacarku mengirimkan pesan pendeknya, bahwa dia minta ditemani buat mencari  novel Murakami, Norwegian Wood atau judul lain aku agak lupa pokoknya sekitaran itulah. Waktu itu Toga  masih ada di jalan MT Haryono, belum pindahan ke jalan Majapahit. Pertanyaanku ‘kenapa tidak ke Gramedia saja’, dijawabnya dengan meminjam keyakinan seorang penjual obat mujarobat di pasar hewan, bahwa beli buku  di Toga, bakal membuat tiap orang cenderung bertabiat macam pemadat. Toga seumur hidupmu akan kasih diskon, dia menambahkan selekas yang dia bisa begitu dia turun dari boncengan. Lima belas persen buat umum, dua puluh lima persen buat yang pegang kartu.  Pemaparan yang menurutnya asyik itu aku tanggapi dengan perasaan masa bodoh. Lantaran bagiku—jembel  dengan grafik keuangan statis datar di bawah; fitur Jongkok—Baca Gratis—Abis Itu Pergi  yang diberikan Gramedia  kupikir tak bisa digeser kenikmatannya oleh pihak manapun. Kaum oportunis akan selalu bilang Mana ada toko buku yang legawa kasih  begituan sih. Aku merutuk dan melangkah malas menjinjing helm di belakang pacar yang melenggang duluan.
                Tiga Puluh Lima. Dua puluh sajalah dulu. Sekalian saja Tiga Lima. Dua puluh dulu, sisa duitnya buat jaga-jaga jika nanti ada keperluan. Ya sudah Dua Puluh Lima. Pfffhh. Kau tak perlu  berlagak pusing menebak kalimat mana milik siapa, tapi yang jelas, dialog  visioner itu terjadi di Toga  (Toga Mas yang sudah pindah dari jalan MT Haryono ke jalan Majapahit) antara aku dan pacar.  Ceritanya begini. Aku punya tabungan sebanyak satu setengah juta. Pacarku punya tabungan dua juta. Kami sepakat  belaka buat mempercayai, bahwa Tuhan dan Uang Sebanyak Tiga Juta Lima Ratus Ribu itu sudah pasti jauh-jauh hari punya rencana mendorongkan nasib baru bagi sepasang manusia agak pandir ini: pedagang buku partikelir.  Beberapa  buku yang  jadi kulakan pertama kali itu masih bisa kuingat. Ada  1984-nya George Orwell terjemahan Landung Simatupang yang kami angkut dua ekslempar. Di tumpukan buku yang kemudian kumasukkan plastik kresek besar itu juga ada novel milik Mo Yan, Ryunusuke Akutagawa, William Golding, satu edisi hard cover Totto Chan-nya Tetsuko Kuroyanagi dan yang lain sisanya, kalau tak meleset dalam mengingat kami angkut juga Amba-nya Laksmi Pamuntjak serta Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono.  Hari itu hari Minggu yang terik di bulan Juli 2013. Di teras Toga, sembari duduk bertelekan buku-buku, menenggak  air dari botol, mengelap yang muncrat di bibir, aku ciptakan gumaman: bakalan miskin terus kita dengan ini. Aku menyisir tampang pacarku yang malas-malasan menatap jalanan. Ya,  kita akan miskin dengan semua ini. Suara pacarku yang terakhir ini terdengar seperti echo bass di ruangan dingin dan murung. Dengan berdagang buku, jelas kiranya, sumur tempat bunuh diri mana yang  kami acungi telunjuk buat kami ceburi.
                Dua Ribu Tiga Belas menjadi Dua  Ribu Empat Belas, Dua Ribu Empat Belas Menjadi Dua Ribu Lima Belas, dan kami tetap berkitar di lingkaran itu-itu saja. Kami masih pacaran dan masih tetap ajek jualan buku ke sana kemari. Ke kampus-kampus jika ada diskusi kecil-kecilan yang diadakan oleh UKM-UKM  sastra dan teater. Ke perhelatan-perhelatan komunitas yang kebetulan sedang mengagendakan panggung baca puisi. Ke acara-acara teman kami yang kebetulan sedang membikin diskusi buku. Kami juga acap menggelar lapak di Car freeday saban Minggu, nongol di pasar seni rakyat, sampai turut serta meramaikan festival sastra. Kota ini seolah jadi kamera yang tiada jenuh  memotret keputus-asaan kami sekaligus elan vital kami berdua.
                Tahun-tahun tandus di Semarang mengajari kami buat jadi orang-orang yang keras kepala. Anggap saja ini situasi yang hiperbolis. Tapi datanglah sesekali ke sini, dan kau akan tahu dan memahami dan akan lekas-lekas menggulung lidah jika kau pernah ingin mengucapkan, bahwa semestinya niat baik akan berbalas dengan iktikad baik pula. Kasarnya, segala yang kau tanam di kota ini cuma akan jadi kerak tahi.
                Bagaimana kau tak dibuat murung, di sini ada banyak universitas, fakultas-fakultas sastra dan bahasa juga ada di situ, tapi aku yakin kau akan kehabisan cara bagaimana mengungkapkan kejengkelan pada ribuan mahasiswa itu kenapa mereka begitu malas membaca buku. Pernah datang padaku suatu kali seorang mahasiswa sastra Indonesia Universitas Diponegoro, ke tempat aku biasa membuka lapak saban Minggu di Kota Lama. Dengan bersemangat dan lagak sumringah dia pamer bahwa dia pengin bikin skripsi tentang novel atau cerita karangan atau apalah sejenis itu. Dia, dengan lagak jumawa mengimbuhkan keterangan, bahwa novel bahan skripsinya itu mustilah anggitan pengarang dari Semarang. Aku tetap menyediakan kuping yang tabah ketika dia terus mengoceh bahwa sebenarnya ada satu kendala besar yang membuat dirinya  geram,  menjadi ruwet dan bingung harus bagaimana  memulai penelitian itu. Menurut dia, kendala besar itu  lantaran dia merasa tak ada satu pun pengarang  Semarang yang ia ketahui menerbitkan novel atau kumpulan cerpen. Keringat di ketiakku berlelehan dua kali lipat  dari biasanya demi mendengar itu.
                Aku sebenarnya enggan melemparkan pertanyaan berbau interogasi seandainya dua pekan sesudahnya kami tak bertemu lagi di tempat yang sama dengan situasi dialog yang kami salin dari hari Minggu sebelumnya. Dia masih teguh membawa kesemrawutan hidupnya, dan bertanya sekali lagi kepadaku apa yang harus ia lakukan terhadap rencana penelitiannya. Begini saja. Apa kamu sudah baca  Kembang Api Malam Ini milik Latree Manohara? Dia menggeleng. Di Kereta, Kita Selingkuh-nya Budi Maryono? Dia menggeleng. Bidadari Mengembara, A.S Laksana? Dia menggeleng.  Serapah Ibu, Sandra Palupi? Menggeleng lagi dia. Nyanyian Penggali Kubur milik Kang Putu? Menggeleng.  Rumah Kopi Singa Tertawa, Yusi Avianto? Menggeleng. Aktivitas menggelengnya baru berhenti ketika aku tanyakan  apakah ia pernah menyentuh buku Surga Sungsang dan  Celeng Satu Celeng Semua milik Triyanto Triwikromo. Yang terakhir ini aku sudah berharap bakal mengakhiri paceklik anggukan. Ternyata aku keliru. Dia balik melemparkan pertanyaan—apakah Triyanto Triwikromo yang mengampu kuliah di Undip?—yang membuatku, seandainya tega, memintanya lekas-lekas kencing dan menenggak air seninya sendiri saja.
                Bahkan sampai di akhir perbincangan kami, si mahasiswa ini merasa heran dan sangsi  jika salah seorang dosen yang sering bertatap muka dengannya di kampus itu adalah seorang pengarang cerita pendek dan novel. Mahasiswa itu boleh saja geram lantaran tak bisa memulai penelitiannya. Aku sendiri jadi geram melihat situasi macam begini. Ternyata kita semua masih butuh universitas khusus yang menyediakan fakultas dengan program studi, Membaca Buku, atau program studi  Membaca Agar Bisa Berpikir, misalnya. Tentu saja, meski belum bisa dijadikan acuan seratus persen, kasus-kasus macam ini bisa kita tangkup  sebagai ilustrasi betapa payahnya  aktivitas membaca di kota ini.  
                Ini sudah Februari 2018.  Aku dan pacarku masih berpacaran layaknya pasangan-pasangan menyedihkan lain  yang  lama menyulam asmara namun dibuat resah kapan menentukan hari  pernikahan lantaran tak punya modal buat menyewa soundsystem dan rias manten. Tabungan kami tetap ajek segitu-gitu saja, karena tiap ada lebihan uang di buku rekening, baik itu dari menang lomba menulis atau dapat honor dari meresensi buku di Jawa Pos atau di Koran Tempo atau Cerpen di Tabloid Cempaka Minggu Ini atau di Koran Lombok Post semuanya ludes bertukar dengan buku-buku yang semakin lama semakin rapat saja menjejali kamar kos-kosan.  Sebuah mukjizat kiranya, di tahun ini, seorang kawan yang aku sendiri sangsi apakah dia masih memiliki kewarasannya atau tak, lantaran ia begitu saja bersedia menjadi pedagang buku bersama kami.  Selanjutnya Kami bertiga tetap berkeliling-keliling kota menjajakan buku-buku. Ke kampus-kampus, ke media daring, ke tempat-tempat nongkrong, ke rumah-rumah dimana digelar diskusi, sampai ke acara pengajian. Kami menganggap kerja kami ini semacam pakansi spritual, bahkan dengan congkaknya kawanku berani bilang; kita harus berdagang buku sampai hari kiamat tiba.
                Aku jadi teringat kalimat You’ll Never Walk Alone  yang ditulis besar-besar di spanduk, pada sebuah malam ketika aku pulang melewati jalan Pemuda. Para pendukung militan kelab sepakbola Liverpool akan selalu menggunakan yel-yel sloganistis itu buat mengubur pesimisme hidup mereka dari kekalahan telak pertandingan, dari cemoohan pendukung kelab lain, dari dunia yang lihai mengembuskan penderitaan.
                Bulan Februari ini Toga Mas di Semarang bakalan tutup. Kau dan aku dan siapa saja tentu tak bakal lagi, menemukan toko buku yang begitu blobo dalam memberikan potongan harga. Dengan segala kepayahan perkara membaca di kota ini, alangkah mustahil kami berharap bahwa tutupnya  Toga bakal menjadi kesedihan kolektif.  Aku dan pacarku dan seorang kawanku cuma bisa berdeham dan parau terbatuk membayangkan kenyataan buruk itu datang dalam beberapa hari ke depan. Dalam hari-hari yang akan datang, kau barangkali tetap akan melihat  kami masih sibuk dengan kerja kami. Memilah buku-buku; novel ditumpuk bersama novel, yang puisi dengan puisi, yang sejarah dengan sejarah. Memilah mana buku yang bagus buat dibaca khalayak dan buku mana yang sebaiknya dijadikan penyumpal pantat penulisnya. Barangkali yang tak kau lihat adalah bagaimana tangan kami agak gemetar demi mendengar desisan suara kami sendiri: You’ll never walk alone, you’ll never walk alone...[.]

Semarang, Februari 2018

Monolog Cut Nyak Dien (Siluet Kelam dari Tanah Kelahiran-- Jawa Pos, Minggu 30 Agustus 2015)



Suara riuh ratusan pengunjung yang sudah berjubel-jubel memadati kursi-kursi yang disediakan di  ruangan balairung Universitas PGRI Semarang menjadi beku seketika setelah neon-neon ruangan padam digantikan nyala sebuah lampu sorot dari kiri atas panggung. Cuma hawa pendingin ruangan serta perasaan keruh yang muncul  dan menyergap begitu seorang perempuan gaek bertudung terlihat bersimpuh di atas panggung. Dari depan panggung disorotkanlah proyektor yang menciptakan siluet-siluet menjadi lansekap latar. Peta. Hutan. Daun dan batang-batang pohon. Gesekan cello terdengar merengek. Dan perempuan gaek itu lantas  menggumam dan memulai kisahnya, dengan artikulasi yang tenang di permukaan namun menyimpan ledakan perih dan kesakitan di kedalaman. Dari tempat yang sunyi dan jauh perempuan gaek sedang mengenang tanah kelahirannya. Nanggroe. Ia terkenang akan hutan-hutannya yang gelap, daun dan pokok-pokok pohonnya. Ia sedang merutuki nasib pengasingannya  yang tak mungkin mengijinkan untuk bisa mati dan terbaring di tanah kelahirannya sendiri. Perempuan gaek itu adalah Cut Nyak Dien.
                Ritme cello menekan dan seperti ingin mencekik tenggorokan, sementara latar siluet juga mulai bergerak mengiringi Cut Nyak Dien yang mulai bangkit seraya seperti sedang menghardikkan kepada keturunannya, mengungkit-ungkit dan terus mengingatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang diturunkan untuk tidak takluk pada yang menjajah, bahwa di dalam darah mereka, orang-orang Aceh, mengalir darah keberanian dari Datuk Makhudum Sati, yang melegenda atas upayanya melawan sultan  yang mencoba menindas rakyat dengan penarikan upeti. Maka, dia tak mau ada orang yang mempertanyakan kenapa dirinya ikut berjuang bersama Teuku Ibrahim Lamnga, dan bersumpah ketika suaminya tersebut  tewas dalam peperangan menghadapi pasukan Belanda; bahwa dirinya tak akan pernah berhenti mengobarkan perlawanan dan kebencian  kepada kaphe-kaphe ulanda.  Dan itu benar-benar dibuktikannya dengan terus memimpin gerilya, bahkan setelah Teuku Umar, suami keduanya juga tewas  tertembak  ketika peperangan meletus  di Meulaboh. Keberaniannya tidak mengerdil, meski matanya sudah mulai rabun, pendengarannya rusak dan penyakit-penyakit usia tua mulai menggerogotinya. Ketika penangkapan atas dirinya itu terjadi, ia masih berani menyumpah kepada Pang Laot  yang ia anggap berkhianat sembari mengacung-ngacungkan rencong.

KEMATIAN KECIL KARTOSOEWIRJO; PUISI-PUISI DALAM KERANGKENG SEJARAH (Sebagian tulisan ini terbit di Suara Merdeka, Minggu 20 April 2015)



KEMATIAN KECIL KARTOSOEWIRJO; PUISI-PUISI DALAM KERANGKENG SEJARAH


/1/

Nama Kartosoewirjo lamat-lamat, bersama nama Tengku Daud Beureh, Semaun dan Muso saya sadap dari ibu guru sejarah; dulu sekali, ketika para murid  laki-laki  belum mengenal apa itu mimpi basah dan nikmatnya ejakulasi. Rangkuman dari ibu guru sungguh sedikit belaka, menerangkan bahwa mereka, adalah orang-orang yang malang melintang di republik ini  sebagai pemberontak. Orang-orang brengsek bagi republik. Kini bertahun-tahun sesudah jam pelajaran yang  tak menyediakan sesi tanya jawab, Kartosoewirjo mendatangi saya dalam bentuk buku kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo anggitan  Triyanto Triwikromo. Celakalah rangkuman yang sungguh sedikit belaka itu akan saya bawa sampai mati!

Membaca (fragmentasi) Kartosoewirjo sebagai teks puisi, berbekal pengetahuan minim yang terlanjur disubordinat  justru memberi keuntungan berupa keberjarakan  dari  detail konvensi-konvensi sejarah. Jadi di pembacaan awal,  saya  justru leluasa menikmati sembari menelisik teks-teks tersebut sebagai  teks konotatif yang berdiri secara otonom.

Meski pada akhirnya, lantaran puisi-puisi dalam buku ini diciptakan dalam kerangkeng  keketatan data sejarah, baik itu  dokumentasi foto, data tertulis atau ujaran lisan, puisi-puisi ini, meski berupaya sekuat apapun untuk ‘memberontak’, ia  tetap tak  bisa keluar dari koridor ketaklukannya. Lah, mau apa lagi, yang bisa  kita lakukan adalah seperti dalam permainan lego. Kau diberi kebebasan menukar bangunan di sebelah kiri atau kanan, depan dan belakang, merekonstruksi  A-B-C-D nya untuk leluasa dibolak-balik, kau jungkir-sungsangkan, tapi kau tak mungkin menambahkan W atau Z karena memang konvensi tak menyediakan W dan Z.  

Kenyataan atau sejarah di hadapan raut muka linguistik, ternyata juga cuma sekedar varian  dari modus pengucapan yang sudah dipatenkan. Maka, aktivitas bahasa yang dilakukan puisi-puisi Triyanto  di sini bukanlah sebuah penyingkapan sesuatu yang tersembunyi. Teks puisi tidak juga sedang menciptakan kebenaran baru. Kerja puisi cuma berpandai-pandai saja menemukan modus pengucapan lain. Bukankah di tiap kepala penyair, selalu ada yang bergentayangan di luar pengucapan yang dominan?  Terlebih jika mengingat  puisi-puisi berhutang dengan porsi yang besar kepada sejumlah foto eksekusi  hukuman mati  Kartosoewirjo.  Puisi-puisi semisal  ‘Di Kain Penutup Mata’, ‘Di Mobil Tahanan’,  ‘Di Sehelai Foto’, ‘Hidangan di Meja Serdadu’, ‘Ganti Baju’, ‘Menonton Pembunuhan’  akan memberikan rujukan bagaimana aktivitas bahasa bekerja menyusun konotasi-konotasi.

Kita tahu, imaji dalam foto dokumenter  adalah analogon yang sempurna dari realitas. Ia  adalah pesan yang telanjang. Foto memberikan kita lanskap denotatif yang akan habis pada sistem interpretasi  tingkat pertama.  Teks puisi  mengupayakan  modus kosakata baru untuk memperpanjang napas dari imaji fotografis yang bersifat  ajek. Ia membuatkan realitas fiksi yang bersifat performatif  agar kita bisa masuk ke tingkat hermeneutik—pemaknaan lapis kedua.  

Lantas perangkat puitik apa saja yang digunakan dan kecenderungan-kecenderungan apa saja yang dilakukan teks puisi dalam buku ini  ketika melakukan  aktivitas bahasanya?

Akan terbaca jelas  bagaimana puisi-puisi  melakukan metonimi dan alusi.  Anggaplah, lantaran puisi berstruktur narasi, begitu ada substansi narasi yang muncul, sederet penggantian dan kisahan ditempelkan sedemikian rupa sebagai sampiran atau semata-mata demi  perluasan interpretasi. Kita akan disuguhi karnaval petilan kisahan Nuh, Ibrahim,Isa, Daud, Musa, Muhammad, Nuh lagi, Musa lagi, Durna, Bambang Ekalaya, Gandari, Sangkuriang, Ibrahim lagi, Adam, Ular, Pohon Hayat, Hawa, Destrarata, serta pembelokan-pembelokan lain, yang saya pikir, di bagian ini, teks-teks sampiran dan perluasan yang fungsi ontologisnya dimaksudkan untuk memperoleh efek transeden, perasaan-perasaan agung dengan kemunculan tragedi-tragedi arkhaik,  beberapa di antaranya malah mubazir, dan jika dibaca keseluruhan  jadi njelehi.  Bagaimana tidak njelehi, jika setiap, anggaplah aktivitas dan kejadian yang mengenai subyek  lirik, selalu ditempeli kisahan-kisahan yang diulang.  Okelah, ambil contoh,  saya bisa menerima jika pada puisi ‘Nahkoda’, ditempeli pembengkokan petilan Nuh. Gugus substansi dari puisi ‘Nahkoda’; pemimpin, pemegang kemudi, imam dari komunitas akan memiliki ikatan dan relevansi dengan alusi-nya. Toh, segala rupa dari intertekstualitas yang diwanti-wantikan baik Mikhail Bakhtin, Todorov maupun Julia Kristeva, memang semestinya memiliki posisi keterikatan yang kuat dalam teks. Unsur dari intertekstual adalah solidaritas. A memengaruhi B dan B memengaruhi A. Puisi ‘Nahkoda’ ini bagi saya berhasil menyuguhkan metoniminya. Ia berhasil karena ia tahu diri.  Yang njelehi adalah ketika ‘hujan metonimi dan alusi’ itu dipancurkan  semena-mena seperti kencing para penarik angkot jurusan Pasar Johar—Pudak Payung.  Lihat saja, ketika ada  hidangan di meja serdadu, ujug-ujug ada Adam dan Hawa, ketika di beranda menunggu  hujan, ujug-ujug ada Musa. Ada Isa. Ada Ibrahim, aktivitas Kau—lirik  ketika  minum kopi ujug-ujug ditempeli desis ular yang ragu-ragu mengulum dosa pertama.  Memang jika dibaca keseluruhan, puisi-puisi Triyanto terlihat cerdik dan luwes ketika memilih strategi berupa penyempitan subtema intertekstual. Ia bisa mengerem diri untuk cuma menggunakan kisah-kisah dari alkitab dan pewayangan. Arab dan Jawa. Islam dan Hindu. Ia tidak kemaruk memperluas area jelajah literer dengan loncat sana kemari seperti kita lihat di dalam cerpen-cerpen maupun novelnya. Namun, lantaran kehati-hatian menjaga bagan besar intertekstual tersebut, di puisi-puisi ini  Kartosoewirjo justru berlebihan  menggunakan kerangka dongeng-dongeng kenabian untuk  memperoleh efek  negasi ‘aku bukan nabi’ nya untuk kemudian bertahan dengan ‘Aku sekedar hamba yang daif’

Judul Puisi
Metonimi
Alusi
Personifikasi dan Metafor
Penangkapan
ü  Mengutuk batu menjadi ibu yang gampang menangis.
ü  Kisahan burung ababil.
ü  Hutan biru,
ü  Satwa dililit besi belapis salju, Pencuri cahaya,
ü  Pertapa bersayap yang mengerami telur ajaib,
ü  Kerlip kenangan
ü  Kekhalifahan sunyi
ü  Hakim berjubah hijau
ü  Hantu berambut ungu
ü  Ganggang melilit terumbu karang 
Interogasi
ü  Dada yang dibelah. Jantung Suci
ü  Ibrahim
ü  Ismail
ü  Ababil
ü  Tentara Abrahah
ü  Adam
ü  Maryam
ü  Kakbah
ü  Mata para Nabi
ü  Baskom kemuliaan
ü  Jantung putih
ü  Laut tak berkabut
ü  Negara dari laut
ü  Pulau penuh desau
ü  Pulau yang kesepian
ü  Kekhalifahan penuh angin
ü  Surga sebelum senja


Begitulah, saya comotkan dua puisi  dan mengurainya dalam tabel di atas, bagaimana perangkat Metonimi, Alusi, Personisifikasi dan Metafora bekerja menempati fungsi bahasanya masing-masing.

/2/
Sementara itu, rancang bangun dari teks yang  bermain-main dalam kungkungan  otoritasi sejarah yang   dilakukan puisi-puisi Triyanto terlihat nyaris sama dengan pola yang  digunakan  dalam teks-teks lain Triyanto. Baca saja novela Surga Sungsang, atau kumpulan ceritanya baik  Ular di Mangkuk Nabi atau  Celeng Satu Celeng Semua. Eh, tunggu dulu, apakah cukup bisa teks-teks puisi Triyanto kali ini dibaca sebagaimana prosa? Bisa, jika struktur dan komponen-komponen prosanya memadai.

Eskapisme dan Migrasi ke Dunia Khayal



Eskapisme dan Migrasi ke Dunia Khayal
(Oleh: Muhammad Aswar)

Semacam Pembuka
Untuk memulai perbincangan ini, izinkan saya mengajukan beberapa pembelaan apologetik atas pembacaan saya terhadap Eskapis. Pertama, buku ini baru saya terima tiga hari yang lalu: tentu sangat tidak komprehensif untuk melakukan pembacaan terhadap sebuah buku, apalagi kumpulan puisi, dalam tiga hari. Terlebih, kecenderungan puitik Arif Fitra Kurniawan, yang, bagi saya pribadi, berbeda dengan puisi-puisi yang sering saya baca. Ia penuh dengan metafora dan diksi yang segar, juga citarasa bahasa yang khas.
Oleh sebab itu, pembacaan saya pasti sangat sederhana dan tak bisa sepenuhnya dijadikan rujukan untuk memasuki dunia puisi Arif dalam Eskapis. Tulisan ini hanya percobaan awal sebelum memasukinya.

Eskapis, Eskapisme, Universum
Dimulai dari judul buku, Eskapis. Eskapis mungkin diambil dari kata bahasa Inggris, escapist. Escape berarti lepas, keluar, lari, melarikan diri. Sementara eskapisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan sebagai kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketentraman dalam dunia khayal maupun situasi rekaan.
Mengapa lari dari kenyataan? Sebab gagasan, ide dan segala yang timbul sebagai pengharapan, tidak sesuai dengan kenyataan yang sedang berlangsung. Ibaratnya seseorang yang telah berdandan dan mengharapkan dirinya lebih indah, namun ketika bercermin, ia ternyata tidak indah sesuai pengharapannya. Menghindari atau menghancurkan cermin, bahkan merusak wajahnya sendiri, bisa jadi bentuk eskapis.  
Sikap ini, dalam sosiologi Durkheim, timbul akibat melemahnya solidaritas sosial: ketika kohesi sosial semakin melemah, dan struktur sosial tidak mampu melindungi tiap individu, pada saat itulah individu melepaskan diri dari sosialnya. Durkheim sendiri, karena meneiliti fenomena bunuh diri, menyimpulkan bahwa tindakan bunuh diri merupakan bentuk pelarian dari realitas sosial.
Dalam filsafat, pelarian bisa dari dua situasi, kenyataan dan realitas. Lari dari kenyataan disebut eskapisme, sementara lari dari realitas disebut posmodernisme. Kenyataan adalah apa yang terjadi dan dapat diamati dengan panca indra. Realitas adalah apa yang di balik dari kenyataan itu. Jika kenyataannya orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin, berarti realitasnya terjadi ketimpangan sosial.
Kita tidak mencoba untuk melihat bahwa eskapisme berasal dari kenaifan dan posmodernisme dari idealitas, tapi keduanya berada dalam satu cara berpikir, yang sering diistilahkan sebagai mazhab abstraksionisme. Mazhab ini merupakan gelombang baru yang mengingkari kenyataan dan realitas serta berupaya untuk melarikan dirinya darinya, lalu mendekam di “alam gaib”.
Ada dua ciri utama dari mazhab abstraksionisme. Manusia dan universum (alam dan realitas) berbeda, kadang saling mengisi, tapi lebih banyak diposisikan sebagai oposisi. Manusia adalah wujud yang mengindra dan merasa. Manusia adalah makhluk pencipta yang, tentunya, lebih tinggi derajatnya dibanding entitas-entitas material lainnya. Alam adalah benda mati; tidak memiliki pikiran dan perasaan. Ia tidak memiliki daya mencipta, membangun dan inovasi. Manusialah yang berkehendak, memilih, membangun, dan merasakan apa tindakannya dan apa yang telah dipahaminya tentang alam. Karenanya, alam yang bergerak (realitas) merupakan konstruk dari pikiran dan keinginan manusia.
Pemahaman ini cenderung menghasilkan manusia-manusia yang selalu merasa terasing dengan universum. Keterasingan muncul disebabkan atas dasar merekalah yang mengontrol alam, namun alam berjalan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan inginkan. Tidak sebatas itu, mereka akan menghindari alam dan membangun dunianya sendiri lewat khayalan dan rekaan.
Di Eropa dan Amerika, paham ini menampakkan diri terutama dalam kesenian. Ia kemudian menciptakan sinetron-sinetron dan sastra populer. Keduanya bangkit membawa dunia yang sepertinya tidak realistis bagi kaum borjuis dan pengagum keagungan seni.
Sampai hari ini, karena sastra kita terlanjur berpatokan pada sejarah sastra di Barat, maka klasifikasi yang kita gunakan pun tetap mengikut kepadanya: sastra mainstream, sastra avant garde dan sastra populer. Sastra mainstream dan avant garde tumbuh dari suatu kebudayaan dan tradisi intelektual suatu bangsa. Kegiatan intelektual itu bertujuan mencari kenyataan hakiki kehidupan, untuk dapat memperbaikinya. Sastra populer tumbuh dengan mengikuti sastra sejati, namun peniruan sebatas bentuk lahirnya dan kurang berminat terhadap pencarian hakiki kehidupan. Alih-alih memperbaiki, sastra populer justru mengajak pembacanya melupakan nilai hakiki kehidupan dan masuk ke dalam kehidupan yang tidak realistis.

AUMAN LELAKI HARIMAU



AUMAN LELAKI HARIMAU
( Arif Fitra Kurniawan)

/1/
Eka  Kurniawan sendirilah yang mengatakan di dalam tulisan blognya, merangkum kembali  apa yang diungkap Gabriel Garcia Marquez  bahwa  “Kalimat pertama bisa menjadi laboratorium untuk mengetes gaya, struktur dan bahkan panjangnya novel.”

Itu kita bicarakan nanti dulu saja.  Seperti gaya bercerita Eka yang dipenuhi kepiawaian seorang maestro untuk  melebar ke sana-kemari dan maju mundur, sebaiknya para pembaca   tulisan ini yang sudah pernah sampai selesai membaca novel Lelaki Harimau, saya ajak untuk “tamasya” maju ke beberapa halaman  untuk kemudian kembali lagi ke kalimat awal novel tersebut. Terpampanglah begini,

“Pembunuhan  itu, sebagaimana  kemudian diyakini semua orang, terjadi tepat  pukul empat sepuluh menit, sebab sepuluh menit sebelumnya Margio masih bersama beberapa kawan dan sepuluh menit setelahnya, ia telah bersama mereka pula, dalam keadaannya yang mengejutkan. “(hal. 23-24)

Seperti dalam teks-teks serial detektif, di bagian ini Eka ingin sekali meyakinkan  pembaca  tentang  detail  waktu. Pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio haruslah diterima oleh nalar  sebagaimana hitungan eksak.  Sebuah keyakinan membabi buta hasil dari perhitungan “Tepat pukul  empat sepuluh menit” dibagi dirinya sendiri. Tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Seolah dengan ini siapapun dan dimanapun  ia  berada, tiap orang  boleh saja meragukan rotasi  dan  menganggap bumi itu datar, laut terbuat dari kencing  kambing Etawa, tapi  tak diperbolehkan menebak-nebak  kapan Anwar Sadat mati.   Lantas, adakah yang perlu dipermasalahkan di bagian ini? Tidak ada.  Jika ada yang ingin mencari-cari polemik dengan mempermasalahkan bagian ini, silakan buatlah tulisan tersebut. Saya cuma ingin seperti  Eka dalam mengulur waktu dan menyamarkan topik utama. Tapi saya berjanji, bagian tersebut penting.

DAN PUISI MENGEKALKAN INGATAN (Suara Merdeka, Minggu 3 Agustus 2014)



Oleh: Widyanuri Eko Putra*

Sebuah puisi memungkinkan untuk dibaca sebagai representasi imajinasi, daya intelektual, pemikiran, dan ingatan sang penyair.  Puisi bisa jadi hasil dari pergulatan batin dan permenungan, atau hanya sebatas medium bagi penyampaian gagasan semata.
                Adalah sebuah kepuasan bagi penyair untuk sanggup  memberikan isi dan makna kepada suatu tindakan, semacam rapor bakat dan kemampuannya, ke dalam bentuk  puisi (kleden, 2004). Niat “memberikan isi dan makna” terbaca dari upaya penyair memasukkan pelbagai referensi dan ingatan ke dalam bait-bait puisi ciptaannya.
                Demikian pula dengan sejumlah puisi karangan Arif Fitra Kurniawan yang terhimpun dalam eskapis (2014). Semacam kerja menelusuri pelbagai eksplorasi interteks, mengacu daya intelektual dan kesanggupan menghadirkan imaji dan referensi. Kerja ingatan, mengingat, diajukan sebagai tema besar dalam puisi-puisinya.
                Puisi adalah  hamparan ingatan. Penyair mengajak pembaca larut ke dalam tema-tema sejarah, waktu, masa kecil, dongeng, peribahasa, dan tokoh-tokoh besar. Eksplorasi referensi  yang mendalam, menggoda kita untuk menduga kerja penyair  tak sebatas berimajinasi, mengisap rokok, atau menghabiskan bercangkir-cangkir kopi. Penyair menekuri kerja mengolah referensi sebelum masuk dalam proses penciptaan. Penyair yang baik adalah juga seorang pelahap buku yang rakus. Puisi diciptakan bukan dari ruang yang mengawang tak berisi.
                Tokoh-tokoh kartun, dongeng, dan beberapa peribahasa mengajak pembaca bernostalgia.  Puisi berjudul “Beberapa Peribahasa Yang Memperpanjang Umur Ingatan Kita” memberi gairah untuk membuka kembali memori saat menjadi remaja pembelajar , masa di mana sekolah mengajarkan peribahasa  dan petuah.
                Sejumlah  peribahasa jadi lahan olahan puitik tanpa terkesan klise dan didaktis. Puisi “Kecil-Kecil Anak, Sudah Besar Menjadi Onak”, “Pecah Menanti Sebab, Retak Menanti Belah”, atau “Sudah Nasib Nasi Menjadi Bubur”, misalnya.  Peribahasa ditahbiskan sebagai pintu gerbang memasuki medan puisi namun tak memberi harapan bagi pembaca menemukan makna konvensionalnya.
                Simaklah potongan puisi “Air Di Daun Talas” berikut: yang bernama ular adalah engkau// yang berwujud air adalah aku//sepasang panjang ini saling memistarkan. Jika konvensi makna peribahasa yang dipakai sebagai judul adalah “orang yang tak punya pendirian”, puisi ini justru sama sekali jauh dari pemaknaan konvensionalitasnya. Personifikasi “ular” dan “air” yang “saling memistarkan”, menyiratkan imaji tentang “sesuatu yang bersejalan”, terlepas dari tautan makna “tak berpendirian”.

UPAYA MEMBACA GEMBALA TIDUR LEWAT PINTU BELAKANG



UPAYA MEMBACA GEMBALA TIDUR LEWAT PINTU BELAKANG
oleh Arif Fitra Kurniawan*


Shohifur Ridho Illahi (dalam  catatan berjudul “Maaf Apakah Gembala Tidur masih tidur”) merasa terganggu dengan Surat Upaya yang ditulis Kekal di halaman awal buku puisinya, itu dibaca oleh Ridho sebagai upaya  pendiktean kepada pembaca untuk memasuki teks serta konsepsi berani--tidak berani atas  kemunculan puisi-puisi di dalamnya.  Berpijak pada  keyakinan atas variasi subyektivitas pembacaan, saya  merasa berbeda pendapat dengan anggapan Ridho. hemat saya, berani atau tidak beraninya teks tidak ada kaitannya dengan upaya-upaya penyair  dengan mengungah  lampiran bagaimana berproses. Sangkaan saya, jika seseorang terganggu dengan sebuah pembacaan lantaran kata pengantar/ prolog/epilog, semata-mata karena strategi pembaca saja yang kemudian mengehendaki untuk diganggu. Saya bisa jadi juga merasa jauh lebih terganggu dengan pembacaan tulisan Ridho, jauh lebih terganggu dari Ridho yang merasa terganggu dengan adanya Surat Upaya. Lantaran Ridho sudah menulis begitu banyak, urutan dari puisi satu ke puisi lain, mengelompokkan, membetotnya, memberikan anasir-anasir pemaknaan., mencarikan tarikan-tarikan interstektual dsb. Menjadikan pikiran saya terpojok dan tidak disisakan ruang untuk menulis lagi. Mungkin bisa saja nanti pada akhirnya  saya akan menulis tentang apakah ada hubungan dan semiotik yang bisa diambil antara puisi-puisi kekal dengan gambar-gambar Dwi S Wibowo  yang mengisi ilustrasi di dalamnya? Atau Menuliskan, Bagaimana strategi  penyair memasarkan buku puisinya dalam sebuah kegamangan retoris sebagai insan yang salik? Atau membuat rekaan fenomonologis tentang hubungan penyair yang memangkas rambut dari gondrong ke cepak.  Pengarang memang pantang membuat interpretasi, namun ia diperkenankan mengisahkan mengapa dan bagaimana ia menulis. Umberto Eco menulis dalam Catatan Terakhir--nya untuk novel   Ill nome della rose, karyanya sendiri. Berisi tentang apa saja yang  ia butuhkan untuk menyusun novelnya.  Sebelumnya  di jauh waktu hal  semacam ini juga dilakukan oleh Poe, dalam  Philosohpy of Composition, dimana Poe sengaja menaruh duduk perkara bagaimana dia menciptakan sajaknya  The Raven. Poe  menerangkan secara detil metodologi pembuatan, berisi rumus-rumus estetik yang paling mendasar serta mengunggah pengakuan bahwa ia adalah seorang  insinyur Sastra yang ahli dalam memanipulasi kejiwaan orang lain. Dalam tradisi  buku kumpulan puisi Indonesia mutakhir, hal semacam ini bisa kita lacak  di Antologi-antologi tunggal Afrizal Malna (sejauh ini tulisan tentang dakuan menulis tersebut saya baca melalui Kalung Dari Teman, Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing, dan Museum Penghancur Dokumen). 

…
kini aku adalah engkau
yang jatuh dari akar
bintang padam

(Tangan Icarus, halaman 39)

Akhirnya, demi variasi pembacaan, lewat belakang saya membaca manuskrip Gembala Tidur milik penyair  Ahmad Kekal Hamdani ini, dan tentu saja  saya langsung berhadapan dengan Tangan Icarus (sebelum mungkin ada penggalan kata puitik  dan biodata penyair). Untuk kemudian merunutnya pelan-pelan ke depan. Judul demi Judul. Enigma; Kesaksian; Gembala Tidur;  Perbatasan Diri.  Hingga Akhirnya sampai pada Tanah Bangsalan. Teks-teks kekal memberi tawaran kondisi simalakama menghadapi sengkarut, antara yang arkaik  ketika digerus tanpa ampun oleh penghancuran demi penghancuran peradaban. Puisi-puisi Kekal memposisikan diri diantara khaos yang tak bisa dielakkan:  lanskap  distopia.  Dan dimana ada kondisi distopia, sekonyong-konyong  kita akan diperosokkan ke  dalam wacana melarat-larat  segitiga :  Distopia—Apokaliptik—Utopia. Saya jadi teringat Orwell, lewat  tokohnya Winston  Smith yang sudah tak bisa lagi membedakan mana masa sekarang, mana masa lampau, mana masa depan. Sistematis waktu selalu menjadi tragedi bagi ingatan tiap orang. Bahkan ambisi  Who controls the past controls the future. Who controls the present controls the past—itupun ambrol.  Ambisi neurotik Icaruspun tak bisa dibengkokkan menjadi “langit yang lain”.  Tidak Ada Kebebasan. Kebebasan mati. Sementara kematian menjadi rutinitas yang banal. Dalam pembacaan saya,  dari  proses  keruntuhan mengerikan semacam itulah puisi-puisi Kekal  bergerak.  Kuplet-kuplet keputus asaanya menarik kita ke jaman Barok, dimana Shakespeare menulis: Suatu hari kita berjalan-jalan di atas bumi—lalu pada hari berikutnya kita mati dan hilang.  Pesimisme memang menarik untuk puisi, sekaligus menekan  kita  sebagai pembaca  agar   pasrah  melepaskan pamrih-pamrih kita terhadap  realitas teks; yang datar, buram, dan permukaannya membosankan.  

TANGAN TAKDIR, TUKANG CERITA, DAN HAL-HAL LAIN SEKITAR CERPEN




:oleh  Arif  Fitra  Kurniawan*

Saya  diam  cukup  lama  sehabis  membaca  cerpen  Kunang-kunang  yang  Berterbangan  milik  Adefira  Lestari  ini, menimbang-nimbang  apa  yang  bisa  saya  tulis  setelah berhadapan dengan  teks  tersebut. Tapi  entah  kenapa, saya  jadi  tidak  bisa  berbuat  banyak untuk  melawan kilatan  Umar  Kayam. Realisme  magis. Teks  yang  evokatif. Puisi  M  Fauzi. Murakami. krisis  Oedipal. Clara  Ng. Sastra  Wangi—Katrin  Bandel. Feminisme. Novel  Sylvia  Plath. Realisme Psikologis. Cerpen  Sulung  Pamanggih. Pikiran  saya diacak-acak oleh itu  semua. Aktivitas membaca  bagi  pikiran  saya  adalah menyiapkan  diri  untuk  rela  menjadi sejarah kecemasan  yang  nomaden. Serentetan  kata  itu kadang  demikan  mengganggu  tapi  kadang  bisa membantu menarik  silang  dari  yang saya  baca.  Termasuk  Cerpen  Kunang-Kunang yang  Berterbangan.
***

Beberapa  hari   yang  lalu, sebelum menuliskan ini, saya  sempat memperbincangkan cerpen Adefira bersama  rekan   diskusi  saya. Saya  catatkan  lewat  ingatan beberapa dialog  kami  tersebut,  setelah  membaca  bergantian  cerpen  yang sengaja  kami  cetak di  kertas kuarto.

“Menurutmu  bagaimana,  cerpen  ini?”,  tanya  dia.
“Lumayan”.

MEMBACA KABAR DARI LAUT—CERPEN DINA AHSARA PURI



tulisan ini  dibuat  untuk kepentingan  Meja cerpen#8  yang  diadakan  oleh  komunitas  Lembah  Kelelawar

 
1.
Membaca  cerpen  Kabar  Dari  Laut   milik  Dina  Ahsara  Puri  ini, menempatkan  saya-- pembaca  sebagai  seseorang  yang  sedang duduk  di  atas  kursi,  merampungkan  sinetron di televisi, sambil  menguliti  kacang  bawang. sambil  mengunyah  dan  sesekali berujar  pada  diri  sendiri  o, begitu—nah, pasti  setelah  ini   begini—dan pada  akhirnya...

2.
Apakah   yang  sebenarnya  membuat  sebuah  prosa  menjadi  menarik  untuk  dibaca? , sudahlah  disini  saya  menahan  diri  saya  untuk  tidak  menulis  kutipan-kutipan  dari  banyak  orang-orang  yang  telah mahir  menulis  teori  tentang  bagaimana  menulis.  Sambil  menulis catatan ini,  saya  sesekali  melirik  tab  samping  di  komputer  saya. Kebetulan  di situ  saya  sedang  buka  dua    tautan;  satu  dari  cerpen  AS  Laksana,  berjudul   Rashida  Chairani  dan  satu tautan  lagi  cerpen  Triyanto  Triwikromo  yang  stilistika  judul  cerpennya  mengingatkan  judul-judul  puisi  saya  yang  seperti  jalan  Tol. apakah  saya  sedang  mencoba  memperbandingkan  secara  kualitas cerpen  Dina  dengan  kedua  cerpen  Media  Koran  tersebut?,  bisa  saja  pembaca  lain  menuduhnya  begitu. Saya  membacanya  karena  ingin  membacanya  saja. Justru  saya  mendapat simpulan  sementara; setiap  penulis  memiliki  dirinya  masing-masing.  Cerpen  Triyanto  menantang  saya, untuk  membuat  daftar  panjang  bacaan  apa  saja  yang  sudah  dan  belum  saya  baca.  karya-karyanya  yang  akhir-akhir  ini  berpenyakit  eksebisionis  itu benar-benar sialan. untungnya  dari  beberapa  judul  dan  penulis semacam  Gao, Gabriel  Marques, Murakami  sudah  pernah  saya  sentuh. Sementara  Cerpen AS  Laksana  menghadiahi  pengalaman  baca  nyaris  seperti membaca cerpen  Dina. Cuma....