Tampilkan postingan dengan label Sajak-Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak-Sajak. Tampilkan semua postingan

(Puisi) Usaha Sundari Sukotjo Menghibur Kami

 Sembari membetulkan tusuk konde berkata ia

Di hadapan mata cekung anak-anak kami

Cuma gelembung milik gelombang laut berkilauan 

Mampu mengaburkan duka menggores 

Lambung demi lambung tipis kering mereka


Bagaimanapun kami percaya saja kepadanya

Pada selendang beludru merahnya, pada cahaya

Bulan yang akan terus memutihkan tanggal lahirnya

Serta pada bau maut melingkar di leher kami


Bayang-bayang tubuh kami bertiga

Diombang-ambing lidah lampu minyak kelapa

Suara tingginya seketika mengguncang

Aneka bakteri yang tidur di tobong logam

Milik penjual susu tetangga


Ia memilih sehelai rambut dari salah satu

Ubun-ubun kami. Betapa terpukul kami

Menyaksikan bagaimana ia memanjangkannya 

Seolah-olah hendak menyatukan gugus pulau

Tahiti dan Asamoa nun di seberang sana


Galiung-galiung serta jukung-jukung

Itu tak perlu berlayar lagilah kini demi

Terdesak oleh bubuk mesiu atau 

Bebulir merica


Belum habis decak kagum kami, berjanjilah ia 

Pada kami akan juga mengajari bagaimana

Cara menyulut telunjuk agar bercahaya ujungnya

Hingga kami bisa menelusuri jalan gelap sejarah

Dari mana sejatinya wabah cacar air dan kolera

Di kampung kami ini bermula


Aku mengangguk-angguk saja mengikuti

Batang leher anak-anakku meski tetap

Saja langit-langit mulutku mengering seketika 

Tatkala ia meminta kami bertiga agar silih berganti

Menghafal nama depan Tuan Noah Harari


Apakah Ia penakluk semesta atau

Pembenci lagu-lagumu?


Apakah Ia seorang penyair sejati atau

Sebatas kerani belaka?


Apakah Ia pejabat nan tinggi atau

Cuma kaum rendahan seperti kami?


Sekali lagi kudengar suaranya mendaki

Sementara anak-anak kami membelah gelap

Dari samudra


(Semarang, April-Mei 2020)


Nyanyian Terakhir Seusai Makan Malam



Luka menyusup  ke  nyanyianmu yang
Hendak menghibur sepasang kandil mataku
Agar  bangkit sekali lagi musamu, yaqubmu,
Daudmu, yusufmu menghitung pasir
Dengan meminjam bibir birumu yang getir

Tak bisa kita tinggalkan angin panas yang merengek
Meminta sisa reruntuhan rumah kita
: Tunjukkan pada tubuh tipis kami  pohon aprikot yang pernah
Ditanam hawa sebelum rambutnya jadi rajutan
Bagi para pendusta

Tujuh hari. Bukan tujuh abad.
Tujuh abad. Bukan tujuh hari.

Kau perlihatkan padaku  pelepah ek yang ditatah
Oleh sebuah kabilah yang tak henti meminyaki
Tangan-tangan mereka dengan  masalah.


Kampung Brotojoyo, 2014-2017

Sebuah Bangsal



Dia berbicara tentang kesehatan yang  buruk
Sisa air panas dalam termos
Serta beberapa sanak   hendak menjenguk
Namun tak juga sampai di  pinggiran ranjang

Sementara kau dirawat agar terus sedih
Tak bisa menyaksikan kaki mereka yang pendek.

Mereka memang menyukai tersandung
berkali-kali, kata seorang dokter jaga

“Sebab begitulah tersungkur harus
Mereka letakkan di sisi kiri seorang pencipta rumus,
Penimbang  utang,  juga segala bentuk perumpamaan.”

Mereka tak  sedang  menjauhimu
Meski mereka nanti butuh ratusan tahun
Melakukan perjalanan memutar
Ke gurun-gurun
Ke ladang-ladang
Ke seluruh tanah berlempung

Menemukan  celah tersembunyi yang  dinujumkan
kelak akan melahirkan seorang tukang patri

Demi melekatkan ulang manik-manik  perunggu
Yang pernah disematkan memanjang di bagian tengah
jubah paderimu

Angin—ranting  dadap—bintang-bintang—
Roti tawar—bau  langu  milik leher seorang suster,

Tak sanggup lagi kau tulis sisanya,
Sehabis kau minta dia membuka sedikit jendela.

Gayamsari, 2016-2019

Poire Belle Hélène



Demi  yang menggantung tinggi, putih sunyi
tiap orang akan mati-matian sudi
memanjat seluruh tebing kaca  hendak tahu betapa
mukjizat yang menyusup lewat salib kayu
di ubun-ubun sebuah gereja alangkah menggoda

Tapi barangkali, kau juga  sudah bosan
terhadap kesakitan yang diulang sebagaimana
bulan Desember atau bulan-bulan lain asing
jatuh terpelanting

Sementara sebentang langit  di pagi hari murung
tak bisa menyentuh perangai tanganmu
yang keras kepala memperbesar bara api
di bawah pemanggang roti

Duka masih saja terus menganga
mengolok-ngolok nasib kita, katamu yang lantas
berdiri membersihkan sisa cangkang telur
sembari tetap mengira malam nanti, seusai misa
kita semua akan mati di medan tempur

Aku mengisap kuat-kuat bau pahit panili
yang merembes dari tengkukmu
sebelum nanti dirampas oleh
angin musim dingin yang telah lebih dulu
mengepung kota hingga para tetamu
tak bisa memuji kudapan luhur milikmu

 Semarang, 2019