Tampilkan postingan dengan label Surat surat untuk ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat surat untuk ibu. Tampilkan semua postingan

Pergi Ke Wisuda Adik

Hari ini, sebelum subuh kami sudah mesti siap-siap, Bu. Adik wisuda hari ini dan kami putuskan buat menyewa mobil buat ke acara. Kamu pasti senang ya, melihat putrimu yang satu itu, setelah pontang-panting tak karuan, akhirnya sampai juga waktu buat kenakan toga. Wah anakmu jadi sarjana (lagi). Aku juga ikut menyek-menyek sih, membayangkan, betapa repotnya dia dulu. Jam tujuh sampai jam satu siang mengajar. Belum juga letakkan pantat buat sedikit ambil napas, sudah harus pergi ke kampus. Pulang rumah harus ngojek dulu. Jalan dulu. Sampai rumah sudah jam sembilan malam. Belum lagi mesti ngurus dua anak yang masih kecil-kecil. Dia putrimu yang kuat kok. Keras kepala juga sih ya, seperti pernah kamu keluhkan padaku dulu. (Dulu itu lho, waktu kamu curhat betapa dia bener-bener tak bisa dibendung begitu dia punya niat buat ngaji di pondok pesantren. Haha.)

Ya sudah, begini saja, nanti aku kirim beberapa foto wisudanya ya. biar kamu puas. Puas nangis-nangisnya juga lantaran haru. Alah, kamu memang cengeng kok. :))

Ujian (1)

Hari ini, pukul dua nanti, aku ujian proposal, bu. Sudah itu saja sedikit yang pengin kukabarkan padamu--

SEDIKIT BICARA KEMATIAN, BUKU-BUKU, KESUNTUKAN, SELEBIHNYA KABAR KELUARGA YANG HIDUP



Apa kabarmu, bu.
Baik—

Ya sudahlah, anggap saja kita memang diberkahi mesin penanya—penjawab kabar otomatis. Tapi memang perlu kok, bahkan kurasa kita memang butuh merepetisi tanya jawab yang sebenarnya, jika dipikir-pikir, tidak ada istimewanya itu.  Aku  sendiri terus terang jengkel, tiap kali ada sms dari pacar:  kamu baik-baik saja kan, sayang? Pikirku sih, lantas, jika seseorang tidak  sedang baik-baik saja, seseorang lain bisa apa? Kurasa, pacarku sudah kebas dengan kejengkelanku, aku bayangkan ia meletakkan ponsel dengan gerakan santai, sehabis ia pencet-pencet mengirimkan pesan sembari garuk-garuk hidung, dan melepehkan desahan: alah pasti sehabis ini bakal balas dengan  sepenggal bait dari penyair Anwar itu to;  nasib ialah kesunyian masing-masing--

Aduh, aku kian pesimis saja ya. Tapi ya itu tadi, sudah kubilang, tanya-jawab kolosal tersebut tetap kita butuhkan kok. Agar kita tetap disebut manusia, ya kan.
Lama sekali tidak menyuratimu (baca: menulis surat buatmu) ya.  Beberapa hari  sebelum kamu ulang tahun, aku pulang ke rumah lantaran dapat kabar, bahwa Risun, kemenakanmu, meninggal dunia. Dia  kecelakaan dan sempat koma beberapa hari.  Aku pulang  boncengan sama Ayah  (dia sepanjang perjalanan tidur melulu). Sampai rumah, langsung siap-siap ikut acara pemakaman.  Orang-orang sedusun  berkabung. Sedih. Aku lihat  kesedihan itu dari wajah mereka yang  layu. Aku sendiri sedih, bukan lantaran kematian Risun kupikir, tapi justru  kenapa tak bisa kutemukan bentuk kesedihan di diriku. Kesedihan yang sama-sama dimiliki orang-orang dan dulu juga pernah kumiliki. Aku cari-cari kemungkinannya, mampat. Kali ini, kamu boleh mengejekku, tapi  jawablah, kesedihan sebenarnya terbuat dari apa?

Aku juga tidak tahu, kenapa, beberapa bulan lalu, ketika kakak perempuanmu—budheku, meninggal dunia, sama sekali aku juga tak bisa bersedih.

Ketika dalam perjalanan balik ke Semarang, di atas motor yang melaju dalam  gerakan zigzag lantaran Ayah masih saja ngantukan dan motor  berkali-kali oleng ke kiri dan ke kanan, aku terus dibayangi tentang  kematian, kehilangan,  yang sekarang sudah tak lagi mempan dalam menggerowongi kepekaan manusiawiku.

Buku-bukuku kian banyak, bu.  Sungguh di luar perkiraan, aku bisa punya buku sampai dua rak, ditambah lagi berkardus-kardus, bermeja-meja, berkontainer-kontainer.  Haha, dulu, aku cuma punya novelnya Freddy S, melencengnya ya Abdullah Harahap, warisanmu kan?—picisan. Kubaca buku-buku tersebut berkali-kali sampai halamannya lecek dan sampul belakangnya sobek dan aku selotip dan sobek lagi dan aku lem dan sobek lagi dan kuselotip lagi. Aku ingat Kamu baru  ijinkan aku membaca novel  itu selang setahun  selepas itu-ku disunat, Bacaan Terlarang, alohamorahola!  Lantaran katamu, di beberapa bagian ada adegan syurnya.  Sial, padahal cuma cipok-cipokan sebentar, mengelus rambut dengan mesra, adegan vulgarnya juga—aku masih ingat betul:  si perempuan melepas longdress  dan  perlahan menyusul si Bram ke bath up hotel di kawasan puncak. Mereka tenggelam dalam gelembung busa kasih sayang. Alah, kampret,  sundal benar.

Pengumuman Kecil

Saya dapat jatah nomer peserta ujian  99355110004, Bu. Ujian dilaksanakan di Hari Minggu, 29 Februari 2015. Semua dalam sehari: Tes Potensi Akademik--Tes Bahasa Inggris--Tes substansi--Tes Wawancara. Pengen muntah-muntah saja seharian itu, Bu. AC dan kepadatan kursi di salah satu ruang Fakultas Ekonomika dan Bisnis di Undip mendadak membuat saya meriang. Ditambah rasa pesimis, lengkaplah sudah mungkin ramalan kehancuran saya.  Saya banyak melamun malah justru ketika orang-orang dengan antusiasme perang uhud melingkari kertas ujian dengan pensil 2B Mereka hati-hati sekali dalam mengambil napas. Mengernyitkan kening. Menggaruk-garuk telinga. Menatapi kertas soal. Di tengah itu semua, saya malah asyik membayangkan  saya sedang  berada di novel  Animal Farm nya George Orwell. Mendengar si Beo berceloteh, mendengar si Ayam berkotek,si kuda berkeras akan terus bekerja lebih giat dan lebih baik,  mendengar Babi-babi berebut memberi wejangan tentang persamaan kelas. Mengerek bendera Peternakan sambil berteriak: Binatang-binatang sedunia, Bersatulah! Mars Internasionale, berkumandanglah!

Surat pendek (22 Maret 2015)

Saya juga tidak tahu nantinya akan bagaimana bu, tapi kata pacar, saya mesti minta doa ke orang tua, dan saya bilang kepadanya, tidak mungkin, kecuali kepadamu [dalam hati], doa saya kali ini sepertinya akan membuat murung mereka. Jadi saya diam, atau lebih tepatnya menahan diri untuk tidak memberatkan siapapun. Hmmm, apa? Bercanda deh kamu. Tapi memang iya sepertinya. Saya adalah martir bagi cita-cita saya.


-Peluk-

SURAT DI BULAN JANUARI



Halo kamu, apa  kabar  di bulan  januari ini.

Kaki  ayah  sakit  dan  saya  mencemaskannya.  Itu  sebabnya  saya  ingin  membagi  kecemasan  ini. Berhari-hari  yang  lalu  sebelum  tahun  baru, kakinya  terkena  tumpahan  minyak  panas.  Saya  pikir  di  kamus  kami  yang  menghabiskan  hari  di  dapur, ketumpahan  minyak  dan tersayat  pisau  adalah  hal-hal  yang tidak  penting  untuk  saya  ceritakan  ke  kamu.  Tapi  entah  kenapa, kali  ini  saya  mencemaskan  kesehatan  ayah. Hampir  tiap kali  sepulang  kerja,  saya  selalu  menghadangnya  di  depan  pintu  dan  bertanya: sudah  kering?
Dia  tidak  menjawab,  cuma   mencincing  celana  panjangnya,  memperlihatkan  kaki  bawahnya. Kulit  yang  terkena  tumpahan  minyak  itu  terlihat  basah  bernanah. Saya kemudian  diam  dan  melewati tubuhnya, ingin  segera  tidur  dan  berpura-pura  tidak  terjadi  apa-apa. Pertanyaan  “sudah  kering?” dan  adegan  dia  mencincing  celana  itu  terus  berlangsung  selama  seminggu  lebih  ini.  Seolah repetisi  yang terus  menantang  saya. Tapi  saya  selalu  ingin  mengelak.  Saya  ingin  tidur  cepat-cepat  dan  berharap ketika  bangun  kenyataan juga  terpampang  sesuai  keinginan  saya.

SURAT DI HARI ULANG TAHUN IBU SAYA



Surat ini  saya  buat  di malam  ulang  tahun  kamu.  Kamu  yang  lahir  15  Juni  1965, --  ibu  saya. Kamu  akan  membacanya  kan?


Saya  sedang  membayangkan  rautmu  sekali dan  sekali  lagi. Masihkah  hidung  pesekmu  yang  sering  saya  ciumi  itu  kembang  kempis  ketika  kamarmu  saya  semprot  baygon. Masihkah  wajah kamu  yang  kontruksinya  tidak  pernah layak  ditempati  kemarahan  itu  kamu  usap-usap  sehabis  kamu  selesaikan satu  kuali  besar  bubur  untuk  jualan, saya  masih  ingat  kok,  nyaris  tiap  malam  senin—jadwal  ayah  pulang  dari  pekerjaannya  yang  di  luar  kota,   kamu sediakan diri  kamu  untuk  mati-matian  berdandan. Melapisi  wajah dengan  bedak--memakai  gincu—menebalkan  alis,  memakai  handbody  lotion, memilih-milih  gaun  terbaik.  Tiap  malam  senin  ada  seorang  gadis  remaja 18  tahun  di rumah. Demi  yang  kamu  sebut  pacar—ayah  saya.  Seorang  gadis  remaja  yang  selalu  duduk  dan  sengaja  mematikan  lampu  ruang  tengah  untuk  menunggu  lelakinya  pulang. Betah  berjam-jam  memandangi  pintu.  Menunggu  diketuk  seorang. Dan  ah, saya  tahu. Kamu  berpura-pura  tidur, ketika   ia  datang, memasang  raut  muka  seperti  anak  kecil  yang kesal  mencari  lantaran  kehilangan  jepit  rambutnya 

Ya, begitu.  Saya  senang  sekali  diganggu  ingatan-ingatan  semacam  itu. Tiba-tiba  kamu  berlari-lari  kecil  dari  ujung  jalan  rumah  kita  mencari  saya  yang  bandel  dan  selalu  mempunyai  siasat  menghindari  jam  salat  dhuhur  dan  salat  ashar.  Kamu  akan  mendapati  saya  tengah  bermain  kelereng, kadang  di  sawah  menarik  layang-layang. Kadang  bermain kasti  di  halaman  sekolah dasar.  Saya  ingat  jeweran-jeweran  lembut  kamu  di telinga  saya. Kamu  ceriwis  sekali. Salat  itu  penting. Salat  itu  penting.  Saya  malah  berpikir,  keceriwisan  kamu  lebih  penting  dari  salat-salat  itu  sendiri.  Haha,  saya  selalu  tertawa  kalau  kamu  sudah  mengeluarkan  senjata;  anak  lelaki  yang  sudah  disunat  sudah  mulai  menanggung  dosanya  sendiri.

selamat datang doa-doaku yang terus alir

aku  akan  selalu  seperti  anak  kecil  yang  senang sekali  kepada  dosa.
aku  yang  selalu  sudah  basah  lebih  dulu  sebelum  sampai  kepada  hujan bulan  juni--mu,  ibu

Tukang Pos


sayangnya, tidak ada tukang pos yang bisa mengirimkan sesuatu dari yang hidup kepada yang sudah mati, atau sebaliknya. padahal aku rakus ingin terus memberi kabar

Melewati maret

mbi mbi dan bolo bolo datang ke semarang bu, 3 hari ini kamar jadi penuh kangen. komunikasi yang janggal. kemarin sempat sebentar jalan-jalan ke fantasy kingdom, mbi mbi mendapatkan apa yang dia inginkan. semoga kamu juga turut senang ya. salam dari banyak orang yang merindukan kamu.

UJIAN BUKAN AKHIR

gambar diambil sebelum memasuki ruang ujianhari ini saya ujian skripsi ibu, tidak ada perasaan macam-macam, selain, ya, kamu tahu sendiri; seperti kata seorang  teman, apa yang saya dapati biasa-biasa saja, semua orang toh juga melewati fase ini. cuma konteksnya menjadi terkesan heroik ketika saya mencapainya dengan susah payah. setengah hidup saya bertahun-tahun lalu "merindukan" yang berkenaan dengan, ah, lagi-lagi saya mulai muluk-muluk bicara tentang cita-cita, tapi saya mesti mencatat ini. mencatat bagaimana dulu sekali, saya rajin  menyisihkan uang 5000 tiap hari di celengan, deg-degan menghitungnya di akhir tahun bekerja sebagai teknisi mesin sebuah pabrik kecap, norak  dan berharap banyak dari tabungan untuk biaya sekolah. mencatat bahwa saya butuh lebih dari 3 tahun untuk mengumpulkan 7 celengan ayam saya sampai penuh dan memecahnya. dan benar saja,takdir ternyata kita sendiri yang menentukan. saya di sini, bu. membayangkan kamu memeluk saya. membayangkan kamu tidak akan bisa berkata banyak.kamu akan menangis saking bahagianya. saya kerap ngungun sendiri mengingat kamu yang penjual bubur itu, yang sering dicemooh itu. yang selalu berjalan berkilo-kilometer jauhnya menggendong saya ketika membeli ketan mentah, bagaimana kamu selalu punya alasan untuk tidak membelikan sepatu baru menggantikan sepatu saya yang jebol, dan akhirnya cuma di sol berulangkali, diganti dengan karet ban. saya selalu ingat bagaimana kamu menghardik ayah: sekurang-kurangnya kita, anak-anak harus sekolah setinggi-setingginya. 

setinggi apa bu?

banyak yang mengira, bahkan saya sendiri kerap sangsi akan sampai di titik ini. tapi apa boleh buat, kengeyelanku untuk berusaha kadang membuahkan hal-hal di luar dugaan. salut saya bu, kepada ayah, suamimu paling tampan itu, yang selalu saya candain si jacky chan itu. napasnya luar biasa panjang. bangun sangat pagi dan tidur pagi lagi. tak ada hari libur di kepalanya. dan kemarin ketika saya ulang tahun, dia memeluk saya, menangis dan berbisik: maaf. saya tak tahu kenapa dia selalu saja meminta maaf ketika memeluk saya bu. apa selama ini saya menderita? duh.

harapan kamu kesampaian bu, bulan desember nanti saya wisuda.  saya tahu. jauh di sana kamu berdoa terus. ya, doamu itu saya yakin yang mengantar saya sejauh ini. terimakasih, telah mengajarkan, dan saya akan melanjutkan berjalan sekuat saya dan doa kamu lagi. jangan diamini dulu ya, bu. berdoa tidak pernah berakhir.

peluk dan cium*



MEMULAI DARI NOL ATAU SATU

            Saya pulang bu, menemui kamu. menemui rumah. dan ternyata menjadi teledor adalah misi yang memang sudah diincar waktu. aneh, ketika saya lupa letak makam kamu, bu. saya berdoa panjang petang itu. nyaris tanpa amin dan menutup muka. membiarkan banyak hal mengalir dari mata dan dada saya. saya jadi nerveus. atau jangan jangan kamu sudah menuduh saya si anu yang tak tahu berterimakasih. aduh, malin benar saya kalau begitu. meski ketidakhadiran kerap bisa menghapus banyak hal dari ingatan, tapi, ah tapi bu, cuaca rumah tetap tak banyak berubah. cuma perabotannya saja yang kadang berganti, ruang tamu yang digabung jadi ruang keluarga, kamar mandi yang diganti lubang kakusnya, selimut kenang-kenangan milik kamu sudah berubah warna terlalu sering dicuci sama adik. seharian di waktu lebaran, saya memikirkan kamu. tiba-tiba kamu pandai membelah diri. di tembok dilantai di meja televisi di dekat vas bunga plastik. saya kangen dan tiba-tiba jadi sebegitu cengengnya. saya mesti sungkem dengan cara bagaimana, saya sudah berkali-kali meminta maaf dalam hati. kok dingin. kok ada yang mengeras. saya banyak minum dan merokok. sulut lagi. minum lagi. ayah membangun percakapan. adik membangun percakapan. kata mereka semestinya makam kamu ditulisi saja. agar yang pergi terlalu lama tidak tersesat ke makam orang lain.

- maafkan saya ya bu (tuuuh kan lagi-lagi kamu mengangguk) - Love and hugs.

-

aku selalu merasa tertangkap ketika berlari dari kejaran doa-doamu ibu, aku tak sanggup menghindar
membayangkan ibu--

di surga itu, kamu duduk begitu cantik, sambil sesekali merobek bungkus cokelat dengan telunjukmu yang lentik.

ah apa kabar, pasti sedang menunggu masa remaja ayah pulang kan?
gemes deh. dia selalu kangen kamu kok bu. tenang saja.

NASEHAT TERAKHIR IBU

~dalam sekarat, ibu menggenggam tangan kecilku,tanganya seperti kanopi.Dingin,pucat.Lembab. Ingin menjauhkanku dari dendam hujan. Dalam sendat nafas ibuku bilang :

jangan cemas anakku, setelah ini kau akan lebih sendiri, jangan takut, terhadap dunia yang sempit dan enggan menampung kita. Cari, kejar, milikilah ilmu. Karena sungguh nak, keluasan ilmu, mampu menampung dunia.

bibir ibu bergetar, habis itu diam. Diam yang amat panjang. Ia memberi aku sebuah kehilangan.~

Nitip Bingkisan Buat Ibu

Gambar  ini  masih  saya  amati  terus, gambar  usang  seukuran  kartu pos, diambil  tepat  pada  waktu  usia  saya  genap  satu  tahun,  itu  berarti  gambar  ini  diabadikan  duapuluh tiga  tahun  dari  sekarang. Dua puluh  tiga  tahun !
Begitu  lampau  dan  pikun  waktu   yang  saya  punya,  Bril. Begitu  gemuknya  saya waktu  itu ya bril,  bukan  sekadar  gemuk,  tapi  juga  sehat, putih, dan  terawat. dan  lihat, jidatnya itu, jidat  yang  kata  nenek, ya,  benar,  yang  digambar  sedang  memangku  saya  dengan  teguh  itulah,  pernah  bilang  jidat saya   semirip  jidat  milik  Pak  Hatta,  tokoh  proklamator  bangsa. Bukan  Pak  karno,  kata  nenek  Bril. Jidat  pak  karno  nampak  keling,  dan  hitam  manis,  sementara  punya  saya  lebar  dan  putih  bengkoang. Ah,  Bril, saya  tak  tahu  juga, waktu  itu  nenek  sedang  menggigau  atau  sedang  melelo lelo  saya, hm,  ada ada  saja  nenek ya  bril.  Mungkin  dia  ingin  saya  seperti  beliau,  seperti  Bung Hatta,  cendekia, ekonom, demokratis, gemar menabung, dan  satu lagi,  gila membaca !

Perempuan  yang  muda  itu  ibu  saya  bril. Pada  masanya,  kata  orang orang,  ia  perempuan  yang  serba  bisa. Jago  memasak  dan  olahraga. Supel,  terngginas, dan  memiliki  daya  tahan  yang  luar  biasa  saat  melakukan sesuatu. Ah  pokoknya  perempuan  itu  ibu  yang  paling  ibu. Kamu,  tahu, satu  hal  saja  mungkin yang  selalu  mengantar  saya  pada  determinasi paling  tinggi  dalam  kehidupan,  adalah  mewujudkan  satu  permintaan  ajaibnya.  Kamu  pingin  tau  apa  satu  permintaan  itu ?
Bril  ,  perempuan  itu  cuma  minta

ia  pingin  melihat  hidup  saya  lebih  baik. 

Belum  puas  Bril rasanya  saya  menikmati  kedekatan, kehadirannya  dalam  merawat  usia  saya  yang   tiap  detik  tumbuh. Meninggi . menua. Ia  pamit  pergi, waktu  itu  saya  labil,  usia  saya  masih  delapan belas  tahun.  Sulit  rasanya  melepasnya, mengepak  koper  besarnya, membawakan  keperluannya  selama  bepergian. Ia  hijrah, ke tempat  yang  katanya  cuma  bisa  di jangkau  cahaya.  Tapi  aneh,  perempuan  itu  malah  tersenyum,  seriang  anak anak  TK  saat  naik  bus  pariwisata. Tangannya  melambai.  Dan  perempuan  itu  berujar  dari  kaca,  nanti  ibu  kabari  kalau  sudah  nyampe, jaga  dulu  rumah,  ayah,  dan  adikmu  ya  yip…
Waktu  itu  saya  sempat  setengah  berteriak,  ibu,  nanti  kalau  yipp  kangen  bagaimana.
dan  ibu,  menjawabku,  suaranya  menggema  dari  dalam  bis,

kau  kan  sudah  besar,  kalau  kangen  tulis surat   saja.

tak  ada  gerakan  lain  setelah  itu  Bril,  selain  anggukan  kepala   saya yang  mengiringinya  menjadi  titik  putih  yang  kecil,
kemudian  lenyap.

jadi  ini  sebuah  kebetulan  atau  tidak, jika  malam  ini  kamu mampir  ke sini, saya  memang  berharap  begitu, tolong  ya, sampaikan  bingkisan  ini,Bril,  sampaikan  pada  ibu,  ini  kiriman  dari  anak  lelakinya, yang  dulu  pernah  minta  tiap  hari  dimandikan  air  susunya, yang  tiap  akan  tidur  selalu  menodong  dongeng, yang  dulu  selalu  menangis  saat  kehilangan  mainan mainan  kecilnya. jadi  maaf  kalo  di  bungkus  ini  tak  ada  stempel  bea  wesel,  atau  cantuman  alamat, sungguh,  saya  kira,  cuma  kamu  yang  tahu  alamat  ibu  yang  baru.
salamsuperduper  buat  ibu  disana  ya  bril. bilang  yiip  kangen,  makanya  saya  menulis  surat  ini, khusus  untuknya,  di  hari  lahir :  15  juni  nanti.



catatan :  kalau tiap  orang  selalu  bilang  Selamat  panjang  umur  pada  seseorang   saat  ia  berulang  tahun,  maka  kurasa  ibu  sudah  ngga  perlu  itu.  umur  ibu  sudah  lebih  panjang  dari  doa  itu  sendiri.


ini untuknya

mungkin bukan salahnya,
jika aku selalu mencari tanda-tanda itu pada tiap wanita yang ku temui.
di koran,
di buku resep masakan.
di tiap ayunan taman yang saat ku dekati ternyata sepasang masa kecil
sedang mencari kegembiraan yang telah lalu dirampok keculasan jarum jam.

lantas dengan kesedihan yang lugas
sepasang masa kecil itu bertanya padaku seperti ini :

Paman, maukah kau menjadi rahim,

dan mengeramiku sepanjang duaratus tujuh puluh satu malam ?

aku seperti di kepung puluhan musim yang igau.
yang harap.
yang menaruh ujung penanya diatas rasa bersalahku.
menggerus dan membentuk luka kaligrafi yang sampai seperempat dari hitungan abadku,
aku tak juga mampu dengan apa mesti memberinya nama.


aku merengkuh sepasang masa kecil itu.
menghadapkanya pada kaca yang di tepinya tumbuh mata kelabu usia.
lihat, aku kau sama.
lihat,
di jantung kaca itu selalu mengarca

dia, dia, dan dia.





ibu, aku cinta kepadamu,
tak peduli lagi kalau nanti Tuhan merasa cemburu
dan merasa diduakan.


gambar diambil disini










Bisikan hangat dari ibu

Nak,kemarilah ,
biar kulihat luka dilututmu dan pelipismu itu,
kata teman teman mu kau tadi terlalu asyik bermain seharian mengejar layang layang, berlari terus tanpa memperdulikan teriakan temanmu agar hati hati di jalan, tak menggubris segala resiko akan terjatuh dan terantuk batu.Teman temanmu telah berusaha mencegah ,jangan, jangan lewati parit itu,terlalu berbahaya, selain berlumpur , dalamnya banyak tajam kerikil. Tapi apa katamu, tidak, layang layang itu menawan ,gambar merak berekor panjangnya terlalu indah untuk tak dimiliki, dan kau melompatinya juga.Dan kau nekat akhirnya.Sampai kakimu yang kiri tersangkut benang gelasanya, tubuhmu terjerembab , lumpur menerimamu sebagai hadiah mungil, kerikil membuat pelipismu tersayat meluka.
Untung saja teman teman kecilmu berbaik hati , memapah dan mengantarmu sampai rumah. Mereka bilang agar jangan memarahimu ,karna itu bukan salahnya bu'.
Ibu berdehem sembari mengucap terimakasih.Persahabatan yang tulus memang begitu , bahkan disaat jatuh karena ulah nakal sendiri mu pun mereka membenarkan.Dasar anak anak yang manis...

Sekarang kemarilah,
kau tak boleh menangis,
jangan menunduk seperti itu anakku.
Tidakkah ibu tidak sedang menghardikmu,tidakkah suara ibu terdengar sekenyal padatan susu saat bertanya : mana nak, layangan yang telah kau kejar sampai berlarian lintangpukang ? ? Sampai habis habisan kau keluarkan segala ambisi yang tadi pada temanmu kau katakan jika seseorang ingin sesuatu didapatkan maka ia harus berjuang.
Kamu diam ,tak menjawab, cuma mengulurkan gulungan benang.
Ya ya ya..,
ibu paham, sebenarnya kau ingin bilang : ibu ,meski telah berusaha kukejar , aku tak mendapati layang layang nya, ini , cuma benang panjangnya saja yang mampu kutangkap dan kumiliki.
Ibu tersenyum.Tapi kau sudah berusaha kan?
Tapi kau telah berani memperjuangkanya kan?
Hem, tunggu saja anakku, mungkin si layang layang tersangkut di ujung pohon waru.
Hingga yang perlu kau lakukan adalah pertama menunggunya turun melayang jatuh ke tanah, atau kamu memanjat pohon waru untuk mendapatkanya.
Tapi jangan sekarang,
lukamu masih basah , kekuatanmu belum benar benar pulih.
Aku mengurut luka pelipismu dengan getah tanaman awar-awar.
Kamu meringis , periih ibuu...
Iya ibu tahu kesakitanmu, tapi rasa luka memang begini.
Rasa gula manis, rasa garam asin, kau sudah hafal bukan nak?
Sini biar ibu tiup tiup,angin anginin ,biar lukanya lekas menggaris kering.

Kau mengerling, mengembangkan senyum :
jadi besok yip boleh mengejarnya lagi bu' ?

Aku ikut tersenyum,
tapi di dada getir.
: begitu hebatnya keinginanmu mendapatkan sesuatu hingga lukapun kau tak mau peduli.

'kejarlah nak,selama nafasmu belum terhenti. . .

hari ini untukmu : ibu

".....selama matamu bagiku menengadah,
selama kau darah ngalir dari luka,
antara kita mati datang tidak membelah...."
(chairil anwar, dikutip lewat ingatan)



aku membayangkan ia hari ini sedang uduk di samping bebatu di tepi taman Sriwedari*. menyerahkan rambutnya yang sedikit putih mengelabu dirambati angin yang sesekali renggut mengena muka. usianya hari ini tiga puluh sembilan warsa. raut sabar itu tetap memrpelihatkan dengan tegas keanggunanya, keanggunan yang terjaga masih sama persis seperti dahulu yang pernah tertangkap oleh segenap panca inderaku kali pertama belajar mengingat.

selalu begitu dan ajeg,
tak sedikitpun kulihat ada yang pudar dari tekstur serat lapisan kulitnya,
tak ada sedikitpun penurunan kadar melanin \ yang kerap kusakaisan pada nyaris tiap tiap wajah menakin di deret etalase toko perhiasan dan busana, berubah warnanya menjadi coklat taar atau kuning keruh.

wajah wanita ini begitu tulus, tiap tonjolan dan cekung reliefnya seakan ingin menampilkan beludru lembut yang nyaman dalam menerima rebah bagi segala sesuatu. wajah yang tekesan dipenuhi motif arsiran kebahagiaan, seakan tiap apapun benda akan segera memahami bahkan, bahwa udara yang ia hirup dan ia hempas adalah gelembung gelembung mikro , kecil memang, namun berjumlah milyaran penuh kasih sayang dan kehangatan susana.

ingatanku kembali rentan.
kembali menyusur jalan jalan, alamat alamat, plang arah, yang ia pernah tapaki, yang pernah juga sama sama aku ikuti. ya, jujur.
sebagian usiaku sebagai lelaki memang telah ku percayakan untuk menguntitnya dari belakang,dan kalian tahu, ia selalu tersenyum untuk sifat kanakku yang satu ini, ia begitu paham mengasuh keluguanku yang bayi.ketahuilah, di tiap jengkal tapak yang ia toreh sepanjang perjalanan menuju sampai di taman ini, kaki ranumnya tak pernah alpa menyemai benih feromon sebagai penanda yang di lain waktu akan ku ikuti ketika aku berjalan diantara sumber gelap serta kemungkinan tipudaya rimba.

maka akan kuceritakan lagi smpai sejauh ini, tak pernah ku kahwatirkan lagi tersesatkan akar timang yang sering menjerumuskan bingung pada lorong labirin.atau godaan perilandak dan demit jejadian yang kerap jadi sawan ketika petang datang terlalu pagi. sungguh, tiap geraknya menuju taman ini adalah ruang ruang yang mengayomiku penuh dan sungguh sungguh. menjagaku dari dingi, dari terik, dari hujan,dari leleh lelah yang menggelambir sepaeti tangan druwiksa yang seringkali terbit di mimpi buruk,


ya, sekarang perhatikanlah, aku disini, jarak dua kaki di belakangnya, berdiri dengan getaran yang tak pernah berubah dalam mengagumi.dalam menghormati.

aku cuma bisa seperti ini ibu,
memandangmu penuh haru, menyaksikan senyummu selalu terkembang menjaga sebuah taman. taman yang tiap hari di hiasi delapan bulatan matahari. taman tempatku berdiri merindukanmu tanpa bisa menyentuh.
biarkan aku yang seperti ini melawan kesakitan usiaku.



ibu, selamat hari jadi.
yip kangen.
semoga Tuhan menjagamu dengan segenap kasihNya


Megatruh dari ibu

Nak ,
maka kukisahkan perjalananku ini dalam Megatruh.
Sedalam dalamnya ,
ketika petang kutunggui senyum kalian berdua menyembul dari celah pintu rumah .

" . . . Ibu , kami telah mahir mengaji ! "

lalu tangan gemetar ini menuntunmu ke arah dipan dekat tungku , menghangatkan nasi jagung , menghanguskan ikan asin dengan arang kayu bakar dan abu, ibu paham perut buncit cacingan kalian sudah tak sabar menikmati kenyang.
Makanlah dengan lahap ,nak !
Ayo makan, biar kamu lekas membesar , lekas pintar dalam menghafal alif - ba - ta - tsa - jim.
Agar kelak keislamanmu tak di tuduh sebagai islam 'abangan' , pelengkap di susunan kartu identitas semata.
Ya, dan ibu cuma bisa seperti ini , membantumu tumbuh , menyediakan makanan 'penuh gizi'.
Berharap dengan perjuangan ini mampu menjadikan mahkluk cendekia.Tak sekedar cendekia ,tapi juga amanah , tapi juga tabligh , tidak membodohi orang orang bodoh.
Sudah kenyang nak ?
Manikam manikamku , tidurlah lekas , maka kuantar kalian dengan mitologi pewayangan . Tentang ibu kunthi , kisah durmagati , lalu ibu menjabarkan arti macapat . Sinom , Dandanggula,kinanthi,maskumambang, dan tentang perilaku adiluhung punakawan Semar Petruk Gareng Bagong.
Ibu terus bicara sendiri , menemani wajah pulas kalian , yang hangus karna asap dari lampu minyak tanah , wajah kalian begitu membuat ibu terus bertahan menguatkan diri .
Jika besok kalian bangun , maka telah kupersiapkan untuk menampilkan ketegaran.

Maka kuakhiri megatruh ini , saat malam nyaris habis dalam dengkurmu, dan suara kodok dibelakang rumah meyakinkanku untuk menyanyangimu tanpa ragu.