dilihat dari dalam adalah lampu-lampu kota, dilihat dari luar adalah masa lalu kata-kata
Tampilkan postingan dengan label Tentang Ina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Ina. Tampilkan semua postingan
Pernikahanmu
tanggal 8 nopember. aku akan mengingat hari itu seperti pernah ada tanggal dan hari yang telah bersusah melahirkan sekaligus menelentarkan keinginan-keinginan aku. padahal masih ada waktu untuk berpura-pura tabah. menyapa terus diri sendiri.ya. masalalu kenapa datang membawa masalah baru bagi kita.
TAK SEPADAN – CHAIRIL ANWAR
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Chairil Anwar
Februari 1943
Peter Gabriel - The Book of Love
aku membayangkan, kelak kita menua, terlalu tua, hingga lupa kita pernah memulai semua perihal ini dari mana
mimpi kamu mimpi aku
kapan kita bisa sepayung di mimpi, membenarkan letak rintik hujan.
bertatapan sambil sesekali membasahi perasaan --
(mimpi kamu lucu. sedangkan mimpiku aneh. masak matahari senyum dan kedip-kedip? siapa juga itu yang jadi pengantin? hahaha.semoga kita tetap dikirimi mimpi-mimpi agar tau bagaimana cara mengabarkan diri ya)
bertatapan sambil sesekali membasahi perasaan --
(mimpi kamu lucu. sedangkan mimpiku aneh. masak matahari senyum dan kedip-kedip? siapa juga itu yang jadi pengantin? hahaha.semoga kita tetap dikirimi mimpi-mimpi agar tau bagaimana cara mengabarkan diri ya)
Ke sana kamu akan pergi? Kamu mengangkat bahu sekali. Tak tahu. Tak pasti. Yang pasti hanyalah: kamu ingin pergi. Bukan karena tak mencintaiku lagi, tapi karena cintaku membebanimu. Begitu berat, hingga kamu tak bisa bergerak. Penuh, seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang bisa kamu pikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Satu-satunya cara yang kamu tahu adalah: pergi. (hujan malem minggu, menikmati cerpen Avianti Armand)
http://lakonhidup.wordpress.com/2010/01/28/tentang-tak-ada/
HAL PALING PERIH DIANTARA PERIHAL-PERIHAL SEKITAR MENCINTAI ATAU DICINTAI
- sesekali buatlah puisi paling sedih,
hingga tak ada penglihatan manapun mampu membacanya,
kecuali dengan airmata.
- bis-bis berlalu lalang di kepalamu, namun tak kau hentikan
sebab tak ada aku duduk di kursinya.
aku memilih berjalan, dari kaki ke kaki, dari sepi ke sepi.
- usiaku nanti akan jatuh seperti uban putih lerai ke ubin
dari pohon kepalaku yang menua tanpa ada siapa-siapa disana
- yang akan terus meloncat dari paru-paruku ke napasmu,
dari mataku ke pandanganmu, dari telingaku ke pendengaranmu,
serta dari kakiku ke perjalananmu yang cuma akan terhenti
bila kita saling memeluk--meski itu mustahil--
; adalalah kepedihan.
- tiba saatnya bagi kita saling mendoakan,
jangan ada lagi airmata yang mengalir sia-sia.
- butuh berapa sakit lagi bagi kita demi mengukur
luka yang kadung mengakar ini?
- selalu ada sebentang taman, bangku panjang, dan sepasang
kesedihan yang akan terus-menerus menatap percik pancuran.
ingin sekali mandi serupa anak kecil dengan air dari mata sendiri.
- digagalkan angin, awan tak sampai kepada engkau yang
menunggu hujan.
digigilkan angan, dingin keinginanku cuma mampu
menyentuhi cair bayangan.
- angka-angka meremajakan tanganmu, untuk mencari
jarum siapa yang pernah menganiaya usia,
bagi lidah kita, yang selalu sangsi luka itu
seberapa kecutnya
- aku menyelimuti mataku demi menyelamatkan
engkau yang berbaring menahan silau tukak di dalam sana
- kelak keningmu adalah padang kenangan yang akan
meminta bibir ingatanku mengecupnya berulang-ulang.
- mampukah kau tunjukkan lagi apa saja kesalahanku,
selain, mencintai engkau dengan cara yang tak sewajarnya?
- mampukah kau menyebut kesalahanku yang lain,
kecuali aku mencintai engkau yang barangkali tak mencintai aku?
- seringkali puisi ini kutulis, sekadar ingin mengungkapkan
aku telah gagal menjadi penyairnya.
- seumpama aku keledai, aku ingin kau terus menjadi lubang
lubang yang memerosokkanku, denganmu,
aku ingin menjadi yang bodoh seutuhnya, selamanya
terkurung dalam umpama
- kita membaringkan sebuah malam minggu.
malam minggu yang gagal menjadi bulan.
aku kau khidmat menelan telepon genggam.
dada kita bergetar, namun kita masing-masing sudah
tak bisa menjawab semua dering panggilan
- katamu kau meridukan seseorang yang mahir memasak,
kau menginginkan seseorang dengan jantungnya yang dapur,
kau meyakini bahwa cinta terbentuk dari asap dari api.
- kaki telingaku telah menghabiskan usianya;
ingin memperpendek jarak ke bukit.
menjenguk suaramu yang dikabarkan sakit,
memanggul seluruh panggilanku selama ini
- yang menyelimuti tubuh sepiku dengan aman pelukan
kemudian menyelamati doa-doaku dengan amin
- sebagaimana tas dengan punggung, hidupmu dengan
hidupku saling menggantungkan diri bergantian.
waktu menampung engkau aku yang sama-sama
menumpang jalan pulang ke kampung halaman
- aku meletakkan nasib kepalaku kepada bantal,
yang selalu ada engkau disana mendekap tangan kapasmu
yang tak pernah selesai dipintal garis-garis terjal
- inilah gunanya mengindahkan begaimana silsilah
kesakitan dibuat, agar kau ingat airmata pernah dikirim
kan pawang hujan sebagai ritual adat.
- aku memang bukan seorang lelaki yang sering
mengkonsumsi ganja atau benda-benda psikotropika,
namun seusai menghisap getah bibirmu, aku paham
bagaimana tersiksanya mencandui sesuatu
- aku menangis, agar kesedihan di dadaku merasa bahagia.
KEPADAMU, KALIMAT-KALIMAT INI LUPUT KULIPAT KE DALAM SURAT
KEPADAMU, KALIMAT-KALIMAT INI LUPUT KULIPAT
KE DALAM SURAT
- hatiku tak mampu lagi kemana-kemana
itu sebabnya aku dan hatiku
ingin selalu ada di kakimu
yang gemar bertamasya
yang berkehendak kemana-kemana
yang leluasa menemui siapapun
yang ingin engkau temui meski
kelak , di persimpangan
kau akan merasa mesra berbincang-bincang
dengan seorang lain yang bukan diriku, sayang !
- suatu ketika aku membayangkan
membuat puisi tentang sebuah
foto di masa lalumu
di sana ada sepiring kecil pisang bakar cokelat,
dua gelas bandrek, gantungan kunci
serta putih kuku-kuku kakimu yang tak berpacar
tahukah kau, setiap memandang semua itu,
lengan masa depan si pengambil gambar
tak juga mau berhenti bergetar
- kau kasta bagi hujan detak yang hidup
menghadap jantungku yang kiblat
tak mudah dijangkau,
meski telah berpayah aku meninggikan
seluruh yang tangga dari jurang kepalaku
demi menggalah buah-buah yang memilih
hijrah di sepanjang pantai telapak kakimu yang
mentah dan basah
-katamu cinta adalah ibu jari yang tegas
mencurahkan tanda tangan tiap kali datang
padanya perjanjian -perjanjian
mestinya kau yakin, mataku jauh lebih burung dara
untuk menerbangkan seluruh janji hari sabtu
agar sampai ke gemetar bibirmu
sebab dalam hujan, aku leluasa menjadi petir
yang engkau tunggu kilatnya dengan seluruh
degup khawatir
- dari semua benda-benda yang selama
ini tertarik untuk terus menerus jatuh
dan menujah ke bumi,
cuma aku yang ingin menerjunkan diriku
ke dalam gravitasi matamu,
sebagai selipat malam minggu yang berdoa
agar terus menjelma insomnia di sana
- ah, engkau tahu bahwasanya penyair,
selalu mahir memperumit perihal-perihal
yang sebenarnya sungguh banal
dan semata belaka!
itu sebabnya sebelum pergi
kau berulangkali menyarankanku
agar menjadi penyiar radio saja !
AF Kurniawan-LACIKATA
Semarang 30 April 2011
* sajak ini salah satu sajak yang saya bacakan pada Launching Komunitas LACIKATA di jalan stonen 29
KE DALAM SURAT
- hatiku tak mampu lagi kemana-kemana
itu sebabnya aku dan hatiku
ingin selalu ada di kakimu
yang gemar bertamasya
yang berkehendak kemana-kemana
yang leluasa menemui siapapun
yang ingin engkau temui meski
kelak , di persimpangan
kau akan merasa mesra berbincang-bincang
dengan seorang lain yang bukan diriku, sayang !
- suatu ketika aku membayangkan
membuat puisi tentang sebuah
foto di masa lalumu
di sana ada sepiring kecil pisang bakar cokelat,
dua gelas bandrek, gantungan kunci
serta putih kuku-kuku kakimu yang tak berpacar
tahukah kau, setiap memandang semua itu,
lengan masa depan si pengambil gambar
tak juga mau berhenti bergetar
- kau kasta bagi hujan detak yang hidup
menghadap jantungku yang kiblat
tak mudah dijangkau,
meski telah berpayah aku meninggikan
seluruh yang tangga dari jurang kepalaku
demi menggalah buah-buah yang memilih
hijrah di sepanjang pantai telapak kakimu yang
mentah dan basah
-katamu cinta adalah ibu jari yang tegas
mencurahkan tanda tangan tiap kali datang
padanya perjanjian -perjanjian
mestinya kau yakin, mataku jauh lebih burung dara
untuk menerbangkan seluruh janji hari sabtu
agar sampai ke gemetar bibirmu
sebab dalam hujan, aku leluasa menjadi petir
yang engkau tunggu kilatnya dengan seluruh
degup khawatir
- dari semua benda-benda yang selama
ini tertarik untuk terus menerus jatuh
dan menujah ke bumi,
cuma aku yang ingin menerjunkan diriku
ke dalam gravitasi matamu,
sebagai selipat malam minggu yang berdoa
agar terus menjelma insomnia di sana
- ah, engkau tahu bahwasanya penyair,
selalu mahir memperumit perihal-perihal
yang sebenarnya sungguh banal
dan semata belaka!
itu sebabnya sebelum pergi
kau berulangkali menyarankanku
agar menjadi penyiar radio saja !
AF Kurniawan-LACIKATA
Semarang 30 April 2011
* sajak ini salah satu sajak yang saya bacakan pada Launching Komunitas LACIKATA di jalan stonen 29
PESAN-PESAN PENDEKMU YANG MEMANJANG DI SAJAKKU
PESAN-PESAN PENDEKMU YANG MEMANJANG DI SAJAKKU
RD
/sudah berapa waktu kita tak bersapa, apa kabarmu, jantungku?/
jariku lantas kembali mengingat
terakhir irisan ini menjadi semburat yang aku catat
di kulit buah pir kuning yang jatuh pucat
buah yang menjenguk ranjang tubuhku
setelah bertahun-tahun sakit dan berkarat
dengan apa lagi mampu kukecup masa lalu yang pisau
engkau menduganya telah bisa mengupas
seluruh dering waktu di jantungku,
jantung yang tiap senja bertumbuh saja kilaunya
penuh kumparan kabel tembaga.
melilit jariku, yang menunjuk-nunjuk mimpi di keningmu
/kapan mataku menemukanmu lagi di kota ini ?/
garis di peta itu kelewat ungu bagi malam mataku
garis yang memangkas tiap sungai,
lajur bening yang semestinya akan mengantarku,
menjadi tetamu, menjadikan dadamu bunga,
penampung segala yang madu.
tapi sungguh, Tuhan tak pernah mengubah
satu dari kita menjadi kupu-kupu
mengenangmu adalah membaca
peta kota yang pandai menanam jarak dan
sebuah musim hujan.
deras dan dirimu terus menerus berbenturan
menetaskan beribu telur ikan
ikan-ikan yang sebelum membesar akan tenggelam
tak tahu cara berenang tersebab engkau
lupa meniup menitipkan sekantung insang,
bersamaan, aku membalik tiap arah kenyataan
/ maafkan, maafkan aku, jantungku !/
sejak kau kirim hujan
yang bercermin di kamar jantungmu,
tubuhku kian digerogoti gerigi duri
berputar kencang, membangun sarang
aku sibuk menyibakkan, rungkut kesunyian
menggali parit, mendirikan pagar
kurasa yang berkubang itu tak mudah kering
lumpur akan selalu basah oleh bibir
bagaimana aku melupakanmu, kau melupakan aku
jika sampai saat ini kita -- aku kau--
terus bertanya pada Tuhan bagaimana caranya?
semarang februari 2011
Sihir. Saya, kamu, dan sihir itu
~Atau jangan jangan kamu, yang menyihir saya jadi babi? Udah babi, buta lagi. Tapi tak perlu berdebat, ini adil ato tidak Na,ini imbang ato timpang. Kamu tetep aja sihir babi, yang selalu saya rapal malam malam deket kolam. Nungguin kamu jadi potongan bulan. Jauh. Iya. Ironis. Iya. Mustahil? Ntar dulu, itu hal yang laen yang tak bisa saya jawab buru buru.
Babi.Sihir. Potongan bulan. Kolam.
Kelak Na, kalo bulan keliatan, aku mesti kemana ? Terbang ato berenang ?~
Babi.Sihir. Potongan bulan. Kolam.
Kelak Na, kalo bulan keliatan, aku mesti kemana ? Terbang ato berenang ?~
OH TOLONG , SAYA INSOM-INA !
~Mata saya kamu.
Idung saya kamu.
Telinga saya kamu.
Kulit saya kamu.~
kamu siapa sih ?
catatan : insom-ina, bukan penyakit biasa.
Idung saya kamu.
Telinga saya kamu.
Kulit saya kamu.~
kamu siapa sih ?
catatan : insom-ina, bukan penyakit biasa.
Mampukah kita Ina
ssssttt, udaaaah, jangan lagi meriang meriang,
makin kurus tuh badan, yang ada sakit sakitan mulu
tiap malem ngengigauin imam,
seandainya datang imam, yang bisa memimpin kamu sembahyang.
sambil nunjuk nunjukkin 3 jari aku bilang :
sebentar lagi kok,
cuman tinggal segini doang.
lagian kamu udah tau kan bagaimana cara " meng IKHLASKAN " ?
bebasin diri , merdekain hati.
ia tahu, masing masing nama kita ngga geser kemana-mana, ina.
ia tahu takaran paling proporsional ntu kek apa.
katamu
kamu ingin masuk ke daunku dengan tubuh yang lebih utuh,
kamu bilang agar aku makin hijau dan tumbuh.
katamu kamu ingin masuk ke nektarku
menjadi madu paling muda,
mencintaiku lagi sebagaimana mula.
malu mengungkapkan sesuatu.
iiihhhh, gemasnya rengkuhku pada tengkukmu !
dan aku,
semungkin diriku dalam yakin.
ringan, sekertas angan yang tiap malam dikirim angin.
masuk saja.
aku juga akan masuk ke dalam suaramu menjadi lagu.
aku akan masuk ke lagumu menjadih kisah.
aku akan masuk ke kisahmu menjadi airmata.
setelah menjadi airmata, aku ingin membangun rumahku disana.
setelah itu aku tak ingin menjadi apa apa lagi.
selain mata dari kisah yang buta.
gb diambil dari sini
ulul : saksi mata (UN) reality show !
parah banget pokoknya ! parah parah parah parah !
ngeri banget kalo nginget kejadian kemaren, siapa lagi kalo ngga kerena ulah kakakku yang batman itu, aku yang keseret jadi korban juga.
kronologi :
14 pebruari. 13:30
pulang sekolah, sengaja aku tuh ngga ikutan ekskul pencaksilat, cuma karena pengin ikut kakak yang katanya dah janji mau ngantar si mbak, ke stasiun. ini karena kejadian kemarin, aku ngerasa di bohongin, katanya si mbak bakal di ajak kerumah, ternyata enggak, dan kalian tau alasanya ? bokapnya temen si mbak ngga ngebolehin, tamu anaknya dibawa orang asing. takut di culik katanya ! terus terang aja aku gondok ngga ketulungan, pengen banget ngeluarin semua jurus pencak silatku, aku ngga terima kakakku di sangka preman ! mentang mentang sekarang dia lagi gandrung ama potongan rambut plontos dengan variasi 3 garis di sisi kananya itu. aku ngga terima ! mungkin ini karena banyaknya kasus anak hilang di tipi tipi,.... auh ah.
14:05
makan. nyelonjorin kaki. tapi langsung kepikiran buat nagih janji. kakakku dateng nyodorin ponsel ,
" ada yang mau ngomong "
" siapa ?"
" tau tuh....." dia melengos ke arah yang lain di dinding. nyebelin banget !
" asalamualikum, siapa ya ?
....
" ini ulul ya ?"
" bukan. ini putri dugong !.
kok ngga jadi mampir kesini sih, katanya , mbak di semarang, udah ulul tungguin mpe sore kemarin,..."
telepon akhirnya berakhir dengan keputusan bulat pokoknya aku bakal ikut ke stasiun. aku pengin.aku harus turut !
15:45
mandi. mengenakan pakian kesukaan, plus kerudung hijau pupusku, ku patut diriku di cermin. lumayan, ga telalu centil, tapi juga ngga terlalu keibuan. ternyata aku gadis yang cantik.
kkkkaaaakk, buruuuan mandiiiiii ! ulul da ready to shoooowww !
kakak yang masih asyik ama gorengin mendoan di dapur, menoleh,
jam berapa sih lul, jadwalnya tar kan 5 !
cepeeetaaaaaaaaaaan !
mandi juga dia akhirnya.
16:35
motornya kotaro minami di keluarin dari kandang. kami berangkat dengan tekad bulat setelur telurnya.
stasiun poncol 16:50
dan disinilah kesmrawutan itu dimulai.
dari jalan depan setasiun yang macet pol lantaran jalur yang dua arah, parkir masuk yang bener-bener gila susahnya. kau dan kakakku mandi keringat duluan.
pak, keberangkatan kereta yang jurusan Tegal udah siap ?
kat kakakku pada penjual tiket.
bla bla bla, suasana riah membuatku jadi kyak ngedenger suara suara di pilem kartun. berisik ngga jelas.
ponsel kakak berdering di tasku,
buka aja Lul, kakakku mulai cemas.
mas adhe da di depan kereta.
kakak langsung menyambar ponsel, dia calling...
Ya, adhe ada di posiisiii sebelah mannnaaaaa, haloooo, suaranya ngga jelassss, apppaaaa, sebentar, sebentar? peron masuk ? hah, lho adhe udah di kereta, lha.... Pet !
ketegangan naek tensinya, tau tau tangan kakak menyambar lenganku.
" Lul, buru akh, kita bertindak, mbak udah naek kereta "
kami berlari menuju pintu peron.
lho mas, mas, sama adik ini mau kemana ? dua satpam langsung mencekal lenganku ma lengan kakak.
mau nyariin penumpang pam, dah telat niih,
kata kakak gusar sambil ngelepasin diri, aku ikut berontak.
ngga boleh mas, ngga boleh !
ah my god, baru aku tahu kami masuk di peron sang salah, masuk lewat pintu keluar ! aku menyenggol lengan kakak dan melirik ke atas, kami cepat menatap kilat tulisan ' PINTU KELUAR PENUMPANG'
ngga ada waktu kak, buat balik nyari peron masuk !
kami lari ! kabur !
satpam lari ngejar !
untung, dua satpam itu ngga terus nguntit kami.
ha hah huh hah.
paru paruku seret diajak kayak beginian.
kami udah ada di dalam stasiun. disini ada tiga kereta siap berangkat
huff, yang mana ?!
ada sms lagi
ada telepon masuk, kakak menyahut.
yang mana ? jalur berapa ? apa ngga jelas, oya, ya, jaluuurr saaatuuuu ? gerbong berapaaaa ? haaaduh, malah ngga tau gebongnya, yaudah tungggu di dsitu yip cariin... !!
aku di geretnya lagi, impossiible thing ! nyariin satu wajah di antara peumpang yang udah membludak gini, tiap gerbong penuh orang-orang berdiri, leherku pegel, dari tadi mendongak jendela yang ukuranya dua kali tinggi badanku.
yaaa Tuuuhaaaaaannn,
suara petugas pake acara berkoar koar...
PERHATIAN PERHATIAN, PENUMPANG KERETA API JURUSAN TEGAL AKAN....
huh !!!
kakakku meledak juga akhirnya, udah dua kereta di jelajahi, ngga ada hasilnya . dia nendang nendang tong sampah si deket bangku tunggu.
mas, adhe di jalur satu gerbong nomer dua.
kakakku semangat lagi.
dan inilah saat saat paling gila yang pernah aku saksiin. Dia nekat bergelantungan di jendela dan memasukkan kepalanya ke dalam. SATU PER SATU JENDELA DI MASUKIN DARI GERBONG AWAL SAMPE AKHIR SAMBIL BEGELANTUNGAN KAYAK MONYET. aku yang ngeri sendiri, jelas aja , para penumpang pada takut kepala plontos kakak nongol di jendela mereka , sambil toleh kanan kiri.
dan akhirnya....
tiga satpam berlari ngampirin kami, kutarik aja lengan kakak,
Kak, satpam kak !
bodoh ah !
satu satpam negeluarin petungan, pantat kakakku di hajarnya beberapa kali ,
heh monyet turun ! ngapain kamu ! mau jadi Bonek ?! patah semua jendelanya kamu gandulin kayak gitu, dasar goblok ! kamu nyari siapa ? mau malakin orang ?
kayaknya kakak udah ngga peduli, dia cuma meloncat turun dan menyeretku pergi, masuk ke kereta dan menyibak tubuh tubuh padat , besar dan rapat milik orang-orang yang berdiri memenuhi gerbong.
20 menit sudah kami kayak orang gila di sini. sampai akhirnya pas kakak dah mau turun dari gerbong ada yang menarik jaketnya,
mas gundul ! mas nyari ceweknya yang ini, ya , ini , ini, mbaknya yang ini dari tadi tereak terak,....
wanita itu meraih lengan seseorang dan,... ah, si mbak nglambain tangan ! kakakku lansung naik kereta lagi, aku di belakangnya.
dan pertemuan itu, yang cuma beberapa menit itu, membuatku merinding. aku memang masih kecil, belum tau yang namanya hal-hal berbau cinta, tapi kali ini, meski banyak orang, berhimpitan, kakak meraih tangan si mbak, nyerain bungkusan yang entah apa, dan bicara sesuatu , mengusap wajah mbak lembut.
mas mana si ulul mas ?
apa ?
ulul, ulul mana ?
aku merangsek melewati orang orang.
mbak,....
jahat banget sih ngga ke rumah...
aku lansunng meraih tanganya, menciumnya, kemudian memeluk tubuhnya.
ngga ada waktu lagi, bahkan buat sekadar nangis. aku ngga kuat.ngeliatin kakakku yang begitu gila hari ini.
kami turun tanpa menoleh.
di luar gerbong, kakak langsung memundiku ke bahunya, berjalan, aku duduk di bahunya , sambil mengidarkan pandangan. melambaikan tangan. orang orang di kereta pada senyam senyum. mungkin orang menyebut kakakku orang gila abad 22, tapi aku salut ama kegilaanya, hari ini, aku belajar mengenal berjuang itu kayak apa.
huf, selamat jalan mbak, hati-hati ya,...
andai ini reality show,
setelah acara ini pasti akan di tutup dengan theme song nya ungu yang kayak gini :
kau mimpi mmpiku,
cinta gilaku, hanya padamu.
..... kau belahan jiwa,
cinta membara,
tiada tara.......
ngeri banget kalo nginget kejadian kemaren, siapa lagi kalo ngga kerena ulah kakakku yang batman itu, aku yang keseret jadi korban juga.
kronologi :
14 pebruari. 13:30
pulang sekolah, sengaja aku tuh ngga ikutan ekskul pencaksilat, cuma karena pengin ikut kakak yang katanya dah janji mau ngantar si mbak, ke stasiun. ini karena kejadian kemarin, aku ngerasa di bohongin, katanya si mbak bakal di ajak kerumah, ternyata enggak, dan kalian tau alasanya ? bokapnya temen si mbak ngga ngebolehin, tamu anaknya dibawa orang asing. takut di culik katanya ! terus terang aja aku gondok ngga ketulungan, pengen banget ngeluarin semua jurus pencak silatku, aku ngga terima kakakku di sangka preman ! mentang mentang sekarang dia lagi gandrung ama potongan rambut plontos dengan variasi 3 garis di sisi kananya itu. aku ngga terima ! mungkin ini karena banyaknya kasus anak hilang di tipi tipi,.... auh ah.
14:05
makan. nyelonjorin kaki. tapi langsung kepikiran buat nagih janji. kakakku dateng nyodorin ponsel ,
" ada yang mau ngomong "
" siapa ?"
" tau tuh....." dia melengos ke arah yang lain di dinding. nyebelin banget !
" asalamualikum, siapa ya ?
....
" ini ulul ya ?"
" bukan. ini putri dugong !.
kok ngga jadi mampir kesini sih, katanya , mbak di semarang, udah ulul tungguin mpe sore kemarin,..."
telepon akhirnya berakhir dengan keputusan bulat pokoknya aku bakal ikut ke stasiun. aku pengin.aku harus turut !
15:45
mandi. mengenakan pakian kesukaan, plus kerudung hijau pupusku, ku patut diriku di cermin. lumayan, ga telalu centil, tapi juga ngga terlalu keibuan. ternyata aku gadis yang cantik.
kkkkaaaakk, buruuuan mandiiiiii ! ulul da ready to shoooowww !
kakak yang masih asyik ama gorengin mendoan di dapur, menoleh,
jam berapa sih lul, jadwalnya tar kan 5 !
cepeeetaaaaaaaaaaan !
mandi juga dia akhirnya.
16:35
motornya kotaro minami di keluarin dari kandang. kami berangkat dengan tekad bulat setelur telurnya.
stasiun poncol 16:50
dan disinilah kesmrawutan itu dimulai.
dari jalan depan setasiun yang macet pol lantaran jalur yang dua arah, parkir masuk yang bener-bener gila susahnya. kau dan kakakku mandi keringat duluan.
pak, keberangkatan kereta yang jurusan Tegal udah siap ?
kat kakakku pada penjual tiket.
bla bla bla, suasana riah membuatku jadi kyak ngedenger suara suara di pilem kartun. berisik ngga jelas.
ponsel kakak berdering di tasku,
buka aja Lul, kakakku mulai cemas.
mas adhe da di depan kereta.
kakak langsung menyambar ponsel, dia calling...
Ya, adhe ada di posiisiii sebelah mannnaaaaa, haloooo, suaranya ngga jelassss, apppaaaa, sebentar, sebentar? peron masuk ? hah, lho adhe udah di kereta, lha.... Pet !
ketegangan naek tensinya, tau tau tangan kakak menyambar lenganku.
" Lul, buru akh, kita bertindak, mbak udah naek kereta "
kami berlari menuju pintu peron.
lho mas, mas, sama adik ini mau kemana ? dua satpam langsung mencekal lenganku ma lengan kakak.
mau nyariin penumpang pam, dah telat niih,
kata kakak gusar sambil ngelepasin diri, aku ikut berontak.
ngga boleh mas, ngga boleh !
ah my god, baru aku tahu kami masuk di peron sang salah, masuk lewat pintu keluar ! aku menyenggol lengan kakak dan melirik ke atas, kami cepat menatap kilat tulisan ' PINTU KELUAR PENUMPANG'
ngga ada waktu kak, buat balik nyari peron masuk !
kami lari ! kabur !
satpam lari ngejar !
untung, dua satpam itu ngga terus nguntit kami.
ha hah huh hah.
paru paruku seret diajak kayak beginian.
kami udah ada di dalam stasiun. disini ada tiga kereta siap berangkat
huff, yang mana ?!
ada sms lagi
ada telepon masuk, kakak menyahut.
yang mana ? jalur berapa ? apa ngga jelas, oya, ya, jaluuurr saaatuuuu ? gerbong berapaaaa ? haaaduh, malah ngga tau gebongnya, yaudah tungggu di dsitu yip cariin... !!
aku di geretnya lagi, impossiible thing ! nyariin satu wajah di antara peumpang yang udah membludak gini, tiap gerbong penuh orang-orang berdiri, leherku pegel, dari tadi mendongak jendela yang ukuranya dua kali tinggi badanku.
yaaa Tuuuhaaaaaannn,
suara petugas pake acara berkoar koar...
PERHATIAN PERHATIAN, PENUMPANG KERETA API JURUSAN TEGAL AKAN....
huh !!!
kakakku meledak juga akhirnya, udah dua kereta di jelajahi, ngga ada hasilnya . dia nendang nendang tong sampah si deket bangku tunggu.
mas, adhe di jalur satu gerbong nomer dua.
kakakku semangat lagi.
dan inilah saat saat paling gila yang pernah aku saksiin. Dia nekat bergelantungan di jendela dan memasukkan kepalanya ke dalam. SATU PER SATU JENDELA DI MASUKIN DARI GERBONG AWAL SAMPE AKHIR SAMBIL BEGELANTUNGAN KAYAK MONYET. aku yang ngeri sendiri, jelas aja , para penumpang pada takut kepala plontos kakak nongol di jendela mereka , sambil toleh kanan kiri.
dan akhirnya....
tiga satpam berlari ngampirin kami, kutarik aja lengan kakak,
Kak, satpam kak !
bodoh ah !
satu satpam negeluarin petungan, pantat kakakku di hajarnya beberapa kali ,
heh monyet turun ! ngapain kamu ! mau jadi Bonek ?! patah semua jendelanya kamu gandulin kayak gitu, dasar goblok ! kamu nyari siapa ? mau malakin orang ?
kayaknya kakak udah ngga peduli, dia cuma meloncat turun dan menyeretku pergi, masuk ke kereta dan menyibak tubuh tubuh padat , besar dan rapat milik orang-orang yang berdiri memenuhi gerbong.
20 menit sudah kami kayak orang gila di sini. sampai akhirnya pas kakak dah mau turun dari gerbong ada yang menarik jaketnya,
mas gundul ! mas nyari ceweknya yang ini, ya , ini , ini, mbaknya yang ini dari tadi tereak terak,....
wanita itu meraih lengan seseorang dan,... ah, si mbak nglambain tangan ! kakakku lansung naik kereta lagi, aku di belakangnya.
dan pertemuan itu, yang cuma beberapa menit itu, membuatku merinding. aku memang masih kecil, belum tau yang namanya hal-hal berbau cinta, tapi kali ini, meski banyak orang, berhimpitan, kakak meraih tangan si mbak, nyerain bungkusan yang entah apa, dan bicara sesuatu , mengusap wajah mbak lembut.
mas mana si ulul mas ?
apa ?
ulul, ulul mana ?
aku merangsek melewati orang orang.
mbak,....
jahat banget sih ngga ke rumah...
aku lansunng meraih tanganya, menciumnya, kemudian memeluk tubuhnya.
ngga ada waktu lagi, bahkan buat sekadar nangis. aku ngga kuat.ngeliatin kakakku yang begitu gila hari ini.
kami turun tanpa menoleh.
di luar gerbong, kakak langsung memundiku ke bahunya, berjalan, aku duduk di bahunya , sambil mengidarkan pandangan. melambaikan tangan. orang orang di kereta pada senyam senyum. mungkin orang menyebut kakakku orang gila abad 22, tapi aku salut ama kegilaanya, hari ini, aku belajar mengenal berjuang itu kayak apa.
huf, selamat jalan mbak, hati-hati ya,...
andai ini reality show,
setelah acara ini pasti akan di tutup dengan theme song nya ungu yang kayak gini :
kau mimpi mmpiku,
cinta gilaku, hanya padamu.
..... kau belahan jiwa,
cinta membara,
tiada tara.......
14 pebruari, nanti di sebuah stasiun kereta.
14 pebruari.
ketika hujan kecil kecil mengguyur kota tua.
ketika bulatan matahari remang dipintal jaring laba-laba.
menyisakan siluetmu siluetku diantara pikuk pekik dari lidah jutaan manusia yang hendak meliburkan diri. aku akan mengantarmu ke stasiun itu, menyaksikan gerakan lambat tanganmu yang di bawa kecepatan jendela jendela pipih di kereta. sebelum berbalik nanti menyusun kaki kaku ku dalam ngeri sendiri.
mungkin dari jendela nanti kamu akan berteriak,
kekasih....siapa sebenarnya yang menciptakan pertemuan ini ?
akukah ?
kamukah ?
waktu atau keajaiban galaksi ?
mungkin aku akan menjadi nekat dan berlari mensejajari keretamu, sembari memekik, mengirim getaran ultrasonik ke telingamu yang sedikit tertutup kibaran rambut ,
kitalah itu , yang batu dalam sabar menelan ratusan kilometer demi kilo meter,
hingga kini, atau tadi, bibirku bibirmu, cuma membutuhkan inci untuk bertatap, untuk saling menjawab. hingga saat aku berharap menghadirkan wajahmu aku tak perlu menengok dan menjulurkan perasaan gigil ini kemana mana.
aku berlari secepat keretamu dan berharap masih bisa menyentuh lenganmu seperti semalaman, memberi rasa aman perihal ketidak mengertian ini. kamu seperti ingin menangis, tapi kurasa aku tahu, tangisan kita adalah jerit paling bahak dari lagu lagu menyedihkan.
keheningan ini
kesenyapan ini.
aku menekuk lututku ke dalam tabung napasku yang habis, dan mungkin keretamu akan menjadi titik di kejauhan.
berbalik lagi tubuhku ke stasiun, tempat orang-orang membicarakan hari libur, dan jari lentik yang sedang berebut menalikan pita pita pada cokelat di toko serba ada. hari yang sebagian orang lagi saling bertukar tawa di restoran restoran cina, berhiaskan lampion dan hio sua. hari ini orang orang berbagi kebahagian.
dan jarak ini, membagikan lagi pada kita bagaimana memagut kesedihan. sangat adil, sepruh tangismu ada di mataku, separuh pedihku menempel di pipimu.hujan masih kecil-kecil di kota tua.
kamu tak lihat bagaimana aku begitu sendiri ?
nb ; terimakasih, kamu tak berubah sedikitpun dalam memahamiku.
ketika hujan kecil kecil mengguyur kota tua.
ketika bulatan matahari remang dipintal jaring laba-laba.
menyisakan siluetmu siluetku diantara pikuk pekik dari lidah jutaan manusia yang hendak meliburkan diri. aku akan mengantarmu ke stasiun itu, menyaksikan gerakan lambat tanganmu yang di bawa kecepatan jendela jendela pipih di kereta. sebelum berbalik nanti menyusun kaki kaku ku dalam ngeri sendiri.
mungkin dari jendela nanti kamu akan berteriak,
kekasih....siapa sebenarnya yang menciptakan pertemuan ini ?
akukah ?
kamukah ?
waktu atau keajaiban galaksi ?
mungkin aku akan menjadi nekat dan berlari mensejajari keretamu, sembari memekik, mengirim getaran ultrasonik ke telingamu yang sedikit tertutup kibaran rambut ,
kitalah itu , yang batu dalam sabar menelan ratusan kilometer demi kilo meter,
hingga kini, atau tadi, bibirku bibirmu, cuma membutuhkan inci untuk bertatap, untuk saling menjawab. hingga saat aku berharap menghadirkan wajahmu aku tak perlu menengok dan menjulurkan perasaan gigil ini kemana mana.
aku berlari secepat keretamu dan berharap masih bisa menyentuh lenganmu seperti semalaman, memberi rasa aman perihal ketidak mengertian ini. kamu seperti ingin menangis, tapi kurasa aku tahu, tangisan kita adalah jerit paling bahak dari lagu lagu menyedihkan.
keheningan ini
kesenyapan ini.
aku menekuk lututku ke dalam tabung napasku yang habis, dan mungkin keretamu akan menjadi titik di kejauhan.
berbalik lagi tubuhku ke stasiun, tempat orang-orang membicarakan hari libur, dan jari lentik yang sedang berebut menalikan pita pita pada cokelat di toko serba ada. hari yang sebagian orang lagi saling bertukar tawa di restoran restoran cina, berhiaskan lampion dan hio sua. hari ini orang orang berbagi kebahagian.
dan jarak ini, membagikan lagi pada kita bagaimana memagut kesedihan. sangat adil, sepruh tangismu ada di mataku, separuh pedihku menempel di pipimu.hujan masih kecil-kecil di kota tua.
kamu tak lihat bagaimana aku begitu sendiri ?
nb ; terimakasih, kamu tak berubah sedikitpun dalam memahamiku.
Langganan:
Komentar (Atom)
