Tampilkan postingan dengan label Bukan puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukan puisi. Tampilkan semua postingan

Melayang di Atas Pagi

Cuma tersisa cuilan telur bacem di dagumu 
dan waktu masih berpikir berapa helaan 
bisa direken untuk menyaksikan 
yang kecil mengering 
dan jatuh
 
Jalanan sebentar lagi bakal membuka amarahnya 
Mengembalikan lagi bau oli, dentang jam sebuah gereja, 
matahari putih setengah delapan, juga rasa lapar 
yang jadi sok tahu akan kemana 
jika hendak mengejar kita
 
Di samping pancuran (aku ragu apakah kelak akan ada 
di samping kiri atau di samping kanan) yang piawai menarikan 
kecipak beningnya itu geram atau gerimis 
sama-sama susah kita pahami
 
Tapi seseorang-- yang kemanapun kita berpindah 
akan melulu berdiri di tengah-tengah 
dengan lagak waskita menunjuk bergantian 
atas dan bawah, bawah dan atas, atas dan bawah 
dan begitu terus sampai salah satu dari kita 
ada yang maju menampar mulutnya dan berseru 
: kau saja yang ke neraka, heh--
 
Seekor anjing mengendus dan menjilat sekali dua 
jempol kakimu yang berdarah. Ia memimpikan seluruh perjalanan 
milik kota ini berhenti dan mengumpulkan diri 
di koreng yang kekalbasah itu
 
Aku merangkak dan berdiri di tepian zebra cross 
yang garis-garisnya sudah mangkak. Cuma untuk 
menimbang-nimbang--seperti tabiat para pemikir-- 
apakah akan maju atau mundur atau bertahan atau menyerah 
dengan melambaikan tangan di hadapan tiap orang 
yang berhenti dan mendongak ke lampu merah
 
Gayam, 2017

Di Jalan Majapahit No:147



Aku masih mencatatmu
sebagai peluh panas yang sembunyi
di kaos seorang tukang sayur dekat pasar
sebelum jadi penggalan kalimat murung
mesti berkali-kali dibongkar

Hantu atau kerangka bening di masa lalu
atau justru tahi--milik para pengumpat
akan datang dan meminta diri buat jadi bingkai

Aku tiriskan sementara hawa dingin
dari mulut mereka, bau rempah-rempah,
jalur-jalur perdagangan, ombak yang mengancam batu,
jukung-jukung terjungkal, sampai angin puyuh
yang ganas merobeki panji-panji

agar kau sebentar jadi sangsi
kepada tapak tangan mahapatih yang pernah
merogoh dan memecahkan ulu hatinya di sini

Pinggiran aspal baru saja selesai ditambal.
Air menciprat betisku. Sebuah truk
pembawa gelondongan jati lewat.

Tapi kurang-kuranglah dayaku
membuatnya lebih terhormat.

Kekecewaan tak pernah mendapat kata lain.
Kekecewaan tak pernah mendapat kata lain.
Kekecewaan tak pernah mendapat kata lain.

Seperti dalam sebuah warung nasi goreng
yang sempit aku dikepung kata-katamu

Nama Almarhum



Tak kutahu kesungguhannya
Ketika Kau lempar sebelah tanganmu,
Apakah hendak menjaraku
Atau justru sangsi kepada wajah keruhmu
sendiri

Memang sedikit agak menggoyahkan
waktu yang memilih berdiam
di dasar perut kegelapan

Ia sudah tak bisa digunakan seperti halnya
Nama almarhum yang terlanjur dikubur
Di luar pikiran.

(Gayam, 2016)

LANGKAH MUNDUR SEEKOR GAJAH



Kali ini memang ia lulut, tak hendak berkata banyak

Bagaimana subuh tadi keberaniannya dikhianati
hingga rusaklah  semak  terinjak ia yang  terburu-buru
berlarian di setapak pinggiran kali

-- perang sudah purna,

Ekornya melengkung dan jantungnya jadi sunyi
Ketika diulang desis itu lewat lidah si  telik sandi

Semburat cahaya begitu tajam  bagi
Sepasang mata sempitnya
Memang sempat menyanjung retakan tipis
Di gadingnya yang melengkung

“Ke langit, ke langit, kerabatku,penghamba kekuatan,
aduhai yang putih memplak milikmu akan naik
menjadi bintang-bintang”

Kesaksian Kesekian



Dosa  telah memangsa  jarak  kami kepadamu

Kau berpunggung—urung berfirman,
Sehabis menatahkan  pahit di dasar cawan.

Kami yang  lihai mendebat, nekat bertaruh
akan  mengiris daun telinga  jika  ada  
nubuat dari  utusanmu  mengapung di telaga.

MAJIKAN TERHORMAT


Berpupur kilau purnama

kau dekatkan  dirimu

Ke tepi terlapukku



: liang yang justru kau anggap majikan terhormatmu


Keliru jika setelah ini kau berharap

bakal menemukan puncak

yang pernah berjanji  akan

mengangkat pendakianmu

mengganti kepedihanmu

memamerkan  sisa beliungmu



Ciumanku memang  akan sebentar membuatmu  bergetar,

Dua detik di pelupuk mata, tiga detik di cuping telinga

 Yang sungguh  takkan bisa menyelamatkanmu

dari juluran seluruh  tangan liat orang-orang  beriman



“Mari belia, sorga keburu menutup pintunya.”



Gayam, 2016


Mengatasi Langit-langit yang Pendek

Ibu. Ibu. Dunia yang datar, Ibu. Aku dan bayanganku yang tak mampu kaubenci terbaring begitu saja. Mengatasi langit-langit yang pendek. Mengatasi hawa panas yang seakan hendak menggulung detak jantungku. Pejuang apa aku jika setiap orang  datang mengambil jam makan mereka dan leluasa menahan sendok mereka, menusukkan garpu mereka, ke arah perut mereka sendiri. Ibu, di jubin hijau kuamati wajahmu bergerak dan tak bergerak seperti lumut. Terbata-bata mengunggah kata-kata agar bisa jadi bingkai bagi beku wajah-wajah dalam foto keluarga kita.

Semarang, 2015

Sonder Jadi Mimpi

ia menggalurkan pantangan,
selepas jarak kalian oleh waktu
diledakkan

: sebab setiap benda niscaya
juga akan runtuh begitu tapak kita
hendak menaksir bobotnya


di hadapan tahun-tahun yang jatuh
kau kuatkan untuk mendongak
sebagaimana seseorang belajar
menegakkan kabahagiaan
sonder jadi mimpi
yang kilau kekuning-kuningannya
justru menggelapkan kelopak mata
milik para pemanggul petaka

Gayam, 2015

Di Pinggir

sudah ia ulurkan tangan, mengerahkan seluruh yang asing
agar kau terus di pinggir jadi pendatang.

Gayam, 2015

Masa Lalu si Penghamba



Jauh sebelum ribuan bola api  jatuh dari lubang suara nenekku, lama ia jadi pengikut setia kaki jenjangmu yang kau angkat sebelah. Ia tak bisa memaafkan kekeliruan siapa pun kecuali  masa lalu pernah mendatangi dan menjadikanya seorang  tukang tanam. Apa kau tak merasakan takdirnya yang bergetar tiap kali  ia selesaikan sebuah kubangan?

Di dekat lempengan besi yang  bertahun-tahun kemudian  keluarga kami  simpan,   ia terus saja menggumamkan; timun suri  itu, keluwak itu, kailan itu, tak akan bisa mengekalkan mata kakimu yang siang malam bermimpi  dikenakan seorang penari. 

Hujan untuk Seekor Anjing



Jika lubang tanah yang kaugali di belakang rumah
dan rontok separuh bulan Desember  seperti rambutmu
Masih juga tak bisa mendamaikan katup mataku,
aku hendak menyerahkan diri saja.

Tapi bukan ke cermin. Di cermin justru kau
yang akan takluk menyaksikan
kuping panjangku basah dan tertekuk.

Di jalanan becekmu  kerap kuinginkan diriku
lebih menggigil dari siapapun
yang  kautitipi sepasang kaus tangan.

Tapi tak juga ada yang  lekas menggetarkanku
Sebagaimana lonceng gereja, sebagaimana tenggorokan
Mengirimkan iblis ketika kau tertawa.
Bahkan jari-jari tukang sapu, lengan penjual gulali
dan  perempuan pincang yang menjatuhkan
berkali-kali remuk cahaya matanya.

Seolah neraka bisa kita baca dari sana.

Aku tak tertipu karena seperti yang pernah
Kepadaku  kaubentakkan,

Jalanan lurus
Kesiut angin
Serta orang-orang yang memilih
berjalan di sebelah kanan
akan menjadi perumpamaan buruk.

Tapi apa seorang penyair akan mencabut
Taring bacinku?

ke jendela yang bertahun-tahun kau ababi
sambil mengetam mata kau menuliskan
lagi satu-satu  nama saudaramu yang mati.

(Semarang 2015)

TUKANG CUKUR



Kau larang  kami  sebagaimana Khidir  bermata batu
Menghardik  Musa yang lancang bertanya di sebuah petang
Tentang wahyu yang tak juga menghanguskan kepala.

Padahal dengan seluruh cermin kau ajari kami membenci.

Di antara kenyataan yang serba terbalik, aku bertahan
dari godaan sisir setengah centimu yang berjuang agar
 aku dan sahabat-sahabatku  tergelincir dan buta tak lagi bisa
memilih  rupa-rupa pahala.

Taman di Kotamu



Tapi kota dan jarimu sama-sama urung menumbuhkan aku.
Aku terus saja jadi kebencian yang terpendam di pangkal
sebuah taman.

Seorang lelaki tua duduk di atasnya dan ingin mengeluhkan
nyeri rematik, dingin bangku-bangku beton, serta
beberapa puisi buruk yang menyembah pohon-pohon.

PAYUNG DAN HUJAN DI LUKISAN PERTAMAMU



dalam sebentar yang sebenarnya susah diukur
kedalamannya oleh seorang tukang ledeng
kami berdiam mengamati tanganmu yang
sedikit kram dan berhenti menggambar.

tak lagi menampik kata-kata saru keluar
dari orang-orang berleher patah yang kau
buat (yang menyangka akan terus mengucur
mukjizat di kepala mereka lewat sapuan catmu
yang putih mangkak serupa cangkang telur
ayam kampung),

SEEKOR BURUNG DAN SEBINGKAI JENDELA



niscaya ia akan seanteng gundukan terigu
tak mau menyerahkan nama keluarganya
kepadamu

sudah lama--sejak di depan jendelamu
langit januari terlihat terbakar--

ia rahasiakan paruhnya dari ancaman
seluruh timbangan milik mulut
waktu yang barbar.

TANGAN SEORANG CENAYANG


di kejadian ini telapak tangan kasapnya
menutup wajahmu, dan dunia pelan-pelan
terbuka.

kau paham jalan keluarnya dan mulai
berbisik-bisik kepada benda-benda menghitam
bekas disentuh ekor kebencian Kerala.

akan aku ingat sebuah pagi mampu kau saksikan
dirimu sendiri berkata
: peras, peraslah surgaku seperti
sepasang melon busuk ibumu.

PAGI BUTA



aku  memuja  pagi  buta,
yang membangunkanku demi 
bisa  memilah suaramu 
dari alarm  tetangga.

kelak  aku  beritahu diriku.
rindu butuh  jarak  dan  kekosongan.
ia  butuh  memakan keduanya 
demi mengembari betapa
angkuhnya kesakitan

( Agustus, 2014)