Sebuah Bangsal



Dia berbicara tentang kesehatan yang  buruk
Sisa air panas dalam termos
Serta beberapa sanak   hendak menjenguk
Namun tak juga sampai di  pinggiran ranjang

Sementara kau dirawat agar terus sedih
Tak bisa menyaksikan kaki mereka yang pendek.

Mereka memang menyukai tersandung
berkali-kali, kata seorang dokter jaga

“Sebab begitulah tersungkur harus
Mereka letakkan di sisi kiri seorang pencipta rumus,
Penimbang  utang,  juga segala bentuk perumpamaan.”

Mereka tak  sedang  menjauhimu
Meski mereka nanti butuh ratusan tahun
Melakukan perjalanan memutar
Ke gurun-gurun
Ke ladang-ladang
Ke seluruh tanah berlempung

Menemukan  celah tersembunyi yang  dinujumkan
kelak akan melahirkan seorang tukang patri

Demi melekatkan ulang manik-manik  perunggu
Yang pernah disematkan memanjang di bagian tengah
jubah paderimu

Angin—ranting  dadap—bintang-bintang—
Roti tawar—bau  langu  milik leher seorang suster,

Tak sanggup lagi kau tulis sisanya,
Sehabis kau minta dia membuka sedikit jendela.

Gayamsari, 2016-2019

Poire Belle Hélène



Demi  yang menggantung tinggi, putih sunyi
tiap orang akan mati-matian sudi
memanjat seluruh tebing kaca  hendak tahu betapa
mukjizat yang menyusup lewat salib kayu
di ubun-ubun sebuah gereja alangkah menggoda

Tapi barangkali, kau juga  sudah bosan
terhadap kesakitan yang diulang sebagaimana
bulan Desember atau bulan-bulan lain asing
jatuh terpelanting

Sementara sebentang langit  di pagi hari murung
tak bisa menyentuh perangai tanganmu
yang keras kepala memperbesar bara api
di bawah pemanggang roti

Duka masih saja terus menganga
mengolok-ngolok nasib kita, katamu yang lantas
berdiri membersihkan sisa cangkang telur
sembari tetap mengira malam nanti, seusai misa
kita semua akan mati di medan tempur

Aku mengisap kuat-kuat bau pahit panili
yang merembes dari tengkukmu
sebelum nanti dirampas oleh
angin musim dingin yang telah lebih dulu
mengepung kota hingga para tetamu
tak bisa memuji kudapan luhur milikmu

 Semarang, 2019

Tentang Karl



            Aku menunjukkan buku  apa yang  kubaca sebulanan ini pada Fitri, ketika dia bertanya apa yang akan aku tulis untuk agenda Kelab selanjutnya setelah kami semua membaca Vegetarian milik Han Kang. Untuk beberapa saat dia pandangi buku yang kusodorkan. Sampul buku sudah agak kisut di bagian kiri bawah, berpacak gambar separuh badan seorang aki-aki berkumiscambang mengenakan jas. Riwayat Sang Pemikir Revolusioner, tertulis begitu di bawah nama si Tokoh yang dikisahkan oleh buku. Ditulis oleh Isaiah Berlin buku itu rupanya. Siapa itu Isaiah Berlin? Kupikir Fitri bakal bertanya begitu tapi ternyata tidak. Dia meneruskan lempit-lempit baju-baju dan kutang dan cawat dan celana-celana yang sorenya baru diangkat dari tali jemur, sementara aku gagal berolok-olok. Aku pengin dia  bertanya tentang siapa Isaiah Berlin lantas aku akan menjawabnya, penulis dan pemikir terkenal dari seberanglah pokoknya Isaiah Berlin itu.
            Bagi John Elster—orang asing (lagi) yang aku yakin Fitri juga tidak tahu, buku Isaiah ini adalah satu dari dua buku biografi Karl Marx paling apik yang pernah ada. Satu lagi ditulis oleh Rosa Luxemburg, satu lainnya dikarang oleh Leon Trotsky.  Jadi, tulisanku kali  ini tentang Karl Marx?
            Ya, ini tentang Karl Marx. Juga tentang kekeliruan-kekeliruan culunku selama ini.
            Sejak aku kecil sampai akil baligh, nyaris aku melulu dibayangi ketakutan yang timbul dari sensor pengetahuan milik orang-orang sekitarku. Sejak  di sekolah dasar, baik guru-guruku, orang tuaku, tetangga-tetanggaku seperti bersekongkol untuk membuat aturan primitif bersama. Mereka akan menanggungkan dosa besar pada anak-anak mereka yang ingin tahu apa itu Marxis, apa itu Kiri, atau jika ada yang sekadar tanya apa itu kudeta. Kau akan dicap calon penjahat. Kau akan dihakimi seolah kau bromocorah yang ikut-ikutan gerakan terlarang  Partai Komunis Indonesia atau antek PNI. Untuk urusan seperti ini, kau tahu seuprit tentang Bung Karno atau Tan Malaka saja kau sudah dianggap orang yang “berbahaya”.
            Latar penuh halimun macam itulah yang mengantar jalan ketidaktahuanku tentang Karl Marx dan apa-apa yang menjadi buah pikirnya. Sampai aku tamat Sekolah Teknik Mesin-pun di kepalaku cuma bercokol tugu abadi kebebalan: Karl Marx adalah Karl Marx adalah Orang Soviet adalah Orang Komunis adalah Orang keji yang tak punya Tuhan. Kupikir akan lumrah adanya, waktu butuh banyak sekali tetesan airnya buat melunturkan kepandiranku yang kadung mengeras ini.
            Belakangan, ketika segala informasi, referensi, baik dari buku-buku atau omongan orang, atau dari bangku kuliah sudah kudapatkan, aku masih saja tertawa mbedegel, campuran geli dan jengkel karena terus saja menganggap kalau Marx adalah penduduk sebuah kampung di Uni Soviet sana. Sialan.
            Sampai-sampai pada pembacaanku kali ini, aku mesti mengeluarkan stabilo merah, dan menggesutkannya pada lembar halaman 23 di buku untuk menandai bahwa seorang Karl, lahir pada 5 Mei tahun 1818, di sebuah kampung bernama Trier Rheinland, Jerman. (Aku jarang menggunakan alat penanda semisal pulpen atau stabilo ketika menandai buku, karena aku sebagian orang yang percaya kalau buku mestilah bersih dari corat-coret, jika memang tidak perlu dicorat-coret).
            Barangkali, jika kekeliruan menempatkan ingatan ini terjadi pada tempat kelahiran bapakku tak bakal bikin rumit urusan. Tak jadi soal seseorang menyeru bapakku lahir di Pekalongan meskipun faktanya dia lahir di Magelang. Tapi dalam kasus kekeliruanku yang mengingat Karl lahir di Soviet tentu bikin panjang urusan. Jerman dan Soviet terpisah laut dan banyak daratan, dan keliru menempatkan ingatan ini punya konsekuensi besar, yakni juga kekeliruan penempatan sejarah Jerman dan sejarah Soviet utamanya. Goblok sekali aku ini ya.
            Ini genting kupikir. Karena kita mana mungkin meneruskan laju pengetahuan kita, misalnya, lewat Isaiah Berlin aku tahu ternyata bapak dan ibu Karl adalah orang-orang Yahudi tulen. Mereka keturunan rabi ortodoks yang sama halnya seperti orang-orang Yahudi di abad pertengahan, menjadi bagian dari komunitas minor di Jerman hasil diaspora yang mesti bertahan hidup di ghetto-ghetto. Kau bisa bayangkan kekeliruanku juga akan menyeret kekeliruan-kekeliruan lain jika aku punya ingatan Karl adalah seorang laki-laki yang lahir di Soviet! Napoleon Bonaparte tak pernah menguasai Soviet bung dan nona. Karl lahir di antara hiruk-pikuk Jerman ketika kekuasaan Napoleon mulai surup dan gerakan para pemikir Perancis yang radikal mulai merangsek nalar orang-orang Jerman yang jengah kemudian membaiat diri mereka sebagai generasi  Aufklaner. Apa itu artinya? Jika kau salah membuka pintu, maka itu artinya kau juga salah memasuki ruangan dan segala isi di dalamnya.
            Di Jerman, Karl muda tumbuh menjadi laki-laki pengkuh, pendiam, dan tak doyan perempuan tentu saja. Kelak, Karl cuma bisa jatuh hati pada perempuan anak dari tetangganya sendiri yang sering meminjaminya buku-buku. Kehidupan orang tua Karl yang tak kere-kere amat mampu menjaminkan asupan makanan yang membuat tubuhnya montok serta pendidikan layak yang membuat intelektualitasnya memadai. Tak ada kendala berarti untuk urusan makan atau membayar indekos atau membeli buku-buku selama dia mengenyam pendidikan. Semua beres belaka.
            Di Universitas Berlinlah Karl turut serta dalam pesta pora intelektualitas bersama-sama dengan para mahasiswa lain. Jerman kala itu sedang dilanda mabuk  pemikiran Hegel, dan muda-mudinya begitu berapi-api bahwa semata-mata filsafat Hegelianlah yang bakal beri mereka cahaya petromaks menghadapi semakin  suramnya peradaban. Dengan dialektika Hegelian, orang-orang di sana berbondong-bondong ingin lepas dari ilusi-ilusi yang diciptakan oleh para penguasa dan pemuka agama. Tapi perkara menjadi seorang rasionalis sebelum nantinya materialis, Karl sebenarnya sudah ketularan kakeknya sendiri jauh-jauh hari. Sebagai keturunan Yahudi yang mengalami banyak sekali perlakuan tidak adil, Keluarga Marx memang sudah tidak percaya pada iming keselamatan yang dijanjikan oleh pihak kerajaan (waktu itu  Prussia, kemudian Perancis) serta para pemuka spiritual baik para rabi maupun pendeta yang pada waktu itu memang dipenuhi borok korup, menindas rakyat jelata, memanfaatkan dogma-dogma agama untuk melanggengkan previlise mereka sendiri. Muak dengan semua kebobrokan di sekitar, keluarga Heinrich Marx ini memilih memeluk nalar dan kemanusiaan sebagai agama keluarga mereka.
            Aku pikir kita sudah kerap dengar seuprit kata-kata Karl “agama adalah candu”. Politik negara inilah yang memilintirnya sedemikian rupa, hingga tafsir yang bisa kita ambil adalah seluruh pemikiran Karl tabu karena Karl menghina-dinakan agama. Kita diberi dongeng-dongeng tentang kekejian dan kemerosotan moral jika kita dekat-dekat dengan apa yang Karl pikirkan. Di masa-masa orde baru khususnya,  melihat sendiri dari dekat konteks sejarah bagaimana Karl Marx mengecam agama adalah sebuah kemewahan yang cuma bisa dicecap sembunyi-sembunyi.            
            Aku sendiri baru bisa leluasa membaca Karl dan pemikirannya beberapa tahun silam. Kran kebebasan yang katanya dibuka paska kejatuhan Suharto itu telek minti jika berhadapan dengan sensor otomatis yang kadung beroperasi di kepalaku. Jadi beginilah imbasnya. Aku jadi telat memiliki pengatahuan tentan Karl.
            Volume pertama dari Das Kapital akhirnya terbit tahun 1867, dan aku baru tahu. Meskipun aku juga belum membaca isi Das Kapital, paling tidak sementara ini akhirnya aku tak keliru menyangka, buku Das Kapital adalah buku Panduan Mendapatkan Jodoh Dunia Akhirat. Sebab di kata pengantar Das Kapital Karl menegaskan tujuan buku tersebut ia tulis “untuk menemukan hukum ekonomi dalam gerakan masyarakat modern”. (Anjing, aku pernah lihat di salah satu komentar fesbuk, bahwa mempelajari Das Kapital bisa menjeremuskan kita ke neraka).
            Aku juga baru tahu, lewat buku ini, bahwa draft pertama dari Manifesto ditulis pertama-tama secara kasar justru oleh Engels sebelum dipoles oleh Karl, karena Karl merasa tulisan Engel terlalu mendayu-dayu, tak ada elan vital di kalimat-kalimatnya. Bedebah nian, yang aku tahu adalah jika kau buruh, kau harus hapal bait terakhir dari Manifesto “...seluruh buruh di dunia, bersatulah.”
Tapi dari banyak sekali ketidaktahuanku tentang Karl, paling membuatku terenyuh sendiri adalah ketika dikisahkan bahwa Karl adalah seorang bibliomania. Dia keranjingan bacaan sedari kecil. Sejak dia berkenalan dengan tetangganya yang meminjami buku-buku, di sekolahan sampai masa remaja, tak pernah dia berjauh dari bacaan. Tidak di Jerman, tapi ketika dia akhirnya menjadi eksil di Perancis lantas tersingkir ke Inggris, si bung pendiam dan pendendam hidup ini kalap terus dalam membaca. Dikisahkan, selama tiga puluh tahun lebih dia habiskan usianya di London, orang-orang yang berkarib dengan dirinya selalu bisa melihat Karl akan datang masuk ke salah satu ruangan perpustakaan British Mouseum pada pukul tujuh pagi dan terlihat keluar dari sana pada pukul sembilan malam.  Karl kalap tidak hanya pada buku-buku pemikiran dan ekonomi dan politik. Apa saja dia baca selagi itu terbuat dari huruf. Dia membaca Gogol, membaca Pushkin, dan begitu menyanjung Balzac setelah di masa-masa mudanya dulu sempat hapal di luar kepala karya-karya Shakeaspeare. Karl bahkan membebek trik-trik yang digunakan Hegel untuk menjaga ingatannya agar tidak luntur dengan mengahapalkan stanza dari sajak-sajak klasik. Karl mungkin rela tubuhnya digerogoti radang selaput dada, tapi tidak dengan ketajaman berpikirnya. Bahkan, aku menganggapnya sebagai klimaks penceritaan Isaiah Berlin, Karl meninggal dunia dalam kondisi tubuh terduduk di meja belajarnya. Itu terjadi pada 14 Maret 1883.[]


Ditulis dari pembacaan buku Karl Marx: Riwayat Sang Pemikir Revolusoner, ditulis oleh Isaiah Berlin. Terbitan Pustaka Promothea, 2007. Diterjemahkan oleh Eri Setyawati Alkhatab dan Silvester G. Sukur.

Urutan Cemburu Ibuku yang Masih Bisa Kau Acak


1.
Ia memikirkan senapan. Duduk.
Membiarkan kepicikan seperti rambut
Yang disisir. Kelak, yang meledak
Dalam jantung ayahku bukan lagi
Sepotong cerita busuk tentang
kampung-kampung.

2.
Lampu (kau bisa mengira ini perumpamaan
Dari rasa marah atau benci) dinyalakan.
Dimatikan. Dinyalakan. Ia hadiahi ragu-ragu
dan jarinya sendiri dengan gigitan.

3.
Siapa berani membengkokkan pepatah,
Habis manis dibuang sepah. Ayahku menangis.
Tak mampu meringkihkan dirinya
jadi lebih kerdil dan pengecut.

4.
Pesawat jet. Kolam renang.  Ruji sepeda motor.
Dubur ayam. Dengan keempat hal itu, ia berjanji
akan mengenangmu lewat sebuah  puisi panjang
yang tak akan mudah meledak oleh  kesedihan.


5.
Ayahku pulang. Pintu terkunci.
Aneh ketika aku intip dari jendela,
Ia ketuk dirinya sendiri berulangkali.

6.
Dini hari  membengkak. Dijejali
kutipan orang-orang yang kalap menulis
Tentang cita-cita dan masa depan.
Ia tertidur. Seseorang datang ke mimpinya
Dan berharap bisa menjadi sesuatu
Yang bisa kau tangisi.




Bayang-Bayang Tanah Air



Seusai menamsilkanmu  ke dalam bayang-bayang
Sepenggal sajakku yang buruk rupa

Aku putuskan mengembalikan dahaga  milik
Jari-jarinya sebelum  ia merayap jauh ke utara

Sudah terlanjur beku dan agak percuma
Saat kertas dan mangsi tak mau menjadi
Peta tanah air kami.

Aku serukan nama-nama berdarah
Pahlawanmu yang jatuh di padang laga

Aku dengungkan lagu-lagu dan menarik
Jantung bendera agar lebih dekat ke angkasa,

Iringan perkusi itu tetap saja mengiringi
Dayang-dayang  melepaskan lapis demi lapis
baju zirah mereka.

(Semarang, Maret 2015)


Perkara Kalimat Pembuka



Beberapa kawanku yang pernah aku kenal sebagai pengarang acapkali bicara berbusa-busa soal kalimat pembuka. Rangkuman kasarnya mereka bakal bilang, kau boleh agak hancur (dengan kapasitas menulismu yang memang masih pas-pasan, mungkin) tapi jangan kau taruh kehancuranmu di kalimat pertama. Kalimat pertama sebagai pembuka mereka anggap sebagai jimat atau jisim. Bagi mereka, kalimat-kalimat pertama itu luhur, dan akan menjadi salah satu pangkat (ingat ya, salah satu, bukan satu-satunya) yang niscaya menandai bermartabat atau tak bermartabatnya prosa milik para pengarang.
            Ketika teman-teman di Kelab memutuskan untuk sama-sama membaca Vegetarian, terpikir olehku  mengulas kalimat pembukanya. Akan jadi menarik kupikir jika membicarakan kalimat pembuka dalam novel Vegetarian, kemudian membandingkannya dengan kalimat-kalimat pembuka di novel-novel lain. Han Kang sendiri merangkum kompleksitas yang terjadi pada dua tokoh penggerak ceritanya—si Jung dan si Hyeong Hye dan si siapalah itu—dengan awalan  begini:
“Aku tak pernah menganggap istriku luar biasa sebelum dia menjadi vegetarian. Jujur, aku bahkan tak tertarik  kepada dia saat kali pertama berjumpa.”
Dengan menaruh kalimat semacam itu, kita jadi tahu novel ini akan mengisahkan apa, itu yang pertama. Membacanya kita manalah mungkin punya pikiran bakal dibawa ke arah cerita  tentang kemalangan penjual martabak, atau cerita tentang  rontoknya duri-duri dari tubuh seekor landak. Novel-novel yang mengunggah bocoran cerita sebagai strategi kalimat pembuka, aku bayangkan cuma memiliki dua kemungkinan. Jika bagian-bagian selanjutnya dari novel bahu-membahu  dengan bekal sebab-akibat untuk memperjelas topik novel  yang dibocorkan di awal, maka itu bakal jadi tulisan bagus. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, kau tahu sendiri mesti menyebut apa untuk karya  macam itu.
Sisi lain kemenarikan dari kalimat pembuka di Vegetarian ini, atau kalimat pembocoran semacam ini yakni sifat agitasinya yang susah dihindari oleh pembaca. Bahwa pembaca seolah sedang diajak untuk sama-sama sok tahu dengan apa bakal terjadi selanjutnya sekaligus was-was seandainya keyakinannya ternyata meleset. Pembaca akan jengah sendiri dan dibuat bertanya, berarti sebelum menjadi vegetarian, si Hyeong Hye ini pastilah manusia biasa-biasa saja kan ya. Sebiasa, sesepele apa sih, menjadi manusia hingga ia perlu dikisahkan? Han Kang tentu menyadari bahwa setelah menyusun kalimat pembuka itu, dia akan mengisahkan babak besar tokohnya si Hyeong Hye. Babak itu adalah babak sebelum Hyeong Hye menjadi vegetarian, dan babak setelah dia  menjadi  pemakan tumbuh-tumbuhan.
            Aku memang tidak tahu, dan memang agaknya tidak perlu-perlu amat untuk tahu bagaimana draft  novel ini dibangun oleh Han Kang. Apakah ia dibuat secara linear, yang artinya chapter-chapternya dibuat berurutan, atau mengalami banyak sekali penyuntingan dari klaster cerita yang dibuat sendiri-sendiri kemudian disatukan. Yang ingin kuteroka adalah bagaimana kalimat awal dalam novel ini menjadi sebuah pertaruhan, apakah ia mampu menjadi pengikat bagi plot-plot cerita selanjutnya atau tak.
Secara lebih luas, kalimat semacam ini bisa digunakan oleh pengarang untuk mengawasi isi novel, jalinan kisah di dalamnya apakah mempunyai keterikatan dengan apa yang ingin dibicarakan atau tak, meluber ke sana-kemari secara berlebihan atau tak.
            Penulisan kontemporer sepertinya sudah banyak memberikan contoh kalimat semestinya dikonstruksikan macam apa dan bagaimana sebuah alur novel dengan bekal kalimat pembuka. Kau bisa ikut deretkan nama-nama pengarang favoritmu beserta novel-novel yang bagimu asyik dibaca, kemudian menengok lagi kalimat-kalimat pembuka yang pengarangnya bikin. Sebagian terbukti menggunakan strategi forward—shadowing macam yang dibuat Han Kang ini, sebagian lagi mencoba tidak menjadi pembebek dengan bermain-main dengan aneka kreativitas. Sisanya, adalah para pecundang yang gagal menyakinkan pembacanya bahwa tulisannya bagus.
            Ada banyak cara membaca kemungkinan-kemungkinan. Biasanya, dengan melihat tahun penulisan prosanya saja kita bisa membedakan bagaimana gramatika kalimat awal dalam prosa ditulis. Jaman tertentu menghasilkan pola-pola dan langgam tertentu.
Memulai tamasya-kalimat-pembuka, asal saja aku mencomot novel Naguib Mahfudz dari rak buku. Kalimat awalnya seperti ini.
“Tanpa sengaja aku datang ke Kafe Kernak. Suatu hari aku melintas  di jalan Al- Mahdi guna memperbaiki jam tanganku.”
Kalimat itu membuka novelet Mahfudz, Kafe Karnak. Dia menerbitkan novel tipis itu kali pertama pada tahun 1974. Itu artinya ada jarak empat puluhan tahun sebelum Vegetarian ditulis Han Kang. Empat tahun sebelum ada Kafe Kernak, publik dibuat terbengong-bengong dengan kalimat pembuka di novel Seratus Tahun Kesunyian milik Gabriel Garcia Marquez: Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak, Kolonel Aurelio Buendia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es. (Kita bandingkan narative hook ini dengan milik Marquez di novelnya yang lain, Cinta di Tengah Wabah Kolera, misalnya: Tanpa bisa ia cegah: aroma almond pahit selalu mengingatkannya pada takdir cinta yang tak berbalas).
            Menyimak kalimat-kalimat pembuka itu, sepaket dengan bermenung pikir rentang tahun pembuatan serta kronik sejarah yang mengepung novel-novel bikinan para pengarang aku lantas jadi pembaca yang jadi punya banyak keluhan. Aku tahu banyak mengeluh itu tidak baik, tapi mau bagaimana lagi. Kau bayangkan saja, dari tahun 60an sampai 2018, pergeseran kalimat pembuka yang kuambil sebagai contoh bedanya tak kelewat jauh. Agar kalian bisa ikut merasai apa yang kurasai, sebaiknya aku deretkan lagi beberapa kalimat dari novel-novel yang pernah kubaca, seperti ini:


Aku mengirim satu anak ke kamar gas di Huntsville. Satu dan cuma satu itu. (No Country for Old Men, Cormac McArthy)

 Sesungguhnya surat itu takkan begitu menyanyat hatiku, kalau saja sebelumnya aku tak mengirimi surat-surat yang berisi sesuatu yang tak enak untuk dibaca. (Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer)

Akan kucoba untuk menceritakan fakta-fakta hubungan kami sebagai suami istri sebagaimana adanya, sejujur mungkin. (Naomi, Junichiro Tanizaki)

Tiba-tiba kami ingin menghabiskan  senja dan malam di sebuah vila. (Kelambanan, Milan Kundera)

Waktu bergerak tak terbendung. Seolah Batara Kala sedang menyeret gerobak nasib, dan memunguti orang-orang yang malang, yang terlindas roda gerobak mautnya. (Manyura, Yanusa Nugroho)

“Sepertinya hujan akan turun,” aku bergumam.
Bagaimana kalau hujan sungguh turun? (Mata Malam, Han Kang)

Modifikasi dan percobaan yang dilakukan oleh pengarang-pengarang paska Marquez dengan si Bertahun-tahun Kemudian-nya itu cuma bisa kita tandai sedikit dan tak bisa bikin kita heboh. Betapa berat tugas pengarang menciptakan kalimat awal yang akan menimbulkan efek wow atau, bajingan-iki-apik-tenan atau, apalah namanya agar bisa terkenang di benak pembaca.
            Ketika menulis teks ini timbul penasaranku, bagaimana dengan kalimat bukaan novel-novel yang terbit di tahun-tahun lawas? Taruh misal novel-novel yang terbit sebelum 1900 atau bisa lebih lawas lagi antara tahun 1700 sampai 1800. Bagaimana  rentang tahun-tahun lawas itu juga menghadirkan langgam bagi para pengarang buat menyusun kalimat pembuka, atau bisa jadi di masa lampau, para pengarang itu belum mengacuhkan bagaimana sebaiknya memperlakukan kalimat bukaan mereka. Tentunya aku perlu napak tilas lagi karya-karya yang bisa dibilang klasik dari Charlotte Bronte, atau Emilie Zola, sampai Charles Dicken, Mellvile, atau Defoe dan pengarang lain yang hidup segenerasi dengan mereka.
Uh, betapa pendeknya hidup, betapa banyak tanggungan bacaan.[]

Lempongsari, 2018













Undangan Melayat dari Sebuah Toko Buku


                Aku datang kali pertama ke Toga Mas Semarang tepat dua hari setelah pacarku mengirimkan pesan pendeknya, bahwa dia minta ditemani buat mencari  novel Murakami, Norwegian Wood atau judul lain aku agak lupa pokoknya sekitaran itulah. Waktu itu Toga  masih ada di jalan MT Haryono, belum pindahan ke jalan Majapahit. Pertanyaanku ‘kenapa tidak ke Gramedia saja’, dijawabnya dengan meminjam keyakinan seorang penjual obat mujarobat di pasar hewan, bahwa beli buku  di Toga, bakal membuat tiap orang cenderung bertabiat macam pemadat. Toga seumur hidupmu akan kasih diskon, dia menambahkan selekas yang dia bisa begitu dia turun dari boncengan. Lima belas persen buat umum, dua puluh lima persen buat yang pegang kartu.  Pemaparan yang menurutnya asyik itu aku tanggapi dengan perasaan masa bodoh. Lantaran bagiku—jembel  dengan grafik keuangan statis datar di bawah; fitur Jongkok—Baca Gratis—Abis Itu Pergi  yang diberikan Gramedia  kupikir tak bisa digeser kenikmatannya oleh pihak manapun. Kaum oportunis akan selalu bilang Mana ada toko buku yang legawa kasih  begituan sih. Aku merutuk dan melangkah malas menjinjing helm di belakang pacar yang melenggang duluan.
                Tiga Puluh Lima. Dua puluh sajalah dulu. Sekalian saja Tiga Lima. Dua puluh dulu, sisa duitnya buat jaga-jaga jika nanti ada keperluan. Ya sudah Dua Puluh Lima. Pfffhh. Kau tak perlu  berlagak pusing menebak kalimat mana milik siapa, tapi yang jelas, dialog  visioner itu terjadi di Toga  (Toga Mas yang sudah pindah dari jalan MT Haryono ke jalan Majapahit) antara aku dan pacar.  Ceritanya begini. Aku punya tabungan sebanyak satu setengah juta. Pacarku punya tabungan dua juta. Kami sepakat  belaka buat mempercayai, bahwa Tuhan dan Uang Sebanyak Tiga Juta Lima Ratus Ribu itu sudah pasti jauh-jauh hari punya rencana mendorongkan nasib baru bagi sepasang manusia agak pandir ini: pedagang buku partikelir.  Beberapa  buku yang  jadi kulakan pertama kali itu masih bisa kuingat. Ada  1984-nya George Orwell terjemahan Landung Simatupang yang kami angkut dua ekslempar. Di tumpukan buku yang kemudian kumasukkan plastik kresek besar itu juga ada novel milik Mo Yan, Ryunusuke Akutagawa, William Golding, satu edisi hard cover Totto Chan-nya Tetsuko Kuroyanagi dan yang lain sisanya, kalau tak meleset dalam mengingat kami angkut juga Amba-nya Laksmi Pamuntjak serta Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono.  Hari itu hari Minggu yang terik di bulan Juli 2013. Di teras Toga, sembari duduk bertelekan buku-buku, menenggak  air dari botol, mengelap yang muncrat di bibir, aku ciptakan gumaman: bakalan miskin terus kita dengan ini. Aku menyisir tampang pacarku yang malas-malasan menatap jalanan. Ya,  kita akan miskin dengan semua ini. Suara pacarku yang terakhir ini terdengar seperti echo bass di ruangan dingin dan murung. Dengan berdagang buku, jelas kiranya, sumur tempat bunuh diri mana yang  kami acungi telunjuk buat kami ceburi.
                Dua Ribu Tiga Belas menjadi Dua  Ribu Empat Belas, Dua Ribu Empat Belas Menjadi Dua Ribu Lima Belas, dan kami tetap berkitar di lingkaran itu-itu saja. Kami masih pacaran dan masih tetap ajek jualan buku ke sana kemari. Ke kampus-kampus jika ada diskusi kecil-kecilan yang diadakan oleh UKM-UKM  sastra dan teater. Ke perhelatan-perhelatan komunitas yang kebetulan sedang mengagendakan panggung baca puisi. Ke acara-acara teman kami yang kebetulan sedang membikin diskusi buku. Kami juga acap menggelar lapak di Car freeday saban Minggu, nongol di pasar seni rakyat, sampai turut serta meramaikan festival sastra. Kota ini seolah jadi kamera yang tiada jenuh  memotret keputus-asaan kami sekaligus elan vital kami berdua.
                Tahun-tahun tandus di Semarang mengajari kami buat jadi orang-orang yang keras kepala. Anggap saja ini situasi yang hiperbolis. Tapi datanglah sesekali ke sini, dan kau akan tahu dan memahami dan akan lekas-lekas menggulung lidah jika kau pernah ingin mengucapkan, bahwa semestinya niat baik akan berbalas dengan iktikad baik pula. Kasarnya, segala yang kau tanam di kota ini cuma akan jadi kerak tahi.
                Bagaimana kau tak dibuat murung, di sini ada banyak universitas, fakultas-fakultas sastra dan bahasa juga ada di situ, tapi aku yakin kau akan kehabisan cara bagaimana mengungkapkan kejengkelan pada ribuan mahasiswa itu kenapa mereka begitu malas membaca buku. Pernah datang padaku suatu kali seorang mahasiswa sastra Indonesia Universitas Diponegoro, ke tempat aku biasa membuka lapak saban Minggu di Kota Lama. Dengan bersemangat dan lagak sumringah dia pamer bahwa dia pengin bikin skripsi tentang novel atau cerita karangan atau apalah sejenis itu. Dia, dengan lagak jumawa mengimbuhkan keterangan, bahwa novel bahan skripsinya itu mustilah anggitan pengarang dari Semarang. Aku tetap menyediakan kuping yang tabah ketika dia terus mengoceh bahwa sebenarnya ada satu kendala besar yang membuat dirinya  geram,  menjadi ruwet dan bingung harus bagaimana  memulai penelitian itu. Menurut dia, kendala besar itu  lantaran dia merasa tak ada satu pun pengarang  Semarang yang ia ketahui menerbitkan novel atau kumpulan cerpen. Keringat di ketiakku berlelehan dua kali lipat  dari biasanya demi mendengar itu.
                Aku sebenarnya enggan melemparkan pertanyaan berbau interogasi seandainya dua pekan sesudahnya kami tak bertemu lagi di tempat yang sama dengan situasi dialog yang kami salin dari hari Minggu sebelumnya. Dia masih teguh membawa kesemrawutan hidupnya, dan bertanya sekali lagi kepadaku apa yang harus ia lakukan terhadap rencana penelitiannya. Begini saja. Apa kamu sudah baca  Kembang Api Malam Ini milik Latree Manohara? Dia menggeleng. Di Kereta, Kita Selingkuh-nya Budi Maryono? Dia menggeleng. Bidadari Mengembara, A.S Laksana? Dia menggeleng.  Serapah Ibu, Sandra Palupi? Menggeleng lagi dia. Nyanyian Penggali Kubur milik Kang Putu? Menggeleng.  Rumah Kopi Singa Tertawa, Yusi Avianto? Menggeleng. Aktivitas menggelengnya baru berhenti ketika aku tanyakan  apakah ia pernah menyentuh buku Surga Sungsang dan  Celeng Satu Celeng Semua milik Triyanto Triwikromo. Yang terakhir ini aku sudah berharap bakal mengakhiri paceklik anggukan. Ternyata aku keliru. Dia balik melemparkan pertanyaan—apakah Triyanto Triwikromo yang mengampu kuliah di Undip?—yang membuatku, seandainya tega, memintanya lekas-lekas kencing dan menenggak air seninya sendiri saja.
                Bahkan sampai di akhir perbincangan kami, si mahasiswa ini merasa heran dan sangsi  jika salah seorang dosen yang sering bertatap muka dengannya di kampus itu adalah seorang pengarang cerita pendek dan novel. Mahasiswa itu boleh saja geram lantaran tak bisa memulai penelitiannya. Aku sendiri jadi geram melihat situasi macam begini. Ternyata kita semua masih butuh universitas khusus yang menyediakan fakultas dengan program studi, Membaca Buku, atau program studi  Membaca Agar Bisa Berpikir, misalnya. Tentu saja, meski belum bisa dijadikan acuan seratus persen, kasus-kasus macam ini bisa kita tangkup  sebagai ilustrasi betapa payahnya  aktivitas membaca di kota ini.  
                Ini sudah Februari 2018.  Aku dan pacarku masih berpacaran layaknya pasangan-pasangan menyedihkan lain  yang  lama menyulam asmara namun dibuat resah kapan menentukan hari  pernikahan lantaran tak punya modal buat menyewa soundsystem dan rias manten. Tabungan kami tetap ajek segitu-gitu saja, karena tiap ada lebihan uang di buku rekening, baik itu dari menang lomba menulis atau dapat honor dari meresensi buku di Jawa Pos atau di Koran Tempo atau Cerpen di Tabloid Cempaka Minggu Ini atau di Koran Lombok Post semuanya ludes bertukar dengan buku-buku yang semakin lama semakin rapat saja menjejali kamar kos-kosan.  Sebuah mukjizat kiranya, di tahun ini, seorang kawan yang aku sendiri sangsi apakah dia masih memiliki kewarasannya atau tak, lantaran ia begitu saja bersedia menjadi pedagang buku bersama kami.  Selanjutnya Kami bertiga tetap berkeliling-keliling kota menjajakan buku-buku. Ke kampus-kampus, ke media daring, ke tempat-tempat nongkrong, ke rumah-rumah dimana digelar diskusi, sampai ke acara pengajian. Kami menganggap kerja kami ini semacam pakansi spritual, bahkan dengan congkaknya kawanku berani bilang; kita harus berdagang buku sampai hari kiamat tiba.
                Aku jadi teringat kalimat You’ll Never Walk Alone  yang ditulis besar-besar di spanduk, pada sebuah malam ketika aku pulang melewati jalan Pemuda. Para pendukung militan kelab sepakbola Liverpool akan selalu menggunakan yel-yel sloganistis itu buat mengubur pesimisme hidup mereka dari kekalahan telak pertandingan, dari cemoohan pendukung kelab lain, dari dunia yang lihai mengembuskan penderitaan.
                Bulan Februari ini Toga Mas di Semarang bakalan tutup. Kau dan aku dan siapa saja tentu tak bakal lagi, menemukan toko buku yang begitu blobo dalam memberikan potongan harga. Dengan segala kepayahan perkara membaca di kota ini, alangkah mustahil kami berharap bahwa tutupnya  Toga bakal menjadi kesedihan kolektif.  Aku dan pacarku dan seorang kawanku cuma bisa berdeham dan parau terbatuk membayangkan kenyataan buruk itu datang dalam beberapa hari ke depan. Dalam hari-hari yang akan datang, kau barangkali tetap akan melihat  kami masih sibuk dengan kerja kami. Memilah buku-buku; novel ditumpuk bersama novel, yang puisi dengan puisi, yang sejarah dengan sejarah. Memilah mana buku yang bagus buat dibaca khalayak dan buku mana yang sebaiknya dijadikan penyumpal pantat penulisnya. Barangkali yang tak kau lihat adalah bagaimana tangan kami agak gemetar demi mendengar desisan suara kami sendiri: You’ll never walk alone, you’ll never walk alone...[.]

Semarang, Februari 2018

Melayang di Atas Pagi

Cuma tersisa cuilan telur bacem di dagumu 
dan waktu masih berpikir berapa helaan 
bisa direken untuk menyaksikan 
yang kecil mengering 
dan jatuh
 
Jalanan sebentar lagi bakal membuka amarahnya 
Mengembalikan lagi bau oli, dentang jam sebuah gereja, 
matahari putih setengah delapan, juga rasa lapar 
yang jadi sok tahu akan kemana 
jika hendak mengejar kita
 
Di samping pancuran (aku ragu apakah kelak akan ada 
di samping kiri atau di samping kanan) yang piawai menarikan 
kecipak beningnya itu geram atau gerimis 
sama-sama susah kita pahami
 
Tapi seseorang-- yang kemanapun kita berpindah 
akan melulu berdiri di tengah-tengah 
dengan lagak waskita menunjuk bergantian 
atas dan bawah, bawah dan atas, atas dan bawah 
dan begitu terus sampai salah satu dari kita 
ada yang maju menampar mulutnya dan berseru 
: kau saja yang ke neraka, heh--
 
Seekor anjing mengendus dan menjilat sekali dua 
jempol kakimu yang berdarah. Ia memimpikan seluruh perjalanan 
milik kota ini berhenti dan mengumpulkan diri 
di koreng yang kekalbasah itu
 
Aku merangkak dan berdiri di tepian zebra cross 
yang garis-garisnya sudah mangkak. Cuma untuk 
menimbang-nimbang--seperti tabiat para pemikir-- 
apakah akan maju atau mundur atau bertahan atau menyerah 
dengan melambaikan tangan di hadapan tiap orang 
yang berhenti dan mendongak ke lampu merah
 
Gayam, 2017

Lazzy time

Dear blog, i know what you did last summer (mmm maksudnya, ya gitu deh, kian bulan aku kian malas nulis) Oke, Oke sehabis tesis, aku janji bakal rajin nulis lagi-- kalau janji belum cukup, sumpah aja deh!