(oleh: Sofyan Adrimen)
BUAH
PIR YANG MAHIR BERPURA-PURA
I.
Peristiwa menyembunyikan pemahaman dari ranting kebodohan sebab mungkin ia tahu
benar bahwa perbuatan itu bukanlah sebuah dahan yang sanggup menahan buahnya.
Pemahaman akan menentukan keutuhan sebuah pohon untuk membebankan dirinya pada
manusia, sebagai penampung sementara kebijaksanaan yang tak akan pernah menetap
di atas bumi ini, sebab tubuhnya adalah waktu itu sendiri—perubahan yang abadi di pohon-pohon manusia. Sedangkan
manusia hanyalah awal, akhir dan di antara yang dua itu, perjalanan yang sudah
ditentukan di mana, kapan atau berapa lama perjalanan itu akan sampai pada
ujung-nya.
Kesadaran bisa jadi adalah ‘buah pir yang mahir berpura-pura’. Buah pengetahuan
itu telah dimakan oleh manusia, sebagai tanah, maka ia akan menumbuhkan
pohon-pohon itu, sebuah hukum alam yang tak bisa ditolak oleh manusia sebagai
penanggung ranting-ranting yang akan membungakan ujungnya, berputik terus
menghasilkan buah dan membenihkan tubuh baru, yang uniknya sekaligus membawa
benih baru untuk ditumbuhkan/tumbuh sendiri. Entah kapan atau di mana waktu itu
telah manitipkan kesadaran, pengetahuan, pemahaman ataupun kebijaksanaan
tersebut ke dalam tubuh manusia, tetap saja menjadi suatu peristiwa misterius
yang harus ditanggung manusia seumur hidupnya.
Pengetahuan memisahkan manusia di tiap-tiap persinggahan dalam perjalanan ke tujuan
akhir, mengasingkannya ke dalam tubuh mereka sendiri, samudera dengan segala
yang ada dalam rahim, daratan dengan segala yang ditampung dan langit dengan
segala yang dikandungnya. Pilihankah ‘pengetahuan’ itu?, bisa ya…bisa tidak,
sebab Tuhan tak pernah mendefinisikan sebuah pilihan bagi manusia, melainkan
anjuran, saran dan larangan dalam setiap campur tangannya dalam hidup manusia
atau ia sebenarnya memang sebuah ‘buah
pir yang mahir berpura-pura’?...
ESKAPIS
ESKAPIS-ME/eskapisme/ n Sas kehendak atau kecenderungan menghindar dari
kenyataan dengan mencari hiburan dan ketentraman di dalam khayal atau situasi
rekaan---KBBI. Penyair sepertinya adalah penyangkal ulung dari tata bahasa yang
membatasi makna kata-kata. Sebaliknya seorang penyair justru melebarkan makna
kata itu ke arah yang sanggup dilakukannya(selama) dalam peran kepenyairannya,
seperti nasib kata-kata dalam buku ini yang ditangani oleh seorang juru masak
handal(Chef). Sebuah pilihan unik bagi seorang penyair untuk menekuni bidang
ini sekaligus menantang dan mengalir liarkan selera kepenyairannya, seperti
racikan-racikan dari dapur seorang ibu yang menjadi pijakan dan tumpuan
pulangnya bahasa itu dengan segenap maknanya. Namun aku tidak akan menekuni
‘nasib kata-kata’ itu di sini sebagai teks, melainkan lebih kepada apa yang telah disajikannya
secara utuh sebagai ‘buah’ yang harus kita makan, apapun rasanya, setelah ia
pergi meninggalkan sajiannya untuk kita.
Ruang imajiner adalah ruang yang tak ada batasnya, ruang yang tak bertepi
sejauh-jauh kita menutup mata. Penyangkalan terhadap ruang fisik di sekitar
kita yang penuh dengan batasan dan pagar-pagar alami yang kita patuhi
berdasarkan, hukum, peraturan, adat, etika, moral dan kebiasaan, dst. Ruang ini
dimiliki oleh tiap manusia yang ada di
bumi, tiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui apa yang terjadi atau ada apa
dengan imaji seseorang yang duduk di sebelah kita sekalipun, satu detik kediaman
bisa jadi ia sudah menyelesaikan sebuah perjalanan yang demikian heroik atau
romantik dalam tubuhnya tanpa mengusik sedikitpun obrolan yang sedang terjadi.
Sebuah ranah yang misterius yang dibebankan pada tiap-tiap manusia, sebuah
ranah yang sangat mungkin untuk membuahkan ‘buah pir yang mahir berpura-pura’
itu.
Lalu pertanyaannya, “siapa yang
membuahkan buah ini?”, buku ini diberi judul ‘ESKAPIS’, sejumlah puisi, oleh
Arif Fitra Kurniawan. Jawaban itu bagiku tidak/belum menjawab pertanyaan di atas,
walaupun di situ tertera nama penyairnya. Aku sangat tertarik dengan judul buku
ini, sebuah kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris ‘ESCAPE’, yang
berarti melarikan diri, menyelamatkan diri, sebuah kata kerja aktif. Dalam kbbi
aku tak menemukan arti kata ‘ESKAPIS ‘ini, yang ada adalah seperti yang
aku kutipkan di atas, ESKAPIS-ME.Sebuah faham, isme. Sederhana. Namun penyair
ini berhasil memukul kita untuk mereka sendiri apa yang dimaksud, diinginkan
atau yang ingin disampaikan atau apa yang ada dalam buku ini, Eskapis adalah buah itukah? Yang harus
kita kunyah, penyair ini berhasil ‘menelunjukkannya’ kedalam pikiran kita,
terutama aku. Seperti yang aku katakan di atas, aku tidak akan menekuni ‘nasib
kata-kata’ di tangan seorang Chef dalam buku itu, aku ingin menekuni yang liyan, yang begitu mengusikku dalam kata
Eskapis itu.
Penyair memiliki otoritas khusus terhadap kata-kata dalam bahasa. Seperti ranah
imajiner, ia seperti tidak mempunyai batasan untuk merombak, menghancurkan
kata-kata dengan segenap tanda dan penandanya, sebelum kembali
merekonstruksinya. Hal ini tentu juga tak terkecuali dengan kata ESKAPIS itu
sendiri. Tempat yang paling aman untuk melarikan diri adalah ke dalam tubuh
kita sendiri, tempat paling leluasa menghancurkan diri adalah di dalam tubuh kita
sendiri, sebelum penyair kembali
menyusun ke dalam bahasa, tubuh baru sebagai sebuah buku dengan judul di atas.
Kumpulan sejumlah peristiwa-peristiwa yang setelah melewati penghancuran, di
dalam dapur penyair kembali menyusun
tubuhnya menjadi buah-buah dalam bentuknya yang baru, dengan ruang-ruang lentur
yang penuh perhitungan untuk tempat menepirenungnya para eskapis(pembaca) di
luar tubuhnya.
Puisi sebagai keindahan hasil bentukan baru dari penghancuran peristiwa kedalam
bahasa—peristiwa yang membenturkan diri
ke tubuh sang penyair atau sebaliknya. Ruang puitik—sebagai salah satu keunikan yang indah hasil dari
penciptaan puisi, ini yang ingin di tekankan oleh penyair ini atau oleh
tersusunnya kata-kata(puisi-puisi) dalam buku ini. Sebuah tempat yang liyan, di mana segalanya serba mungkin,
bukan sebuah kamar seperti di mana Kafka terperangkap sebagai seekor serangga,
lebih sebagai sebuah kepompong di luar jendela SDD. Namun tentu semua itu harus
mempunyai pijakan/pondasi atau titik awal yang kuat seperti membangun sebuah
bangunan yang utuh, terutama dalam sebuah buku kumpulan puisi. Nilai harus
menjadi hal utama disadari atau tidak oleh seorang penyair. Nilai yang
diharapkan melahirkan kupu-kupu bukan seekor kecoa.
BEBERAPA ALASAN SERTA ULASAN MENGAPA
AKU BETAH BERMUKIM DI DADAMU, IBU
:teruntuk ibundaku Wiwik Wahyuni
- Tiap kali petang datang dan menyelinapi
kisi-kisi dadamu, sengaja bergegas kau menyalakan
saklar lampu- lampu ingatanku.
lampu yang warna cahayanya tabah untuk terus terjaga
demi rabun mataku agar tetap betah bermukin di dadamu
demi membaca masa lalu yang mudah sekali
terhapus dari papan tulis di jantungku,
Ibu representatif dari ‘rahim’, selain rahim, di tubuh ibu juga menyimpan
‘dada’, salah satu agama pun menegaskan kedudukan ibu itu tiga tingkat di atas
kedudukan ayah. Apakah dada ibu juga tiga kali lebih lapang dari dada ayah?. Puisi
ini diletakkan di awal buku Eskapis, sebagai gerbang penyambut pembacaan kita.
Sebuah pelukan yang indah sebagai penyambutan dari buku ini untuk memasuki
tubuhnya. Reprentasi dari rahim(penyayang) dan ibu(dada puitik) serta penyair
yang juga adalah sang ‘eskapis’ itu sendiri. Penyajian yang menarik dan unik,
penyajian yang utuh dan menyentuh, bukankah ini yang harus menjadi awal dan
ujung dari lahirnya puisi itu?, sebelum kita akhirnya menjatuhkan tuduhan pada
diri sendiri, ‘aku juga seorang ‘eskapis’…, tentu setelah menyelesaikan membaca
buku ini secarah utuh, sebelum tuduhan berikutnya tercapai yaitu ‘buah pir yang
mahir berpura-pura’.
Peristiwa bertugas mengalienasi manusia berdasarkan perbuatannya, ibu juga
adalah representasi dari peristiwa, yang penuh dengan kasih, yang sangat
mempunyai kejelasan kemana sang anak akan dibawanya—ke dalam dadanya sendiri. Di sanalah pengetahuan
itu berawal, yang tersadari dan yang belum/tak tersadari oleh manusia. Ruang tak
terbatas tempat di mana pengetahuan bertumbuh kembang, seperti kata pepatah
‘kasih ibu sepanjang jalan’ itu, ruang yang membuat penyair ini mampu mengitari
segala peristiwa yang membentur dan mengitarinya dari segenap sudut pandang
yang ia maui. Sebuah pijakan untuk berangkat dan sekaligus tempat pulang yang
tak terbatasi waktu yang kini telah bermukim di dalam ‘dada’ penyair ini
sendiri, sebagai pondasi yang kuat. Eskapis ini sendiri juga merepresentasikan
dirinya sebagai keberangkatan itu, yang sangat lentur, yang mampu pergi sejauh
yang ia ingini dan kembali pulang secepat yang ia kehendaki—ke dadanya sendiri, ke dada sang ibu yang kini
mukim di dadanya sendiri—inilah keanehan
yang unik dari puisi yang bertubuh bahasa itu atau sebaliknya.
- Aku selalu ingin menjadi masa kecil paling mungil,
seperti kutu atau bahkan kuman
--yang cuma bisa ditangakap oleh mata mikroskop
bertitik api paling panjang--
ketika engkau mengecupkan bibirmu
yang buku itu kepada dongeng mataku sebelah kanan.
dalam tidur tak henti aku membelah diriku ribuan kali,
menjadi tokoh-tokon yang hidup di sepanjang
kisah ajaib yang pernah engkau tumpahkan
dari dada ke liang telingaku yang manja
sebab di sana hidupku yang maha kecil ini
selalu merasa paling menang dari semua perlintasan
yang dicipta oleh keberangkatan---kepulangan
2011
Kata ‘Aku’ yang dengan sengaja ditebalkan dalam kutipan puisi di atas, adalah
anak panah sekaligus busur yan ia rentang ke alamat yang lurus ke dada kita,
ketika kita menuruni bait ke baris sampai ke bait dan baris terakhir itu—kapankah
atau siapakan yang telah melepaskan
regangan anak panah atau busur itu?, kita merasakan sampainya anak panah itu ke
tubuh kita, namun dalam perjalanan pembacaan yang singkat, kita kehilangan
pengetahuan tentang apakah ‘aku’ di awal puisi ataukah malah ‘aku’ di tubuh
kita sendiri yang telah melepaskan lesatan anak panah itu(sebuah kesadaran yang
jauh pada akhirnya mendekat kepada kita untuk memantik pengetahuan itu) Yang kita
sadari setelah itu hanyalah benturan sebuah ‘peristiwa’, peristiwa yang
sebenarnya tidaklah ‘asing’ dalam tubuh ini, namun tetap saja hasilnya suatu
keasingan yang datang dengan tiba-tiba.
Salah satu keagungan Tuhan adalah, Tuhan tidak menciptakan manusia yang sama
presisi antara satu dengan yang lainnya, meskipun orang itu dikatakan sebagai
kembar yang identik sekalipun. Kesadaran yang secara politik dan sosial, yang
berusaha keras disangkal orang banyak dalam sejarah kehidupan manusia. Demikian
juga dengan seorang penyair, eskapis yang mahir ini—hasil rekonstruksi peristiwa yang kini menempati
kata-kata dalam bahasa puisi di atas, sebagai peristiwa puitik, ia membawa
‘keberbedaan’ secara kemanusiaan(umum), kepenyairannya(khusus) dan yang utama
adalah pengetahuan yang telah membesarkannya di ‘dada’ ibu itu(spesifik),
sebuah nuansa yang tidak hanya membentuk dirinya dari kepemilihan kata-kata
dari bahasa sastra itu.
Alasan kenapa ia betah bermukim di dada, ibu, telah nenumbuhkan pengetahuan
pada sang eskapis ini. Pengetahuan itu sendiri telah juga menumbuhkan kesadaran
baru sebagai produk dalam dunia sastra, kepenyairan, akibat peristiwa-peristiwa
yang berlaku sebagai katalisator dari proses berkreativitas dan berkehidupan
dalam masyarakat, sebatas yang ia jalani sebagai bagian dari komunalitas
manusia dan lingkungannya.
Sebuah pijakan telah ditapakkan, sebuah pondasi telah ditanam, ‘…di dadamu,
ibu’, katanya. Di mana aku betah berlama-lama, di dada kita juga begitu, ia
telah menumbuhkan ketertarikan agar betah berlama-lama juga di dada kita
sendiri ataukah ini dadamu, ibu?. Aneh yang unik bahasa ini, puisi ini, sastra
ini—hujan pasti akan membasahi kita,
namun hujan tak akan pernah mampu melunturkan kenangan, kenangan tentangmu ibu.
Dan eskapis ini telah membawa kenangan itu seperti haru suara hujan ke tubuh
kita yang sering membatu ini, menyiramkan basah dan hitam yang ingin memutih
seperti kesadaran, kesadaran yang begitu gampang tertimbun dalam pikiran dan
keinginan kita.
Seperti kepompong di luar jendela SDD itu, yang ingin terbang sebagai
kupu-kupu,sampai di sini ‘ESKAPIS’ ini mekar, sekaligus lewat aromanya mengabarkan,
bahwa ia tak berhenti sampai di sini, ada putik yang mendesak bunga itu agar
menggugurkan kelopaknya, ketulusan yang dimohon kata secara puitis, ada titik
yang akan menjadi buah, buah yang liyan—buah
pir yang mahir berpura-pura.
Kecil-Kecil Anak, Sudah Besar Menjadi Onak
sebesar genggam padaku
masa depan kau lempar menjadi berhala pikiran
sekali saja skala itu sengaja mencipta masing-masing
tangis kita agar salah memasang linang
sebab
sebenarnya di peti mati, tuhan
serahasia
mungkin menyimpan
peta buta
silsilah mata kita
yang mengelabui jutaan duri
yang tumbuh dari dalam daging ingatan
kita sendiri
hingga aku berpikir perlunya
berganti-ganti tubuh
berkali-kali menjadi kaca mata utuh
agar tiap kenyataan yang cacat
mampu lekas-lekas kita ralat
Eskapis | 21
Semarang, 20 Jan 014
(tulisan pertama dari dua tulisan yang di rencanakan)