PENDAKIAN




siapa yang tahu cara engkau mencari setapak,
sebelum ini: nyaris berhulu-hulu kiasan
hendak kau panggul ke puncak

sekadar sayat ataupun tusuk,
bagi kulit-daging pengertian aku
yang kelak padamu membusuk.

tak banyak berbeda antara tajam
dengan lengang; antara yang mesti
atau sekedar mudah-mudahan

yang aku tebing-tebingkan diantara pulau,
yang engkau air-airkan di seberang danau
tetap saja semata utuh datar tak bisa dijangkau

(kampung brotojoyo, januari-pebruari 2013)

SLAMAT DATANG, JAMEELA

-- berarti ini sudah tiga hari. berarti kita memulainya pada hari kamis, 31 januari 2013. tidak ada yang mustahil. saya+vivi+ghani paling tidak sudah mencoba menngalahkan diri sendiri, untuk tidak gampang menyerah, untuk tidak menggubris suara-suara yang di luar. alamak, capek, iya, tapi mengeluh tidak. kalau nanti kita gagal, kita sudah menyerahkan kepala kaki kita ke dalamnya.
maaf rilke. hutan pinus dan kaki panjangmu. kemarin-kemarinmu.
yang bergoyang memilin jaman. yang mungkin tak bisa serta merta aku telan,

mengapung. mengapung begitu saja seolah tak berkeinginan.

BERKHUSYUKGEMBIRA DENGAN BEBERAPA SAJAK TEMAN-TEMAN KOMUNITAS LACIKATA YANG TERBIT DI JURNAL SAJAK


BULAN DALAM OMELET

2 telur+sosis+garam+merica+keju

Kita bisa tenang sebentar disini
Dengarlah,  aku juga bisa mengeja apa yang ditinggalkan tentang suara kenalpot dan bau semua laki-laki di kota yang dilupakan ini, mouse bicara padaku, tenang sekali tentang petunjuk menuju halamanmu, aku membakar rokok dan membayangkan banyak hal mengenai kita sepagi ini, jam 2 tanpa hape dan modem. mereka tidur seperti anak-anak tidur, tapi diluar sana seperti banyak pohon sedang berbicara, mereka pulang pagi membawa banyal oksigen dibalik jendela, aku tak menggigau seperti sms dan telepon yang mungkin saja, kita akan kemana, kemana saja, kita akan sering menonton pertunjukkan, membacakan puisi, menertawakan selendang pelangi, tapi aku tak mau berpelukan seperti asmara dalam marga t, atau seliar ayu utami, cukup ciuman yang gemetar dan kilat suatu sore setelah makan burger atau menyantap  magnum yang mungkin saja, kau akan menyanyikan apa untukku, ini bukan desember atau januari, ini bulan dalam omelet yang dingin, makan malam, sarapan pagi, bukankah aku masak dan makan sendiri.


SAJAK RINDU

Malam makin larut, di jalan kesenangan memantulkan dirinya
pada lampu kuning hati-hati.
Aku mengunjungi mereka malam ini, malam yang mabuk tanpa lagu dan kesenangan kota, lampu-lampu tak redup dari tapi jalanan berubah menjadi rumah ibadah yang sendu, tidurlah yang nyenyak, tidurlah, kita rayakan kemiskinan sampai penghabisan, kulit kemanusiaanmu itu, terbuat dari matahari yang takut padam, tidurlah, debu sudah sabar dalam diamnya, ada laut dalam mataku, rindu yang sempurna tak muat lagi masuk dalam diri ini, apakah aku malaikat atau iblis yang boleh sedih,
aku pulang dan menitipkan setiap doa pada angin

adakah tanah hidup dan mendengarku?



PENINGGALAN KALENDER DI BULAN MARET
untuk sebuah keluarga dusun di wonogiri

I
seketika itu, engkau jadi usia sumur yang sering kali
engkau timba setiap pagi hari sebelum engkau pergi beli
sarapan untuk dua anak yang sering kali
berebut uang jajan sekolah

-waktu itu ternyata air belum langka,
seperti uang-

II
ada arah lain yang merangkai jalan setapak menuju
kebun kopi yang pernah engkau mohonkan pada musim
yang menyebabkannya;
sementara pencuri-pencuri kecil yang tak diduga menanam kesal
pada ranting pohon-pohon anggur di hampir setiap purnama

-kebun kopi milikmu telah berbicara banyak padaku
mengenai arah pencuri yang menyisakan biji-biji anggur
di bawah dahannya-

III
saat bulan belum lengkap dan panen belum genap
pada suatu masa tanggal-tanggal menghitung jarak yang engkau
bilangkan kepada kesederhanaan rindu: pakaian yang senantiasa
engkau tanggalkan di hari-hari telapak-tangan-doamu,
gubuk ternyata tak cepat lupa mengingat tangan siapa
yang lumpur karena doa

saat panen belum genap dan bulan belum lengkap
selalu saja ada lipatan senyum yang sabit berarakkan
dari ladang-ladang ketela menuju pintu rumahmu
tempat kalender berdiam pada kedua pipiku
lalu kubaca salammu yang tinggal di bulan ketiga
: simpanlah kami baik-baik untuk engkau bawa
sebagai tanda dan doa.


2010




PUISI TENTANG ANAK-ANAK BULAN


1.
dulu, anak-anak bulan senang main origami kapal-kapalan
sewaktu penghujan melahirkan arus luapan kali menuju jalan-jalan kampung
lalu ada dolanan jamuran saat banjir tak lagi tinggal pada bulan-bulan kemarau
: di mana ibu mereka sering berdandan dengan begitu purnama

mereka bilang, kapal-kapalan jauh lebih seru dibanding
berpura-pura melingkar bergandeng-tangan menyanyikan
kidung jamuran yang jadul itu

dan bermain kapal-kapalan tak perlu mendiamkan
pura pada wajah-jujur kita.

2.
sekarang, duduk mengendapkan mata pada layar televisi
atau muka-muka kaca digital lebih jadi jaminan hiburan
tanpa perlu keluar di jalanan kampung
mempelajari mainan nenek moyang

    :banjir-banjiran
    kapal-kapalan
    jamur-jamuran

demikian, mereka jadi tahu
tentang ibubulan yang berpindah tempat
mengungsi karena kebanjiran sepi di setiap jalan-malam.

3.
sekian lama duduk belajar memilih
mana channel yang paling baik ditonton
anak-anak bulan sadar; televisi telah mengurungnya
pada kepala mereka

sedang ibu mereka masih saja menyimpan lagu jamuran
yang siaga diajarkan untuk setiap malam
yang bangun dan lelap pada bola-mata mereka.

4.
rupanya, ada isyarat pembicaraan kecil
suatu ketika pada channel nomor satu
mulut mereka begitu nyaring
membacakan tanya dari televisi,

    “hei…hei...
    ada wajah siapa di muka layar itu

    ada bu guru dan pak guru
    yang berdemo di depan sekolah kita
    juga ada alat-alat besar itu

    dan mau ke mana
    bangku-bangku
    papan tulis kita?”

rupanya, tanya menuntun mereka
untuk kembali ke pangkuan ibubulan
supaya mimpi tak meleleh di samping nyala doa.

5.

di pinggiran jalan kampung anak-anak bulan menengadah
berhitung tentang bilangan-waktu ramalan
kapan bisa menemui ibubulan lagi

semenjak mereka rajin belajar mencari arah
tanpa kompas dan peta, ke mana namanya diketemukan
selain dalam rupa ibu yang berdandan purnama lagi

lantas bertanya mengapa kata bulan tak dinamakan, padahal
ibubulan masih setia merancang adegan permainan jujur-tawa-rindu
untuk setiap anak yang lahir dan bermain
di setiap kota-malam di setiap zaman
di setiap nyanyian anak-anak bulan;
          tradisi yang membuatnya ada dan tanda!


2010




CATATAN

Jamuran: permainan tradisional dari Solo, Jawa Tengah
Dolanan (bahasa Jawa): permainan (bahasa Indonesia)




KAMPUS ANAK-ANAK KITA

kepada mereka kita arahkan  lapang nasib  anak kita
yang bergembira dalam menarik langit dan cuaca
kita cuma bisa menghempas bengkok jari-jari
susah payah menuliskan  bagaimana kita  telah lama
menangis  sebagai petani

sejujurnya, mereka menginginkan  kita terus mengisi
mulut  mereka dengan  perigi. sementara anak-anak
semakin  mudah sekali meminta bayangan dari pohon
pekerjaan  kita. seolah-olah kita mempunyai buah-buahan
yang tak akan pernah habis ditimba. telah jauh dan dalam
sekali kemarau mengisi dada kita.

tanpa  sadar, sawah-sawah itu telah lama berpindah
meninggalkan hawa panas telapak tangan kita
yang kini cuma bisa menadah. tanpa lagi mamapu
menunjuk siapa lebih bersalah.

 2012



BOTOL AIR MINERAL

lidahku  masih dililit  lauk di nasi jamblang,
sungguh  kurang  ajar,
padahal  baru  saja  ia  kubebaskan  dari
kutukan  selembar daun jati   hutan

kau  berkisah  bagaimana
hutan  menangkap  para pencuri pohon jati,
yang  licin  dan  sering  kau  umpamakan
sebagai  suwiran  daging sapi
nyungsang diantara gusi dan kuning gigi.

aduh  telah datang pada sepatuku
bunyi kereta  yang  membawa sekotak  jendela, jalur rel,
warna  hitam  yang  kian meriang,
masuk  angin.

kau heran  pada  sepatuku
yang berbeda  ukuran  meski  sapasang ,
tiba-tiba   perbedaan itu  begitu  mahir
saling  menalikan.

ah  sejak  ibu  saya  pergi
rumah beserta perabotnya  gemar sekali
berpindah, rumah  cuma  setia kepada ibu,
katamu, sesekali  melihat  langit
:  halaman maha luas yang  seringkali
kau anggap hutan dengan binatang-bianatang buas.

aku memasukkan  ucapanmu
ke botol air mineral  ukuran sedang
bersama jin yang telah menghidupi
malam-malam milik aladin
bersama  mimpi yang  mudah  dibanting

 2011



PULANGLAH  RAISA

lama-lama akhirnya cerita kami juga akan habis,
oleh engkau  yang menguras kami dengan tangis
kami tak mempunyai lagi yang engkau sebut kampung
kami kini isyarat-isyarat pariwara  belaka. yang  jadi
remah   dan tak cukup kuat  membendung berita utama
di koran dan televisi. itu kenapa  kami jadi sangsi
kepada perumpamaan diri kami sendiri.

siapa yang engkau telepon berjam-jam sambil
meluruskan  rambut di salon?

 mengecat kuku, berkedip-kedip kemudian terjerat
rasa sakit sendiri di cermin. melulur wajah dengan
masker  susu dan bengkoang, sambil terus  membekap
percakapan  yang di hapemu  terasa makin gemetar.
seperti rasa asing yang mencari jalan keluar.

aduh, kami  anak-anak rencanamu yang sungguh kelaparan.
kami  niscaya akan mati   engkau biarkan  dikubur  oleh
serbuan  jadwal yang mesti engkau kerjakan. 

2012



---------------------------------------------------------------------------------------------------

keterangan:

Dari atas ke bawah, sajak pertama dan kedua adalah sajak Vivi Andriani Tanjung yang terbit di Jurnal Sajak Nomor 3 tahun 2012, sajak ketiga dan keempat adalah sajak A. Gandjar Soedibyo--sajak kelima sampai terakhir sajak Arif Fitra Kurniawan yang terbit di Jurnal Sajak no 4 tahun 2012. Selamat bertahun baru, selamat terus menerus merayakan sajak. Salam hangat dari teman-teman Lacikata.
ada suara di luar tak bisa kutentang; 
antara mengetuk dan tidak ada. kau?

(selamat tahun baru 2013)

JENDELA DI BULAN HUJAN


di pikiranku ada seorang gadis
aku di jauh. cuma sebingkai jendela.
yang basah kuyup menggigigil
berharap ada yang memeluk

sepasang lengan yang aku tak tahu
muasalnya tiba-tiba datang mengetuk
agar aku membuka diri.
ia mengatakan hendak meminjamkan
hidup dan dirinya

aku berkedip menggunakan
seluruh tatapanku membiarkannya
menyambung harapan-harapanku
yang pendek

apa yang bisa dilakukan seseorang
yang takut dimangsa hujan dan desember?

pertanyaan yang cuma memantul-mantul
tak bisa keluar dari tebing dan dinding
yang mengelilingi urat kayu ubun-ubunku.

desember 2012

Pengumuman Pemenang Lomba Puisi Esai

25 Puisi Esai Terpilih

(Hasil Lomba Menulis Puisi Esai)

Yang segera terasa dari Lomba Menulis Puisi Esai adalah beragamnya tema yang ditulis. Untuk pertama kalinya dalam perpuisian Indonesia ditemukan tema yang demikian beragam. Tema-tema itu meliputi hukum dan peradilan, konflik etnis, problem kebangsaan masyarakat perbatasan terluar Indonesia, transgender, kekerasan sosial, Korupsi, pertanahan, maritim, lingkungan, problem dunia pendidikan, korupsi dan manipulasi, dunia bisnis, ketegangan antaretnis, dunia pesantren, dunia anak dan masalahnya, problem budaya suku terasing, kekosongan vs keriuhan kota besar, dunia penari tradisi dan penari erotis, komunikasi modern, sengketa tanah, kisah cinta antaretnis-antarbangsa-antaragama, dan banyak lagi.
Aku lirisnya pun beragam: anggota punk, penari erotis, pramugara, anak koruptor yang galau, koruptor yang bahagia, pengagum presiden, orang Kubu, anggota masyarakat terasing, tokoh sejarah nasional, tokoh sejarah lokal, tokoh pemberitaan media massa, pencuri coklat, pembunuh keji, santri korban pelecehan, pelaku mistik, orang kota yang kesepian dan ingin bunuh diri, anggota etnis minoritas sekaligus pelaku transgender, warga Tionghoa Indonesia yang dijodohkan (dijual?) ke Hongkong, buruh tani, TKW, pemain band, Raden Saleh, perusuh, dan banyak lagi.
Beragamnya tema maupun aku liris yang muncul dalam puisi esai menunjukkan bahwa puisi esai –entah mengapa—telah membuka katup tematik berbagai urusan Indonesia yang selama ini tidak pernah mengemuka dan jarang –jika bukan “tabu”—disuarakan dalam puisi liris konvensional. Kebhinekaan Indonesia yang selama ini tidak begitu terlihat dalam perpuisian Indonesia tiba-tiba muncul dengan penuh warna. Jika meminjam terminologi Edward de Bono, dengan mengubah topi puisi liris konvensional ke puisi esai, nyata banyak hal yang semula senyap kini ramai bersuara, yang semula gelap kini mulai diberi cahaya. Banyak dari padanya memang belum sepenuhnya berhasil sebagai puisi (tepatnya puisi esai) yang utuh dan memikat, namun fakta bahwa banyak segi dalam kehidupan dan kenyataan Indonesia mulai disentuh dalam puisi jelas merupakan sesuatu yang menggembirakan. Di masa depan kita bisa berharap bahwa puisi Indonesia tidak sepenuhnya terpaku pada tema dan urusan kesepian serta kegalauan individual, melainkan mulai menggarap juga kekayaan, keluasan, dan keberagaman situasi dan pengalaman meng-Indonesia.
Tidak kurang dari 400 (tepatnya 429) puisi esai yang masuk ke Jurnal Sajak saat lomba Menulis Puisi Esai ditutup. Mengingat setiap puisi esai terdiri dari puisi panjang –terkadang tidak kurang dari 10 puisi panjang– maka puisi esai yang masuk ke panitia sebanding dengan 4000 s.d. 6000 puisi liris. Untuk menangani hal tersebut dibuat dua jenjang penilaian, yakni Juri Awaldan Juri Final. Juri Awal yang terdiri dari Ahmad Gaus, Jonminofri, Elza Peldi Taher, dan Fatin Hamama memeriksa setiap puisi esai yang masuk dan menilai kepuisiesaian tiap-tiap karya peserta. Puisi esai –ditandaioleh adanya plot, konflik, catatan kaki, keutuhan sebagai sebuah sajak panjang, dan sebagainya– dijadikan kriteria awal dalam memilih puisi esai yang masuk untuk diloloskan ke babak berikutnya. Maka sajak panjang berupa kumpulan beberapa sajak dengan judul berbeda-beda dan tidak memiliki keutuhan sebagai satu puisi esai tidak lolos ke seleksi selanjutnya. Demikian pula puisi yang tema dan panjangnya relatif memenuhi kriteria puisi esai namun tidak disertai dengan catatan kaki, tidak lolos ke babak selanjutnya, karena beberapa fakta di sana tidak dapat dirujuk pada sumber yang adekuat.
Juri Final yang terdiri dari Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, dan Jamal D. Rahman sepenuhnya berhadapan dengan puisi esai. Mereka bertugas memilih pemenang 1, 2, dan 3, serta 10 pemenang Hiburan berdasarkan mutu puisi esai yang masuk lomba.
Tidak mudah memilih juara 1, 2, dan 3. Lebih-lebih tidak mudah memilih 10 pemenang hiburan. Setelah membaca dan mendiskusikannya berkali-kali akhirnya dipilih para pemenang sebagai berikut:
“Mata Luka Sengkon Karta” karya Peri Sandi Huizche sebagai Juara pertama
“Interegnum” karya Beni Setia sebagai Juara Kedua, dan
“Syair 1001 indonesia” karya Saifur Rohman, sebagai Juara Ketiga.
Sebagaimana terlihat dari judulnya “Mata Luka Sengkon Karta” mengangkat permasalahan hukum dan peradilan sebagaimana yang pernah dialami dalam kasus Sengkon Karta yang pernah menjadi pemberitaan utama berbagai media massa di masa Orde Baru dan kini mungkin sudah mulai dilupakan. Puisi Esai ini dipilih karena keutuhan, kelincahan bahasa, alur yang kuat, dan riset yang mendalam atas subjek yang ditulisnya. Penggarapannya cukup ditel, diksi-diksinya pun segar. Penulis mampu membuat kasus lama ini hidup kembali untuk diperhadapkan dengan situasi hukum dan peradilan di masa kini. Ada beberapa ungkapan daerah, namun relevan dengan jalannya cerita sehingga tidak mengganggu keutuhan. Sedikit kelemahan pada puisi esai “Mata Luka Sengkon Karta” ini adalah rentang waktu pengisahan yang sangat panjang dengan sekian lanturan anak kisah. Sekalipun begitu, secara umum puisi esai ini ditulis dengan memikat.
“Interegnum” ditulis oleh Beni Setia, seorang penyair kawakan. Dengan bersih dan padu, kisah lama yang diambil dari sejarah dan cerita rakyat ini dibangun tahap demi tahap secara hati-hati hingga terbangun gambaran peristiwa di Palangan Mejayan masa silam. Dalam bentuk yang rapi tersebut, plot, konflik dan penokohannya dibiarkan tidak tajam dan digantikan dengan suasana-suasana dalam gambaran yang terkendali, Catatan-catatan kaki dibuat untuk menunjang bangunan informasi latar kejadian dalam cerita ini.
“Syair 1001 Indonesia” mengangkat kasus hukum dan korupsi yang menjadi berita hangat berbagai media massa belakangan ini. Dalam “Syair 1001 Indonesia” terjadi fiksionalisasi atas fakta, dan terkadang juga faktanisasi atas fiksi. Fakta dan fiksi terus-menerus dipermainkan. Dengan meminjam tokoh nyata sebagai pencerita orang pertama, maka puisi esai ini dibangun nyaris sepenuhnya dalam bangunan ironi. Ada upaya keras untuk membangun rima (khususnya rima akhir), beberapa berhasil beberapa terkesan agak dipaksakan. Namun, karena bangunan utama puisi esai ini adalah ironi, maka persamaan bunyi akhir yang dipaksakan itu terkadang menggaris bawahi unsur ironi pada puisi esai ini.
Pemenang hiburan agak sulit dipilih karena jumlahnya 10 buah sehingga rentang kualitas antara satu dengan lainnya terkadang cukup besar. Hanna Fransisca, misalnya, mengangkat tema masyarakat etnis Tionghoa Singkawang yang berhadapan dengan kemiskinan di satu sisi dan godaan untuk menjodohkan anak gadis dengan lelaki Hongkong demi beroleh kemakmuran. Puisi esai ini ditulis dengan nada serius, sementara Wendoko menulis dengan gaya santai dan main-main tentang telepon. Ada kisah cinta berlatar kekerasan sosial di Sampit karya Catur Adi Wicaksono, dan ada pula kisah Ki Bagus Rangin yang berlatar sejarah karya Kedung Darma Romansha. Di sisi lain, ada pula puisi esai yang berupa “alegori mistik” karya Rahmad Agus Supartono. Hampir semua pemenang hiburan mengangkat tema yang menarik dan ditulis dengan cukup memikat. Godaan utama pada nyaris semua pemenang hiburan adalah kurang fokus pada satu alur utama sehingga penokohan, konfik, maupun riset (sejauh terlihat pada catatan kaki) kurang terfokus. Kekuatannya, hampir semuanya menunjukkan daya puitik yang menggugah.
Selain 10 pemenang hiburan. Juri memilih 12 puisi esai yang dianggap menarik. Keduabelas puisi esai ini dipilih karena daya tarik permasalahan yang diangkatnya sebagai puisi esai, meski karya mereka belum mencapai keutuhan sebagai sebuah karya yang solid. Tentu saja 12 puisi esai yang dianggap menarik ini memenuhi capaian minimal puisi esai yang relatif baik. Banyak puisi esai yang mengangkat tema serta persoalan yang sangat menarik. Sayang, tema-tema menarik tersebut belum ditunjang oleh kemampuan menulis yang memadai. Kami berharap, para peserta tidak puas dengan apa yang mereka capai sekarang hingga terus berusaha di masa depan untuk mengangkat tema-tema menarik itu dalam bentuk puisi esai yang memikat.

Juri Final
Agus R. Sarjono
Acep Zamzam Noor
Jamal D. Rahman

Juri Awal
Ahmad Gaus
Elza Peldi Taher
Fatin Hamama
Jonminofri

Juara
1.         Peri Sandi Huizche – Mata Luka Sengkon Karta
2.         Beni Setia – Interegnum
3.         Saifur Rohman  - Syair 1001 Indonesia

10 Pemenang Hiburan
1.         Arief Setiawan – Ngati
2.         Arif Fitra Kurniawan – Bukan Lagi Rahasia Kita Raisa
3.         Catur Adi Wicaksono – Jejak Cinta Madun Di Kota Sampit
4.         Hanna Fransisca – Singkawang Petang
5.         Jenar Aribowo – Suara Suara Ingatan
6.           Katherine Ahmad – Dalam Belenggu Dua Dunia
7.           Kedung Darma Romansha – Rangin
8.           Rahmad Agus Supartono -  Dia, Sangkarib dan Sekarung Kapas
9.           Wendoko – Telepon
10.       Yustinus Sapto hardjanto – Ziarah Tanpa Ujung

12  Puisi Esai Menarik
1.  Alexander Robert
2.  Baiq Ratna Mulyaningsih
3.  Carolina Betty
4.  Chairunnisan
5.  Damhuri Muhammad
6.  Huzer Apriansyah
7.  Nur Faini
8.  Onik Sam Nurmalaya
9.  Sahasra Sahasika
10. Sifa Amori
11. Stefanus P. Elu
12. Yudith Rosida


diambil dari :  http://puisi-esai.com

sebelum 121212

jam memang terus berdetak. adik saya + suami nya + mbimbi   datang. (oiya, mbibi sekarang jadi item deh perasaan. dan kurus) mereka tahu besok bukan saja hari bahagia buat saya, tapi bagi mereka yang jadi kami, melihat saya lulus jauh lebih wah dari hari  lebaran. itu makanya adik saya bolos kerja bolos kuliah, ayah saya libur. mamak saya libur. hari akan jadi tampak lebar saudara. besok pada jam 9 pagi saya wisuda. hari ini wajah saya dan mereka sama sama neon 100 watt.

MALAM DINGIN DI DEPAN HALAMAN


di sini aspal dingin, pohon-pohon dingin
hari-hari dibentuk dari jutaan es batu

nasibku tetap selamat malam
yang ingin aku selimutkan
ke kuncup mata tidur engkau

yang kelak akan mekar demi memeluk keyakinan
bahwa di mimpi, kita akan saling menciumi
warna-warna televisi yang sekarang
pandai menciptakan perang untuk menyakiti diri sendiri
di mimpi, entah kenapa kita jadi kehilangan banyak sekali agama.

kemudian dari datar dada kita yang runtuh
akan memantul; alamat-alamat yang lama
diburu para pendaki
yang mengira sudah sampai di puncak
membawa kaki mereka yang bodoh.

kita tidak punya puncak.
kita tidak punya puncak.
kita cuma punya dasar.
katamu. ditelan oleh kejauhan.

dan mereka tersadar.
buru-buru mereka melilit tempat mereka
tumbuh layaknya seekor ular

tapi percuma. luka-luka yang dulu
tidak bisa memaafkan kita itu juga akan mengubur
mereka satu-satu sebagai kesalahan besar
yang dimiliki usia benalu
: nenek moyang seluruh bayi-bayi bencana

di sini aspal dingin. tidak ada lagi pohon-pohon.
tapi hari-hari terus dibentuk dari jutaan es batu.


(grabag, november 2012)