MITOS DI DALAM SAJAK-SAJAK EKSPERIMEN A. GANJAR SUDIBYO

ditulis oleh Arif Fitra kurniawan*

1. Tentang sajak panjang dan eksperimen

Ada beberapa  hal yang mesti saya catat dari sajak-sajak A Ganjar Sudibyo (selanjutnya saya tulis Ganz), pada beberapa sajak Ganz, yang mesti saya catat pertama-tama adalah upaya-upaya ketekunan untuk terus “mencoba-coba” segala sesuatu untuk dikenakan kepada sajaknya . Yang kedua adalah upaya-upaya untuk menjaga energi yang mesti ia hembuskan  kepada sajak-sajaknya yang panjang, meski kadang saya benar-benar dibuat lelah ketika membaca sajak-sajak ganz yang kelewat panjang, dibutuhkan ketabahan mata menghadapi sajak macam itu. Sajak yang seandainya saya tidak terintervensi oleh pengakuan si penyair bahwa apa yang ia tulis adalah sajak, maka saya lebih suka menikmatinya sebagai sebuah cerpen. Bagaimana tidak, bahkan di sajak Eldorado--, unsur-unsur dari cerita rekaan itu nyaris dimasukkan semua. Tema, plot, setting, karakter tokoh, konflik, dialog, dan ending semua dijejalkan disana. Saya seperti dihadapkan simalakama—cuma untuk menyebut teks itu puisi yang prosais, atau prosa yang puitis. Ah, sutralah.

Saya menyebut si penyair sebagai seorang tukang eksperimen, dengan mengamati gerak-gerik sajaknya selama ini. Itu dapat dilihat  dari keseluruhan sajak Ganz yang dikirimnya ke saya sebanyak delapan judul. Penyair saya umpamakan burung pelikan yang terus melompat, sesekali terbang, dan tak pernah ingin (baca: belum) membuat sarang di suatu tempat. Atau lompatan kecil dan terbang dari satu dahan ke dahan itulah justru yang bisa kita sebut sarang (?).  Pada tiap sajaknya penyair seperti ingin memberi identitas diri antara satu sajak dengan sajaknya ang lain, upaya itu terlihat mencolok dengan mencermati bagaimana penyair melakukan semacam bereksperimen  dengan tipografi. Dari sajak awal Eternal; Origami; Lalu Engkau Duduk di Tepian Kolam itu; Puisi  Tentang Anak-anak Bulan; sampai pada sajak Di Eldorado : Episode Seorang Anak Yang Tak Yakin Mematahkan Hidungnya. Bagaimana penyair membentuk tipografi bait-bait yang centre text, mengawali bait dengan satu kata yang ditulis dengan huruf kapital, memberi angka dan penanda  huruf pada tiap baitnya sebagai pemilah enjambment, selalu ada upaya untuk terus “tidak ingin seperti yang pernah dibuat”. Ini tentu saja diniatkan oleh penyair. Saya sampai pada taraf membayangkan betapa tersiksanya penyair memikirkan terus menerus untuk menciptakan yang ia anggap “temuan baru” nantinya dalam bersemiotik. Kadang tanda-tanda dalam tipografi itu saya tangkap mempunyai fungsi yang menjelaskan apa yang ingin disampaikan sajak, tapi beberapa dari upaya itu semua sekedar menghadirkan identifikasi, saya ambil misal saja di sajak  ini dimana tipografi saya anggap berfungsi sebagai penjelas:

//pertanyaan-pertanyaan//
: 1.
“ke mana arah airmata-jalan pergi menuju tanah rantau?”

: 2.
“siapa yang melahirkan airmata ayah dan ibu-kandung kami?”

: 3.
“bagaimana kami dapat mengeringkan laut airmata kami yang keruh?”

//jawaban-jawaban//

: 1.
sejujurnya, kami masih saja lupa rute di peta
sebab peta telah luntur oleh warna tinta airmata kami
dan dengan segenap cara kami yang tak dapat dibahasakan
jarak mengajarkan kepada kami bahwa menyisakan mimpi

: 2.
hampir setiap malam hampir setiap anak mendengarkan
lelagu dari gendongan para ibu di desa kami. sedang para ayah
sering kali merapikan nafkah dekat perapian dengan asap kretek

: 3.
bisa saja berabad-abad lamanya airmata yang menimbun, jelma
menjadi lautan seperti di tanah gaza atau bencana. dan kami tak
pernah tahu kapan awan akan menampung jadi mendung, sebab
kami telah lama percaya bahwa segalanya mampu mengering
(sajak Empat Pertanyaan Dan Jawaban Mengenai Airmata Kami)

Tidakkah pemberian angka-angka di tiap bait itu memudahkan pembaca menyelami sajak yang dibuat penyair yang menyerupai soal sekolah dasar dahulu, disini tanda-tanda itu terasa hidup, betapa akan sukarnya  saya sebagai pembaca, seandainya  tak ada angka-angka itu. Angka-angka itu membuat saya jadi berpikir, bagaimana serunya jika di sajak itu bait-bait nya diacak, kemudian di akhir sajak, penyair memberikan sebuah perintah: cocokkan pertanyaan pertanyaan sajak dengan jawaban yang sesuai!


2.  Tentang  Kegelisahan dan kesedihan
Sajak-sajak Ganz tidak memaksakan diri untuk berdandan dengan rima ataupun tata bunyi akhiran, sajak-sajaknya lebih memilih untuk memperkuat diri mereka dengan membawa pesan yang mesti sampai ke pembaca. Tapi apakah pesan yang hendak disampaikan sajak itu akan diterima dengan mudah oleh pembaca, ada dua kriteria, mengulang apa yang telah ditulis oleh Horatius  dalam bukunya Ars Poetica, bahwa ada semacam tolok ukur ketika pembaca disodori sebuah karya sastra. Yang pertama adalah utile, yakni  bermanfaat. Yang kedua adalah dulce, yakni kenikmatan. Pertanyaannya adalah bagaimana pembaca mengarahkan kedua tolok ukur itu kepada sajak-sajak si penyair berkacamata ini, apakah sebagai pembaca akan terlebih dulu mencari manfaat berupa pesan tersirat atau akan (cuma) menikmatinya lantaran kadang  tidak merasakan adanya manfaat ketika berhadapan dengan sajaknya. Sajak ganz  bagi  saya adalah tanaman teks yang secara logis tumbuh  secara dialektis. Runut.  Tumbuh dan merayap dari bawah ke atas. Dan  ini hal baik yang yang mesti dicatat. Ada tema besar kegelisahan ketika seorang penyair ingin mengaktualisasikan dirinya dalam bentuk teks sastra, dalam hal ini  puisi, yakni kegelisahan sosial--politik,  kegelisahan metafisik, dan yang ketiga adalah kegelisahan eksistensial. Sajak-sajak Ganz  tumbuh pelan-pelan dari tahun ke tahun membawa tema-tema tersebut. Rentang tahun dari 2008 sampai tahun 2012 adalah perjalanan dimana pengalaman-pengalaman, rekaman-rekaman, gesekan dan interaksinya dengan beragam kejadian membuat sajak-sajaknya sedemikian rupa. Tapi dari yang saya amati, sebenarnya ada satu tema yang linear yang sedang dirawat ganz: kesedihan.  Tetap saja kesedihan itu terlihat meski penyair  membedakinya dengan diksi-diksi yang terkesan macho, dengan kecepatan dan hiruk pikuk dunia cyber, dengan blackberry, dengan chanel televisi, dengan ipad. Tragedi tetaplah sebuah tragedi.

3.Tentang Hipogram dan Mitos-mitos
Sajak ganz, adalah serangkaian perjalanan tranformasi. Rakhmat Djoko Pradopo yang  mengutip Julia Kristeva, mengemukakan  bahwasanya  tiap teks  sastra adalah mosaik kutipan  dan  merupakan  tranformasi dari teks-teks lain. Secara khusus, ada teks tertentu  yang  bisa ditandai sebagai latar penciptaan sebuah teks lain setelahnya,  dan ini disebut oleh Rifaterre sebagai Hipogram, sementara karya yang menyerapnya disebut karya tranformasi. Sajak Ganz dekat dengan itu., Terdapat dua unsur dari Teks tranformasi, yang pertama menampik, yang kedua menerima atau meneruskan. Dan penyair,dalam sajak-sajak yang ia ini saya selidiki meneruskan tiap teks-teks yang menjadi hipogramnya. Kita bisa melihat hipogram dan tranformasi itu pada sajak Origami—Puisi Tentang  Anak-anak Bulan—dan  Di Eldorado.

ORIGAMI

Akhirnya,
ia melipat bulan itu
Lalu membentuknya
Jadi burung-burungan
Agar bisa terbang
Menghiasi
Langit jiwa
Tapi mati
Ditembak sang pemburu malam.
Lalu
melipatnya kembali
membentuknya
jadi kapal-kapalan
agar bisa berlayar
di samudera malam
dan berharap
takkan tenggelam

(2008)

PUISI TENTANG ANAK-ANAK BULAN
1.
dulu, anak-anak bulan senang main origami kapal-kapalan
sewaktu penghujan melahirkan arus luapan kali menuju jalan-jalan kampung
lalu ada dolanan jamuran saat banjir tak lagi tinggal pada bulan-bulan kemarau
: di mana ibu mereka sering berdandan dengan begitu purnama

mereka bilang, kapal-kapalan jauh lebih seru dibanding
berpura-pura melingkar bergandeng-tangan menyanyikan
kidung jamuran yang jadul itu

dan bermain kapal-kapalan tak perlu mendiamkan
pura pada wajah-jujur kita.

(2010)


DI ELDORADO: EPISODE SEORANG ANAK YANG TAK YAKIN MEMATAHKAN HIDUNGNYA

“hari ketujuh, diciptakanNya hidung
dipermakNya menjadi bagian tubuh
yang vital dan binal”
  
1. menuju sekolah, seorang anak mencoba melepaskan
angin dari kedua tangannya. angin itu dijelmakannya
jadi sketsa seekor naga yang lesat menghampiri
masa depan yang penuh dengan burung-burungan
dan pesawat-pesawatan di atas kepalanya. naga
itu kembali ke angin sebab ia tak tahu arah
sebab di depannya gelap dan banyak tubrukan
cahaya asing

(2012)

Ketiga sajak ini dibuat tahun 2008(Origami), 2010  (Puisi tentang anak-anak bulan), (Di Eldorado: Episode Seorang Anak Yang Tak Yakin Mematahkan Hidungnya), itu artinya sajak sajak itu sebenarnya masing-masing telah memiliki jangka dua tahun untuk mengendap,dan entah  secara sadar atau tak sadar sajak-sajak itu seperti mempunyai ikatan. Ada hubungan yang tadi sudah saya sebut sebagai hipogram-transformasi. Bisa kita amati, di sajak Origami, Ganz menulis tentang (seseorang) yang melipat kertas origami dan membuatnya menjadi burung-burungan kemudian kapal-kapalan, teks ini menjadi hipogram awal yang mencoba diteruskan di sajak Puisi Tentang Anak-anak Bulan, di sajak ini penyair juga membawa serta kegelisahan (beberapa orang) yang awalnya sering bermain origami kapal-kapalan. Seolah sajak yang ini adalah tumpahan kesedihan jilid kedua dari sajak Origami. Kesedihan itu mekar menjadi bait-bait yang lebih tragis. Dan lagi-lagi itu masih ingin diperpanjang lagi di sajak Di Eldorado--, kesedihan itu di panjang-panjangkan dalam mitos yang lebih ruah, hiruk pikuk dalam kemodernitasan. Suatu karya sastra menurut Paul Ricouer adalah paduan dokumen sosial dan humaniora dengan dokumen  alam  pikiran . Ini akan menciptakan lingkaran  hermeneutik dimana terdapat unsur sense, berupa makna yang diproduksi oleh hubungan-hubungan dalam teks, dan reference, berupa makna yang  terlahir dari hubungan teks dengan yang diluar teks itu sendiri.  Baik sense maupun reference akan dihadapkan pada runutan kejadian  yang hidup dalam kenyataan, sebab teks dalam  sajak, tak melulu berkisah tentang reference, melainkan lebih dari itu: menciptakan pandangan, horizon pemaknaan baru kepada dunia yang yang sedang dibangun oleh penyairnya, Ini saya tanggkap ketika menemukan sajak-sajak Ganz, dimana penyair asyik masyuk meleburkan dirinya ke banyak mitos, dongeng yang berlalu lalang di sekitarnya, Saya curiga, jangan-jangan seluruh sajak ganz ini memang mitos semua (?) Kita tahu, bahwa mitos, menurut pengertian strukturalisme Levi-strauss tidaklah sama dengan kajian ilmu mitologi. Mitos tidak harus dipertentangkan dengan sejarah serta kenyataan.  Mitos adalah sebuah ceritera yang lahir dari khayalan manusia, imajinasi manusia, meski unsur khayalan itu berasal dari kehidupan dan lingkungan manusia sehari-hari. Dalam mitos, imajinasi seseorang memperoleh kebebasannya secara mutlak, mempunyai seluas-luasnya kemungkinan untuk menghidupkan kemustahilan nalar. Sajak ganz, saya rasa dibangun di atas mitos-mitos tersebut. Kita dibawa untuk membuat keputusan sendiri, akan mempercayainya atau  menolaknya ketika memasukinya. Taruh saja, di sajak Takdirkan Aku Sebagai Katakmu, dimana penyair memperlihatkan kerja kerasnya dalam membawa pembaca untuk menggelisahkan dimensi waktu, antara masa lalu, sekarang dan masa depan.  Terlebih di sajaknya Eldorado, penyair bebas menumpuk mitos-mitos di atas mitos. Benar-benar berlapis. Tapi kita tak mungkin melarang penyair membawa kota hilang penuh emas Eldorado  dari peninggalan suku Chabca  di Amerika Selatan yang disinyalir penuh harta karun emas  permata itu doboyong ke plot mitos si boneka kayu  yang  gamang terhadap hidung sendiri itu. Kita tak bisa protes ketika penyair menculik Zeus dan Poseidon si dewa penguasa laut bersenjata trisula dalam mitologi rakyat yunani ke episode sajaknya, atau Aladin si pemilik lampu ajaib yang kita kenal dari lisan ke lisan.  Kita juga tak mampu menggerutu ketika penyair membawa serta mitos itu melesat ke dunia dimana banyak berhamburan berjejalan dengan acara televisi, video game, internet, bahkan ketika, lebih tragisnnya, mitos itu dimitoskan kembali ke dalam mitos-mitosan dan menjadi wadah yang disana berjatuhan sekaligus tumbuh kapal-kapalan, apel-apelan, pesawat-pesawatan,  telur-teluran. Setidaknya saya mencatat ada 15 kata yang mendapatkan imbuhan –an, untuk menimbulkan efek “pengimitasian” dari benda sebenarnya. Saya rasa ini bukan hal mudah, ketika seorang penyair mesti mencermati kata-kata mana yang layak diberi efek –an , tidak sekedar kata, namun bisa menciptakan ambivalen dan kesan plastik. Penyair mesti berjerih payah menjaga ritme dan konsentrasi di tengah hiruk pikuk kata-katanya sendiri.  Saya cuma berdoa semoga Ganz tidak ikut tercebur menjadi penyair-penyairan. Dan ia tidak sedang membuat sajak-sajakan. Atau jangan jangan-jangan ini sudah menjadi esai-esainan yang dibuat oleh arif-arifan? Ah, sutrala
labalukisaludakasulisakisakilu
ceciceciceciceciceciiiiiiii
cicecicekisabalu….biimmm!

(Semarang, Maret 2012)

tulisan ini dibuat untuk kepentingan NgoPi (Ngobrol Pintar)-- Komunitas Lacikata  edisi sajak-sajak A Gandjar Sudibyo, yang rencananya akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Maret 2012, di Jalan Stonen 29

02.30

semakin dini
      semakin dingin
                   semakin engkau

AKU BERTERIMAKASIH KEPADA RESEP-RESEP INI



Superb, akhirnya kabar baik lagi, sertifikasi chef nasional  datang juga kepadaku. namaku terdaftar diantara chef-chef itu. Artinya ujian yang kemarin itu lolos. Cemas juga tadinya, nggak cemas gimana, yang ikut sertifikasi  dan berstatus mahasiswa cuma aku, mesti sedapur dengan chef Patra jasa, chef Grand Wahid Hotel, Swiss Bell hotel, Ibis Hotel, semua serba hotel berbintang gitu. haha, jadi inget betapa gemetarnnya ketika menyelesaikan tiga resep buatanku, aku menjadi peserta terakhir. fyuuuh, beruntung, waktu kurang 10 menit sudah selesai 3 resepku baik appatizer, main course, maupun dessertnya. Plong. heran, setan mana yang ada di tangan-tangan chef itu, bisa-bisanya mengerjakan 3 resep dalam waktu cuma 1 1/2 jam, artinya mereka sudah selesai 30 menit dari 2 jam yang disediakan penguji! dan itu keren! sekaligus memporakporandakan konsentrasiku. untungnya aku masih bisa mengejar "kekurangtangkasan" di timing dengan unggul di pengetahuan teknis dan wawasan teoritis. ya, istilahnya, kurang di okol tapi sedikit lebih di akal. jadi penguji membagi ujian ini dalam 2 sesi, 2 jam praktikum, 1 jam tes tertulis, 1 jam lagi interview. Waaalaaa! 

stttt, baru kali ini, aku memberanikan diri, memposting sesuatu yang belum pernah aku posting: resep masakan! yuhuuu, di edisi postingan spesial ini , aku tampilkan resep-resep yang sudah meloloskanku ujian sertifikasi. aku merasa perlu berterimakasih kepada resep-resep ini, yang aku rancang hampir selama 2 minggu, dengan berulang-ulang mencobanya sendiri di dapur kecil ayah, gagal, dicoba lagi, kurang ini ditambahi, di modifikasi lagi. gagal, mikir lagi, dicoba lagi.

Selamat menyebut diri, Chef !



ITALIAN MANGO SALAD
Bahan:
100 g daging buah mangga Indramayu/arumanis, slice cube
100 g buah pir Australia, slice cube
1 buah tomat merah, kupas, slice tipis  memanjang

Aduk jadi satu:
30 g  cheese, kocok lembut
30 g mayonaise*
1 sdm air jeruk lemon
½ sdt merica bubuk
½ sdt garam

Cara membuat:
( mayonnaise) :
1 butir kuning telur
2 sdt jus lemon (1 sdt  finnegar sebagai bahan pengganti )
250 cc vegetable oil/corn oil
½  tsp  salt
½  tsp sugar
-  mixing kuning telur dengan jus lemon hingga menyatu, kemudian campur sedikit demi sedikit hasil dari mixing kuning telur dan jus lemon dengan vegetable oil sambil diputar aduk sampai habis. tambahkan garam dan gula.

2.Atur mangga dan pir dan tomat dalam mangkuk saji.
3.Tuangi Sausnya.
4.Aduk-aduk hingga rata.
5.Sajikan segera dengan garnish.





CHICKEN CORDON BLAEU  WITH LEMON SAUCE

Bahan:

2 dada ayam, tanpa kulit
2 lembar irisan roast beef (daging sapi panggang)
2 lembar keju cheddar
2 sdt mustard
garam & merica secukupnya
1 buah kentang, slice kecil memanjang, goring dengan metode deep frying.

Kulit:
tepung terigu (plain flour)
tepung roti (bread crumbs)
1 butir telur kocok

Lemon Sauce:
4 sdt. fresh lemon juice
4 sdt. air
1/2 tsp. salt
4 sdt. gula
2 sdt tepung maizena


Cara:
1. untuk Lemon sauce, masak  bahan Lemon sauce kemudian kentalkan dengan tepung maizena.
2. Belah dada ayam secara horisontal (melebar),Buka di tengah, lumuri dengan mustard, garam & merica.
3. Letakkan roast beef di tengah2 dada ayam dan lembaran keju, tutup kembali. Bila perlu, tusuk dengan tusuk gigi agar tidak terbuka. Taruh di kulkas selama 30 menit.
4. Labur dada ayam dengan tepung terigu, lalu celupkan dalam telur kocok. Setelah itu labur dengan tepung roti sampai seluruh permukaan dada ayam terlapisi.
5. Goreng dengan api kecil dulu. Setelah 3/4 matang, besarkan api.Tiriskan, beri garnish dan hidangkan.





PANCAKE WITH  VANILLA SAUCE

Bahan:
100 gr tepung terigu protein sedang
30 gr  gula pasir
200 cc susu cair full cream
30 gr margarine cair
1 butir telur ayam
1 sdt baking powder

Cara Membuat:
1. campur tepung terigu, gula sampai rata
2. tambahkan  telur (yang sudah dikocok), susu cair, margarine cair.
3. tambahkan baking powder dan aduk hingga benar-benar rata
4. panaskan  Teflon, kemudian dadar adonan pancake dengan api kecil
5. balik adonan setelah berlubang dan permukaan mengeras
6. hidangkan dengan menambah  vanilla sauce dan toping.

mimpi kamu mimpi aku

kapan kita bisa sepayung di mimpi, membenarkan letak rintik hujan.
bertatapan sambil sesekali membasahi perasaan --

(mimpi kamu lucu. sedangkan mimpiku aneh. masak matahari senyum dan kedip-kedip? siapa juga itu yang jadi pengantin? hahaha.semoga kita tetap  dikirimi mimpi-mimpi agar tau bagaimana cara  mengabarkan diri ya)
MAAFKAN AKU, RENUKA
; ibuku

diantara himpitan  bayang-bayang pohon meranti merah,  sebelum  tahun-tahun  menghukum  diri mereka sendiri dengan kekecewaan.  inilah aku,  ibu. sebuah perjalanan yang gemetar;  sendirian memikul takdir yang sama  sekali tak bisa ditukar. bahkan dengan hal-hal perih  milik   siapapun  yang pernah mengangankan sorga.  sorga yang aku benci sebab tak hati-hati menjatuhkan buah simala—karma ini.

aku, akulah bungsu  dari rahimmu yang lahir semata-mata  menjelaskan kapan  siasat dan isyarat-isyarat  berakhir. kepadaku dekatkanlah, dekatkanlah lehermu sekapak demi sekapak, biar kusapih dan  kupisahkan dulu masa lampau yang telah menyusuiku. ini mata kapakku  ibu; dendam seluruh pandangan.  yang begitu saja mencintai  lengkungan  petang  di lehermu, petang  yang suatu ketika pernah menjelma rimba bagi para ksatria yang diburu rasa ingin tahu mereka. mudah jatuh dibidik  pelukan dan kecupan-kecupan yang melintasi semak-semak dan pepohonan.

seusai ini, aku berjanji niscaya mereka akan  mandi dan mencuci daki nafsu  dengan kesedihan  yang kutimba dari tusukan airmata mereka sendiri.  kita sudah dalam jarak sedekat ini,ibu,  namun tak ada yang bisa kusebut  penyesalan. tebaskan saja, anakku. tebaskan.  kegelapan menempaku, membesikan  lengan kananku. di sisa bayang-bayang pohon meranti merah, aku dekap tugal kepalamu  agar tak menggelinding ke tanah.  

MEMBUKTIKAN PUISI-PUISI SETENGAH MATANG MILIK GURI RIDOLA


Oleh: Arif Fitra Kuniawan*

Sajak Guri Ridola yang dikirim ke saya berjumlah tujuh buah. Tujuh judul  sajaknya sudah cukup  memaksa saya berkali-kali mengakrabi Kamus Besar Bahasa Indonesia demi menikmatinya, menikmati sesuatu yang konon kata si penyairnya adalah sajak sajak yang sudah berubah, dari “sajak setengah matang” ke konon menjadi “sajak yang matang”. Iklan perubahan ini  yang membuat saya penasaran untuk membuktikan, apakah benar sajak-sajaknya telah matang dan ‘nyamleng’, ‘top markotop’,’maknyus’, ketika dikecap?. Saya jengkel sekaligus gemes saudara, seperti yang saya ungkapkan di awal, mesti bolak-balik membuka kamus demi mencari arti kata betanggang, petanggang,mendedahkan, ketam, puding kurik, menyaru, pelanta, kue sapik, dikubak—kuliti, segantang dan beberapa kata lagi yang bagi saya menjadi kata asing di sajak-sajaknya. Bukan bermaksud buruk atau jahat,  menggunakan ini sebagai celah untuk mencacat sajak Guri. Bukan. Semata-mata ini karena saya sebagai pembaca adalah seseorang yang lahir di Jawa. Ya, saya terus terang mengalami kekacauan interpretasi ketika ingin mencari  keutuhan sajak-sajak Guri lantaran  satu dua kata tidak berhasil saya temukan artinya dalam kamus. (beberapa kata saya dapatkan artinya, beberapa lagi terpaksa saya lompati, sebab di kamus tak mencantumkan definisi kata tersebut).

Guri Ridola, si penyair  yang saya kenal sebagai  spesialis pembuat tulisan setengah matang ini, lahir di Batusangkar,  yang saya ketahui dari Wikipedia adalah ibukota dari kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Di wikipedia ditulis, tidak ada yang tahu  secara pasti muasal darimana nama Batusangkar; apakah konon ada sebuah batu dalam sangkar; batu yang menyerupai sangkar; atau malah sangkar yang menyerupai bebatuan. Yang  jelas,  Batusangkar yang disana berdiri benteng Fort Vander Capellen  yang dibangun  antara tahun  1822 sampai 1826 itu jauh sekali dari kota kelahiran saya --sekaligus tempat perantauan Guri Ridola--, Semarang.  Jarak seperti itu menurut dugaan saya, menciptakan ruang-ruang konflik historikal tersendiri yang efeknya adalah mimesis kebudayaan, benturan-benturan batin, selain pastinya kekhasan daya ungkap ketika seseorang menuliskan sajak.  


Seperti yang dikutip Sapardi Djoko Damono dari Geibstein, karya sastra tidak dapat dipahami selengkap- lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan.  Dan itu terbukti di  sajak-sajak Guri Ridola. Tengoklah  sajak  Musim Tanam; Palanta; Tonggak Dingin. Kekhasan Guri sebagai lelaki padang yang merantau ke Semarang menelusup diantara teks-teksnya itu, sajak Guri berupaya membawa serta kampung halamannya.  Diksi-diksi yang diambil suasana alam, binatang lokal semisal tupai, rumah gadang, suasana halaman surau petang hari, kebun belakang, buah-buahan. Puding kurik, kueh lapik, kopi petanggang, ukuran segantang, tongkat rotan, kaki bujang. Seakan tak bisa begitu saja dilepaskan dari ingatan sajak-sajaknya. Seperti halnya Guri Ridola yang sampai sekarang,belum bisa membiasakan lidahnya dengan masakan warteg, atau makan di angkringan. Bagi lidahnya, makanan yang bisa dipacari lidahnya semata-mata cuma masakan Padang
Bayangkan menafsirkan sendiri kata-kata semacam puding—kurik, kue sapik, dan barangkali fatalnya adalah ketika dugaan saya meleset,
Dibulat-pipihkan segala yang hangat sebelum angin mendinginkan
dalam kepala yang menduga-duga sejak ia masuk ke telinga
bagai melipat kue sapik panas di tangan tentram di dada
walau belum tahu siapa yang akan bertamu nanti malam
(Palanta)

Apa jadinya seandainya saya salah menuduh kue sapik, ternyata bentuknya jauh sekali  dengan kue segenggaman tangan yang saya pikirkan--kalau di tempat saya diberi nama kueh apem--, kue yang terbuat dari adonan tepung beras yang diuleni dengan biang dan santan kental, dengan cara menimang-nimangnya dalam tekanan tertentu selama lebih dari satu jam, kemudian dibiarkan mengembang sebelum akhirnya dimatangkan di wajan baja itu. Apa jadinya pula jika ternyata yang disebut puding kurik, jauh sekali dengan harapan saya ketika lapar, seloyang puding yang biasa ibu buat dari agar-agar yang sekali masak dalam satu panci dibagi dua, sebagian dibiarkan sesuai warna aslinya merah, sebagian lagi dicampuri susu kental manis.

Kau datang membawa hangat dalam segantang kata
bagai penari telanjang memilin-milinkan tubuhnya di tiang besi
ingin menggagalkan dingin menggigilkan tonggak di depan rumah
yang menjelma pohon nangka
tempat sunyi dilepas dan digetahi berkali-kali
(Tonggak Dingin)

Saya berterimakasih kepada kamus yang telah memberitahu saya bahwa kata segantang adalah  takaran untuk mengukur benda seberat kisaran 3,125 kilogram, biasa dipergunakan untuk menimbang beras, jagung, kacang-kacangan dan hasil panen. Itu mempermudah saya dalam memasuki sebuah ruangan untuk menari-nari,berlenggak lenggok bersama dengan penari striptease, agar tak diserang dingin  yang menusuk-nusuk sampai ke anus!

Tapi apakah sajak-sajak Guri Ridola benar-benar tidak bisa mendua?  Karena bagaimanapun, beberapa tahun di perantauan, penyair tentu mau tidak mau akan terseret untuk membuat pertentangan dan tarik menarik dengan ruang-ruang budaya yang ia tempati. Perubahan cara ucap hasil pertentangan atau kontaminasi itu bisa kita lihat di sajak Bibir.

Bibirmu angkot yang kutemui di setiap kota
aku terima pertemuan sebagai penumpang
mengabaikan rambu dan pengamen jalanan
nama jalan dan bangunan serta kata-kata iklan
namun berjaga-jaga pada barang yang dibawa
sebelum aku sampai dan pertemuan usai
tubuhku jatuh ke tanah bagai jemuran basah

Bibir

Sajak ini dibuat tahun 2012, dimana penyair sudah tinggal di tanah rantau beberapa tahun  sebagai mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan tingkat akhir, universitas Diponegoro. sajak ini seolah memberitahu saya,  penyair mau tak mau  terkikis juga oleh arus urban, pengaruh interaksinya dengan orang-orang yang tak lagi membawa kampung halaman, surau, musang, tupai, kaki bujang, dikubak-kuliti atau ungkapan-ungkapan sejenis itu.

yang membuat saya sukar, ketika saya sebagai pembaca yang kadang tak mengenal dengan baik bahasa ibu yang diselusupkan secara angkuh ke dalam sajaknya, ada semacam kesenjangan. Angkuh yang saya maksud disini adalah kata-kata “planet” itu tidak bisa lumer ke dalam sajaknya, entah itu karena pembacaan saya yang dangkal, atau memang kadang penyair kurang mampu memasukkan unsur ‘perasaan’, ditambah lagi dengan  metafor-metafor, idiom serta personifikasi, yang tumpang tindih dan berlapis-lapis, namun hasilnya lebih kerap membuat berantakan daripada mengutuhkan.  Beruntung dari tujuh sajak itu, saya menemukan harapan di Katalog Abu,

Katalog Abu

Katakan di mana engkau terbit, tentu tidak seperti matahari
bayanganmu keluar lalu terbang dalam tabung cahaya dari lubang atap

Datang dan pergi bagai membalik halaman buku
; ditangkap dan dilepas mata
beberapa isyarat di tubuhmu menjadi syarat di tubuhku
nama-nama yang berebut ingin di depan-belakangkan
agar tidak ada yang tersesat dalam perpustakaan

Katakanlah di mana engkau tinggal, tentu tidak seperti musafir.
sebab engkau ingin jadi kolam air bagi musafir

Di batang tubuhku pangkal namamu tersimpan
beberapa huruf yang telah dijadikan mantra
agar tidak ada yang berkata dusta

Katakanlah di mana engkau hilang, tentu tidak seperti jejak
sebab engkau tidak pernah menapak, namun ingin dilacak

Laci-laci lemari membuatku tua selepas pembakaran pada senja itu

Semarang, 2011-2012


sajak ini saya gunakan sebagai penawar sakit hati saya setelah saya merasa gemes, jengkel, dan sakit hati, karena, sebenarnya saya ingin membuktikan, bahwa sajak-sajak Guri Ridola tak seperti apa yang dikatakan Afrizal, sebagai sajak-sajak yang hancur dan jelek.  Sajak-sajak yang menurut saya setelah membacanya berulang-ulang ternyata menjejali diri sebanyak mungkin dengan upaya-upaya atribut agar “tampil beda”, si penyair seakan-akan ingin agar tubuh sajaknya benar-benar sempurna didandani. Berbicara mengenai tubuh, saya berhasil mencatat, sajak Guri berjumlah tujuh buah. Dan ini, barangkali dapat menjadi semacam tali tipis yang dapat ditarik, ada 11 kata tubuh di enam sajaknya, cuma satu di sajak Palanta, yang selamat dari serangan teror kata "tubuh". Mengapa penyair menggunakan tubuh untuk menyampaikan harapan-harapannya, harapan untuk dapat menciptakan tubuh yang terlihat perfeksionis. Namun tubuh sajak, apakah perlu juga berlebihan ketika berdandan?

 * ditulis untuk keperluan program NgoPi edisi sajak  Guri Ridola. Tanggal 10 Maret 2012.

MENCARI DIDU DAN VIVI DALAM PUISI-PUISINYA


ditulis untuk kepentingan Ngobrol Pintar edisi puisi vivi Andriani

Didu kemana  ya?, baiklah kita mulai saja  pencarian  ini semua dari kata tanya.  Semoga  kata tanya  akan membawa kita ke banyak hal, banyak peristiwa yang sedang dan telah dibangun  Vivi andriani dalam puisi-puisinya. Meskipun barangkali saya bukan touring guide yang baik ketika menemani mencari didu dan jalan keluar , ah masa bodoh; paling tidak kita berkeliling-keliling dan menemukan sesuatu yang lain, yang  jangan-jangan tidak sedang  kita cari-cari [?]
dimana didu, Mana dia, o, disini rupanya, kenapa, gak apa-apa
kemana didu, ngapain dia, o, nonton teve, kenapa, gak apa-apa
didu, didu, didu, mana didu, o, tidur rupanya, kenapa, gak apa-apa, tidurlah
mau kemana didu, kenapa pakai baju bagus, gak kemana-mana, kenapa, gak apa-apa
(Nyanyian Didu)

maaf, bilamana saya tak membawa serta  buku-buku tentang eksistensialisme, teori  dekonstruksi, gerakan feminism, postmodernist, atau pendapat-pendapat yang begitu  keren dari  alat ucap serta pemiikiran semisal Riffatere, Paz, Todorov, Camus, Nietzche,  Derrida, maupun Freud,  yang mengucapkan namanya saja  melulu keliru dan membuat saya merasa jauh lebih bebal dari perkiraan, padahal paling tidak teori-teori itu sebenarnya bisa ditarik dan saya pergunakan untuk menopang, merakit-rakit, meraba-raba, apa-apa yang tersirat serta yang tersurat dalam tubuh puisi ini secara tekstual maupun intertekstual. Sudahlah. Itu salah saya kok. Saya belum terbiasa membaca hal-hal yang berat, jadi mari,  selamat menabrak-nabrak  sebab interpretasi serta  terkesan cuma bermodal dari membayangkan mengenai sebuah kejujuran.

tapi bukankah puisi memang selayaknya terlahir dan hadir  dari  kejujuran? termasuk ketika puisi bingung, timpang, sedu, lantas menulis kebingungan, ketimpangannya, menjadi si pe-nanya, sekaligus si penjawab, menjadi si pencari, sekaligus si penemu, seperti puisi di atas. yang dibangun dengan “berbagai kenapa”. kenapa nonton teve; kenapa tidur;kenapa terbangun cepat-cepat; kenapa mesti pakai baju bagus.  Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh riuh bukan? , saya membayangkan, saya ikut berada di lalu lalang pertanyaan-pertanyaan itu. Saya adalah didu si pencari, sekaligus yang di cari. didu adalah ketakutan saya, yang berusaha saya lawan dengan berbagai upaya-upaya, dan upaya yang barangkali tepat adalah dengan berkata sebanyak-banyaknya bahwa saya tidak baik-baik saja. gak papa. gak papa. saya tidak baik-baik saja. Berharap repetisi yang sistematis  mampu menjadi sugesti dan hipnosis bagi diri sendiri.  Amin ya Didu. Amin. jangan mati dan membusuk dulu sebelum kami menemukanmu.

Saya rasa puisi ini, maupun beberapa puisi vivi yang lain ingin melawan sesuatu yang kerap mengganggu pikirannya, puisi yang ingin lepas dari aturan-aturan (meski tak hendak membuat aturan baru), puisi yang ingin “gue banget”. Memperalat diksi-diksi yang lepas dan sedikit tidak peduli, menyadari bahwa kerelatifan adalah kemungkinan-kemungkinan yang berhak untuk kita pilih.  termasuk membuat paradox, antithesis, menggunakannya agar merdeka dari yang telah menjajahnya, yang telah menjadi mitos-mitos yang selama ini dipegang oleh banyak orang sebagai sebuah keyakinan. Vivi memilih puisi untuk memerdekakan diri.


…cinta ternyata seperti indomaret, ramai, enak, banyak dan gampang tapi membuatmu seperti wajib untuk datang, aku sedih sayang membayangkan anak-anak lahir dari rasa kasihan dan waktu yang cemas pada usiaku, usiamu, atau pada orangtua kita yang lugu, aku memang aneh, maka pergilah, pergi yang jauh, sejauh kau bisa, karena aku tak ingin di sana, mati bosan dalam kasih sayangmu yang makin lama makin mirip malaikat dari kitab-kitab suci, baik hati dan berwibawa…
(Lamaran Datang Suatu hari)

Terasa sekali, vivi ingin membisikkan penawaran yang ia anggap sesuai secara subyektif, sesuatu yang mungkin tidak seperti yang selama ini di perdengarkan, didoktrinkan, kepada kita sebagai rezim pemikiran secara laten, berulang-ulang, terus menerus. Hal-hal seperti ini beberapa kali saya temui diantara puisi-puisi Vivi.

puisi-puisi ini berusaha meyakinkan diri, menjujuri apa yang ada, tak ingin segala sesuatu tercipta dari keterpaksaan, atau yang dipaksakan. vivi seperti ingin memperjuangkan puisi sebanding memperjuangkan haknya sebagai produk sejarah. Yang diciptakan dengan pengkotak-kotak--an, harus tunduk pada keseragaman. Puisi-puisi Vivi ingin mecipta dongeng bagi dirinya sendiri.

Diamlah
Dunia baru saja lahir diujung mata, kenapa ada panggung lahir sia-sia
(Puisi menthol)
saya tak tahu, apakah  puisi-puisi vivi berasa menthol atau tidak, semriwing atau malah meranggas, terbakar. saya tak berani bertanya dan memilih  menurut, seperti anjuran puisi ini agar diam. Diamlah.  Diam sembari membayangkan bulatan dunia tiba-tiba merobek mata saya, yang kanan tepatnya. meluncur dengan gerakan parabolik  jatuh menimpa dan menghancurkan harapan-harapan. Termasuk apa yang telah bertahun-tahun kita yakini sebagai panggung sandiwara ini. Aduh, mengapa “kenapa-kenapa” dalam puisi vivi  begitu menyakitkan?

Jujur


kelak, tupai-tupai itu akan jatuh juga
dengan sendirinya dari bibir engkau.
dari jari engkau, dari ketiak engkau
dari leher engkau, dari punggung engkau.

sebab kebohongan licin.
meski telah kau persiapkan
seribu kaki pemanjat dari kemarin.

: yang pandai menukar alasan,
yang mahir memindahkan kejadian,

seberapa tabah dapat engkau bekam?



dari menjengkelkan ke mengecewakan, ada jalan kecil bernama kesengajaan;
dan kamu melenggang disitu.