Furuike ya.
tawasu tobikomu.
Mizu nO oto ,...
( masuo basho nO haiku )
artinya kurang lebih ( kalo kurang ya ditambahin sendiri. . ._^ )
kolam tua.
seekor katak melompat.
percikan air, plung...
Aku lagi ngerasa jadi katak nih, melompat dari batu ke batu ,terpeleset ,kecebur ,tapi bangun lagi, meski berbasah ndangdut.Tapi teteep. . ,
semangat manggut manggut * halaah *
ssst...
Lompat lagi ah !
Yang lebih berenergi yang lebih tinggi.
Ninggalin serangkaian prosesi metamorfosis.
Ayaya. . .
Kanashi ka ,
shizuuka desu ka ,
benkyo shitte kudasai yo ! ! ! !
dilihat dari dalam adalah lampu-lampu kota, dilihat dari luar adalah masa lalu kata-kata
hari ini untukmu : ibu
".....selama matamu bagiku menengadah,
selama kau darah ngalir dari luka,
antara kita mati datang tidak membelah...."
(chairil anwar, dikutip lewat ingatan)
aku membayangkan ia hari ini sedang uduk di samping bebatu di tepi taman Sriwedari*. menyerahkan rambutnya yang sedikit putih mengelabu dirambati angin yang sesekali renggut mengena muka. usianya hari ini tiga puluh sembilan warsa. raut sabar itu tetap memrpelihatkan dengan tegas keanggunanya, keanggunan yang terjaga masih sama persis seperti dahulu yang pernah tertangkap oleh segenap panca inderaku kali pertama belajar mengingat.
selalu begitu dan ajeg,
tak sedikitpun kulihat ada yang pudar dari tekstur serat lapisan kulitnya,
tak ada sedikitpun penurunan kadar melanin \ yang kerap kusakaisan pada nyaris tiap tiap wajah menakin di deret etalase toko perhiasan dan busana, berubah warnanya menjadi coklat taar atau kuning keruh.
wajah wanita ini begitu tulus, tiap tonjolan dan cekung reliefnya seakan ingin menampilkan beludru lembut yang nyaman dalam menerima rebah bagi segala sesuatu. wajah yang tekesan dipenuhi motif arsiran kebahagiaan, seakan tiap apapun benda akan segera memahami bahkan, bahwa udara yang ia hirup dan ia hempas adalah gelembung gelembung mikro , kecil memang, namun berjumlah milyaran penuh kasih sayang dan kehangatan susana.
ingatanku kembali rentan.
kembali menyusur jalan jalan, alamat alamat, plang arah, yang ia pernah tapaki, yang pernah juga sama sama aku ikuti. ya, jujur.
sebagian usiaku sebagai lelaki memang telah ku percayakan untuk menguntitnya dari belakang,dan kalian tahu, ia selalu tersenyum untuk sifat kanakku yang satu ini, ia begitu paham mengasuh keluguanku yang bayi.ketahuilah, di tiap jengkal tapak yang ia toreh sepanjang perjalanan menuju sampai di taman ini, kaki ranumnya tak pernah alpa menyemai benih feromon sebagai penanda yang di lain waktu akan ku ikuti ketika aku berjalan diantara sumber gelap serta kemungkinan tipudaya rimba.
maka akan kuceritakan lagi smpai sejauh ini, tak pernah ku kahwatirkan lagi tersesatkan akar timang yang sering menjerumuskan bingung pada lorong labirin.atau godaan perilandak dan demit jejadian yang kerap jadi sawan ketika petang datang terlalu pagi. sungguh, tiap geraknya menuju taman ini adalah ruang ruang yang mengayomiku penuh dan sungguh sungguh. menjagaku dari dingi, dari terik, dari hujan,dari leleh lelah yang menggelambir sepaeti tangan druwiksa yang seringkali terbit di mimpi buruk,
ya, sekarang perhatikanlah, aku disini, jarak dua kaki di belakangnya, berdiri dengan getaran yang tak pernah berubah dalam mengagumi.dalam menghormati.
aku cuma bisa seperti ini ibu,
memandangmu penuh haru, menyaksikan senyummu selalu terkembang menjaga sebuah taman. taman yang tiap hari di hiasi delapan bulatan matahari. taman tempatku berdiri merindukanmu tanpa bisa menyentuh.
biarkan aku yang seperti ini melawan kesakitan usiaku.
ibu, selamat hari jadi.
yip kangen.
semoga Tuhan menjagamu dengan segenap kasihNya
selama kau darah ngalir dari luka,
antara kita mati datang tidak membelah...."
(chairil anwar, dikutip lewat ingatan)
aku membayangkan ia hari ini sedang uduk di samping bebatu di tepi taman Sriwedari*. menyerahkan rambutnya yang sedikit putih mengelabu dirambati angin yang sesekali renggut mengena muka. usianya hari ini tiga puluh sembilan warsa. raut sabar itu tetap memrpelihatkan dengan tegas keanggunanya, keanggunan yang terjaga masih sama persis seperti dahulu yang pernah tertangkap oleh segenap panca inderaku kali pertama belajar mengingat.
selalu begitu dan ajeg,
tak sedikitpun kulihat ada yang pudar dari tekstur serat lapisan kulitnya,
tak ada sedikitpun penurunan kadar melanin \ yang kerap kusakaisan pada nyaris tiap tiap wajah menakin di deret etalase toko perhiasan dan busana, berubah warnanya menjadi coklat taar atau kuning keruh.
wajah wanita ini begitu tulus, tiap tonjolan dan cekung reliefnya seakan ingin menampilkan beludru lembut yang nyaman dalam menerima rebah bagi segala sesuatu. wajah yang tekesan dipenuhi motif arsiran kebahagiaan, seakan tiap apapun benda akan segera memahami bahkan, bahwa udara yang ia hirup dan ia hempas adalah gelembung gelembung mikro , kecil memang, namun berjumlah milyaran penuh kasih sayang dan kehangatan susana.
ingatanku kembali rentan.
kembali menyusur jalan jalan, alamat alamat, plang arah, yang ia pernah tapaki, yang pernah juga sama sama aku ikuti. ya, jujur.
sebagian usiaku sebagai lelaki memang telah ku percayakan untuk menguntitnya dari belakang,dan kalian tahu, ia selalu tersenyum untuk sifat kanakku yang satu ini, ia begitu paham mengasuh keluguanku yang bayi.ketahuilah, di tiap jengkal tapak yang ia toreh sepanjang perjalanan menuju sampai di taman ini, kaki ranumnya tak pernah alpa menyemai benih feromon sebagai penanda yang di lain waktu akan ku ikuti ketika aku berjalan diantara sumber gelap serta kemungkinan tipudaya rimba.
maka akan kuceritakan lagi smpai sejauh ini, tak pernah ku kahwatirkan lagi tersesatkan akar timang yang sering menjerumuskan bingung pada lorong labirin.atau godaan perilandak dan demit jejadian yang kerap jadi sawan ketika petang datang terlalu pagi. sungguh, tiap geraknya menuju taman ini adalah ruang ruang yang mengayomiku penuh dan sungguh sungguh. menjagaku dari dingi, dari terik, dari hujan,dari leleh lelah yang menggelambir sepaeti tangan druwiksa yang seringkali terbit di mimpi buruk,
ya, sekarang perhatikanlah, aku disini, jarak dua kaki di belakangnya, berdiri dengan getaran yang tak pernah berubah dalam mengagumi.dalam menghormati.
aku cuma bisa seperti ini ibu,
memandangmu penuh haru, menyaksikan senyummu selalu terkembang menjaga sebuah taman. taman yang tiap hari di hiasi delapan bulatan matahari. taman tempatku berdiri merindukanmu tanpa bisa menyentuh.
biarkan aku yang seperti ini melawan kesakitan usiaku.
ibu, selamat hari jadi.
yip kangen.
semoga Tuhan menjagamu dengan segenap kasihNya
Akhirnya, kulanjutkan lagi dongeng ini
Setelah beberapa hitungan detak bandul jam dikamar berayun , dan intonasi nafas menemukan lagi keseimbanganya mulutkupun komat kamit lagi . . .
Adik , ketahuilah bahwa tujuan dari perjalanan si pangeran ini adalah menemukan ramuan mujarab guna memulihkan keberadaan hati retaknya , hati yang selama ini bagian tepi tepinya rompal,miris,selalu disinggahi wajah luka yang abadi. Tapi bisa kita lihat , dia lelaki yang ingin terlihat tangguh , tak ingin pasrah dan menyerahkan tubuhnya pada segaris takdir. Dapat kita lihat bukan , ia gigih memperjuangkan harapan.
Huh, bicara harapan, harapan itu kataku adalah menunggu. Dan menunggu baginya adalah hal yang masih tersisa dan menjadi gairah pemantik untuk tak lekas menyerahkan diri pada lelah.
Dan agaknya sang Pencipta memahami benar niat baiknya , Dia yang welas asih ,sang Hyang wasesa,sang Hyang Tunggal ternyata tak kuasa menyaksikan ciptaanya dikalahkan oleh waktu . Dia hadirkan keajaiban itu.
Tiba tiba kemilau sinar itu menyembul di pagi yang hijau...
Pagi yang menimbulkan keyakinan,setelah tigaribuempatratusduapuluhlima malam tersuruk dalam pencarian.
* ulul melotot , tubuhnya meyudutku ke arahku : yes , bahasa tubuhnya mulai penasaran.
Aku melirik genit,kena kau ! dengan sedikit pura pura aku meringis , nyengir.
Ayo kak. . ,lanjut lagi, pangeran nemuin apa ? Mutiarakah?pusakakah?
Ak tiba tiba berdiri, menyempurnakan tulang belakangku yang sedikit aus karena kelamaan ber sila .
Lho kak, mau kemana ? Iih , ceritanya belon kelar nich. . , bikin tanda tanya ajah kakak nih !
Kaaak . . ,mau kemana ?
Dia mulai menjerit.
Kakak be'ol dulu. . .^_'
* ulul bersungut sungut *
Adik , ketahuilah bahwa tujuan dari perjalanan si pangeran ini adalah menemukan ramuan mujarab guna memulihkan keberadaan hati retaknya , hati yang selama ini bagian tepi tepinya rompal,miris,selalu disinggahi wajah luka yang abadi. Tapi bisa kita lihat , dia lelaki yang ingin terlihat tangguh , tak ingin pasrah dan menyerahkan tubuhnya pada segaris takdir. Dapat kita lihat bukan , ia gigih memperjuangkan harapan.
Huh, bicara harapan, harapan itu kataku adalah menunggu. Dan menunggu baginya adalah hal yang masih tersisa dan menjadi gairah pemantik untuk tak lekas menyerahkan diri pada lelah.
Dan agaknya sang Pencipta memahami benar niat baiknya , Dia yang welas asih ,sang Hyang wasesa,sang Hyang Tunggal ternyata tak kuasa menyaksikan ciptaanya dikalahkan oleh waktu . Dia hadirkan keajaiban itu.
Tiba tiba kemilau sinar itu menyembul di pagi yang hijau...
Pagi yang menimbulkan keyakinan,setelah tigaribuempatratusduapuluhlima malam tersuruk dalam pencarian.
* ulul melotot , tubuhnya meyudutku ke arahku : yes , bahasa tubuhnya mulai penasaran.
Aku melirik genit,kena kau ! dengan sedikit pura pura aku meringis , nyengir.
Ayo kak. . ,lanjut lagi, pangeran nemuin apa ? Mutiarakah?pusakakah?
Ak tiba tiba berdiri, menyempurnakan tulang belakangku yang sedikit aus karena kelamaan ber sila .
Lho kak, mau kemana ? Iih , ceritanya belon kelar nich. . , bikin tanda tanya ajah kakak nih !
Kaaak . . ,mau kemana ?
Dia mulai menjerit.
Kakak be'ol dulu. . .^_'
* ulul bersungut sungut *
SMS PETANG INI
Lalu mau nyari cinta apa lagi ?
Sementara cinta yang kita dekap di dada hening ini adalah selembar rasa putih bersih yang tak pernah henti mengulum doa.
Lalu mau nyari wajah yang seperti apa lagi ?
Sementara masing masing wajah yang tergambar di dada hening adalah mata teduh yang tak lelah mengingatkan untuk menjaga. . .
: tulisan ini saya salin dari pesan pendek terdiri dari dua bagian.
(jadi ingat sepotong puisi di blog nya Mas Eka Kurniawan ,
" TUHAN BERI AKU PEREMPUAN.
PEREMPUAN BERI AKU TUHAN "
- sudah aku dapatkan -
Sementara cinta yang kita dekap di dada hening ini adalah selembar rasa putih bersih yang tak pernah henti mengulum doa.
Lalu mau nyari wajah yang seperti apa lagi ?
Sementara masing masing wajah yang tergambar di dada hening adalah mata teduh yang tak lelah mengingatkan untuk menjaga. . .
: tulisan ini saya salin dari pesan pendek terdiri dari dua bagian.
(jadi ingat sepotong puisi di blog nya Mas Eka Kurniawan ,
" TUHAN BERI AKU PEREMPUAN.
PEREMPUAN BERI AKU TUHAN "
- sudah aku dapatkan -
ULUL : Dongeng kecil yang tak cuma mungil tapi bikin ngantuk. . ,zzz
Akhirnya aku terprovokasi juga dengan gaya sok kritisnya itu, sambil meraih tangan ulul yang sedari tadi menjadi pohon rindang bagi dagu lancipnya : aku mencoba memasuki daerah rawan kantuk dari wajah bulat telur yang mulai menguap dan bikin enek ini,bersiap mengambil napas memulai bercerita . . . .
Dengerin ini,
kali ini tak lagi diawali dengan sebuah prakata alkisah,atau pada suatu hari .
Simaklah adik ,
pada akhirnya ini kuutarakan juga , bukan liding dongeng.
Ini perihal hati yang sering bersembunyi dibalik tubuh. Kau punya hati juga kan? Ya, hati adalah gula gula arumanis yang tiap tanggal 1 agustus selalu kau tanyakan saat kau ku ajak menyambangi arena pasar malem , di bekas lapangan sepakbola ujung desa.
Nah, sekarang kenapa sekarang sebuah hati ini terkesan pahit rasanya ,apa karena cuaca yang akhir akhir ini susah di prediksi bahkan oleh sekumpulan orang yang katanya jadi cendekia memakai stanplat Badan Meteorologi.
Ya, hati pangeran terluka , karena putri yang dulu pernah berpamit hendak kembali seusai menuju pergi ternyata begitu santainya mengakui dirinya sendiri beringkar janji. Pangeran pedih, pangeran merutuki takdir yang tak pernah sejalan dengan ingin. Lantas ia memutuskan simpul menjadi kembara saja , berguru pada seribu macam kebijaksanaan pandhita.Bersungguh sungguh ia memagari hatinya dengan segala mantra , dengan potongan potongan hapalan jampi. Ia datangi pelosok di tiap kabar burung yang menyukai terbang disiuli angin menuju keterpencilan diri , menemui tiap ahli nujum, tukang tenung ,pembaca palmistri ,dan segala hal yang akan mejadikanya paham , ke arah mana ia mencari rumah tujuan. . . ,
aku mencuri napas sebentar , mencoba mengumpulkan lagi kegemetaranku beberapa saat lalu bertebaran seenaknya menyentuhi bulat bulat partikel udara. . .
Ulul merengek : ayo kak, ayoo. . ,pangeran terus bagaimana , kena kutuk jadi kodok iyaa. . ? Ih cepetan ceritain lagi. . .Ah kak.
Next : sst. . .jangan berisik , besok dilanjut lagi.
ULUL: Dongeng kecil untuk si kecil (Ulul Azmi)
Kak, malam ini Ulul kepengin di dongengin lagi , tapi jangan tentang peri yang tiap malam keluar dari sebuah tungku api.ceritanya kurang menggigit ah, kali ini cariin cerita yang lebih berwarna dong, yang warna warni nya hampir sama dengan sewadah agar agar kenyal dan mengkilap yang Ulul beli tadi pagi. Warna yang ranum menggelitik hidung plus uang jajan.lho , habisnya Ulul minta dongeng apa sih?
Ya,pokoknya.Pokoknya cerita.
Asal ceritanya jangan lagi dimulai dengan kata Alkisah, atau pada suatu hari, atau, atau em , sohibul hikayat.Boring tauuu'. . .
Ooo... ,memang kenapa Ulul engga pengin denger dongeng kayak gitu ? Basi ya ?
Iyaaalah kak , masak di madrasah teman teman Ulul selalu mamerin dongeng yang segar kayak sayuran dikeluarin dari kulkas, sementara giliran Ulul bercerita mereka pasti deh �;
-sepatu perinya akhirnya diumpetin di atas tungku kan ? Tata bilang gitu.
-paman petani yang berbadan gendut akhirnya menghadiahi anak angkatnya sebuah cermin ajaib bukan ? si zaki nambahin.
Uhh. . . , mereka telah diluar kepala menjilati alur dongengku kak.
Harusnya kan. . . .
( aku tertawa , tapi kukulum dalam rak hati yang sengaja kupasang gembok , kuncinya aku lupa naruh dimana )
next :. . . .Lanjutin besok aja ah
Kembali pada sebuah hening
Kita duduk berhadapan pada meja persegi, kamu menunduk sementara ekor mataku kosong melompong mencari percakapan , seolah olah waktu diruangan ini benar benar sedang berhenti melakukan ritual membunyikan tiktok.Waktu memperhatikan kita sedari tadi yang tak kunjung mendorong detik pertama meluncur memasuki tabung durasi.
Sudahlah , diam saja.
Tak usah memulai kata.
Toh menundukmu sudah cukup memberi arti .
Pertama , diammu adalah anggukan.
Kedua , menundukmu adalah kebimbangan.
Nah,yang ketiga paling tak kuingini.
Kamu menunduk menyembunyikan airmata dalam hati.
Apa kedekatan kita membuatmu sedih ?
Atau memang keterbiasaan berdiri pada masing masing titik yang jauhnya minta ampun selama ini menimbulkan efek yang mengajari kita untuk menyatukan tubuh kita pada sepi. Kesepian yang terlalu hening.Sampai disuatu ketika dimana hening yang telah sama sama kita simpan itu pecah dalam satu pertemuan, Alam bawah sadar kita tak cukup mampu menerima perubahan yang mendadak, dan pada kejadian luarbiasa ini tubuh enggan berusaha mengadaptasi.
Aku,kamu,dua bangku meja persegi , ruangan ini.
Tak pernah mengerti bahwa ternyata berjauh itu lebih mengasyikkan daripada berhadap.
Ternyata jarak yang cuma beberapa jari antara hidungku dan bibirmu ini begitu menyiksa . Begitu deg degan.Mendebarkan.
ina sayang ; aku benci ini.
Sudahlah , diam saja.
Tak usah memulai kata.
Toh menundukmu sudah cukup memberi arti .
Pertama , diammu adalah anggukan.
Kedua , menundukmu adalah kebimbangan.
Nah,yang ketiga paling tak kuingini.
Kamu menunduk menyembunyikan airmata dalam hati.
Apa kedekatan kita membuatmu sedih ?
Atau memang keterbiasaan berdiri pada masing masing titik yang jauhnya minta ampun selama ini menimbulkan efek yang mengajari kita untuk menyatukan tubuh kita pada sepi. Kesepian yang terlalu hening.Sampai disuatu ketika dimana hening yang telah sama sama kita simpan itu pecah dalam satu pertemuan, Alam bawah sadar kita tak cukup mampu menerima perubahan yang mendadak, dan pada kejadian luarbiasa ini tubuh enggan berusaha mengadaptasi.
Aku,kamu,dua bangku meja persegi , ruangan ini.
Tak pernah mengerti bahwa ternyata berjauh itu lebih mengasyikkan daripada berhadap.
Ternyata jarak yang cuma beberapa jari antara hidungku dan bibirmu ini begitu menyiksa . Begitu deg degan.Mendebarkan.
ina sayang ; aku benci ini.
Mencari Penanda
Kaupun mengaduh,
lantas memberikan telunjukmu pada sebidang gambaran lelah.
Aduh, terlambat !
Batas murung di hadapanmu terburu menjadi peta besar yang nanti akan kau arungi sendiri.Dalam sepi yang hebat.
: tidakkah matamu melihat perahu kayumu karam sebelum menyambangi tepi ?
Catat saja ,
untuk lupa yang menubuh dan memunggungi kepastian rencana.
Satu persatu kalimat sengaja menghilang.
Mengasingkan diri.
Disini,
persis menempatkan titik dimana surga dan neraka berjumpa.
Di lempengan batu besar bernama dada.
Tempat terakhir ingatanmu menyempatkan diri berkunjung untuk meditasi.
- kakang Subali , kini goa kiskenda telah membias temaramnya, kemana lagi mesti kita perebutkan hadiah begawan : Cupumanik Astagina -
seloraya B21 , kembangkanthil malam ini mengingatkanku pada wajah kera milik Anjani.
lantas memberikan telunjukmu pada sebidang gambaran lelah.
Aduh, terlambat !
Batas murung di hadapanmu terburu menjadi peta besar yang nanti akan kau arungi sendiri.Dalam sepi yang hebat.
: tidakkah matamu melihat perahu kayumu karam sebelum menyambangi tepi ?
Catat saja ,
untuk lupa yang menubuh dan memunggungi kepastian rencana.
Satu persatu kalimat sengaja menghilang.
Mengasingkan diri.
Disini,
persis menempatkan titik dimana surga dan neraka berjumpa.
Di lempengan batu besar bernama dada.
Tempat terakhir ingatanmu menyempatkan diri berkunjung untuk meditasi.
- kakang Subali , kini goa kiskenda telah membias temaramnya, kemana lagi mesti kita perebutkan hadiah begawan : Cupumanik Astagina -
seloraya B21 , kembangkanthil malam ini mengingatkanku pada wajah kera milik Anjani.
Di hatimu
Kau mengerti aku hadir mengisi kalender keseharianmu tanpa pernah alpa,tanpa pernah koma. Bahkan saat kau berbisik lirih sedang kejatuhan siklus bulanan.
Dan aku disini , meski jauh tak pernah berpikir untuk mangkir cuma lantaran kilo jarak antara hatimu dan hatiku menjadi penyekat yang membuat kita kadang sama sama emosi, sama sama menahan diri untuk tak saling mengerti. Ya , sebuah kesadaran yang kita tanam tanpa paksaan. Menjalani proses panjang pemahaman.Kerinduan.Keluh kesah. Aroma indah.
Aku tahu jauh disana matamu membening tapi berusaha kau tahan. Aku ingin terlihat tegar ,ungkapmu.
Aku mendesah bukan lantaran lelah , tapi perasaan bersalah menggelayut tak bisa kutahan dengan kekuatanku sendiri.
Maka aku berusaha menghiburmu ,bukan cuma memberi hiburan untukmu tapi juga menenangkan diriku sendiri , karna sejak perasaan itu menjadi api , aku seringkali terlihat cengeng saat mendengarkan kata kata rindumu.
Dan isakmu yang berat akhirnya berangsur mereda, seperti hujan yang di curahkan gumpalan awan stradus karna kelebihan muatan.
Akhirnya lelah yang menyatu dari dua arah itu menerbitkan senoktah keyakinan. Haqul yaqin tegasku.
Karna ini bukan prosesmu semata, tapi proses ku juga. Proses kita, dimana hilir hilir kepribadian kita coba alirkan dalam satu muara.
Kita tak perlu iri dengan proses yang orang lain jalani lantas menciptakan garis garis komparatif yang tak pernah adil dalam mengasilkan asumsi.
Praduga publik kadang malah memprovokasi kita agar kita mengurungkan niat baik.
Kitapun sepaham, untuk mencintai hati karenaNya saja, bukan karena rasa ingin memiliki yang obsesif.
Cara kita unik , tapi tetap tak meninggalkan jasmani kita sebagai manusia
kalau rindu bilang rindu, kalau sayang bilang sayang , kalau sebel bilang sebel, kadang kalau memuncak kita bilang ini kerinduan,
hm, dan kita sepakat untuk mempertanggungjawabkan kenakalan kita di hadapan Tuhan.
Boleh dong , sesekali membuat Tuhan cemburu. . . .
Bersabar . Mungkin itu anak kunci yang kita cari selama ini.
Ya, sekarang kita jadi sama sama tersenyum lagi, mengenang percintaan kita yang kolosal.
Tenang saja , aku mencintaimu bukan semata wujud fisikmu wanita yang memiliki payudara.
Aku mencintaimu karna kuharap kau mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Kelak.
Saat waktu itu datang dan segala hal menjadi halalan toyiban karenanya.
Saat kosakata menjemukan bernama pemisahan menjadi janur melengkung yang tak kuning lagi melainkan pink tergeletak di genting rumahmu.
Adhe,
jangan khawatir,
aku merindukanmu !
Dan aku disini , meski jauh tak pernah berpikir untuk mangkir cuma lantaran kilo jarak antara hatimu dan hatiku menjadi penyekat yang membuat kita kadang sama sama emosi, sama sama menahan diri untuk tak saling mengerti. Ya , sebuah kesadaran yang kita tanam tanpa paksaan. Menjalani proses panjang pemahaman.Kerinduan.Keluh kesah. Aroma indah.
Aku tahu jauh disana matamu membening tapi berusaha kau tahan. Aku ingin terlihat tegar ,ungkapmu.Aku mendesah bukan lantaran lelah , tapi perasaan bersalah menggelayut tak bisa kutahan dengan kekuatanku sendiri.
Maka aku berusaha menghiburmu ,bukan cuma memberi hiburan untukmu tapi juga menenangkan diriku sendiri , karna sejak perasaan itu menjadi api , aku seringkali terlihat cengeng saat mendengarkan kata kata rindumu.
Dan isakmu yang berat akhirnya berangsur mereda, seperti hujan yang di curahkan gumpalan awan stradus karna kelebihan muatan.
Akhirnya lelah yang menyatu dari dua arah itu menerbitkan senoktah keyakinan. Haqul yaqin tegasku.
Karna ini bukan prosesmu semata, tapi proses ku juga. Proses kita, dimana hilir hilir kepribadian kita coba alirkan dalam satu muara.
Kita tak perlu iri dengan proses yang orang lain jalani lantas menciptakan garis garis komparatif yang tak pernah adil dalam mengasilkan asumsi.
Praduga publik kadang malah memprovokasi kita agar kita mengurungkan niat baik.
Kitapun sepaham, untuk mencintai hati karenaNya saja, bukan karena rasa ingin memiliki yang obsesif.
Cara kita unik , tapi tetap tak meninggalkan jasmani kita sebagai manusia
kalau rindu bilang rindu, kalau sayang bilang sayang , kalau sebel bilang sebel, kadang kalau memuncak kita bilang ini kerinduan,
hm, dan kita sepakat untuk mempertanggungjawabkan kenakalan kita di hadapan Tuhan.
Boleh dong , sesekali membuat Tuhan cemburu. . . .
Bersabar . Mungkin itu anak kunci yang kita cari selama ini.
Ya, sekarang kita jadi sama sama tersenyum lagi, mengenang percintaan kita yang kolosal.
Tenang saja , aku mencintaimu bukan semata wujud fisikmu wanita yang memiliki payudara.
Aku mencintaimu karna kuharap kau mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Kelak.
Saat waktu itu datang dan segala hal menjadi halalan toyiban karenanya.
Saat kosakata menjemukan bernama pemisahan menjadi janur melengkung yang tak kuning lagi melainkan pink tergeletak di genting rumahmu.
Adhe,
jangan khawatir,
aku merindukanmu !
Pembicaraan empat mata
Aku kira ini adalah hal yang sangat alami. Ayah , ketakutanmu membuatku semakin yakin, ayahlah yang pantas disebut hebat.
Apa ?
Ayah menginginkanku agar jangan terburu buru dewasa. Jadi dewasa itu tidak enak .Ribet bahasa gaulku.
Satu persatu potongan potongan kecil ingatanku berusaha ku lekatkan lagi, ayah benar, energi terbesar yang mesti keluar adalah saat kita mesti mempertanyakan kebenaran usia.Usia yang seakan akan membawa ketakutan sendiri dalam pemahaman hidup.
Sementara aku tahu , ayah masih merindukan sendawaku di meja makan, atau ketika ayah baru pulang kerja dan aku akan memaksamu untuk menjadi gajah , dan aku naik menjadi penunggangnya. Kita keliling ruang tamu empat sampai lima putaran. Dan baru selesai setelah ayah berujar ,nak, kian hari badanmu kian gendut saja . Makanmu pasti banyak hari ini . . .
Kini yah ,
yang dihadapanmu adalah tubuh ayip yang sama persis dengan 20 tahun yang lalu ,
cuma dengan suara yang makin combreng.
Cuma dengan wajah yang tak lagi berlumur ingus.
Cuma dengan pemikiran yang tak lagi menanyakan pada ayah butuh berapa hari sebiji kacang ijo mentransformasikan diri menjadi kecambah.
Dan ayahandaku ini kaget,
ketika yang ia anggap sikecil ayip ini pengin menikah.
Lho. . . .
( ayah, ayip malu . . . )
Apa ?
Ayah menginginkanku agar jangan terburu buru dewasa. Jadi dewasa itu tidak enak .Ribet bahasa gaulku.
Satu persatu potongan potongan kecil ingatanku berusaha ku lekatkan lagi, ayah benar, energi terbesar yang mesti keluar adalah saat kita mesti mempertanyakan kebenaran usia.Usia yang seakan akan membawa ketakutan sendiri dalam pemahaman hidup.
Sementara aku tahu , ayah masih merindukan sendawaku di meja makan, atau ketika ayah baru pulang kerja dan aku akan memaksamu untuk menjadi gajah , dan aku naik menjadi penunggangnya. Kita keliling ruang tamu empat sampai lima putaran. Dan baru selesai setelah ayah berujar ,nak, kian hari badanmu kian gendut saja . Makanmu pasti banyak hari ini . . .
Kini yah ,
yang dihadapanmu adalah tubuh ayip yang sama persis dengan 20 tahun yang lalu ,
cuma dengan suara yang makin combreng.
Cuma dengan wajah yang tak lagi berlumur ingus.
Cuma dengan pemikiran yang tak lagi menanyakan pada ayah butuh berapa hari sebiji kacang ijo mentransformasikan diri menjadi kecambah.
Dan ayahandaku ini kaget,
ketika yang ia anggap sikecil ayip ini pengin menikah.
Lho. . . .
( ayah, ayip malu . . . )
Langganan:
Postingan (Atom)