KACAMATA RETAK SEBELAH, DALAM LUKISAN IMAM BUCAH

letakkan aku sebagaimana moyang kita menaruh sebelah pipinya untuk didaki keputus asaan. sebab kau sendiri yang meramal keretakanku, jauh sebelum pegangan jembatan dan tangan kuning langsat gadis belia berebut jatuh cinta kepada kilatan sebuah kamera.

kita butuh daun-daun yang lebih hijau dari mata tetangga. katamu. sambil terus memupuk kefanaan, menyangka kota yang kita tinggali akan  lebih kuat dari keinginan yang (belum utuh jadi ucapan) terburu rusak dan remuk dilindas keragu-raguan.

RASA CINTA UNTUK PENYAIR C


akan aku rentangkan lagi lengan kisutmu seolah seribu tahun yang kau rindukan tetap gelang-gelang gemerincing dipenuhi perayaan yang tahu betul memikul bergulung-gulung pengkhianatan. meski tak bisa begitu saja aku ubah asap linting tembakauku jadi mata-mata mencurigai pucat pasi dinding kamarmu--penyimpan api suci para pertapa.

aku bayangkan seluruh rasa malu membengkak jadi rimba. indung nama-nama tanaman beracun yang mengecup keliaranmu agar jadi lunak meski sementara. tapi kau memang bukan pucukan tengkuk yang gampang menunduk.

DOA SEBELUM PULANG (Puisi Aldy Istanzia Wiguna)

Doa Sebelum Pulang
: Arif Fitra Kurniawan

Kita akan pulang memilih tua pada sebagian alamat. Memecahkan kaca-kaca tua yang menyetia dalam setiap rapalan doa. Menghitung segala jarak dimana kata-kata adalah kabar yang karib hingga bulu mata kita kembali merapatkan sajak-sajak sederhana untukmu. Melarungkan doa-doa di tepian pantai dalam satu gulungan ombak. Lalu kau pun berangkat, meninggalkan sepi yang begitu dalam. Merawat segala kenangan dan ingatan tentang kota yang memburumu dalam tiada. Menafsirkan sehampar jarak dalam satu kenangan sederhana dimana kata-kata adalah keberadaan yang sering kau titipkan lewat semesta dan rahim puisimu. Bila nanti engkau pulang, aku akan tetap menunggumu di halaman paling awal buku puisi yang baru saja selesai kau bangun dan siap kau huni sebagai rumahmu. Dan aku hanya akan mendoakan dirimu. Semoga rumah barumu nanti bisa mengantar dirimu menuju bahagia seperti doa-doaku yang berguguran seumpama reranting daun yang jatuh karena nasibnya sendiri.

2014

DAN PUISI MENGEKALKAN INGATAN (Suara Merdeka, Minggu 3 Agustus 2014)



Oleh: Widyanuri Eko Putra*

Sebuah puisi memungkinkan untuk dibaca sebagai representasi imajinasi, daya intelektual, pemikiran, dan ingatan sang penyair.  Puisi bisa jadi hasil dari pergulatan batin dan permenungan, atau hanya sebatas medium bagi penyampaian gagasan semata.
                Adalah sebuah kepuasan bagi penyair untuk sanggup  memberikan isi dan makna kepada suatu tindakan, semacam rapor bakat dan kemampuannya, ke dalam bentuk  puisi (kleden, 2004). Niat “memberikan isi dan makna” terbaca dari upaya penyair memasukkan pelbagai referensi dan ingatan ke dalam bait-bait puisi ciptaannya.
                Demikian pula dengan sejumlah puisi karangan Arif Fitra Kurniawan yang terhimpun dalam eskapis (2014). Semacam kerja menelusuri pelbagai eksplorasi interteks, mengacu daya intelektual dan kesanggupan menghadirkan imaji dan referensi. Kerja ingatan, mengingat, diajukan sebagai tema besar dalam puisi-puisinya.
                Puisi adalah  hamparan ingatan. Penyair mengajak pembaca larut ke dalam tema-tema sejarah, waktu, masa kecil, dongeng, peribahasa, dan tokoh-tokoh besar. Eksplorasi referensi  yang mendalam, menggoda kita untuk menduga kerja penyair  tak sebatas berimajinasi, mengisap rokok, atau menghabiskan bercangkir-cangkir kopi. Penyair menekuri kerja mengolah referensi sebelum masuk dalam proses penciptaan. Penyair yang baik adalah juga seorang pelahap buku yang rakus. Puisi diciptakan bukan dari ruang yang mengawang tak berisi.
                Tokoh-tokoh kartun, dongeng, dan beberapa peribahasa mengajak pembaca bernostalgia.  Puisi berjudul “Beberapa Peribahasa Yang Memperpanjang Umur Ingatan Kita” memberi gairah untuk membuka kembali memori saat menjadi remaja pembelajar , masa di mana sekolah mengajarkan peribahasa  dan petuah.
                Sejumlah  peribahasa jadi lahan olahan puitik tanpa terkesan klise dan didaktis. Puisi “Kecil-Kecil Anak, Sudah Besar Menjadi Onak”, “Pecah Menanti Sebab, Retak Menanti Belah”, atau “Sudah Nasib Nasi Menjadi Bubur”, misalnya.  Peribahasa ditahbiskan sebagai pintu gerbang memasuki medan puisi namun tak memberi harapan bagi pembaca menemukan makna konvensionalnya.
                Simaklah potongan puisi “Air Di Daun Talas” berikut: yang bernama ular adalah engkau// yang berwujud air adalah aku//sepasang panjang ini saling memistarkan. Jika konvensi makna peribahasa yang dipakai sebagai judul adalah “orang yang tak punya pendirian”, puisi ini justru sama sekali jauh dari pemaknaan konvensionalitasnya. Personifikasi “ular” dan “air” yang “saling memistarkan”, menyiratkan imaji tentang “sesuatu yang bersejalan”, terlepas dari tautan makna “tak berpendirian”.

MENGISAHKAN KAMPUNG



ibu, akan kemanakah pohon-pohon itu, ibu
pagi bergegas ingin lekas menyungkil
segumpal tanah di raut sepatu bootku

tak bisa aku selesaikan sendiri mencabut
tulang-tulang yang separuh perihnya
masuk menancapi peri kemanusiaan

kau tertawa. kata kemanusiaan sengaja
aku buat agar kau kenakan lagi
kebahagiaan yang tak lihai menipu
dan kerap jatuh ke rumput-rumput
yang menyembunyikan lunak masa depanku